
Setelah menempuh perjalanan lebih satu jam,akhirnya mereka sampai di terminal. Seno segera memarkirkan mobilnya di tempat parkir.
"Loket bisnya sebelah mana,pak?" Tanya Seno.
"Di sana,nak Seno." Tunjuk ayahnya Fia ke bis yang berwarna biru. "Di dekat situ."
"Ayo." Ajak ibu.
Mereka segera mendatangi loket bis yang akan ayah dan ibu Fia tumpangi.
Setelah sampai,mereka menaruh barang bawaan mereka di ruang tunggu. Seno hendak ke kasir tapi keburu di cegah ayahnya Fia.
"Ayah sudah bayar waktu itu,jadi sudah lunas." Terang ayah.
"Oohh iya yah."
Setelah menunggu tidak sampai setengah jam,bis pun hendak berangkat.
"Titip Shofia sama Selia ya nak Seno." Pesan ayahnya Fia saat sudah di dalam bis.
"In sya Allah,pak. Hati-hati di jalan." Sahut Seno.
"Kalian juga hati-hati ya."
Tak sampai lima menit,bis pun berjalan meninggalkan terminal.
Mereka saling melambaikan tangan.
"Yuk,kita pulang." Ajak Seno pada Shofia yang masih menatap ke arah bis yang mulai menjauh.
"Hmm,iya mas." Jawab Fia pelan.
Mereka pun berjalan ke arah parkiran mobil. Seno membukakan pintu mobil untuk Fia. Setelahnya dia pun masuk ke dalam mobil dan segera menyalakan mesin mobil.
Mobil bergerak meninggalkan terminal. Di dalam mobil,mereka hanya diam. Fia menatap ke jalanan sambil tangannya mengusap-usap cincin pemberian dari Seno malam itu.
"Loh mas ini mau kemana? Ini bukan jalan ke kontrakan deh?" Tanya Fia saat menyadari Seno melajukan mobilnya ke daerah yang belum dia kenal. Selama kuliah,Fia memang tidak pernah main ke tempat lain selain kontrakan,kampus dan Mal yang terdekat dari sana. Paling sebulan sekali dia mengajak adiknya creambath di salon langganan mereka.
"Mas mau ajak kamu ke suatu tempat." Jawab Seno.
"Hmm,kemana mas?" Tanya Fia penasaran.
"Ada deh,kamu siap-siap saja."
"Haahh,siap-siap? Kemana sih mas?"
"Dah kamu tenang saja. Mas tidak akan ajak kamu ke tempat yang aneh-aneh kok!"
"Hmm,"
Hampir satu jam perjalanan,akhirnya mereka sampai. Seno membuka kaca mobilnya.
"Pak,tolong bukain pagarnya ya." Pintanya pada pak satpam penjaga rumah.
"Siap,mas." Sahut pak satpam yang segera membukakan pintu pagar agar mobil Seno bisa masuk.
Seno menjalankan mobilnya perlahan masuk ke halaman rumah. Lalu dia memarkirkan mobilnya di sebelah mobil lain yang sudah terparkir. Seno lalu turun dan membukakan pintu mobil untuk Fia.
"Yuk turun." Ajaknya pada Fia.
Fia diam sesaat sambil menatap rumah yang baru saja mereka datangi. Rumahnya bagus banget. Rumahnya siapa ini. Batin Fia.
"Loh kok bengong. Ayo!"
"Eh iya mas." Fia lalu turun sambil matanya masih menatap ke sekeliling halaman. Ini rumah siapa? Kenapa mas Seno ajak aku ke sini. Batin Fia. Dia mulai merasa deg-degan. Dia mengikuti langkah kaki Seno dengan ragu.
Sampai di depan pintu,Fia menghentikan langkah kakinya.
"Loh,kok diam di situ. Ayo." Ajak Seno.
"Tapi mas? aku malu."
"Kenapa malu? Jadi tidak mau nih? Mau pulang,hmm?" Seno menatap Fia lekat-lekat.
"Ehh,mau. Mau kok mas." Ucapnya terbata-bata. Jantungnya makin berdetak kencang.
"Ya sudah ayo."
Seno mengetuk pintu rumah. Tak berapa lama,pintu pun terbuka.
"Mas Seno?" Sapa bibi yang membukakan pintu.
"Assalammualaikum." Salam Seno.
"Wa alaikumsalam."
"Mbak Siti sama mas Rey tidak keluar kan bi?"
"Ada kok mas. Tidak kemana-mana. Sedang kumpul di ruang keluarga." Terang bibi.
"Oh iya makasih bi." Ucap Seno.
Bibi lalu masuk kembali ke dalam rumah. "Yuk masuk!" Ajak Seno.
Mau tidak mau Fia menuruti Seno masuk ke dalam rumah. Dari dulu dia selalu menuruti apa kata Seno,dia tidak mau pacarnya itu sampai kesal. Dia percaya kalau Seno tidak akan meminta aneh-aneh padanya.
Sampai di ruang tamu terdengar canda tawa anak kecil dan juga orang dewasa. Seno lalu mengajak Fia ke ruang keluarga. Karena hari minggu,keluarga kakak iparnya banyak menghabiskan waktu di ruang keluarga untuk bercengkrama sebelum makan siang dan di lanjutkan dengan istirahat siang.
"Paman Seno." Seru Putra yang lebih dulu melihat kedatangannya. Lalu semua yang ada di ruang keluarga menoleh ke arah mereka berdua.
"Assalammualaikum." Salam Seno dan Fia hampir berbarengan.
"Wa alaikumsalam." Sahut semua yang ada di sana.
"Hey anak tampan." Sapa Seno pada keponakannya.
"Tante itu siapa,paman?" Tanta Putra.
Fia yang merasa di tanya hanya bisa tersenyum kaku. Dia merasa malu dan gugup.
"Pa,ma,mas Rey,mbak Siti,kenalin ini Fia. Teman dekat Seno." Ucap Seno. "Fia,ayo kenalan."
Fia mendekati mereka lalu menyalami mereka satu persatu. "Fia." Ucapnya pelan.
"Fia,ayo duduk." Tawar Siti. "Dek,ajak Fia duduk di situ." Tunjuk Siti ke sofa yang masih kosong. Hmm,teman dekat Seno. Apa maksudnya pacar!? Batin Siti. Dia terus memperhatikan teman dekat adiknya itu lekat-lekat.
"Iya,mbak."
Seno lalu menyuruh Fia duduk di sofa dan dia ikut duduk di sebelah gadis itu.
"Sejak kapan kenal Seno,Fia?" Tanya Siti.
"Hmm,sejak,sejak sekolah mbak." Jawab Fia malu-malu.
"Sejak sekolah? Jadi kita satu desa ya?" Tanya Siti kaget.
"I iya,mbak." Jawab Fia.
__ADS_1
"Di sini tinggalnya di mana,sama siapa?" Tanya oma Asti.
"Kita ngontrak,bu. Sama adik saya yang masih sekolah dan juga sama teman kuliah juga." Jawab Fia.
"Oohh tinggal bertiga?"
"iya."
"Daerah mana?"
"Daerah perkampungan G,tidak jauh dari kampus AA." Terang Fia.
"Ooh,di sana." Oma Asti manggu-manggut.
"Rencananya kita akan nikah dalam waktu dekat ini." Terang Seno yang mengagetkan semua orang yang ada di ruang keluarga.
"Nikah?" Tanya Siti seakan tak percaya. Baru juga mengenalkan teman wanitanya sudah mau nikah saja.
"Iya mbak. Fia baru saja di wisuda beberapa hari yang lalu. Waktu Seno ijin kerja pagi sampai siang." Terangnya.
"Hmm. . ." Siti tidak tahu mau bilang apa lagi. Toh adiknya sudah cukup dewasa,sudah dua puluh lima tahun.
Mereka lalu ngobrol tapi Fia hanya sesekali menimpali,lebih banyak Seno yang menjawab.
Tak terasa waktunya makan siang. Fia ikut makan siang bersama keluarga.
"Makan yang banyak,Fia. Jangan malu-malu." Ucap oma Asti ramah.
"Iya bu." Jawab Fia.
Setelah makan siang,mereka kembali berkumpul di ruang keluarga sebentar.
"Mama,adek ngantuk." Keluh Putra sambil bergelayut manja di pangkuan mamanya.
"Ya sudah,kita ke atas ya. Kakak juga tidur siang dulu,yuk." Ajak Siti pada anak-anaknya.
"Iya ma,kakak juga ngantuk." Sahut Putri.
"Ya sudah yuk,pamit dulu sama oma dan opa. Sama tante Fia n paman Seno juga." Titah Siti pada anak-anaknya.
Setelah berpamitan,Siti lalu mengajak kedua buah hatinya ke kamar untuk istirahat siang.
"Rey juga mau istirahat dulu." Rey kemudian menyusul anak dan istrinya ke kamar mereka di atas.
"Oh iya,kita mau zuhur dulu ma,pa." Ucap Seno.
"Oh iya silahkan. Teman kamu ajak ke kamar tamu yang ada di sebelah kamar kamu biar sholat di sana." Titah oma Asti.
"Iya ma." Jawab Seno. Dia lalu mengajak Fia ke kamar tamu untuk sholat di sana karena musholah di rumah sering di pakai oleh asisten rumah tangga mereka.
Setelah selesai sholat,mereka kembali ke ruang keluarga.
"Oh iya,Seno mau antar Fia pulang dulu ma,pa." Pamit Seno pada kedua orang tua Rey.
"Oh iya. Hati-hati di jalan ya." Pesan oma Asti.
"Iya ma. Kita jalan dulu. Assalammualaikum."
"Wa alaikumsalam."
Kemudian Seno dan Fia meninggalkan rumah keluarga Rey.
"Mas,apa keluarga mas setuju sama aku?" Tanya Fia saat mereka sudah ada di dalam mobil.
"Kenapa nanya gitu?"
Seno tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Mas kan sama seperti kamu. Bahkan dulu mas tidak punya apa-apa. Kamu lihat mbak Siti kan? Keluarga suaminya mau menerima dia."
"Yah,aku takut saja mas."
"Kenapa harus takut? Kalau mbak Siti setuju,yang lain pasti setuju kok. Yang berhak kasih pendapat tentang hidup mas ya mbak Siti. Keluarga suaminya tidak pernah ikut campur urusan pribadi mas." Terang Seno.
"Hmm,menurut mas,mbak Siti setuju sama aku?"
"Ya setuju saja,asal kamu baik dan tulus sama mas!" Jawab Seno dengan penekanan.
"Hmm." Fia tersenyum.
"Langsung pulang,nih?" Tanya Seno sambil menoleh ke arah Fia.
"Terserah mas saja,aku nurut." Jawab Fia.
"Nurut saja nih kemana mas bawa?"
"Hmm,i iya. . ."
"Kok ragu gitu jawabnya?"
"Hmm,aku tidak ragu kok. Aku percaya sama mas." Ucap Fia.
"Kalau mas ajak ke hutan mau?"
"Hutan?" Tanya Fia kaget.
"Iya,hutan."
"Hhmm,Ngapain mas? Hutan kan sepi."
"Ya bagus kan sepi."
"Iihh mas ini. Jangan becanda."
"Hahaha."
"Iya deh aku mau." Jawab Fia.
"Jangan terlalu percaya sama laki-laki!"
"Hmm,tapi kan cuma sama mas aku begitu." Fia mulai salah tingkah.
"Hmm,ya sudah kalau kamu percaya sama mas. Mas mau ajak kamu ke hutan."
Fia diam. Dia melirik ke arah Seno yang fokus menyetir. Mas Seno tidak mungkin macam-macam. Batin Fia.
Seno melajukan mobilnya ke pinggir kota. Jalanan mulai lengang,Seno melajukan mobilnya sedikit ngebut.
Kemudian Seno membelokkan mobilnya agak masuk ke dalam hutan. Fia makin fokus ke kanan kiri jalan. Mas Seno mau ajak kemana ya? Batin Fia dengan jantung berdebar.
Tak lama terlihat beberapa mobil sedang terparkir. Seno juga memarkirkan mobilnya di dekat mobil yang lain. Fia sedikit lega. Hhh tuh kan jangan mikir macam-macam. Mas Seno tidak mungkin berbuat buruk sama aku. Batin Fia.
"Yuk turun,kok malah bengong!" Ajak Seno. Karena sibuk dengan lamunannya,Fia tidak menyadari kalau Seno sudah turun dan membukakan pintu mobil untuknya.
"Eehh,i iya mas." Fia lalu turun dari mobil. Seno menggenggam jemari tangan Fia. Mereka berjalan bergandengan tangan.
"Mas,mas tau dari mana tempat ini?" Tanya Fia.
"Dulu saat masih kuliah,mas pernah di ajak teman kesini,dua kali kalau tidak salah." Terang Seno.
__ADS_1
"Hmm,"
"Kamu suka tidak mas ajak ke sini,hmm?"
"Oohh suka kok mas."
Mereka terus berjalan sampai tiba di tempat yang lebih ramai.
"Ini tempat apa,mas?"
"Tempat mancing."
"Mas suka mancing?"
"Iya,ikannya sudah dapet satu."
"Dapet satu? Kapan mancingnya?"
"Kemarin di kontrakan kamu."
"Hmm?" Dahi Fia berkerut. "Mancing aku?"
Seno tersenyum.
"Iiihh mas ini. Memangnya aku ikan,apa." Fia memajukan bibirnya.
"Kesana yuk,kita sewa alat pancingnya dulu." Ajak Seno.
"Iya mas." Fia lalu mengikuti langkah kaki Seno. Setelah menyewa alat pancing,mereka mencari lokasi yang nyaman.
Mereka melihat sebuah pondokan kecil yang cukup untuk dua tiga orang di sekitar kolam pemancingan. Seno mengajak Fia duduk di sana terlebih dahulu. Setelah alat pancingnya siap beserta umpannya,Seno langsung melemparkan pancingnya ke tengah kolam.
"Kalau kamu kepanasan,kamu duduk saja di sana." Ucap Seno sambil menunjuk ke pondokan di belakang mereka.
"Belum panas kok mas." Jawab Fia.
Mereka diam sambil menunggu pancingnya kena. Setelah menunggu lebih lima menit,alat pancingnya bergerak seperti ada yang menarik.
"Sepertinya sudah ada ikan yang makan umpannya,mas." Seru Fia.
"Iya,kita tunggu sebentar." Ucap Seno.
Beberapa detik kemudian,alat pancingnya bergerak makin kuat. Seno langsung menarik kailnya dan. . . .
"Waaahh,ikan nila." Seru Fia.
"Kamu suka?" Tanya Seno.
"Suka kok mas,ibu sering masak ikan nila di desa." Jawab Fia.
"Hmm,di sini kamu tidak pernah masak ikan nila?" Tanya Seno sambil menarik tali pancingnya. Ikan nila dengan ukuran sedang,dia masukkan ke dalam ember.
"Beli,mas. Hehee." Jawab Fia malu-malu.
"Hmm,kebiasaan beli. Nanti kalau sudah jadi istri mas,kamu harus masak sendiri." Ucap Seno dengan penekanan.
"Hmm," Wajah Fia langsung bersemu merah mendengar kata 'jadi istri mas'.
"Kenapa kok 'hmm'?"
"Tidak apa-apa mas. Nanti Fia belajar dari mbah deh." Jawab Fia.
"Belajar dari mbah?"
"Iya. Belajar dari mbah gugel." Terang Fia malu-malu.
"Hmm,kamu itu. Belajarlah mulai besok!" Titah Seno.
"Iya mas." Sahut Fia antusias. Kalau sudah jadi istri mas,di suruh apa juga aku mau. Batinnya sambil senyum-senyum sendiri.
"Kenapa senyum-senyum?"
"Hmm,cuma mau senyum saja kok. Lempar lagi pancingnya mas." Pinta Fia sebelum Seno banyak bertanya lagi.
Seno segera melempar lagi tali pancingnya.
Mereka memancing hanya setengah jam saja dan mendapatkan tiga ekor ikan nila dan satu ekor ikan mas.
"Kita bakar di sini dua,sisanya kamu bawa pulang,langsung tanya mbah gugel cara masak ikan yang enak." Ucap Seno.
Dia lalu menyerahkan dua ekor ikan nila pada pemilik pemancingan untuk di bakar. Tidak butuh waktu lama,dua ekor ikan bakar sudah terhidang di hadapan mereka.
"Kamu mau pakai nasi,hmm?"
Fia menggeleng. "Masih kenyang,mas."
"Hhmm."
Setelah menghabiskan ikan bakarnya,setengah jam kemudian mereka meninggalkan tempat pemancingan karena hari sudah menjelang sore dengan membawa dua ekor ikan untuk Fia.
Seno mengendarai mobilnya perlahan. Fia terlihat sangat bahagia. Selama mereka menjalin hubungan,mereka tidak pernah ke tempat-tempat seperti ini. Mereka juga jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Hanya dengan handphonelah mereka saling berkirim kabar.
Setelah sampai di kontrakan,Fia langsung membawa masuk ikannya sementara Seno menunggu di luar.
"Mas,minum dulu." Ucap Fia sambil menyuguhkan segelas teh hangat untuk Seno.
"Mas pulang sekarang ya." Pamit Seno setelah meminum tehnya.
"Iya mas. Hati-hati di jalan ya." Jawab Fia.
Seno pun segera meninggalkan rumah kontrakan Fia.
.
.
.
.
.
Maaf yaa kalau ada typo-typo. Selamat membaca. Jangan lupa dukungan buat othor ya. πππ
.
.
NEXT
.
.
.
1007/1828
__ADS_1