Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 148 ( S2 )


__ADS_3

"Aku tidak bisa menikah dengan orang lain,bang. Hartaku banyak tapi aku tidak bahagia buat apa? Aku yakin Cinta pun akan kecewa kalau aku menikah dengan orang lain. Aku sudah berjanji padanya,bang!"


"Kalau abang sih tidak memaksa kamu harus menikah secepatnya. Abang hanya tidak mau papi dan juga om Adit menikmati harta warisan kamu. Kamu lihat sendiri kan tadi pengacara Rudi berusaha menutup-nutupi sesuatu yang penting atas suruhan papi dan juga ancaman pastinya. Abang tidak terima atas apa yang mereka lakukan!" terang Romi panjang lebar saat mereka sedang di perjalanan pulang.


Hhh,Aaron menghela nafasnya pelan seraya memejamkan matanya. Bagaimana cara membujuk Cinta agar mau aku nikahi cepat-cepat. Papanya Cinta juga pasti menentang keras.


Setengah jam kemudian,mereka akhirnya sampai juga di rumah. Romi dan Ratna langsung masuk ke kamar mereka sedangkan Aaron langsung menuju kamarnya. Dia masih bimbang dengan keputusannya.


"Ke kamar mandi dulu,ya bang?" tanya Ratna.


"Iya,abang mau langsung mandi," jawab Romi.


Ratna lalu mengantar Romi ke kamar mandi. "Mandi di bathup apa pakai shower saja,bang?"


"Bathup ya,sama kamu juga," jawab Romi seraya tersenyum menggoda ke arah Ratna membuat istrinya itu tersenyum malu.


***


"Aku coba telpon Cinta,ah. Kangen juga sama dia. Moga saja dia mau jawab panggilan telponku," gumam Aaron.


Tuuuttt. Panggilan pertama tidak ada jawaban. Aaron terlihat bingung apa harus mencoba menelpon lagi. Dengan ragu,akhirnya Aaron mencoba menelpon Cinta lagi. Dan senyum langsung mengembang di wajahnya saat panggilan telponnya di angkat.


"Hallo,Cin?"


"Kamu apa kabar?"


"Aku boleh main ke rumah kamu? Sudah lama kan?"


"Hhmm,sebentar saja."


"Hhmm,baiklah kalau gitu. Aku tunggu kabarnya ya."


Tuuttt. Aaron menghela nafas panjang. Ketemu sebentar saja dia tidak mau,apalagi aku ajak nikah. Huuhh,jangan bermimpi,Aaron. Batinnya.


Aaron lalu ke kamar mandi.


***


Besoknya pagi-pagi sekali Aaron sudah rapi. Dia buru-buru keluar dengan membawa mobil sendiri.


"Loh,kamu tidak bareng sama abang kamu?" tanya pakde saat berpapasan dengan Aaron di halaman rumah.


"Aku ada urusan penting,tungguin abang lama,pakde. Nanti kalau abang tanyain aku,bilang saja aku ada urusan ya," ucap Aaron lalu buru-buru pergi.


Aaron gegas mengemudikan mobilnya. Karena masih pagi,jalanan belum terlalu ramai. Tidak sampai satu jam,Aaron sampai di sebuah sekolahan. Aaron lalu memarkirkan mobilnya tidak jauh dari sana. Setelah memarkirkan mobilnya,Aaron lantas turun lalu berjalan ke arah gerbang sekolah. Aaron menunggu dengan gelisah.


Beberapa saat kemudian,datang sebuah mobil yang membuat Aaron menarik senyumnya. "Cinta," gumamnya.


Saat orang yang di tunggu datang,Aaron buru-buru mendekatinya.


"Cinta. . ." serunya saat mereka hampir dekat.


Cinta kaget. Matanya membulat sempurna. Dia terdiam beberapa saat. "Ka-kamu?"


"Bisa kita bicara lima menit saja?" pinta Aaron dengan wajah memohon.

__ADS_1


"Hhmm,mau bicara apa?"


"Aku nanti malam boleh ke rumah kamu? Sekalian mau bicara sama papa kamu,"


"Cinta. Hhm,Cinta sekarang tidur di rumah bunda,"


"Hhmm,ya sudah aku ke rumah bunda kamu nanti malam ya? Sebentar saja,Cin," Aaron kembali memohon.


Cinta menarik nafasnya berat, "Hhh,baiklah. Cinta masuk dulu nanti telat," pamit Cinta.


"Cin,terimakasih," ucap Aaron dengan senyum semringah.


Cinta menoleh sesaat lantas segera berlalu dari hadapan Aaron.


Aaron kembali naik ke mobilnya. Dia melajukan mobilnya ke tengah kota. Setengah jam lebih,dia sampai di depan sebuah gedung bertingkat.


Aaron memarkirkan mobilnya lantas segera turun. Tiba-tiba ada yang menyapanya.


"Aaron? Kamu beneran Aaron,kan?" sapa dua orang gadis yang memakai seragam.


"I-iya aku Aaron," jawab Aaron singkat.


"Aku,Nia. Kamu lupa,ya?" ucap gadis berambut pendek.


"Kalau aku,Meri. Pasti kamu ingat kan sama aku?" ucap gadis berambut panjang dengan percaya diri.


Aaron menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Hhmm,i-iya aku ingat kalian."


"Kamu makin tampan saja,"


"Kamu kenapa menghilang? Kenapa tidak kerja lagi di sini?"


"Aku mau fokus kuliah. Sudah dulu ya,aku buru-buru," pamit Aaron yang segera berlalu dari hadapan kedua gadis itu.


Aaron lalu naik ke lantai paling atas. Dia akan menemui seseorang. Sampai di depan ruangan yang dia tuju,ada seseorang yang memanggil namanya.


"Aaron. . . ?"


Aaron langsung menoleh kaget, "Pak Seno?"


"Kamu kemana saja baru kelihatan?"


"Aku,aku kuliah,pak," jawab Aaron.


"Oohh,kamu ke sini mau menemui siapa?" tanya Seno penasaran. Dia menatap ke arah Aaron lekat-lekat.


Aaron menjadi salah tingkah, "Aku-aku mau ketemu pak Rey," terang Aaron.


"Pak Rey belum datang. Mungkin sebebtar lagi. Mau masuk ke ruangan saya?" tawar Seno.


"Hhmm,terimakasih pak Seno. Saya menunggu pak Rey di sini saja," tolak Aaron halus.


"Oh,ya sudah. Saya tinggal dulu ya," pamit Seno dengan masih menatap curiga ke arah Aaron. Tidak biasanya anak itu datang sejak berhenti kerja. Hmm,ada apa nya. Batin Seno.


Aaron lalu duduk di kursi yang ada di depan ruangan Rey. Setengah jam kemudian Rey muncul. Dia baru saja keluar dari lift. Aaron langsung berdiri saat mengetahui orang yang di tunggunya datang. Dia mulai deg-degan.

__ADS_1


Dari jauh Rey menatap Aaron dengan dahi berkerut. Aaron. Ada apa anak itu ke sini.


"Pak Rey," sapa Aaron ramah.


"Aaron,sejak kapan di sini?"


Aaron makin salah tingkah. Lidahnya terasa kaku.


"Aaron?" tanya Rey lagi.


"Hhmm,pak Rey. A-apa ada waktu? Saya ingin bicara sebentar," ucap Aaron ragu-ragu.


Rey menatap arlogi di lengan kirinya, "Ok,saya hanya punya waktu setengah jam. Sebentar lagi akan ada rapat," terang Rey.


"Terimakasih,pak,"


Rey lalu masuk ke ruangannya di ikuti Aaron dari belakang. Rey lalu menaruh jas hitamnya ke sandaran kursi lalu duduk di sana.


"Silahkan duduk," titah Rey.


Aaron lalu duduk di kursi yang ada di seberang mejanya.


Aaron terlihat bingung. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tangannya pun dingin. Rasanya lebih menegangkan daripada saat menghadap dosen ketika dia membuat kesalahan.


"Mau bicara masalah apa?" tanya Rey tanpa basa-basi lagi.


"Hhmm,anu pak. Saya-saya. . ." Aaron terlihat gelisah. Dia menundukkan kepalanya.


"Anu,apa? Sudah berkurang lima menit nih."


"Hhmm,saya. Saya mau bicara penting."


"Iya bicara saja!" titah Rey yang makin penasaran melihat tingkah Aaron.


"Hhmm,tapi pak Rey jangan marah,ya?"


Dahi Rey berkerut, "Tergantung,"


Aaron mendongakkan kepalanya, "Hmm?"


"Aaron,waktu saya tinggal dikit," ucap Rey seraya menatap arlogi di pergelangan tangannya.


Duuhh,bagaimana ini? Kalau papanya Cinta marah bisa habis aku. Aku pasti tidak boleh menemui putrinya lagi. Batin Aaron.


.


.


.


.


.


20

__ADS_1


__ADS_2