Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 23 ( S2)


__ADS_3

Satu minggu berlalu. Seno mendadak memberitahukan perihal lamarannya ke Dinda pada keluarga kakak iparnya saat mereka baru selesai sarapan. Tentu saja Rey di bikin kaget. Begitupun orang tua Rey.


"Kamu serius mau lamar anaknya dokter Layli?" Tanya oma Asti kaget. Dia tidak menyangka Seno mempunyai keberanian melamar anak kesayangan dari sahabatnya itu.


"Hmm,iya ma." Jawab Seno mantap.


Semua orang diam sesaat,bingung harus berkomentar apa.


"Rencana Seno,nanti malam akan ke rumahnya untuk melamar." Ucap Seno lagi.


"Kenapa terburu-buru sekali?" Tanya oma Asti.


"Saya sudah beberapa bulan ini memikirkannya,ma." Jawab Seno.


"Kamu yakin dokter Layli mau menerima lamaran kamu?" Tanya opa.


"In sya Allah,pa."


"Hmm,papa sih terserah kamu saja. Kamu yang menjalani,asal kalian sama-sama suka tidak masalah." Ucap opa.


Sebenernya aku juga belum punya perasaan apa-apa sama Dinda,dan juga tidak tau bagaimana perasaan Dinda padaku. Batin Seno.


"Jadi nanti malam kamu mau melamarnya?" Tanya Siti.


"Iya mbak."


"Kamu sudah ada persiapan apa,dek?"


"Seno baru punya cincin,mbak."


"Ya sudah,nanti mama yang akan siapin bingkisannya ya." Tawar oma Asti.


"Hmm,merepotkan oma saja." Ucap Siti tidak enak hati.


"Tidak masalah. Mama senang melakukannya. Mama kan seneng kalau punya kesibukan." Ucap oma Asti bersemangat.


"Terimakasih,ma." Ucap Seno sambil tersenyum lega.


"Ya sudah kakak sama adek papa anter ke sekolah yuk,sudah jam berapa ini." Ajak Rey.


"Iya sayang,kalian berangkat sekolah dulu yuk Pamit sama omo opa dulu!" Titah Siti.


"Seno pamit juga pa,ma."


Setelah berpamitan,Rey dan anak-anak pun segera berangkat sementara Seno mengendarai mobilnya sendiri.


***


Hari menjelang sore. Seno sudah bersiap-siap pulang,begitupun Rey.


"Ayo sayang,bereskan barang-barang kamu,kita pulang sekarang!" Titah Rey pada Cinta yang makin sering main ke perusahaan papanya sepulang sekolah.


"Loh,kan baru jam tiga pa. Biasanya paling cepat jam empat baru pulang." Protes Cinta.


"Om Seno mau lamaran nanti sehabis maghrib,jadi kita pulang cepat siap-siap dulu." Terang Rey.


"Lamaran?" Tanya Cinta kaget.


"Iya sayang,papa belum cerita sama kamu ya. Om Seno mau melamar anak dokter Layli yang bernama Dinda. Kamu tidak kenal?"


Hhhh,Apa? Om Seno mau nikah lagi? Jadi sekarang om Seno sudah punya pacar lagi? Batin Cinta.


"Ayo,Cin. Kok malah melamun?" Ajak Rey yang sudah mau keluar dari ruangannya.


"I iya pa." Jawab Cinta. Huuhh,dasar om Seno, cepet banget dapet ganti. Dasar cowok playboy. Cinta benci sama om Seno! Gerutu Cinta dalam hati.


Cinta pun segera menyusul papanya yang sudah berada di luar. "Papa,tunggu Cinta donk!" Serunya.

__ADS_1


"Kamu lambat banget. Kamu ikut ya temani om Seno lamaran,hmm?"


"Males." Jawab Cinta ketus.


"Loh kok gitu jawabnya?"


"Ehmm,anu pa. Cinta males ke acara semacam itu!"


"Yah mungkin kamu mau lihat gimana perempuan di lamar. Kamu nanti juga kan pasti di lamar." Terang Rey.


"Iihh papa. Cinta kan masih kecil. Masih sekolah. Nanti Cinta mau cari yang seperti papa saja atau seperti ayah. Tidak gonta ganti!" Ucap Cinta ketus.


Rey mengernyitkan dahinya. "Sayang? Siapa yang ajarin kamu ngomong seperti itu,hmm?" Tanya Rey heran.


"Mas Rey,Cinta?" Ternyata Seno juga baru saja keluar dari ruangannya.


"Eehh,Seno." Ucap Rey keget.


"Hmm,ayo pa pulang." Cinta menarik tangan papanya.


Hhh,semoga Seno tidak dengar. Batin Rey. Rey pun mengikuti langkah kaki putrinya. "Ayo Seno kita pulang." Ajak Rey.


Cinta sepertinya benci sama aku. Hmm. Batin Seno. Seno pun mengikuti langkah kaki Rey di belakang.


***


Semua keluarga sudah bersiap-siap akan pergi ke rumah dokter Layli untuk melamar putrinya,Dinda. Semua persiapan bingkisan sudah di urus oleh oma Asti.


"Kita bawa dua mobil saja,ya?" Tanya Rey.


"Iya,biar papa sama mama satu mobil sama Seno." Jawab papa.


"Ok. Separuh bingkisan sudah di taruh di mobil Rey."


"Ya sudah ayo."


Mereka lalu berangkat ke rumah dokter Layli. Selama hampir satu jam perjalanan akhirnya mereka pun sampai. Seno turun lebih dulu. Setelah di sambut dengan hangat oleh keluarga dokter Layli,mereka pun masuk sambil membawa semua bingkisan yang telah di persiapkan.


Semoga kali ini aku tidak gagal. Doa Seno dalam hati. Setelah semua rangkaian proses lamaran selesai,mereka pun di jamu makan malam. Selesai makan malam,mereka ngobrol-ngobrol sebentar di ruang tamu karena memang mereka sudah lama tidak saling bertemu.


Seno mengajak Dinda untuk ngobrol di teras rumah agar lebih privasi. Gadis itu menurut saja. Ada rasa bahagia menyeruak di hatinya saat Seno memperlakukannya dengan manis tapi tetap masih terselip rasa takut dan gelisah dalam hatinya. Apakah dia bisa menjalani pernikahan ini.


"Kamu suka cincinnya?" Tanya Seno berusaha mencairkan suasana yang kaku antara mereka berdua.


"Hmm,i iya suka." Jawab Dinda gugup tanpa mau menatap ke arah Seno.


"Terimakasih. Tapi maaf,cincinnya sederhana."


Dinda menoleh. "Ehmm,bagus kok." Puji Dinda.


Seno tersenyum. Tidak ada gadis galak di balik sikap Dinda. Dia terlihat dewasa dan menyenangkan walau masih terkesan kaku.


"Kamu mau pernikahan seperti apa?"


"Aku,aku terserah mami saja." Jawab Dinda.


Hmm,semua terserah maminya. Nanti setelah nikah jangan-jangan semua tanya maminya. Batin Seno.


"Hmm,kamu tidak pernah berpikir mau pernikahan seperti apa?"


"Aku sih sama saja seperti orang lain. Tapi itu tidak terlalu penting." Ucap Dinda. Dia lalu berdiri,berjalan sedikit menjauh dari Seno sambil menatap langit yang tak ada satu pun bintang. "Aku hanya ingin di cintai oleh pasanganku." Gumam Dinda. Dia tidak sadar jika Seno sudah berdiri di belakangnya.


"Semua orang pasti menginginkan itu." Ucap Seno lalu berdiri di samping Dinda.


Dinda menoleh. Dia kaget Seno ada di belakangnya terlebih Seno mendengar gumamannya barusan. Wajahnya memerah karena malu. Seno pasti dengar ucapanku tadi. Batin Dinda lalu menutupi wajah dengan kedua tangannya.


"Kenapa wajahnya di tutupi?" Tanya Seno. Dia tau gadis di sampingnya sedang merasa malu. "Eehh kok di langit tidak ada bintang satu pun ya?" Seno melihat ke arah langit,berusaha mengalihkan pembicaraan agar Dinda tidak terus malu.

__ADS_1


Dinda pun ikut melihat langit. "Iya gelap." Jawab Dinda.


"Iya,gelap seperti aku ya. Makanya dari tadi kamu tidak mau melihat ke arahku."


Dinda menoleh ke arah Seno. "Hmm,si siapa yang tidak mau melihat kamu? Ya kan tidak mungkin di lihatin terus."


"Ya tidak apa-apa di lihatin terus. Siapa tau ketemu sesuatu."


"Sesuatu apa?"


"Sesuatu yang kamu cari mungkin?"


"Hmm?"


"Paman Seno." Seru Putra yang berlarian keluar mendekati mereka berdua.


"Eeh,sayang." Seno lalu menggendong keponakannya itu.


"Turunin,adek bukan anak kecil lagi!" Putra berontak minta di turunin.


"Hmm,keponakan paman ini sudah besar ya?"


"Iya donk,kan sudah sekolah jadi sudah besar." Celotehnya."


"Hehhe,"


"Paman,ayo pulang adek ngantuk. Mama sama papa lama banget." Pintanya dengan wajah memohon.


"Kita tunggu mama sama papa ya."


"Tapi adek sudah ngantuk,paman."


"Ya sudah adek bilang sama mama kalau adek ngantuk."


"Sudah tapi mama tidak dengar. Ngobrool terus. Adek capek." Keluhnya.


"Hehee,kamu kok gemesin sih dek. Coba bilang sekali lagi sama mama ya. Kali ini mama pasti dengar."


"Hhmm,iya deh. Adek bilang mama dulu ya,paman."


"Iya,sana.."


"Kalau mbak Siti pulang,aku juga pulang ya? Kamu tidak mau bilang apa-apa lagi sama aku,hmm?"


"Aku,tidak tau mau bilang apa." Jawab Dinda.


"Iya kita pulang sekarang. Sudah jangan nangis,katanya sudah besar." Ucap Rey yang baru saja keluar sambil menggendong Putra.


"Aku ikut mereka pulang,ya?" Tanya Seno sambil menoleh ke arah Dinda.


"I,iya. . ." Jawab Dinda sambil menatap Seno sekilas.


.


.


.


.


NEXT


.


.


.

__ADS_1


.


2907/2030


__ADS_2