
Seno membuka matanya. Dia mengernyit saat merasakan nyeri di dahinya. "Aaww." Dia meraba dahinya yang sudah berbalut perban. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Dinda?" Seno langsung duduk lalu menatap ke semua ruangan yang serba putih. "Dinda dimana?" Gumamnya. "Aahh,apa aku tadi pingsan setelah sampai klinik?"
Perlahan Seno turun dari brangkar. Dia memaksakan berjalan dengan menahan nyeri di kepalanya. Seno meraih gagang pintu. Ceklek. Seno menoleh ke kiri dan kanan.
"Seno!" Panggil seseorang. Ternyata suami mbaknya yang memanggil.
"Mas Rey?"
"Kamu sudah sadar? Kenapa bangun,tidur lagi saja!"
"Tapi mas? Aku mau lihat Dinda. Dinda di mana,mas?" Tanyanya dengan wajah teramat cemas.
"Dinda. Hmm,kamu sudah enakan?"
"Mas tau di mana Dinda? Dimana mas?" Seno terus bertanya.
"Kalau kamu sudah kuat berjalan,ayo ikut mas!" Ajak Rey.
Seno pun mengikuti langkah kaki Rey.
Sampai di depan ruang OK,Seno melihat mbaknya Siti sedang duduk di kursi panjang bersama mama mertuanya.
"Seno,kamu sudah sadar? Kamu tidak apa-apa kan,dek?" Siti langsung mendekati adeknya lalu meraba perban di kepala Seno.
"Seno tidak apa-apa,mbak. Dinda mana?"
"Dinda sedang di operasi. Kamu tidak sadar selama satu jam,dek." Terang Siti.
"Seno ingin masuk,mbak!"
"Nanti dek. Jangan asal masuk saja. Tunggu susternya dulu. Kamu duduk sini!"
Seno pun duduk di sebelah mbaknya.
Rey pun ikut duduk di sebelah Seno. "Bagaimana kejadiannya? Tadi polisi datang setelah melihat keadaan mobil kamu di jalan."
"Hhh,kejadiannya begitu cepat mas. Seno bahkan tidak melihat mobil yang nabrak kita dari belakang." Terang Seno.
"Jadi mobil kamu di tabrak dari belakang?" Tanya Siti kaget.
"Hmm,iya mbak."
"Apa jangan-jangan itu orang yang sama yang pernah nabrak mobil kamu waktu itu?"
"Apa mas? Mobil Seno pernah di tabrak?" Siti makin kaget. " Kapan? Kok aku tidak tau?"
"Sayang,itu sudah lama. Seno dan Dinda juga tidak kenapa-kenapa." Terang Rey.
"Hmm,kalian ini. Kejadian seperti itu tidak ada yang kasih tau aku." Ucap Siti kesal.
Tiba-tiba pintu ruangan OK terbuka. Seorang suster keluar.
"Suster,bagaimana Dinda? Bagaimana bayinya?"
"Mas ini suaminya mbak Dinda ya,ayo masuk!" Ajak suster. Seno buru-buru masuk mengikuto langkah kaki suster.
"Semoga Dinda dan bayinya selamat. Aamiin." Doa Siti yang di Aamiinkan juga oleh Rey dan mama mertuanya.
Dengan jantung yang berdegup kencang,Seno masuk ke ruangan OK. Di sana terlihat dua dokter dan beberapa suster sedang mengoperasi pasien. Salah satu dokternya adalah mami mertuanya sendiri. "Apa itu Dinda?" Seno terpaku di tempatnya berdiri.
"Ayo mas." Ajak suster itu.
Seno kembali melangkahkan kakinya perlahan,dia merasa seolah sendi-sendi kakinya lemas.
"Silahkan duduk di dekat kepalanya. Bisikkan sesuatu yang membuatnya bersemangat." Bisik suster.
__ADS_1
Membisikkan sesuatu yang membuatnya bersemangat? Apa maksud suster mengatakan itu? Batin Seno. Tak urung Seno pun mengikuti saran dari suster tadi.
Sebelumnya Seno membisikkan terlebih dahulu beberapa ayat suci Alquran di telinga Dinda. Lalu membisikkan tentang perasaannya terhadap istrinya itu. Baru kali ini Seno merasakan perasaan cinta yang luar biasa terhadap seorang wanita. Seorang wanita yang mau menjadi istrinya walau awalnya mereka tidak saling mencintai. Seseorang yang sabar menanti kata cinta darinya. Dan kini wanita itu sedang berjuang untuk buah cinta mereka.
Tanpa terasa,ada bulir hangat mengalir di sudut matanya.
"Mas mohon bertahanlah demi buah cinta kita walau bukan demi mas." Bisiknya terakhir sebelum terdengar suara tangisan bayi.
Seno seketika berdiri. Apa itu suara bayiku? Batinnya. Seno lalu mendekat.
"Sebentar ya pak,kami bersihkan dulu!" Ucap suster.
Ada rasa haru menyeruak di dalam hati Seno. Aku sudah jadi seorang ayah. Walau tidak seperti bayangannya saat menunggui proses istrinya melahirkan.
Seno kembali di samping Dinda. Setelah semua proses operasi caecar selesai,Seno keluar dari ruang OK,menuju ruang NICU
Bayinya yang terlahir premature akhirnya harus di rawat di ruang NICU dua sampai empat minggu.
"Bayi saya laki-laki apa perempuan,sus?" Tanya Seno.
"Bayi bapak perempuan,cantik seperti mamanya." Jawab suster.
"Alhamdulillah." Ucapnya sambil menatap bayinya yang sedang tertidur di dalam inkubator. Seno duduk di sebelah bayinya sambil membacakan beberapa ayat suci Alquran.
Setelah puas melihat bayinya,Seno keluar dari ruang NICU.
Di luar ruang NICU ternyata ada keluarganya sedang melihat bayinya melalui jendela.
"Seno. Selamat ya sudah jadi seorang ayah. Kamu harus sabar ya dek." Ucap Siti seraya mengusap punggung Seno.
"Iya mbak. Terimakasih."
"Seno,sabar ya." Ucap mami Dinda. "Sekarang kamu temui Dinda di ruang ranap sebelah ruangan mami. Biarkan dia beristirahat."
"Iya mi." Seno pun segera pergi menemui Dinda di ruang ranap.
Seno duduk di sampingnya seraya menggenggam jemari tangan kanan Dinda. Seno lalu membacakan beberapa ayat Alquran.
Setelah beberapa menit mulai terasa ada pergerakan yang Seno rasakan di jemari Dinda. Mata Dinda pun perlahan terbuka.
"Ehhm. . ." Gumamnya lirih.
"Sayang? Kamu sudah sadar?" Ucap Seno antara bahagia dan terharu.
"Hmm,mas?"
"Iya sayang. Ini mas."
"Aku di mana,mas?"
"Kamu sedang di klinik mami."
"Klinik mami?"
"Iya sayang. Kamu apa yang di rasain,hmm?"
"Hmm,perutku. Mas,kok perutku. . ." Dinda meraba-raba perutnya yang sudah rata.
"Bayi kita sudah lahir,yank. Perempuan,cantik seperti kamu!" Terang Seno.
"Apa mas? Mas tidak bercanda kan? Dimana dia?"
"Mas tidak bercanda,yank. Dia ada di ruang NICU. Ada mami yang jagain."
"Ruang NICU? Tapi dia baik-baik saja kan mas? Aku mau ke ruang NICU sekarang,mas." Dinda hendak turun dari tempat tidurnya.
"Sayang,kamu baru saja selesai operasi."
__ADS_1
"Aku,aku operasi caecar?"
Seno mengangguk. "Sudah,kamu jangan banyak gerak dulu ya. Soal bayi kita,dia baik-baik saja hanya butuh perawatan intensif saja karena belum cukup bulan."
"Tapi mas,aku ingin lihat dia." Pinta Dinda dengan wajah memohon.
"Hhh,tadi mami bilang kalau kamu harus istirahat Mungkin besok ya. Ini juga sudah malam,yank!"
Hhh,Dinda menarik nafasnya berat. "Ya sudah." Ucap Dinda pasrah.
"Kamu haus apa lapar?"
"Aku tidak merasa lapar,mas."
"Minum saja,ya?"
Dinda mengangguk. Seno lalu mengambilkan air mineral untuk Dinda.
"Nih yank. . ."
Dinda langsung minum sampai habis setengah.
"Mas,badanku rasanya lemas banget."
"Iya makaanya kamu istirahat dulu malam ini."
Dinda menatap Seno lalu menyentuh dahi suaminya itu. "Dahi mas terluka."
"Terluka dikit kok,tidak apa-apa." Ucap Seno.
"Hmm,mas. Siapa yang nabrak kita?"
"Mas belum tau,yank.Tadi saat polisi datang,mas belum sadar. Ternyata mas pingsan saat baru sampai di klinik. Mungkin besok polisi datang lagi.
"Hmm,semoga polisi bisa tau siapa pelakunya ya mas. Aku benar-benar tidak tenang."
"Aamiin. . ."
.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca,semoga suka. maaf kalau masih ada typo. Terimakasih ππ
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
2323