
Siti tidak mau lagi mendengarkan apa yang di ucapkan oleh suaminya maupun dokter. Dia takut terjadi apa-apa terhadap bayinya jika di lahirkan paksa sebelum waktunya. Dia pun berusaha menahan rasa sakitnya agar semua orang tidak lagi memaksanya.
"Yank,masih sakit kan?"
"Sudah berkurang kok,mas." Jawab Siti lirih tanpa mau menatap mata suaminya.
"Mama pulang dulu ya,kasihan Putri." Pamit mama yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat mereka.
"Titip Putri ya ma." Ucap Siti.
"Iya. Kamu pikirin baik-baik keputusan kamu,Siti!" Ucap mama.
"Iya. Terimakasih ma." Ucap Siti sambil terus menyembunyikan rasa sakitnya.
"Aku anter ya ma?" Tawar Rey.
"Kamu jaga Siti saja,nak. Papa sudah ada di parkiran. Kamu kabar-kabarin mama ya!" Pesan mama lalu keluar dari ruangan.
Rey kembali menatap istrinya. "Yank,kamu tau kan bahayanya? Nyawa kamu dan bayi kita jadi taruhannya kalau kamu tidak mengikuti saran dokter. Dokter Layli itu sudah berpengalaman puluhan tahun,yank. Mas lahir saja di bantu sama beliau." Terang Rey pelan-pelan.
Siti diam tidak berkomentar apa-apa. "Kamu bayangin saja perut kamu yang lukanya belum sembuh tapi terus membesar,apa lukanya tidak akan terbuka lagi? Terus,kalau kamu lama di rawat,apa kamu tidak kasihan sama Putri harus terpisah lagi dari mamanya? Saat lahir harus pulang tanpa mamanya,dan sekarang pun terpisah lagi. Entah sedang apa dia sekarang."
"Mas ini nakut-nakutin deh."
"Hhh,apa untungnya mas nakut-nakutin kamu? Mas bisa saja paksa kamu tapi mas tidak mau. Terserah kamu,kalau kamu benar-benar sayang Putri dan juga mas,kamu turuti kata dokter!" Ucap Rey lalu bangkit dari duduknya,hendak keluar ruangan.
"Hmm,mas! Mas mau kemana?" Siti menarik tangan suaminya.
"Mau keluar,cari angin." Jawab Rey datar. Dia merasa sangat stres.
"Iiihh mas ini,istri sakit malah di tinggal!"
"Terus buat apa di sini? Kalau kamu tidak mau ya sudah kita pulang saja. Ayo!" Rey hendak menggendong Siti.
"Mas! Iya aku mau! Tapi aku mau,mas di samping aku terus saat operasi."
Rey langsung tersenyum. "Mas akan selalu ada di samping kamu yank!" Ucap Rey lalu memegang tangan istrinya dan mencium keningnya. " Mas panggil dokternya dulu. Kamu tunggu ya!" Pamit Rey yang di beri anggukan oleh Siti.
Rey segera keluar ruangan.
"Huuhhh,perutku ternyata bukan makin berkurang sakitnya malah makin sakit. Ya Allah semoga keputusanku ini yang terbaik." Gumamnya sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
Siti menatap terus ke arah pintu. "Suster kok tidak ada satupun,mas juga kok lama banget ya! Perutku. . ." Pandangan Siti mulai kabur di saat nyeri perutnya makin parah.
Sepuluh menit kemudian Rey masuk bersama dokter Layli dan seorang suster.
"Yuk yank,bangun. Kita ke ruang operasi sekarang!" Ajak Rey. Tapi istrinya itu diam tak bergeming sama sekali.
"Yank?" Rey mulai panik.
"Dokter,istri saya kenapa?" Tanya Rey yang masih terus membangunkan istrinya.
"Saya cek dulu,Rey! Kamu silahkan keluar dulu!" Titah dokter Layli.
Rey berjalan keluar dari ruangan sambil sesekali menoleh ke arah istrinya. Setelah di luar dia duduk di ruang tunggu sambil berdoa.
Pintu terbuka lalu dua orang suster sedang mendorong brangkar Siti. "Istri saya kenapa,sust?
"Ibu Siti akan segera di operasi. Sekarang ibu sedang tidak sadar." Terang suster.
"Apa sus? Istri saya tidak sadar?" Tanya Rey kaget.
"Oh iya pak,tolong siapkan darah,mungkin di perlukan karena stok darah sesuai golongan darah bu Siti hanya ada dua kantong saja di klinik kami." Terang suster yang satu lagi. "Kami permisi dulu pak!" Mereka lalu membawa Siti masuk ke ruang OK.
Rey lalu mengambil handphonenya untuk menelpon Seno.
"Hallo Seno,kamu sudah mau berangkat kerja?" Tanya Rey.
"Aku mau ke klinik dulu lihat mbak Siti,mas. Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Mbak kamu sekarang sudah tidak sadar. Dia akan segera di operasi dan dia juga butuh darah lagi. Apa kamu bisa hubungi keluarga paman kamu,Seno? Mas akan kasih mereka uang berapapun dan minta mereka cepat ke sini!" Terang Rey dengan perasaan kalut.
"Ya Allah. Tapi mas,perjalanan dari desa bibi ke sini paling cepat tiga jam." Keluh Seno.
"Suster bilang masih ada stok dua kantong di sini dan mungkin kurang jadi minta kita siapkan darah lagi." Terang Rey.
"Baiklah mas,aku akan hubungi paman." Jawab Seno. Rey segera memutuskan panggilan telponnya. Dia ingat kalau harus memberi kabar pada mamanya. Dia lalu menekan tombol panggil .
Setelah beberapa saat barulah mamanya menjawab panggilannya.
"Ma,sedang apa?"
"Putri bagaimana,ma?"
__ADS_1
"Iya ma,Siti mau di operasi sekarang. Dia sudah tidak sadar."
"Iya ma. Tolong doakan istri Rey ya ma."
"Baiklah ma,titip Putri."
Rey lalu memutuskan panggilan telponnya.
Rey kembali berdiri di depan ruang OK. Mondar mandir sambil terus menatap ke pintu. Tak lama,pintu terbuka.
"Pak Rey? Bapak di minta masuk!" Titah suster.
Rey langsung masuk ke dalam ruang OK. Di sana,istrinya sedang bersiap untuk di operasi.
"Rey,kamu duduk di sebelah istri kamu ya,di samping kepalanya!" Titah dokter Layli.
Rey menurut. Dia lalu duduk di samping kepala istrinya yang masih terlihat pucat. Dia bisikkan doa-doa di telinga istrinya itu sambil mengusap lembut kepalanya.
Rey bergetar kala mendengar bunyi dari alat-alat yang di pakai untuk operasi istrinya. Belum lagi bunyi nut nut nut dari monitor yang berhubungan dengan organ vital istrinya itu.
Selama proses operasi,Rey hanya memejamkan matanya sambil terus membisikkan doa di telinga istrinya. Tak berapa lama,terdengar suara tangisan bayi yang lirih. Rey mengangkat kepalanya untuk melihat bayi mungilnya. Kecil sekali. Batin Rey. Baru saja dia ingin melihat lebih dekat,bayinya langsung di bawa suster.
Dokter lalu melanjutkan lagi operasinya sampai selesai. Siti masih belum sadar. Setelahnya Siti langsung di pindahkan ke ruang ICU.
"Pak,tolong siapkan satu kantong lagi ya,pasien masih kekurangan darah." Terang suster.
"Bayi saya di mana,sus?" Tanya Rey.
"Bayinya sekarang di bawa ke ruang NICU untuk di tempatkan di inkubator." Terang suster yang langsung mendorong brangkar Siti ke ruang ICU. Dokter Layli sudah lebih dulu meninggalkan ruang OK.
Rey mengikuti istrinya sampai di ruang ICU. Setelahnya dia berjalan ke ruang NICU untuk melihat bayinya.
"Suster,apa saya boleh masuk?"
"Boleh pak tapi bapak pakai pakaian khusus dulu sama pakai masker ya!"Terang suster.
Setelah memenuhi syarat masuk ke ruang NICU,Rey langsung menatap bayinya yang berada di inkubator dengan berbagai macam selang menempel di tubuh mungilnya yang menghubungkan dengan monitor. Bunyi nut nut nut seakan berlomba di ruangan itu. Dada Rey tiba-tiba terasa sesak. "Maafkan papa,nak." Bisiknya lirih.
NEXT
2306/1555
__ADS_1