Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 25


__ADS_3

Siti begitu gelisah. Dia bolak balik melihat jam di dinding. Sejak kepergian suaminya terakhir,sudah hampir dua jam tapi belum juga kembali. Dia hanya bisa pasrah. Tiba-tiba pintu kamarnya ada yang membuka. Dia menyunggingkan senyum tipis. Hatinya mulai tenang.


Ceklek. Pintu terbuka dan muncullah seseorang tapi jauh dari harapannya.


"Selamat sore bu Siti. Ini saya bawakan makanan." Ternyata suster yang datang membawakan Siti makanan Rumah Sakit. Wajah Siti kembali muram.


"Suster,sampai berapa lama saya di sini?" Tanya Siti.


Suster yang membawakan makanan langsung merapikan nakas untuk menaruh makanan yang dia bawa. "Saya kurang tahu bu. Lihat bagaimana kondisi ibu beberapa hari kedepan. Semoga lekas sembuh ya bu!" Jawabnya ramah.


"Hmm,terimakasih sus! Misal saya mau pindah kamar bisa?" Tanya Siti lagi.


"Mau pindah ke kamar mana,bu?"


"Kamar yang biasa. Yang bisa untuk dua sampai tiga pasien." Jawab Siti.


"Loh memang kenapa bu? Di sini malah enak,nyaman tidak ada yang ganggu!"


"Tidak enak sus. Sepi. Saya malah tidak nyaman kalau sepi!" Jawab Siti sedih.


"Kan ada sodara yang jaga jadi tidak terlalu sepi daripada ramai."


"Hmm,saya lebih suka yang ramai sus! Bisa tidak ya saya pindah kamar?"


"Hmm,baiklah. Saya akan tanyakan dulu ya bu! Ibu istirahat saja. Kalau perlu apa-apa pencet bel yang ada di atas sini. Saya permisi dulu!" Terangnya sambil menunjuk ke arah bel yang dia maksud.


"Jangan lama-lama ya sus!" Pinta Siti. Susternya hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Huhh. . . Semoga bisa pindah kamar" Gumam Siti.


Andai Rey mau menemani alangkah bahagianya. Tapi itu bagaikan berharap hujan di musim kemarau. Mencintai seseorang yang tidak mencintaimu seperti berpegangan di ranting yang rapuh. Pasti akan terjatuh. Entah saat ini,esok atau lusa. Hanya tinggal menunggu waktu saja.


Siti memandang keluar jendela. Semenit,dua menit,sejam berlalu begitu lambat. Rasanya sudah tidak betah lagi menunggu sendirian di kamar yang luas ini. Sekilas mata memandang membuat siapapun betah menghabiskan waktu di kamar seperti ini sambil menunggu kesembuhan apalagi jika di temani oleh yang terkasih. Tapi tidak bagi Siti. Memejamkan mata sedetik pun dia tidak bisa.


"Kamu di mana Rey?" Gumam Siti.


Waktu sudah berganti sore. Tapi yang di tunggu tidak juga datang. Tak terasa bulir hangat mengalir di pipi Siti. Dia jadi teringat kembali saat dia kecil dulu. Saat sakit dan harus di rawat di Rumah Sakit. Saat itu orang tua nya sudah tidak ada jadi dia hanya tinggal bersama sang nenek. Adiknya masih lah kecil jadi di pastikan tidak ada yang menungguinya di Rumah Sakit. Saat itu ruang rawat inap yang bisa di isi oleh tiga sampai empat pasien hanya terisi dia sendirian dan tanpa ada yang menjaga. Siti kecil makin menggigil. Dia ketakutan tapi tidak berdaya. Dia hanya bisa menangis hingga pagi-pagi saat suster datang,dia masih belum memejamkan matanya. Duduk di pojok ranjang. Itu menjadi pengalaman tak terlupakan oleh Siti kecil bahkan hingga dia dewasa. Dia jadi membenci Rumah Sakit hingga dia berusaha sekali menjaga kesehatannya agar tidak lagi mengunjungi tempat itu.


Karena sudah tidak tahan lagi,Siti bangkit dan turun dari kasur. Dia mengangkat botol infus lalu berjalan ke arah pintu.


Ceklek. Di bukanya pintu lebar-lebar. Dengan cepat dia keluar dari kamar. Di luar kamar pun sepi. Tak lama dia melihat seseorang baru keluar dari ruangan yang ada di pojok kiri di depan kamarnya. Siti tersenyum lalu memanggil orang itu. Seorang gadis berseragam merah hitam.


" Mbak,mbak!" Seru Siti. Seseorang itu menoleh lalu tersenyum. Siti melambai-lambaikan tangannya meminta orang itu untuk datang mendekatinya. Dan bersyukur,orang itu mendengar teriakannya lalu mendekati Siti.

__ADS_1


"Ada apa ya bu?" Tanya gadis itu saat sudah di dekat Siti.


"Kok sepi ya mbak? Susternya di mana?" Tanya Siti.


"Iya bu ini hampir maghrib,suster-susternya biasanya sedang di mushola. Hanya satu yang berjaga di unit jaga,belok kanan dari sini." Terang gadis itu.


"Bisa antar saya ke suster jaga itu mbak?" Tanya Siti lagi.


"Mari bu!" Ajak gadis itu.


Siti lalu mengikuti langkah gadis itu. Di kiri kanannya masih sepi tak ada seorang pun selain mereka berdua. Dia berjalan sangat lambat dan berpegangan di dinding hingga tertinggal beberapa langkah dari gadis itu. "Tolong pelan sedikit jalannya mbak?"


Gadis itu menoleh. "Oh iya bu." Jawabnya sambil tersenyum.


Akhirnya mereka sampai di ruang jaga. Hanya ada satu suster yang berjaga." Ini suster jaganya bu. Saya tinggal ya,saya ada kerjaan!" Pamit gadis itu.


"Iya terimakasih mbak!" Ucap Siti.


"Loh ibu kenapa keluar dari kamar? Ayo saya antar lagi ke kamarnya!" Ajak suster jaga.


"Saya mau pindah kamar,sus!" Jawab Siti.


"Loh kenapa pindah? Ibu yang di kamar VVIP Anggrek kan?"


"Kan enak di kamar ibu,tenang!"


"Hmm,jadi saya bisa pindah tidak sus?" Siti sudah mulai kesal.


"Baiklah,saya tanya ke bagian kamar dulu ya bu masih ada apa tidak kamar yang ibu mau."


"Terimakasih." Jawab Siti lirih.


"Sementara menunggu,ibu saya antar kembali ke kamar dulu ya biar bisa istirahat!" Ajak suster jaga.


"Saya tunggu di sini saja sus. Tadi juga di suruh tunggu sama suster yang lain tapi tidak ada kabar!" Tolak Siti. Suster jaga hanya tersenyum. Siti duduk setengah tiduran di kursi panjang yang ada di depan meja suster. Dia tidak kuat berdiri terlalu lama. Infus dia gantung di paku yang ada di dinding di belakangnya. Karena kelelahan dan juga mengantuk,Siti pun tertidur.


Lamat-lamat Siti mendengar suara keributan,dia mengerjap-ngerjapkan matanya. Dari arah kamar rawat inapnya,Siti melihat seseorang yang amat dia kenal yang dia tunggu-tunggu sedari tadi. Rey,suaminya sedang berjalan ke arahnya.


"Kamu kenapa tiduran di sini? Saya cari-cari!" Wajah suaminya itu terlihat cemas,kesal,campur aduk. Menatap Siti lekat-lekat.


"Hmm,maaf. Saya sedang menunggu pindah kamar!"Jawab Siti lirih. Dia tidak berani menatap mata suaminya yang terus menatapnya.


"Pindah kamar? Mau pindah kemana?" Tanya Rey sambil mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Saya mau kamar yang biasa saja tidak yang terlalu mewah!" Siti mencari alasan.


"Kamu itu. Kenapa sih? Di kasih kamar yang enak kok tidak mau!"


Siti hanya diam. Dia tidak mau berdebat dengan suaminya itu terlebih di tempat umum.


Tiba-tiba seorang suster datang mendekati mereka. "Bu Siti,kamar yang ibu mau sudah ada,sudah di siapkan!" Jelasnya.


"Oh iya terimakasih sus!" Jawab Siti lirih.


Rey meraih wajah istrinya dan menangkupnya. Menatapnya dalam-dalam." Lihat saya! Kenapa,hmm?" Ucapnya lembut agar istrinya tidak takut dan mau jujur.


Siti gelagapan di tatap seperti itu. Untungnya saat itu masih sepi,suster jaga sedang sibuk mengurus pasien baru.


"Saya tidak nyaman di kamar itu."Ucap Siti lirih sambil mencoba menatap suaminya. Mereka bersitatap cukup lama hingga mata Siti terasa panas dan mulai mengeluarkan sesuatu yang dari tadi dia tahan.


"Iya. Alasannya apa? Kenapa merasa tidak nyaman?"


"Ehhemm!" Tiba-tiba paman Siti sudah berdiri di dekat mereka.


"Paman?" Siti kaget.


"Siti trauma dengan Rumah Sakit. Trauma di kamar rawat inap yang luas. Sendirian tanpa seorang pun! Sudah sejak dia kecil!" Terang paman tanpa di minta.


"Apa? Kan nanti saya yang temani! Kamu hanya sendirian sementara!" Terang Rey.


"Ka,kamu mau menemani saya?" Tanya Siti gugup.


Rey tertawa sambil mengusap wajahnya." Kenapa kamu berpikir kalau saya tidak akan menemani kamu?"


"Paman tinggal ke kamar. Kalian bicaralah!" Paman pamit meninggalkan mereka berdua.


Siti tidak menjawab. Dia tidak mau suaminya marah dan akan membuat hubungan mereka makin buruk.


"Hmm,saya tadi pulang sebentar ke rumah mengambil pakaian ganti punya kamu dan juga saya. Mama ingin ikut tapi beliau mau menunggu papa juga. Jadi saya kesini sama mama papa. Mereka sedang menunggu di kamar kamu! Ayo kita kesana! Jangan berpikir pindah kamar lagi!" Terang Rey sambil membopong Siti.


"Saya jalan sendiri saja!" Tolak Siti malu-malu. Dia sudah berprasangka buruk terhadap suaminya itu.


"Jangan membantah! Kamu pegang saja infusnya!" Titah Rey lalu membawa Siti kembali ke kamarnya.


NEXT


160421/10.10

__ADS_1


__ADS_2