
"Kita mau kemana?" Tanya Seno.
"Hmm,kita tidak punya kendaraan ya?" Tanya Dinda.
"Ada tuh banyak." Tunjuk Seno ke arah taxi-taxi yang lewat.
"Iihh."
"Memangnya mau kemana butuh kendaraan?" Tanya Seno.
"Aku mau ke Mal. Katanya mau cari pakaian buat aku."
"Mal?"
"Iya mal."
"Hmm,memangnya selain mal tidak ada yang jual pakaian?"
"Ada sih di butik tapi kan sambil jalan-jalan cari makan siang juga." Terang Dinda.
"Enak makan di kafe,cari pakaian kamu di butik." Bujuk Seno karena dia tidak suka ke mal.
"Hmm,belum laper."
"Kita cari pakaian kamu saja dulu di butik. Yuk!"
"Hhh,iya deh." Akhirnya Dinda mau di ajak ke butik saja.
Mereka berjalan kaki ke butik yang tidak jauh dari hotel dengan bergandengan tangan. Wajah Dinda terlihat sangat bahagia. Senyum selalu tersungging di wajahnya. Begini ya rasanya punya suami. Batinnya.
Dulu kemana-mana sering jalan kaki sama Fia,dia tidak takut kepanasan asalkan aku mau menemaninya. Ahh Fia,kenapa aku jadi inget dia. Sedang apa dia sekarang. Batin Seno.
"Itu butiknya." Tunjuk Dinda membuyarkan lamunan Seno.
"Hmm,ya ayo ke sana." Ajak Seno.
Mereka masuk ke dalam butik khusus pakaian wanita. Dinda sibuk memilih-milih pakaian sementara Seno berdiri di belakangnya.
"Ini bagus kan?" Tanyanya.
"Hmm,kamu suka?"
Dinda mengagguk.
"Bagus sih tapi pakainya pas kita sedang berdua saja." Ucap Seno.
"Hmm. . ." Dinda terlihat bingung.
"Kenapa?"
"Tidak boleh ya buat jalan?"
"Buat jalan,kita cari yang lain ya. Yang itu ambil saja buat di rumah." Jawab Seno.
Sepertinya dia tidak suka aku pilih yang ini. Apa terlihat seksi ya? Perasaan biasa saja. Hanya karena roknya di atas lutut. Hmm,ya sudah buat di rumah saja. Tapi dia sukanya pakaian model gimana. Batin Dinda.
"Kok malah melamun?"
"Hmm,tidak apa-apa."
Dinda lalu memilih-milih pakaian yang lain.
"Kalau ini,apa kamu suka?" Tanya Seno.
Dinda menoleh. "Hmm? Kamu suka?"
"Kan nanya."
"Hmm,kalau kamu suka aku ambil." Jawab Dinda.
Kenapa jadi kaku gini sih. Seno lalu mengajak Dinda ke pojokan. Seno memegang kedua bahu Dinda. "Din,aku maunya kamu pakai pakaian yang tertutup. Kamu mengerti kan?" Tanya Seno.
"Hmm,i iya." Jawab Dinda.
"Yuk kita cari lagi pakaian kamu." Ajak Seno.
Mereka lalu mencari lagi pakaian untuk Dinda. Setelah Dinda tau keinginan suaminya,dia bisa memilih pakaian yang dia suka dan juga yang di sukai oleh suaminya.
"Bagus-bagus pakaian yang kamu pilih." Puji Seno.
Dinda tersenyum. "Jadi yang pertama tadi tidak usah di ambil ya?"
"Ambil saja,buat kita kalau kita sedang berduaan." Ucap Seno.
Dinda tersenyum.
"Ada lagi? Tanya Seno.
Dinda menggelengkan kepalanya. "Sudah cukup."
Seno lalu membayar semua pakaian yang di pilih Dinda.
"Ya sudah,aku bayar dulu." Ucap Seno.
__ADS_1
Setelah selesai membayar,mereka keluar dari butik dengan Seno yang membawakan belanjaan Dinda.
"Biar aku yang bawa." Ucap Dinda.
"Jangan biar aku saja. Nanti kamu capek." Ucap Seno. Dinda tersenyum. Ternyata kamu suami yang pengertian. Batin Dinda.
"Kita mau ke kafe mana ya? Jangan yang jauh,capek." Ucap Dinda.
"Hmm,takut capek tapi ngajak ke mal." Sahut Seno.
"Hmm. . . Tapi jangan sekarang,masih belum laper."
"Kalau capek,nanti aku pijitin ya." Ucap Seno.
Dinda hanya tersenyum.
Mereka lalu duduk-duduk di taman yang ada di sisi jalan. "Kamu tidak haus,hmm?"
Dinda menggelengkan kepalanya. "Nanti saja di kafe."
"Kita ke masjid,yuk. Belum sholat." Ajak Seno.
Mereka kembali berjalan menuju masjid terdekat.
Setelah dari masjid. "Aku mulai laper." Ucap Dinda.
"Ya sudah kita ke kafe sekarang." Ajak Seno.
"Aku tuh suka menu utama di kafe depan perusahaannya mas Rey loh. Bener kamu bilang,enak banget." Ucap Dinda.
"Hmm,kapan-kapan kita makan di sana ya."
"Maunya sekarang." Ucap Dinda manja.
"Jauh dari sini. Naik taxi juga bisa hampir satu jam. Kan mami kamu mau datang ke hotel." Terang Seno.
"Hmm,iya sih."
"Eh kamu tadi panggil mas Rey pake mas. Panggil suaminya sendiri 'Seno'."
"Kan sudah terbiasa."
"Jadi karena biasa panggil suaminya cukup nama saja,tidak mau panggil 'mas'?"
"Hmm,i iya aku panggil mas." Ucap Dinda.
"Nah gitu."
"Ya sudah ayo mas.." Ajak Dinda.
"Ayo ke kafe. Hmm,aku laper."
"Ayo."
Beruntung tidak jauh dari sana ada sebuah kafe. Kafenya lumayan sepi mungkin karena sedang jam kerja.
"Itu ada kafe. Kita ke sana saja." Ajak Seno.
Sampai di kafe,mereka segera memesan makanan.
"Menu utamanya mana ya?" Tanya Dinda pada waiter.
"Ini mbak,yang nomor satu." Jawab waiter.
"Oohh,aku pesan ini deh." Tunjuk Dinda. "Hmm,kalau mas?"
"Samain saja." Jawab Seno.
Lima belas menit pesanan mereka datang.
"Lumayan enak,ya."
"Iya. Apalagi sedang lapar."
"Iihh."
"Ayo di habiskan biar ada tenaga!" Titah Seno.
"Aku masih ada tenaga kok. Kakiku yang sedikit capek." Jawab Dinda.
"Tenaga buat yang lain."
"Hmm,buat lain apaan?"
Seno hanya tersenyum. "Sudah di habiskan saja."
Dinda makan dengan lahab,sepertinya dia memang kelaparan. Hanya sebentar saja dia sudah menghabiskan makanannya lebih dulu daripada Seno.
Dia laper apa doyan. Batin Seno. "Mau nambah?"
Dinda menggeleng. "Kenyang."
"Habis makan kita langsung balik ke hotel ya."
__ADS_1
Dinda mengangguk.
"Hmm,kita berangkat jam berapa? Mami kamu tidak bilang kita bulan madu kemana?"
Dinda menggeleng. "Cuma bilang sore."
"Hmm,"
Setelah selesai makan,mereka pun pulang.
"Hmm,capek." Keluh Dinda.
"Yang ajak jalan-jalan siapa? Kalau mas sih lebih suka di hotel saja." Ucap Seno.
"Kan mau cari pakaian buat aku."
"Hmm. Ya sudah nanti mas pijitin tapi gantian ya!"
"Iiih sama saja bohong."
"Loh,kok gitu?"
"Ya capek lagi donk."
"Hmm,"
Lima belas menit kemudian mereka sampai lagi di lobi hotel.
"Capek beneran deh kakiku. . ." Keluh Dinda.
"Hmm,mas gendong ya!"
Dinda menggelengkan kepalanya. "Malu ih di liat banyak orang." Tolak Dinda.
"Jadi kalau sedang berdua tidak malu,hmm?"
"Iiihh." Wajah Dinda bersemu merah.
Mereka lalu naik lift menuju lantai 10 dimana kamar mereka berada.
Ceklek. Seno membuka pintu kamar hotel.
"Akhirnya sampai juga." Ucap Dinda lalu segera duduk di sofa.
"Cuci kaki tangan dulu kalau mau tidur!" Titah Seno.
"Aku mau mandi. Badanku lengket banget!"
"Mas juga mau mandi."
"Aku duluan aah!" Dinda langsung masuk ke dalam kamar mandi. Seno buru-buru menyusulnya.
"Mas,aku mandi duluan. Aku sudah gerah."
"Mas juga gerah."
"Gantian iiihh,sama istri tidak mau mengalah."
"Kenapa harus gantian? Seperti tadi kan bisa." Ucap Seno menatap Dinda dengan senyum menyeringai.
"Hmm,mas. Nanti jadi lama." Tolak Dinda dengan wajah memerah. Dia mengerti maksud suaminya hingga jantungnya mulai berdebar-debar.
"Paling setengah jam."
"Iiihh mas ini. Tadi lama kok."
"Sssttt. . . sebentar saja."
"Hmm,mas."
Dinda akhirnya membiarkan saja apa yang di lakukan suaminya. . .
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca. Jangan lupa dukungannya ya. Trims ππ
.
.
.
.
.
__ADS_1
0207/2020