Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 6 ( S2 )


__ADS_3

Di sekolah Cinta. Gadis itu lebih banyak diam daripada biasanya. Saat pelajaran pun dia tidak terlalu konsen dan lebih banyak melamun sambil mencoret-coret buku tulisnya.


"Kamu kenapa sih Cin? Sejak datang diem terus." Tanya teman sebangku Cinta,Mira.


Cinta hanya menoleh sesaat lalu kembali sibuk sendiri sampai jam istirahat.


"Ke kantin yuk,aku laper nih." Ajak Mira.


"Hmm,aku tidak lapar,Mir." Jawab Cinta tanpa menoleh.


"Hmm,kita beli bakso mang Abi,dia hari ini jualan loh." Tawar Mira.


"Aku tidak lapar,Mir." Cinta masih tetap tidak mau.


"Hmm,ya sudah kalau tidak mau. Apa mau titip gorengan atau cemilan lain?"


Cinta menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hmm,ya sudah deh." Mira langsung pergi dengan kesal.


Beberapa menit.


"Hai,Cin. Kamu kok tidak ikut ke kantin sama Mira?" Tanya teman sekelasnya yang lain,Anton. Dia duduk di bangku Mira.


Cinta hanya menoleh sesaat lalu kembali sibuk mencoret-coret buku tulisnya yang sudah penuh dengan coretannya.


"Kamu sakit ya dari tadi pagi aku perhatikan kok diem terus?"


"Hmm,kalau sakit,aku anter ke UKS,yuk." Tawarnya.


"Iya kepalaku pusing. Bisa kan diam,biar aku tidak makin pusing." Jawab Cinta kètus.


"Hmm,maaf Cin. Moga pusingnya cepat ilang ya." Ucapnya lalu berdiri dan meninggalkan Cinta sendirian. Beberapa langkah,dia kembali menoleh ke arah Cinta yang masih dengan posisi seperti tadi.


"Kamu kenapa sih Cin,susah banget di dekati." Gumam Anton.


Jam istirahat selesai. Mira sudah kembali dari kantin.


"Cin,nih aku bawain roti coklat kesukaan kamu sama air mineral. Masa kamu tidak haus dan lapar sih." Ucap Mira penuh perhatian sambil menyerahkan roti dan air mineral ke hadapan Cinta.


Cinta mengangguk. "Terimakasih." Ucapnya lalu segera menenggak air mineralnya. Dia memang merasa haus dan lapar tapi tidak berselera makan.


Saat pelajaran selesai,Cinta buru-buru membereskan alat tulisnya lalu menyimpannya ke dalam tas. Dia langsung keluar kelas meninggalkan Mira yang biasanya selalu bersama-sama ke pintu gerbang sekolah menunggu jemputan.


"Cin. . ." Teriak Mira yang tak di hiraukan oleh Cinta. "Cinta kenapa sih,hari ini aneh banget." Gumamnya sambil menggelengkan kepala.


Saat Cinta sedang berjalan sendirian ke pintu gerbang sekolah,tiba-tiba ada yang menyejajarkan langkah dengannya. Romi.


"Hai,Cin. Aku anter pulang yuk?"


Cinta menoleh sekilas lalu kembali fokus menatap lurus ke depan.


"Cin,aku tuh mau ngomong penting sama kamu. Bisa tidak kita bicara lima menit saja?"


Cinta tidak menoleh apalagi menjawab. Dia hanya ingin cepat pulang. Beruntung sopir yang biasa menjemputnya sudah ada di luar gerbang.


Tanpa menjawab pertanyaan Romi,Cinta segera menuju ke mobil jemputannya. Dia langsung membuka pintu mobil dan duduk di kursi depan di samping sopir.


"Non Cinta kok duduknya di depan?" Tanya pak sopir.


"Pak,antar Cinta ke kampus AA,ya!" Titahnya.


"Hmm,baik non." Mobil segera bergerak meninggalkan sekolah Cinta menuju kampus AA.


Hampir setengah jam perjalanan baru mereka sampai di kampus AA. Halaman kampus sangat ramai karena semua orang sudah mau pulang.


"Berhenti di sini sebentar,pak." Titahnya pada pak sopir.


"Baik non." Sopir pun langsung memarkirkan mobilnya di dekat pintu gerbang yang hanya ada satu dua mobil saja. Karena mobil-mobil yang lain terparkir agak masuk ke dalam.


Dari jauh,Cinta melihat omnya sedang berjalan berombongan. Ada seorang gadis cantik yang berjalan di sebelahnya. Mereka terlihat sangat akrab sambil sesekali gadis itu menggandeng tangan omnya dengan manja.


Cinta menatap nanar pemandangan di depannya. Matanya mulai terasa panas dan berair. Jadi dia. Batin Cinta.


"Pulang ke rumah bunda,pak." Titah Cinta pada sopirnya.


"Baik non."


Mobilpun segera meninggalkan halaman kampus.


Sampai di rumah bundanya,Cinta langsung naik tangga menuju kamarnya.


"Kakak?" Panggil bundanya.


"Kakak capek,bun." Sahut Cinta.


Sampai di kamar,Cinta langsung menyimpan tas sekolahnya lalu berbaring di kasur.


Hhhh,apa Cinta salah ya suka sama om Seno? Dia memang lebih pantas jadi omku tapi aku bener-bener seneng kalau dekat sama dia. Batin Cinta.


Kenapa rasanya sakit saat melihat mereka?


Karena terus melamunkan omnya,Cinta sampai-sampai tertidur.


***


Beberapa hari setelah acara wisuda Fia. Di sabtu siang menjelang sore,Seno sedang bersiap pulang. Dia sedang membereskan mejanya. Kemudian matanya tak sengaja menatap ke arah sofa. Biasanya keponakannya Cinta di jam-jam menjelang pulang,masih ada di ruangannya. Kadang sambil mengerjakan tugas sekolahnya,kadang hanya sekedar tiduran sambil memainkan handphonenya.


Sudah tiga hari keponakannya itu tidak terlihat. Biasanya paling lama dua hari dia tidak menampakkan batang hidungnya.


"Cinta kemana ya?" Gumam Seno. "Ah kenapa memikirkan anak itu. Bagus kan kalau dia tidak datang lagi,semoga dia mulai menyadari kalau aku ini adalah omnya.


Setelah semua tampak rapi,dia segera keluar dari ruangannya. Ruangan kakak iparnya sudah terkunci,artinya dia sudah pulang.


Seno melangkahkan kakinya ke lift. Setelah memencet tombol,dia segera masuk. Beberapa detik,dia sudah sampai di lantai dasar. Karyawan sudah pulang karena hari sabtu memang hanya setengah hari.


Dia lalu segera naik ke mobil yang sudah ada di depan,dengan di jaga oleh pak satpam.

__ADS_1


"Terimakasih,pak!" Ucap Seno ramah.


"Sama-sama pak Seno. Hati-hati di jalan."


Seno tersenyum sambil melambaikan tangannya. Dia melajukan mobilnya perlahan karena jalanan macet. Ketika melewati toko kue,Seno berhenti sebentar untuk membeli kue sebagai oleh-oleh untuk keluarga Fia.


Hampir satu jam dia baru sampai di rumah kontrakan Fia. Dia lalu memarkirkan mobilnya tak jauh dari kontrakan. Seno pun turun sambil membawa tiga paperbag berisi tiga macam kue.


Pintu rumah Fia terbuka,ternyata Fia yang baru saja keluar. Dia melihat kedatangan Seno dengan mata tak berkedip. Seno memang tidak memberitahukan tentang kedatangannya.


"Mas,kok tidak bilang kalau jadi datang hari ini?" Tanya Fia manja.


"Kan mas tidak janji. Tadi kebetulan kerjaan beres ya sudah langsung ke sini." Terang Seno sambil menyerahkan paperbag yang dia bawa.


"Makasih,mas. Kan bisa kabarin dulu, jaraknya kan jauh dari sini,Fia bisa siap-siap. Fia belum mandi." Ucapnya malu-malu.


"Ya sudah mas balik lagi ke kantor." Ucap Seno sambil membalik badannya.


"Iihh mas ini." Fia menarik tangan Seno. "Fia malu belum mandi,bau lagi.


"Ya sudah sana,memang bau kok."


"Hmm. . . Duduk di sini sebentar ya mas." Tunjuknya ke kursi plastik di teras. "Ayah sama ibu sedang tidur,adek lagi main handphone di kamar. Aku mandi dulu." Pamitnya.


"Hmm,jangan lama-lama." Pesan Seno.


Fia segera masuk. Seno lalu duduk sambil melihat-lihat sekeliling halaman. Suasana sepi hanya ada satu dua orang saja yang lewat. Sebenarnya dia ingin mengontrakkan Fia rumah yang lebih layak,tapi dia tidak ingin Fia jadi manja dan tau tentang keuangannya saat ini. Biarlah gadis itu menerimanya apa adanya.


Saat Seno sedang melihat-lihat ke jalanan,tiba-tiba ayahnya Fia muncul dari dalam rumah.


"Nak Seno." Sapa ayah Fia.


"Eh bapak,selamat sore pak." Sahut Seno lalu berdiri dan menyalami ayahnya Fia.


"Iya,silahkan duduk. Sudah lama datangnya?"


"Hmm,baru saja pak." Jawab Seno.


"Fia sedang mandi kata ibunya. Maaf ya jadi menunggu."


"Ooh tidak apa-apa kok pak."


"Loh nak Seno bawa mobil kakaknya lagi? Di ijinkan ya?"


"Oohh,hmm i iya pak." Jawab Seno gugup. Mau jujur tapi sudah terlanjur bohong waktu itu.


"Kalian mau keluar?"


"Hmm,iya pak mumpung saya bisa pulang lebih cepat jadi bisa ajak Fia jalan-jalan. Sekalian mau ajak bapak sama ibu jalan-jalan juga." Terang Seno.


"Loh,bapak sama ibu di ajak juga nak Seno?" Taya ayahnya Fia dengan wajah semringah.


"Iya pak,mumpung bapak sama ibu masih di sini." Jawab Seno.


"Ibu sama Selia sudah tahu kalau mau di ajak?"


"Ya sudah kalau begitu,bapak masuk dulu ya mau kasih tahu ibu sama Selia juga." Pamit bapaknya Selia.


"Iya pak silahkan." Sahut Seno.


"Nak Seno,di minum dulu tehnya." Ibunya Fia tiba-tiba sudah berdiri dekat mereka dengan membawa dua gelas teh hangat.


"Oohh,terimakasih bu. Merepotkan ibu saya." Jawab Seno.


"Tidak apa-apa kok nak Seno hanya segelas teh saja. Oh iya terimakasih kuenya ya." Ucap ibunya Fia. "Ibu tinggal masuk dulu." Pamitnya kemudian.


"Oh iya bu." Sahut Seno.


Tak berapa lama Fia keluar sudah dengan pakaian rapi.


"Hmm,mas. . ." Sapa Fia.


"Bapak sama ibu ikut juga sama adik kamu." Ucap Seno.


"Ayah sama ibu di ajak juga,mas?"


"Iya,mas sudah bilang tadi sama ayah kamu."


"Hmm,aku bilang ibu sama adek dulu ya." Ucap Fia yang hendak masuk ke dalam rumah.


"Bapak kamu yang kasih tahu ibu dan adik kamu." Terang Seno.


"Oohh ya sudah." Jawab Fia.


Setelah menunggu lima belas menit,ayah dan ibu Fia serta adiknya keluar sudah dengan pakaian rapi.


"Ayah tidak apa-apa pakai ini,Shofia?" Tanya ayah sambil menunjuk pakaiannya.


"Tidak apa-apa kok yah." Jawab Fia.


"Sudah siap semua? Kita jalan sekarang saja mumpung belum maghrib." Ajak Seno.


"Nanti kita tidak bisa maghrib an,nak." Ucap ayah Fia ragu.


"Kita nanti cari masjid kok pak." Jawab Seno.


"Iya pak,di perjalanan nanti pasti banyak ketemu masjid." Sahut ibu.


"Hehehe,iya. Ayo kalau begitu kita jalan sekarang saja." Ajak ayah bersemangat.


Mereka lalu berjalan menuju mobil Seno.


"Bapak duduk di depan saja sama saya." Ajak Seno.


"Oohh iya bapak seneng duduk di depan." Sahut ayah Fia antusias lalu segera naik ke mobil. "Pelan-pelan saja ya nak Seno."


Seno pun segera melajukan mobilnya pelan-pelan.

__ADS_1


"Kita mau jalan-jalan kemana,nak?" Tanya ayah Fia sambil menoleh ke arah Seno.


"Hmm,bapak maunya kemana?" Seno balik bertanya.


"Bapak sih ikut kalian saja maunya kemana."


"Kita ke Mal saja,ya?" Tanya Seno sambil menoleh ke belakang sebentar.


"Ibu mau ke Mal. Sudah lama tidak di ajak Fia ke Mal." Sahut ibunya Fia dari belakang.


"Yah,ibu kan jarang datang." Fia beralasan.


"Iya,sibuk ngurusin toko di desa." Jawab ibu.


"Ya sudah kalau gitu kita ke Mal yang dekat sini saja ya sekalian cari makan. Ada mushola juga kalau nanti pas maghrib."


"Iya,bapak terserah saja."


Seno pun segera melajukan mobilnya ke arah Mal yang paling dekat dari kontrakan Fia. Hanya lima belas menit saja mereka sudah sampai. Setelah memarkirkan mobilnya,Seno mengajak keluarga Fia untuk berkeliling.


"Kamu mau beli apa?" Tanya Seno sambil melirik Fia yang berjalan di sampingnya.


"Hmm,aku tidak mau beli apa-apa,mas." Jawab Fia malu-malu. Dia tidak pernah meminta di belikan apa-apa oleh Seno kecuali Seno yang membelikannya sendiri.


"Kita lihat pakaian,yuk." Ajak Seno.


Mereka lalu masuk ke gerai yang menjual bermacam pakaian dewasa baik untuk pria maupun wanita. Seno dan Fia memilih berdua.


"Kita couple an yuk mas?" Ajak Fia.


"Hmm,memangnya ada yang bisa untuk pria dan wanita?" Tanya Seno.


"Biasanya sih t-shirt,mas." Jawab Fia.


"Hmm,asal jangan yang ketat." Ucap Seno.


"Iya mas. Aku juga tidak mau pakai pakaian ketat kok." Sahut Fia.


Seno dan Fia memilih beberapa lembar pakaian. Seno juga membelikan pakaian untuk ayah,ibu serta adiknya Fia.


"Wah terimakasih loh nak Seno kita semua di belanjain." Ucap ayah.


"Iya pak,mumpung masih di sini." Sahut Seno.


"Yuk kita sholat maghrib dulu." Ajak Seno.


"Sholatnya di mana nak Seno?"


"Ada dekat sini kok,pak. Yuk!"


Mereka lalu mengikuti langkah kaki Seno.


Setelah sampai di mushola,mereka semua sholat. Setelah sholat,mereka kembali berkeliling Mal.


"Kita cari makan sekarang saja ya." Ajak Seno.


"Oh iya mas." Jawab Fia.


Mereka lalu ke foodcourt yang ada di lantai empat. Setelah naik lift,mereka pun sampai di foodcourt yang terlihat ramai.


"Wah,yang jualan banyak ya." Ucap bapaknya Fia sambil matanya melihat ke sekeliling Foodcourt. Mungkin ada lebih dari lima puluh tenant yang berjualan di sana sampai ayahnya Fia bingung mau makan apa.


"Fia,bapak makannya sama saja seperti kalian." Pinta bapak.


"Iya pak. Bapak sama ibu tunggu dan duduk di sini dulu ya biar kita yang pesan makanan." Ucap Fia sambil menaruh barang belanjaan mereka di atas meja.


"Iya nak,kita tunggu saja di sini." Jawab ibu yang mulai kelelahan berkeliling Mal sejak dua jam lalu.


Seno dan Fia lalu mencari tenant yang mereka inginkan lalu segera memesan makanan. Setelah memesan makanan,mereka kembali bergabung bersama keluarga Fia.


"Loh makanannya mana,Fia?" Tanya bapak.


"Nanti ada yang antar,pak. Kita tunggu saja di sini. " Jawab Fia.


Tak berapa lama pesanan mereka pun datang. Ayahnya Fia makan begitu lahab,mungkin sudah lapar.


"Enak ya ayamnya." Ucap ayah sambil menikmati makanan yang tersedia di depannya.


"Ini namanya steak ayam,yah." Terang Fia.


"Steak?" Dahi ayah berkerut.


"Iya,yah. Steak."


"Oohh." Ayahnya Fia manggut-manggut.


Setelah selesai makan,mereka istirahat beberapa menit lalu segera pulang. Seno mengantarkan keluarga Fia pulang ke rumah kontrakannya.


.


.


.


.


NEXT


.


.


.


.


0907/

__ADS_1


__ADS_2