Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 22


__ADS_3

Siti sedang duduk di sofa di depan tv,tapi tatapannya kosong. Dia sedang mengingat-ingat percakapan antara Rey dengan temannya tadi di kafe.


"Jadi Cyndia menikah dengan orang lain? Wah,kok bisa ya? Bukannya kalian sama-sama bucin waktu sekolah,seakan tak terpisahkan,hehh?" Temannya Rey terus saja membahas tentang masa lalu suaminya dengan bundanya Cinta. Tapi Rey sedikit pun tidak mau mengomentari.


"Sudah malam,kita mau kembali ke villa." Rey buru-buru memotong omongan temannya itu.


"Aahh payah,jam segini masa sudah malam? Mentang-mentang sudah dapat pengganti yang tak kalah cakep! Jadi mau cepat-cepat pulang saja kamu,Rey" Gerutu temannya.


"Kita duluan!" Rey menepuk bahu temannya itu lalu menarik tangan Siti dan menggandengnya dengan mesra membuat Siti salah tingkah.


Di dalam mobil,mereka tidak ada yang bicara. Siti pun sibuk dengan pikirannya sendiri. Jadi Rey dan Cyndia. . .


***


Rey masuk ke kamar setelah ngobrol dengan penjaga villa di teras. Saat mereka sampai ke villa,pak Roni penjaga villa sedang duduk-duduk di teras sambil merokok.


Dia lalu pergi ke kamar mandi,tak berapa lama keluar lagi. "Pinjam sajadahmu." Pinta Rey yang membuat Siti kaget.


"Eehh,i iya sebentar." Siti lalu mengambil sajadah yang dia simpan di laci meja rias dan memberikannya pada Rey. "Ini. . ."


"Terimakasih. Kamu sudah sholat?"


"Sa saya sudah sholat tadi ketika baru sampai." Jawab Siti. Rey mengangguk. Memang sejak menikah,Siti hanya melihat suaminya itu sholat sesekali saja.


Karena mulai mengantuk,Siti berbaring di kasur setelah mematikan tv. Dia tidur menyamping membelakangi Rey.


"Tidur membelakangi suami itu dosa!" Seloroh Rey tiba-tiba. Siti menoleh menatap ke arahnya. Saat pandangan mata mereka bertemu,Siti cepat-cepat memalingkan muka. Dia lalu tidur menghadap langit-langit kamar,karena tidak mau di anggap berdosa jika tidur membelakangi suami. Rey tersenyum tipis melihat tingkahnya. Dia lalu ikut tidur di sebelah Siti. "Tidurlah,besok pagi-pagi sekali kita akan pergi!"


"Pergi?" Siti mengernyitkan dahi.


"Kalau tidak mau ya sudah saya pergi sendiri tidak apa-apa, kamu di sini saja!"


Siapa yang tidak mau? Itu kan pertanyaan bukan penolakan. Menyebalkan. Ucap Siti dalam hati.


***


"Ayo bangun!" Rey menepuk-nepuk bahu Siti. Siti menggeliat lalu mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia langsung kaget saat matanya bersitubruk dengan manik mata suaminya yang sedari tadi menatapnya. " Jangan jadi istri malas!" Ucapnya lalu berlalu meninggalkan Siti.


Siti bergegas bangun,mengambil pakaiannya lalu masuk ke kamar mandi. Kemudian dia sholat subuh. Siti melangkah keluar kamar bermaksud mencari suaminya. Dari pintu kamar dapat di lihat suaminya sedang mengobrol dengan bapak penjaga villa.


Rey yang mengetahui jika Siti sedang memperhatikannya segera menyudahi obrolannya dengan penjaga villa lalu dia berjalan mendekati Siti.


"Sudah siap?" Tanya Rey. Siti balas mengangguk. "Kita pergi sekarang mumpung masih pagi!" Ajak Rey yang membuat hati Siti berteriak senang.


Mobil sudah siap di depan teras. Rey membukakan pintu untuk Siti. Mereka pergi hanya berdua saja tanpa di temani sopir. Siti menyandarkan kepalanya di sisi kiri sambil melihat-lihat pemandangan yang kebanyakan pohon-pohon besar. Hanya ada dua tiga villa saja dengan jarak yang berjauhan.

__ADS_1


"Jalannya beda dengan yang semalam ya." Ucap Siti pelan hampir tidak terdengar. Rey diam tidak menanggapinya.


Suasana kembali hening ketika mobil mereka melewati lebih banyak pohon besar dengan di kelilingi ilalang.


"I ini di mana? Seperti hutan. Seram!" Siti menoleh kiri kanan dengan dahi berkerut.


Setengah jam kemudian. "Kita mau kemana ini kok lama sekali?"


Setelah hampir satu jam. "Kok tidak sampai-sampai?" Wajahnya mulai cemas.


Rey hanya senyum-senyum sendiri.


Siti menoleh ke arah Rey. "Ki,kita sebenarnya mau kemana?" Tanpa di sadari Siti memegang tangan kiri Rey. "Kok diam saja?" Siti mulai kesal. Rey tetap dengan senyum misteriusnya.


"Uuhh!" Siti lalu berpaling ke arah lain dengan wajah kesalnya.


Setengah jam kemudian,mobil Rey tiba di suatu tempat yang terdapat belasan mobil yang sudah terparkir rapi. Dari tempat parkir hanya terlihat pepohonan yang besar dan rimbun. Di tengah pepohonan terdapat jalan setapak yang menanjak dan berliku juga terlihat masih sangat alami. Rey segera memarkirkan mobilnya. Lalu Rey keluar terlebih dahulu sambil menenteng tas ransel kemudian membukakan pintu untuk Siti.


"Ayo. . .!" Ajaknya. Siti pun turun. Rey menggandeng tangan Siti menuju sebuah pos yang terdapat beberapa orang pria sedang mengobrol.


"Permisi pak!" Sapa Rey pada pria yang lebih dekat dengannya.


"Oh iya. Mau ke danau? Dua orang dewasa seratus lima puluh ribu." Ucap pria itu. Rey merogoh kantongnya lalu mengeluarkan tiga lembar uang kertas berwarna merah lalu di serahkan pada pria itu.


"Ini pak! Tolong titip mobil saya yang warna hitam itu ya pak!" Tunjuk Rey ke arah mobilnya.


"Ambil saja buat bapak semua. Saya jalan dulu ya pak!" Ucap Rey.


"Oh iya terimakasih. Kalian lewat jalan setapak itu. Nanti di sana ada petunjuk dan ada pos jaga satu lagi."


"Oh iya. Terimakasih pak!"


Rey menggandeng tangan Siti dengan erat saat menaiki jalan setapak." Hati-hati jalannya jangan sambil melamun!" Titah Rey. Siti melirik sekilas.


Setelah berjalan kurang dari setengah jam,mereka pun tiba di ujung jalan setapak. Terdapat hamparan luas dengan beberapa batu besar. Di tengahnya danau hijau nan indah terpampang membuat mata siapa pun yang melihat jadi terpesona.


"Subhanallah. . ." Ucap Siti lirih sambil bergelayut manja di lengan Rey. Rey menoleh dan Siti pun menoleh. Mereka bersitatap. Ketika sadar,Siti langsung melepaskan tangannya lalu tertunduk malu.


"Ayo kesana!" Ajak Rey. Siti pun mengikutinya. "Saya mau berenang! Kamu mau ikut?"


"A pa? Berenang? Saya tidak bisa berenang!" Jawab Siti.


"Nanti saya ajari!"


"Tapi kan tidak bawa pakaian ganti? Tidak punya pakaian renang juga."

__ADS_1


"Siapa yang suruh pakai pakaian renang,hmm? Di tas ini ada pakaian ganti."


"Pakaian saya?" Tanya Siti sambil menatap Rey.


"Masa pakaian saya?"


"Kapan bawanya?"


"Sudah tidak udah banyak tanya! Mau tidak?"


"Mau sih. Ta tapi takut!" Siti menunduk.


"Hmm,ada saja alasannya. Tidak mau ya sudah!" Rey berlalu meninggalkan Siti.


"Tunggu! I iya mau!" Siti setengah berlari mengejar Rey.


Rey menaruh tas ranselnya di atas sebuah batu. Dia lalu membuka pakaiannya hingga menyisakan celana selutut. Bbyyuuuurrrr!! Rey terjun ke danau. Dia hilang di bawah air. Hingga hitungan beberapa detik dia belum juga muncul hingga membuat Siti ketakutan.


"Rey! Reeyy!" Serunya sambil terus memandang ke arah danau dimana Rey menenggelamkan diri.


"Heeyy!" Rey tiba-tiba muncul di depan Siti membuat istrinya itu terkejut.


"Rey! Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Siti khawatir. Dia mendekat ke arah suaminya itu sambil tangannya menggapai-gapai. Rey tersenyum menatapnya. Sejurus kemudian tanpa Siti sadari,tiba-tiba Rey menarik tangannya hingga Siti terjun ke danau. Bbyyuuurrr!


"Aaahhh!" Jerit Siti ketakutan. Rey dengan sigap memeluknya hingga kepalanya muncul lagi ke permukaan danau. Tapi Siti masih memejamkan matanya dan nafasnya ngos-ngosan.


"Hey,hey! Buka matanya! Sudah tidak apa-apa kok!" Bisik Rey sambil mengusap-usap wajah Siti yang memucat. Sementara kaki Siti terus menendang-nendang.


Butuh waktu beberapa menit untuk memulihkan ketakutannya. Siti lalu membuka matanya perlahan sambil terus memeluk Rey erat.


"Sudah belum?" Tanya Rey sedikit cemas. Dia pikir istrinya itu tidak akan ketakutan seperti itu.


"Hhhmf. . .!" Nafas Siti masih memburu.


"Jadi belajar renang tidak,hmm? Apa masih mau pelukan terus?"


Siti menatapnya. Bertatapan dengan jarak sedekat itu membuat jantung Siti makin bertegup kencang. "Hmm,i yah!"


Rey lalu melepaskan satu tangan Siti tapi Siti buru-buru menggapai-gapai lagi tangannya. "Ja jangan lepasin!" Pintanya dengan suara bergetar.


"Kalau mau pelukan terus di villa saja bukan di sini!" Bisik Rey tepat di telingnya hingga wajahnya sedikit memerah dari sebelumnya yang terlihat pucat.


Siti menunduk saja tidak berani menatap suaminya itu. Rey tidak tahu jika istrinya itu sedang berjuang melawan ketakutannya.


NEXT

__ADS_1


110421/20.10


__ADS_2