
Siti terbangun dengan kaget karena alaram. Matanya masih terasa berat karena semalam suaminya tidak hanya menginginkan satu kali. Jadi mereka baru bisa tidur pukul satu dini hari.
Dia menoleh ke kanan di mana anak dan suaminya masih terlelap. Jika sedang ingin tidur bersama mama dan papanya,putranya itu selalu ingin tidur di tengah.
Siti turun dari tempat tidur lalu masuk ke kamar mandi. Setelah selesai mandi dan juga sholat subuh,Siti membangunkan suaminya.
"Mas,sudah subuh nih." Bisik Siti sambil mengusap bahu suaminya.
Rey meregangkan otot-ototnya. " Jam berapa sih yank?" Tanya Rey malas-malasan.
"Sudah jam setengah lima,mas. Subuh dulu."
"Hmm,kamu kok sudah harum yank?"
"Aku sudah mandi dan juga sholat,mas."
"Hmm,kamu kok tidak tunggu mas sih."
"Mas ini. Aku mau turun bantu-bantu di dapur,mas."
"Hhh,iya iya."
"Aku turun ya mas. Kalau Putra bangun,mas tolong mandiin ya,mumpung mas libur."
"Iya sayangku! Cium dulu,donk."
"Cup." Siti lalu mencium pipi suaminya.
"Hhh,yang ini yank!" Tunjuk Rey ke bibirnya.
"Iiihh,mas ini. Belum mandi,bau!" Tolak Siti.
"Yaank. . ." Suara Rey memohon.
Siti menggelengkan kepalanya. Lalu kembali mendekati suaminya. "Cup." Di bibir suaminya sedetik. Lalu buru-buru keluar dari kamar sebelum suaminya meminta lebih.
"Hmm,pelit kamu yank!" Ucap Rey sambil menyentuh bekas bibir istrinya.
***
Seno terbangun lebih dulu. Dia menatap ke arah jendela. Entah sudah pukul berapa tapi semburat merah sudah mengintip dari balik gorden. Di lihatnya Dinda masih tertidur pulas dalam pelukannya. Seno mengusap lembut wajah cantik itu.
Matahari memang akan selalu terbit dan tenggelam setiap harinya. Tapi cinta dan sayangku untukmu tidak akan pernah tenggelam. Akan selalu terbit dan terbit. . .
"Cup." Seno mencium pipi lembut itu.
Dinda mengerjap-ngerjapkan matanya merasakan sentuhan dingin di wajahnya. "Hmm,mas." Gumamnya sambil menatap suaminya yang juga sedang menatapnya.
"Selamat pagi kekasihku. Aku akan jadi matahari yang akan menyinari siangmu dan akan jadi bintang yang akan menyinari malam-malam panjangmu."
"Iiihh,sejak kapan mas pandai berpuisi?"
"Sejak pagi ini." Ucap Seno sambil memandang mesra Dinda. Dinda jadi tersipu malu.
"Sudah subuh ya mas?" Tanya Dinda.
"Iya sayang."
"Bangun yuk mas,tidak enak aku kalau bangun siang." Ajak Dinda.
"Yuk,kita mandi dulu lalu sholat." Jawab Seno.
"Aku mandi duluan ya mas."
"Hmm,bareng!" Titah Seno.
"Hmm,mas. Nanti lama." Tolak Dinda.
"Mandi gantian juga jadi lama,sekalian saja." Ucapnya sambil mengerlingkan mata.
__ADS_1
"Hhmm,ada saja alasannya." Sahut Dinda.
Seno segera menggendong Dinda dan membawanya ke kamar mandi.
***
Cinta sudah bangun tidur dari subuh. Dia sedang duduk-duduk di balkon mencari udara segar. Semburat merah matahari mulai menampakkan sinarnya. Indah. Hmm,sepertinya jalan-jalan pagi menyenangkan deh. Batinnya sambil menatap ke langit.
Pukul lima pagi. Cinta kembali masuk ke kamarnya. Adiknya Putri baru selesai sholat subuh. "Anak sholehah." Puji Cinta. Walau usia Putri barulah enam tahun tapi dia sudah rajin beribadah. Semua berkat didikan dan contoh dari orangtuanya terkhusus mamanya yang selalu ada untuk anak-anaknya setiap hari.
"Kak Cinta." Seru Putri lalu mencium punggung tangan kakaknya.
"Kita jalan pagi yuk,dek. Mumpung libur!" Ajaknya.
"Ayo,kak!" Putri antusias.
Mereka keluar dari kamar lalu turun ke bawah. Di bawah ada mama dan omanya sedang menyiapkan sarapan untuk semua anggota keluarga.
"Mama,oma,. . ." Seru Putri.
"Kak Cinta sama kak Putri sudah bangun? Wah,anak gadis mama rajin-rajin ya." Puji Siti.
"Iya donk ma. Adek Putra sudah bangun belum ma?"
"Adek Putra sama papa masih di kamar,masih pules."
"Hmm,adek Putra cocok tuh sama papa." Ucap Putri
"Ma,Cinta ajak adek Putri jalan keluar boleh?" Tanya Cinta .
"Hmm,bilang papa dulu ya nak. Kamu kan selama ini ada yang jagain. Tidak boleh pergi sendirian!" Jawab Siti.
"Kan perginya sama putri,ma."
"Hehee. Memangnya adek Putri bisa jagain kak Cinta,hmm?"
"Tentu donk sayang. Sekarang Putri kan belum bisa jagain kak Cinta,jadi ijin dulu sama papa ya."
"Hhh,iya deh ma." Jawab Putri dengan malas.
"Loh keponakan paman yang cantik ini mau kemana memangnya?" Seno tiba-tiba sudah ada di dekat mereka.
"Paman Seno." Seru Putri. "Putri mau jalan-jalan pagi sama kak Cinta,tapi harus ijin papa dulu. Papanya masih tidur." Terang Putri.
"Bagaimana kalau paman yang antar?"
"Beneran,paman mau antar kita?" Tanya Putri dengan wajah semringah.
Apa,om Seno mau antar kita jalan? Hhmm,males banget deh. Batin Cinta.
"Tentu donk." Jawab Seno.
"Asiikk!" Sorak Putri.
Seno menoleh ke arah Dinda. "Kamu pakai jaketnya,yank!" Titahnya.
"Hmm,iya mas." Dinda masuk kembali ke dalam kamar mengambil jaketnya.
Dinda kembali lagi dengan membawa jaketnya.
"Ayo,kita jalan-jalan!" Ajak Seno.
Mereka lalu pergi jalan-jalan pagi berempat. Cinta dan Putri berjalan di depan sedang Seno dan Dinda berjalan di belakangnya.
"Udaranya segar ya mas." Ucap Dinda sambil menggandeng mesra Seno.
"Iya yank,baik untuk kesehatan. Di sini ada beberapa taman,enak buat santai."
"Kalau di dekat rumah tidak ada taman. Ada juga tapi lumayan jauh." Terang Dinda.
__ADS_1
"Paman,kita duduk di sana ya!" Tunjuk Putri ke sebuah bangku panjang di pinggir taman. Lokasi yang strategis untuk menjadi pengamat jalanan.
"Iya,Put." Jawab Seno.
Setelah sampai di taman itu,mereka langsung duduk. Karena bangkunya panjang dan hanya satu,jadi mereka semua duduk di bangku yang sama.
Dinda semakin menunjukkan kemesraannya walau Seno sedikit tidak enak karena di tempat umum dan juga di depan keponakan-keponakannya. Tapi dia tidak ingin melarang bumil itu karena sejak hamil,dia semakin manja dan sensitif.
Cinta merasa tidak betah dan nyaman di sana,beruntung tiba-tiba Putri mengajaknya ikut senam bersama orang-orang yang ada di sana.
"Kak,ikut mereka senam yuk." Ajak Putri.
"Oh,ayo dek. Biar sehat." Jawab Cinta antusias.
"Paman,kita mau senam dulu ya." Pamit Putri.
"Kita senam dulu om,tante." Pamit Cinta.
"Oh iya,tapi jangan jauh-jauh dari sini ya!" Pesan Seno.
"Iya paman." Jawab Putri.
Putri dan Cinta lalu berjalan mendekati orang-orang yang sedang senam di taman itu dan ikut bergabung bersama mereka.
"Sayang,kamu tidak mau ikut senam?" Tanya Seno pada Dinda.
Dinda menggeleng. "Males,mas." Jawab Dinda lirih.
"Senam sama mas saja ya,nanti." Bisik mesra Seno.
Wajah Dinda memerah. Iiihh,mas ini."
"Tapi mau kan,hmm?"
Dinda hanya tersenyum tanpa mau menatap suaminya. Dia justru mengeratkan rengkuhannya di lengan suaminya itu.
Pukul tujuh,mereka baru pulang dari jalan pagi. Sampai di rumah,semua keluarga sudah menunggu untuk sarapan bersama.
.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca,moga suka ya. Maaf kalau masih ada typo typo. Jangan lupa dukung terus karya othor yang masih recehan ini ya. Terimakasih ππ
.
.
.
.
.
.
.
0505
__ADS_1