Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 39


__ADS_3

Siti keluar dari kamar mandi. Di lihatnya Cinta sudah tidak lagi menyalakan tv.


"Kok tvnya di matiin,sayang?" Tanya Siti lalu duduk di samping Cinta.


"Tidak ada acara yang bagus ma! Sinetron semua,Cinta tidak suka!"


Siti tersenyum. "Cinta baca-baca buka saja,biar makin lancar baca dan menulisnya." Saran Siti.


"Iya ma. Bunda juga melarang Cinta sering-sering nonton tv. Lebih baik belajar!"


"Iya bener itu! Biar Cinta pintar seperti ayah dan papa!"


"Iya ma. Cinta ingin jadi orang sukses seperti ayah dan papa kalau sudah besar nanti!"


"Memangnya mau jadi apa? Pengusaha,hmm?"


"Mau Cinta sih jadi dokter,ma. Tapi Cinta takut lihat jarum suntik."


Siti tersenyum. "Dokter takut sama jarum suntik ya."


"Hehehe,iya ma. Sakit!"


"Loh kan Cinta dokternya! Jadi Cinta yang suntik orang!"


"Iya sih ma. Tapi lihat saja nanti deh. Semoga sudah besar nanti,Cinta tidak takut lagi sama jarum suntik. Jadi bisa jadi dokter!"


"Aamiin! Mama doakan cita-cita Cinta tercapai ya. Harus rajin belajar!"


"Iya ma!"


Siti mengusap pucuk kepala Cinta. "Anak cerdas!" Pujinya. "Cinta belum mengantuk,hmm?"


"Ngantuk ma. Tungguin mama. Mau bobo sama mama!" Ucap Cinta dengan gaya manja.


"Yuk,mama temani bobo!" Siti menggandeng Cinta dengan penuh kasih sayang.


***


Setelah Rey mengatakan kalau mereka belum bisa pulang ke desa Siti karena ada meeting hari seninnya,Siti jadi berubah. Dia jadi banyak diam seperti saat pertama mereka baru menikah. Mungkin dia merasa hanya di berikan harapan palsu oleh suaminya hingga membuatnya merasa sangat kecewa.


"Papa janji setelah hari senin,kamu bisa ajak istri kamu ke desanya,Rey!" Ucap papa Rey saat mereka sedang di ruang kerja membicarakan tentang perusahaan mereka yang sedang ada masalah.


"Iya pa. Rey hanya tidak enak sama Siti berulang kali membatalkan janji." Jawab Rey.


"Iya papa mengerti,Rey. Tapi hanya mereka yang bisa membantu kita. Semoga kamu bisa lebih meyakinkan mereka untuk memilih perusahaan kita. Jika kita berhasil,perusahaan kita akan makin maju! Papa hanya percaya sama kamu untuk melakukannya."

__ADS_1


"Hmm,iya pa. Doakan Rey berhasil!"


"Kamu sebaiknya jujur sama istri kamu,jadi dia bisa mendoakan juga keberhasilan untuk kamu!"


"Rey sudah bilang pa kalau senin Rey ada meeting penting."


"Ya kamu cerita yang sebenarnya agar dia tidak salah paham. Kalau kamu biasakan jujur sama istri kamu,yakinlah dia akan selalu percaya dan mendukung kamu!"


Rey mengusap wajahnya. "Sejak hamil,Siti makin sensitif pa. Rey kadang bingung menghadapinya. Beda sekali saat dia belum hamil."


"Yah biasa itu. Yang penting kamu jangan buat dia sedih,Rey. Itu berpengaruh untuk bayi kalian!"


Rey menghela nafasnya. "Iya pa! Rey pikir dengan mengajak Cinta menginap di sini bisa menghibur dia dan melupakan sebentar keinginannya ke desa. Ternyata dia terus menanyakan kapan kita ke desa."


Papa tersenyum. "Begitulah menghadapi istri,apalagi jika sedang hamil. Makanya kamu harus kuat. Masih beruntung istri kamu tidak banyak nuntut. Kamu sih telat nikahnya! Hahah" Papa menepuk pundak Rey. "Sudah sana ke kamarmu nanti Siti nyariin! Papa juga sudah ngantuk!" Papa lalu meninggalkan Rey sendirian yang masih sibuk berpikir.


Rey tersenyum sendiri. Hmm,iya juga sih,memang sudah sangat telat nikahnya. Tapi tidak apa-apa telat nikah daripada salah pilih. Batinnya. Untung saja Cinta cerdas memilih wanita untuk jadi mamanya.


Rey keluar dari ruang kerja menuju kamarnya. Di kamar,Cinta sudah tertidur sementara Siti sedang tiduran sambil memainkan handphonenya lalu terlihat senyum-senyum sendiri.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Rey saat sudah di kamar. Dia lalu duduk di samping Siti.


Siti tidak menjawab apalagi menoleh.


"Sitinya mas nih masih ngambek,hmm?" Sambil mengusap lembut kepala Siti.


"Oh iya besok kan minggu,kita jalan-jalan ke mal yuk! Sekalian beli oleh-oleh untuk Seno." Ajak Rey. Mungkin bisa membuat istrinya itu senang.


Siti masih saja diam seribu bahasa.


"Waahh,mesti di kiss nih biar tidak diam terus!" Rey mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Siti tapi dengan cepat Siti menoleh ke arah lain.


"Hmm,mau lebih dari kiss ya?" Makin mendekatkan diri ke istrinya.


"Iihh jauh-jauh!" Siti mendorong Rey.


"Hehehe. Jadi besok kita ke mal ya sama Cinta juga. Kita makan-makan." Rey sudah tiduran di samping Siti.


"Sana ihh! Sempit tidur bertiga!"


"Muat kok sayang! Seperti saat kamu rawat inap. Kita tidur berdua. Mas bisa dengar jantung kamu berdetak seperti orang yang habis lari maraton keliling kota! Hahahaha!"


Wajah Siti memerah tapi tidak mau menimpali. Mau menyangkal pun tidak mungkin. Karena memang begitu kenyataannya. Bahkan sampai sekarang pun,ketika berdekatan dengan suaminya itu,jantungnya akan berdetak dua sampai tiga kali lipat. Sampai empat kali mungkin.


"Eh kamu masih ingat kan,ketika kita pertama bertemu di mal? Kamu nabrak mas sampai belanjaan mas berhamburan? Iihh mas benar-benar kesal saat itu."

__ADS_1


"Iya sampai pasang wajah super galak! Sampai saya ketakutan!" Siti mulai mau merespon cerita suaminya. Tapi wajahnya tetap tidak mau menoleh.


"Hahahaa! Mas galak banget ya waktu itu?" Rey tergelak mengingatnya.


"Sudah galak,dingin lagi! Sudah mirip frezer!"


"Duuhh mirip frezer! Tapi bisa bikin kamu jatuh cinta kan,hmm?" Mulai merangkul Siti lalu tanpa permisi mengambil handphone istrinya itu lalu di taruhnya di lantai.


"Eehh,handphonenya kok di ambil?" Siti protes.


"Mas kangen!" Bisik Rey di telinga Siti membuat Siti merinding. "Yuk!" Tangannya mulai bermain-main.


"Iihh,jangan pegang-pegang!" Tolak Siti dengan jantung yang mulai berdetak berkali lipat.


"Kenapa? Sudah jadi milik mas ini!" Rey makin menjadi. "Yuk,sayang! Kamu kangen juga kan? Sudah berapa hari libur ini!"


"Hmm,mas ini! Ada Cinta juga."


"Di sofa!" Bisik Rey.


Mata Siti melotot. "Di sofa? Hmm,memang bisa?" Tanya Siti malu-malu.


"Bisa! Yuk!" Rey langsung bangun dari tidurnya lalu menggendong istrinya ke sofa.


Mereka pun memulai aktivitas panasnya di sofa. Dengan Siti yang selalu menutup mulut dengan kedua tangannya takut putrinya terbangun.


Menjelang tengah malam barulah aktivitas panas mereka berhenti karena kelelahan dan juga mengantuk.


"Mas,saya mau pindah ke kasur deh,susah gerak ini!" Bisik Siti.


"Hmm,iya iya. Mas gendong ya?" Rey menjawab dengan mata setengah terbuka.


"Jalan sendiri saja. Mas mau tidur di sofa?" Tanya Siti yang di beri anggukan oleh Rey.


"Ya sudah,saya tinggal ya!" Siti meraih pakaiannya lalu segera memakainya.


"Kiss dulu!" Rey menarik tangan Siti saat istrinya itu hendak berdiri.


"Iihh tadi sudah berkali-kali!"


"Siti. . ." Ucap Rey lirih dengan mata yang susah di buka.


Siti menggelengkan kepalanya. Lalu dia menunduk untuk memberikan suaminya kiss. "Cup!" Siti cepat-cepat meninggalkan Rey dan naik ke kasur,tidur di sebelah putrinya.


NEXT

__ADS_1


270421/21.20


__ADS_2