
Cinta masuk ke dalam rumah. Keluarganya sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Assalammualaikum." Ucapnya.
"Kakak Cinta sudah pulang?" Faqih,adiknya Cinta.
"Langsung mandi,nak." Titah bundanya.
"Iya,bun." Jawab Cinta yang segera berlalu dari sana takut ada yang memperhatikan wajahnya yang habis menangis.
Cinta masuk ke kamar,lalu merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Dia menutupi wajahnya dengan bantal. Dia kembali menangis mengingat apa yang terjadi padanya. Bagaimana kalau Aaron tidak datang menolong aku. Habislah aku. Batin Cinta. Lima menit dia tenang kembali lalu segera pergi mandi.
Sehabis mandi,dia lihat handphonenya berdering.
Aaron.
"Haloo."
"Aku baru selesai mandi."
"Hmm,aku baik-baik saja."
"Hmm,terimakasih ya kamu sudah datang. Kalau tidak. . ." Mata Cinta mulai berkaca-kaca lagi.
"Hmm,iya."
"Aku bisa minta tolong?"
"Tolong rahasiain ya. Kalau papa sampai tau,aku tidak tau apa yang akan papa lakukan. Aku malu."
"Terimakasih."
"Aku,aku tidak nangis kok."
"Hmm."
"Iya. Bye."
Cinta mematikan telponnya. "Kamu baik banget Aaron,tidak seperti cowok lain yang mendekati aku." Gumam Cinta sambil tersenyum membayangkan manisnya sikap Aaron padanya.
Sehabis sholat isya,Cinta tidak turun untuk makan malam. Bundanya memanggil.
Tok tok tok
"Cin?"
Ceklek,pintu terbuka.
"Sayang,kamu kenapa? Kamu abis nangis ya?" Tanya Cyndia melihat wajah sendu putrinya dengan mata bengkak karena lama menangis.
"Cinta,hmm Cinta pusing bun. Kepala Cinta sakit banget." Ucap Cinta sambil memegangi kepalanya yang memang pusing kebanyakan menangis.
"Sayang,kenapa tidak bilang bunda? Bunda ambilin obat ya? Oh iya sama makan malam kamu,bunda bawa ke kamar ya."
"Terimakasih,bun." Ucap Cinta.
Cyndia keluar dari kamar Cinta,lima menit dia kembali lagi dengan membawa obat dan makan malamnya.
"Kamu makan dulu sudah itu minum obat ya. Nanti bunda ke sini lagi. Cup!" Cyndia mengecup dahi Cinta dengan penuh kasih sayang.
"Iya terimakasih bun."
Setelah bundanya keluar,Cinta lalu menyantap makan malamnya tapi tidak habis. Dia masih merasa sedih dan takut.
__ADS_1
"Bagaimana aku sekolah besok ya? Aku takut ketemu dia." Gumam Cinta. Kenapa dia bisa jahat banget sama aku. Batin Cinta.
***
Pagi hari sudah waktunya sarapan tapi Cinta belum turun juga. Bundanya menyusulnya ke kamar.
Tok tok tok. Ceklek. Cyndia masuk ke dalam kamar Cinta.
Terlihat Cinta sedang berbaring berbalut selimut.
"Sayang,kok belum bangun?" Cyndia menyusap kepala putrinya.
Cinta mendongak. "Bunda."
"Sayang,kenapa kamu belum bangun? Sudah waktunya sarapan. Kamu kan mau sekolah."
"Bunda,Cinta hari ini tidak sekolah ya." Ucap Cinta.
"Sayang,kenapa tidak sekolah?"
"Cinta,hhh Cinta masih pusing bun." Cinta beralasan.
"Hmm,yasudah nanti bunda antar ke dokter ya."
Cinta menggeleng. "Cinta mau tiduran saja,bun. Boleh ya?" Pinta Cinta dengan wajah memohon.
Cinta kenapa ya,tidak seperti biasanya. Apa dia sedang ada masalah di sekolahnya? Batin Cyndia. "Hhh,ya sudah hari ini saja ya. Besok kamu harus sekolah."
"Iya bun. Terimakasih ya bun."
"Ya sudah. Bunda bawakan sarapan untuk kamu."
***
Hari sudah siang,jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Cinta baru bangun setelah sarapan dia kembali tertidur.
Tak lama ada panggilan masuk dari papanya.
"Haloo pa."
"Cinta hari ini tidak sekolah."
"Kepala Cinta pusing."
"Kemarin kerja kelompok."
"Pa,Cinta mau tanya."
"Kenapa dulu papa tega tinggalin bunda saat bunda hamil Cinta?"
"Cinta ingin tau pa."
"Cinta sudah besar. Hiks."
"Ada alasannya? Apa pa?"
"Masa lalu tapi sampai saat ini pun masih banyak yang ingat."
"Papa tega! Papa benar-benar tega! Hiks." Cinta mematikan telpon sepihak. Handphonenya kembali berdering beberapa kali.
"Kenapa papa tega tinggalin bunda? Kenapa papa jahat. Hiks hiks."
Cinta memeluk gulingnya sambil menangis. Dia kembali teringat kata-kata Anton yang menyakitkannya. Mungkin bukan cuma Anton yang tau. Mungkin semua teman sekolah tau termasuk Mira. Cinta tidak mau sekolah lagi. Cinta tidak mau sekolah lagi. Gumamnya sambil terisak.
__ADS_1
Tok tok tok. Terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.
Ceklek. Bundanya masuk.
"Sayang,kamu sudah bangun? Bunda bawain makanan kesukaan kamu nih,makan yuk." Cyndia meletakkan piring di atas nakas lalu menghampiri Cinta.
"Sayang,kamu nangis?" Tanya Cyndia kaget.
Cinta hanya diam saja. Cyndia mengusap air mata Cinta sambil menatap lekat-lekat putrinya itu.
"Sayang,jangan diam saja. Cerita sama bunda. Bunda bisa jadi seorang ibu dan teman buat kamu bercerita."
"Bunda,kenapa bunda tidak menikah sama papa?"
"Sayang,kamu bertanya apa? Kamu tau bunda sudah menikah sama ayah dan papa sudah punya mama Siti,nak."
"Kenapa sewaktu bunda hamil Cinta,bunda tidak menikah sama papa? Kenapa,bunda?"
Cyndia benar-benar kaget mendengar pertanyaan dari putrinya. Masa lalu yang tidak ingin dia ingat-ingat lagi harus kembali dia ingat.
Dadanya terasa sakit,dia berusaha menahan air matanya. Dia tidak ingin Cinta melihatnya menangis.
"Sayang,dengar mama ya. Bunda sama papa itu tidak berjodoh. Ada yang pacaran bertahun-tahun tapi tidak bisa menikah. Contohnya om Seno kamu. Dia berpacaran cukup lama sama tante Fia,menikah tapi ternyata pernikahannya hanya beberapa hari saja. Dan sekarang,om Seno menikah sama tante Dinda yang sama sekali mereka tidak berpacaran. Jadi kita tidak bisa memaksakan jodoh kita nak!" Terang Cyndia berharap putrinya mengerti dan berhenti bertanya.
"Tapi bunda kan sudah hamil Cinta. Seharusnya papa menikahi bunda agar Cinta punya papa. Bunda tau kan waktu kita masih tinggal sama Mak,banyak yang bertanya mana papa Cinta."
"Maafkan bunda ya nak." Cyndia memeluk Cinta penuh kasih sayang. Gara-gara aku,anakku yang harus jadi korban. Batinnya. "Bunda benar-benar minta maaf ya sudah membuat kamu susah. Kamu mau kan maafin bunda?"
"Kenapa bunda minta maaf? Bunda tidak salah. Cinta tau,bunda sayang banget sama Cinta. Bunda dulu juga susah sampai akhirnya ketemu sama ayah Fadil."
"Sayang,semua kan sudah berlalu. Bunda sudah bahagia sama ayah Fadil kan. Papa juga sudah bahagia sama mama Siti. Suatu saat nanti,kamu pasti akan bertemu seseorang yang sayang banget sama kamu,yang bisa membuat kamu bahagia setiap hari. Bunda mohon,lupakan saja masa lalu itu ya nak." Pinta Cyndia dengan wajah memohon.
"Tapi bunda?"
"Sayang?"
"Bunda. Masa lalu itu membuat seseorang menghina Cinta. Sampai. . . Hhh,sampai dia ingin berbuat tidak baik sama Cinta." Cinta mulai terisak lagi.
"Apa maksud kamu nak?"
"Cinta tidak mau sekolah lagi,bunda. Cinta tidak mau sekolah!" Tangisnya pecah. Cyndia memeluk putrinya dengan sangat erat. Dia pun ingin menangis tapi tetap dia tahan.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca. π
.
.
.
.
__ADS_1
.
0608/1313