
Tok tok. . .
"Itu pasti Aaron." Gumam Romi. "Bagaimana cara membuka pintunya?" Romi terlihat kebingungan.
Romi menoleh sekilas ke arah Ratna yang masih terbaring di lantai. Dadanya terasa nyeri. Wajahnya pun memerah. Demi bisa membuka pintu,Romi berjalan dengan mengesot untuk sampai ke pintu kamar.
Setelah bersusah payah,akhirnya Romi bisa meraih gagang pintu dan membuka kuncinya.
Ceklek. Pintu terbuka perlahan dan Romi buru-buru menjauh dari pintu.
"Bang? Kenapa abang di bawah?" Tanya Aaron kaget.
"Abang kan harus buka pintunya. Gimana sih! Ayo bantu abang!"
"Iya bang." Aaron segera membantu Romi duduk di kursi rodanya.
"Cepat kamu tolong Ratna! Dia pingsan dan,dan berdarah!" Pinta Romi dengan suara bergetar seraya tangannya menunjuk ke arah Ratna.
"Kak Ratna!" Aaron langsung panik melihat keadaan Ratna. "Kenapa bisa begini bang?"
"Tadi kita jatuh saat dia mau bantu abang ke kursi roda. Cepat kamu bawa ke Rumah Sakit.!"
Aaron pun segera membopong tubuh Ratna dengan darah yang sesekali menetes di lantai. Dia langsung membawa Ratna keluar dari kamar Romi. Romi hanya terpaku melihatnya. Harusnya aku yang menolongnya. Aku memang suami yang tidak berguna. Batinnya. Romi merasakan dadanya makin terasa sakit.
***
Aaron lalu meminta bantuan bibi untuk menjaga Ratna di kursi belakang sementara dia yang menyetir mobil..
Aaron pun mencari Rumah Sakit atau klinik terdekat. Hampir setengah jam mereka baru sampai di klinik bersalin. Aaron segera memarkirkan mobilnya lalu membopong tubuh Ratna yang sudah banyak mengeluarkan darah. Wajahnya pun makin pucat. Aaron semakin panik.
"Tolong buka pintunya,bi!" Titah Aaron pada bibi. Bibi pun segera membuka pintu klinik bersalinnya yang masih sepi karena masih pukul enam pagi.
"Tolong!" Teriak Aaron.
Seorang suster jaga menghampiri mereka. "Ada apa,pak?" Tanyanya.
"Tolong dia! Aku mohon!" Pinta Aaron dengan suara bergetar.
"Baiklah,pak. Baringkan dulu di sini!" Titah suster. Aaron lalu membaringkan Ratna di brangkar.
"Darahnya banyak sekali." Terang Aaron.
"Sabar ya pak,kita akan berusaha menolong istri bapak. Silahkan bapak tunggu dulu di luar." Ucap suster.
"Dia bukan istri saya tapi kakak saya."
"Oh iya. Sekarang kita akan tangani dulu pasiennya. Silahkan ke administrasi!"
Aaron pun segera keluar dari ruang tindakan menuju bagian administrasi. Setelah urusan administrasi selesai,Aaron kembali menunggu di depan,duduk di kursi panjang bersama bibi.
"Bagaimana keadaan non Ratna,den?" Tanya bibi penasaran.
"Belum tau,bi. Baru akan di tangani. Hanya ada dua suster tadi,dokternya belum ada."
"Hhh,semoga non Ratna tidak kenapa-kenapa ya den."
"Aamiin."
"Hhmm,maaf den apa boleh bibi bertanya?" Tanya bibi ragu-ragu.
__ADS_1
"Tanya apa,bi?"
"Hhmm,maaf ya den. Kok non Ratna banyak mengeluarkan darah?"
"Bang Romi bilang,kak Ratna jatuh."
"Hhmm,kasihan non Ratna."
Lima belas menit kemudian seorang suster keluar. "Keluarga pasien yang baru datang tadi mana ya?"
Aaron berdiri dari duduknya. "Saya,sus." Sahut Aaron.
"Oohh,suaminya mana?"
"Suaminya masih di rumah,sus."
"Loh kok tidak ikut kesini?"
"Hhmm,suaminya sedang sakit,sus."
"Sakit? Dokter mau bicara." Terang suster.
"Sama saya saja bisa,sus? Apa harus suaminya?"
"Ya,kalau suaminya sakit,kamu saja tidak apa-apa deh. Ayo ikut saya!" Ajak dokter.
Aaron lalu ikut masuk ke ruangan bersama suster.
"Suaminya?" Tanya dokter wanita yang menangani Ratna.
"Saya adiknya,adik suaminya. Suaminya sedang sakit di rumah,dok." Jawab Aaron.
"Hhmm,bagaimana ya. Begini,pasien mengalami keguguran." Terang dokter.
"Iya. Janinnya tidak bisa di selamatkan dan pasien juga kehilangan banyak darah. Beruntung di klinik ada stok darahnya."
Aaron mengusap kasar wajahnya. "Ya Allah,kasihan banget kak Ratna. Sekarang bagaimana kondisinya,dok?"
"Dia masih belum sadar karena pengaruh obat,mungkin satu jam lagi."
"Hhh."
"Apa pasien sempat terjatuh?"
"Iya,dok. Abang saya bilang mereka jatuh."
"Mereka? Maksudnya?"
"Tadi saat ingin membantu abang saya yang lumpuh duduk di kursi roda. Mereka tiba-tiba jatuh." Jelas Aaron.
Dokter mengernyitkan dahinya. "Dia membantu suaminya yang lumpuh sendirian? Setiap hari?"
Aaron mengangguk. "I-iya,dok."
Dokter menggeleng-gelengkan kepalanya. "Wajar saja dia keguguran. Selain karena jatuh,dia juga terlalu sering menganggkat beban berat. Yang di masa awal-awal kehamilan,dia seharusnya banyak beristirahat!" Tegas dokter kemudian segera berlalu meninggalkan Aaron yang terdiam.
Kenapa aku tidak berpikir sampai kesana? Aaron menarik rambutnya sendiri. Semua karena aku. Kak Ratna kehilangan bayinya karena aku.
Aaron memegangi kepalanya. Ada penyesalan mendalam di hatinya. "Kak Ratna,maafin aku." Gumamnya.
__ADS_1
Aaron lalu keluar lagi,duduk di sebelah bibi.
"Den,Aaron?"
Aaron mengangkat kepalanya. "Ya,bi?"
"Maaf,apa benar non Ratna keguguran? Jadi non Ratna sedang hamil?"
Aaron mengangguk. "Iya,bi. Bibi bisa kan jaga rahasia ini? Aku tidak mau keluarga om Adit sampai tau."
"Iya,den. Bibi tidak akan bicara apa-apa pada siapapun."
"Terimakasih,bi. Bibi jangan pulang dulu ya. Tolong temani kak Ratna. Mungkin dia lebih nyaman dengan sesama wanita."
"Iya,den."
Tak lama kemudian ada seorang suster memanggil. "Kaluarga pasien?"
Aaron dan bibi langsung berdiri. "Saya?" Sahut Aaron.
"Pasien sudah sadar. Silahkan kalau ingin menemuinya tapi jangan berisik ya."
"Alhamdulillah,sudah sadar." Ucap bibi.
"Terimakasih,sus. Ayo bi,kita temui kak Ratna!" Ajak Aaron.
Mereka lalu mengikuti langkah kaki suster yang menunjukkan di mana ruangan Ratna. Sampai di ruangan,terlihat Ratna yang sedang terbaring dengan selang infus. Wajahnya terlihat masih pucat.
"Kak,Ratna." Sapa Aaron.
Ratna menoleh. Dia menatap ke arah Aaron dan bibi dengan tatapan sendu.
"Kak,bagaimana keadaan kakak?" Tanya Aaron.
"Baik." Jawab Ratna pelan.
"Kak,tolong maafin aku dan bang Romi ya." Pinta Aaron dengan wajah memohon.
Ratna hanya tersenyum tipis lalu mengangguk pelan.
"Kak Ratna mau makan apa? Nanti aku bawain sekaligus membawa pakaian ganti kak Ratna.
"Terserah saja." Jawab Ratna tidak bersemangat.
"Hhmm,baiklah. Aku tinggal dulu ya,kak. Sekaligus memberitahukan kabar ini sama bang Romi. Aku akan ajak bang Romi ke sini."
Ratna diam saja. Apa mungkin bang Romi mau datang. Batin Ratna.
"Kak Ratna mau titip apa lagi?"
Ratna menggeleng cepat. "Tidak ada."
"Hhmm,baiklah kak. Aaron tinggal dulu ya. Bibi yang akan temani kakak di sini."
Ratna hanya mengangguk.
"Aaron lalu menoleh ke arah bibi. " Bi,tolong jaga kak Ratna ya. Aku tidak lama kok."
"Iya,den. Hati-hati di jalan ya."
__ADS_1
"Iya,bi. Aku pulang dulu. Assalammualaikum."
"Wa'alaikumsalam." Aaron segera keluar dari ruangan Ratna menuju parkiran. . .