Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 147 ( S2 )


__ADS_3

Semua orang yang ada di ruangan Romi menatap ke arah om Adit yang melenggang masuk. Dia lalu mengambil tempat duduk di sebelah pengacara Rudi.


"Apa kabar tuan pengacara?" sapanya dengan tatapan menyelidik seraya mengulurkan tangannya ke arah pengacara Rudi.


Pengacara Rudi menyambut uluran tangan om Adit, "Alhamdulillah,kabar saya baik,"


"Oh iya,ada apa ke sini?"


"Hhmm,saya di panggil oleh pak Romi kemari,pak Adit." sahut pengacara Rudi.


"Oohh,dalam rangka apa?" tanyanya lagi seraya menatap ke arah Romi.


"Hhmm,ini hanya urusan antara kakak dan adiknya saja,om." terang Romi.


"Hhmm,oh ya? Lalu kenapa ada istri kamu?" tanyanya lagi seraya menunjuk Ratna dengan menggerakkan kepalanya.


"Dia istriku,om. Dia akan selalu ada di sampingku!" tegas Romi.


"Hhmm,jadi om di anggap orang lain,ya?" nada suara om Adit terdengar tidak terima.


"Om Adit adalah omku. Sama halnya seperti pakde Arman yang adalah pakdeku!" tegas Romi lagi. "Jadi bisa kan om,aku ingin bicara hanya dengan adikku?"


"Hhmm,lantas pengacara Rudi kenapa ikut ke sini?"


"Om,pengacara Rudi hanya sebagai saksi. Dan aku butuh beliau. Apa aku tidak boleh mempunyai urusan pribadi tanpa om tau? Toh aku tidak pernah ingin tau urusan om kan?"


Rahang om Adit langsung mengeras,tangannya pun mengepal. Dia merasa sakit hati atas ucapan Romi. Tanpa berkata-kata lagi,om Adit bangkit berdiri lalu berjalan keluar dari ruangan Romi.


"Bang?" Aaron menatap heran kearah abangnya.


"Lanjut,pak Rudi," titah Romi.


"Begini,pak Romi. Sebenarnya saya belum bisa mengatakan ini,sebelum saudara Aaron menikah." terang pengacara Rudi.


Aaron mengernyitkan dahinya, "Maksud pak Rudi? Kenapa aku harus menikah dulu?"


"Ini sesuai permintaan pak Rafael selaku wali kalian," terangnya lagi.


"Maksud pak Rudi,adik saya harus menikah dulu baru mendapatkan saham seperti saya,begitu?" Romi mulai paham arah bicara pengacaranya.


Pengacara Rudi garuk-garuk kepala. Kalau dia sampai cerita,bisa mendapatkan masalah dari Rafael selaku ayah dari Romi dan Aaron.


Tiba-tiba terdengar suara dering telpon. Rupanya handphone pengacara Rudi yang berbunyi. Dia segera berdiri. "Saya permisi dulu," pamitnya.


Romi menatapnya curiga. Kenapa harus menjauh saat menerima telpon.

__ADS_1


Lima menit kemudian,pengacara Rudi kembali duduk di sofa.


"Bagaimana,pak?" tanya Romi.


"Hhmm,pak Romi mau memberikan saham pada adik dan istri sebanyak berapa persen?"


"Aaron adalah adik kandung saya. Jika saya mendapatkan saham dari perusahaan ini,maka tidak mungkin Aaron tidak dapat,kan?" Romi menatap pengacara Rudi dengan tatapan menyelidik.


"Hhmm,i-itu benar," jawab pengacara Rudi gugup.


"Berapa persen saham milik Aaron?"


"Hhmm,kalau masalah itu hanya akan di beritahu saat saudara Aaron menikah,sama halnya pak Romi," terang pengacara Rudi ragu-ragu.


"Hhmm,jadi benar kalau Aaron harus menikah dulu? Apa sama jumlahnya seperti milik saya?"


Pengacara Rudi terlihat bingung. "Hhmm,saya belum bisa mengatakannya."


"Hhmm,baiklah pak Rudi. Jika bapak tidak mau transparan pada kami tidak masalah. Saya punya kenalan pengacara profesional. . ."


"Maksud pak Romi bagaimana,ya?"


"Saya hanya ingin kejelasan,pak. Jika bapak seperti ini,saya akan pilih pengacara saya sendiri!" tegas Romi.


Mata Pengacara Rudi membulat sempurna lalu menelan salivanya kasar. "Hhmm,bukan maksud saya tidak transparan,pak Romi. Saya hanya menjalankan wasiat saja,"


Pengacara Rudi terlihat bingung. Entah apa yang ada di pikirannya. Dia menarik nafasnya berat lalu membuka tas kopernya yang berisi surat-surat. Dia mengeluarkan satu map lalu di berikan pada Romi.


Romi langsung menerimanya. Mata Romi membulat lalu rahangnya mengeras.


"Jadi benar apa yang saya pikirkan. Kalau adik saya mendapatkan hak yang sama seperti saya. Kenapa harus di rahasiakan selama ini? Pantas saja papi selalu berusaha melarang saya untuk cepat-cepat menikah. Supaya dia bisa terus menikmati uang yang harusnya hak saya!" Romi terlihat menahan emosi.


"I-iya benar. Hhmm,jadi sodara Aaron baru bisa mendapatkan haknya jika dia sudah menikah," terang pengacara Rudi.


"Baiklah,adik saya akan segera menikah agar dia bisa segera mendapatkan haknya dan papi tidak akan bisa lagi menguasai apa yang jadi hak Aaron!"


"Apa,bang? Aku harus segera menikah? Menikah sama siapa,bang?" Aaron kaget dan bingung.


"Menikahlah dengan pacar kamu!" tegas Romi.


Aaron mengusap wajahnya kasar. Pacar yang mana pula? Cinta mana mau cepat-cepat menikah denganku. Batin Aaron bimbang.


"Jadi soal pembagian saham,bagaimana pak Romi?" tanya pengacara Rudi.


Romi menoleh ke arah Aaron lalu ke arah Ratna, "Hhmm,baiklah. Ternyata Aaron pun memiliki saham yang sama seperti saya jika sudah menikah,maka saham saya akan saya bagi kapada istri saya!"

__ADS_1


Ratna membulatkan matanya. "Tapi,bang?"


"Sssttt!" Romi menempelkan jari telunjuknya ke bibir lalu menoleh ke arah pengacara Rudi, "Saya akan memberikan dua puluh lima persen saham saya untuk istri saya!"


"Hhmm,baiklah pak Romi," sahut pengacara Rdui.


Romi lalu menoleh ke arah Aaron, "Karena kita memiliki saham yang sama,abang tidak jadi memberikan sebagian saham abang untuk kamu. Kamu tidak apa-apa kan?"


Aaron mengangguk, "Aku tidak masalah,bang. Aku hanya bingung kalau harus cepat-cepat menikah. Aku tidak tau mau menikah dengan siapa."


"Menikahlah dengan Cinta. Bukankah kalian saling mencintai?"


Aaron membulatkan mataya, "Jangan gila,bang! Cinta masih sekolah. Baru kelas satu SMU! Mana mungkin dia dan keluarganya setuju," ucap Aaron gusar.


"Bicara baik-baik. Kasih alasan yang tepat. Mungkin saja mereka mau mengerti. Atau kamu menikah sama teman kuliah kamu,masa tidak ada yang cantik?"


"Iihh,abang. Bukan masalah cantik apa tidak. Aku cuma mau sama Cinta!"


"Hhh,bucin!" gumam Romi.


"Seperti abang tidak pernah saja. Huhh," ucap Aaron kesal.


Romi dan pengacara Rudi kemudian membahas masalah pembagian saham miliknya untuk Ratna. Supaya tiap bulan,pendapatan dari perusahaan bisa langsung masuk ke rekening istrinya itu.


"Bu Ratna,silahkan tanda tangan di sini," titah pengacara Rudi.


Ratna menatap Romi bingung. Romi lalu menganggukkan kepalanya. Dengan ragu,akhirnya Ratna mau menandatangani berkas yang ada di hadapannya.


Romi tersenyum. Dia merasa lega. Semoga ini keputusan terbaik. Jika terjadi sesuatu,aku tidak perlu lagi khawatir Ratna nanti akan kesusahan hidupnya. Batin Romi.


Sementara Aaron sibuk dengan pikirannya sendiri.


Huhh,Cinta mana mau aku ajak nikah sekarang. Apalagi papanya,bisa di hajar aku. Ahh,biarin sajalah papi mengambil hakku sekarang. Nanti kalau aku sudah nikah masih bisa aku ambil. Daripada aku harus menikah dengan orang lain,kan? Iiihh,lebih baik aku tunggu Cinta siap saja. batin Aaron.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


22


__ADS_2