Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 121 ( S2 )


__ADS_3

Aaron ikut sholat maghrib berjamaah di rumah Rey. Tapi sikap Cinta terasa dingin pada Aaron.


"Sekalian makan malam di sini ya?" Tawar Siti.


"Hhmm,terimakasih tapi saya pulang saja." Tolak Aaron halus.


"Loh kenapa? Sebentar lagi kita makan malam kok. Kamu ke sini mau ketemu Cinta kan?"


"Hhmm,i-iya bu. Tapi. . ." Aaron tampak ragu seraya melirik ke arah Cinta yang sedang ngobrol sama Ratna.


"Sudah,kamu duduk saja dulu. Ngobrol sama papanya Cinta. Saya mau siapin makan malam dulu."


Siti lalu meninggalkan Aaron yang masih terlihat bingung. Tak lama Rey datang. "Aaron? Ayo duduk. Kita makan malam dulu ya."


"Hhm,iya pak." Aaron akhirnya duduk di sebelah Rey. Matanya sesekali masih melirik ke arah Cinta yang sama sekali tidak mau menoleh ke arahnya. Cinta kenapa? Apa marah karena sudah lama aku tidak menghubunginya? Atau aku ada salah lain. Kemarin juga aku telpon tidak di jawab. Batin Aaron.


"Aaron,kok melamun?"


"Hhmm,tidak kok pak."


"Oh iya bagaimana kuliah kamu? Masih kuliah kan?"


"Iya pak,saya masih kuliah."


"Kuliah yang bener supaya bisa bantu abang kamu mengurus perusahaan."


"Iya. Sejak sakit,abang belum lagi bekerja."


"Hhmm,lalu siapa yang urus perusahaan? Orangtua kamu?"


"Sekarang yang urus perusahaan adiknya papi,om Adit." Terang Aaron.


"Hhmm,jadi papi kamu tidak pernah pulang?"


"Hanya sesekali saja. Terakhir saat oma meninggal."


"Tapi ada yang bantu mengurus abang kamu di rumah,kan?"


"Ada pak. Pakde Arman."


"Pakde Arman itu siapa kamu?"


"Pakde Arman itu sebenernya keluarga jauh. Karena hidup sendirian jadi saya minta untuk bantu di rumah sambil mengurus bang Romi."


"Kelihatannya dia baik,ya."


"Alhamdulillah,dia baik."


Tiba-tiba Siti menghampiri mereka. "Ayo semua,kita makan malam dulu yuk." Ajak Siti lalu kembali lagi ke ruang makan.


"Ayo Aaron,kita makan dulu." Ajak Rey lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah ruang makan di ikuti Aaron dari belakang.


Karena kursi makan hanya ada delapan sementara yang mau makan ada sembilan orang jadi Siti menyuapi Putra makan lebih dulu.


"Adek makan sama papa saja sini." Ajak Rey seraya mengulurkan tangannya ke arah Putra.


Putra menggelengkan kepalanya cepat. "Makan sama mama." Sahutnya manja.


"Aaron,makan yang banyak ya. Ratna juga. Cinta,Putri!" Titah oma.


"Iya oma." Sahut Putri dan Cinta yang duduk bersebelahan.


"Iya,terimakasih." Sahut Ratna.


Sementara Aaron hanya mengangguk sambil tersenyum dengan pandangan yang sesekali mengarah ke Cinta yang sibuk dengan makanan di hadapannya. Cinta sangat berbeda sekarang. Batin Aaron. Aaron makan dengan tidak bersemangat. Wajahnya terlihat murung.


Lima belas menit,semua keluarga sudah selesai makan malam lalu kembali berkumpul di ruang keluarga sambil nonton tv.


"Cinta. . ." Panggil Rey.


Cinta menoleh. "Hmm,iya pa."


"Sini,duduk dekat papa!" Titah Rey.


Cinta langsung cemberut karena di sebelah papanya ada Aaron yang tengah menatapnya lekat-lekat.


Cinta akhirnya mau mendekati papanya dengan malas-malasan padahal dia sedang ngobrol dengan Ratna. "Kak Ratna,Cinta tinggal dulu ya." Pamitnya pada Ratna.


Cinta duduk di sebelah kanan Rey karena ada Aaron yang duduk di sebelah kiri Rey. "Kenapa,pa?" Tanya Cinta malas.


"Ada Aaron,nih. Masa dari tadi tidak di ajak ngobrol?"


"Hhmm,Cinta sedang ngobrol sama kak Ratna." Cinta beralasan.


"Sama kak Ratna bisa nanti kan tinggal di sini juga. Kamu ajak Aaron ngobrol dulu sana!" Titah Rey.


Cinta memutar bola matanya malas sambil memasang wajah masam.


"Cin,tidak boleh bersikap seperti itu. Ayo sana ajak Aaron ngobrol di teras saja."


"Iihh,papa. Tidak ada yang mau Cinta obrolin kok. Cinta menginap di sini karena ingin ngobrol sama kak Ratna." Tolaknya.

__ADS_1


"Sebentar saja. Aaron sudah jauh-jauh datang. Sudah nunggu dari tadi. Ayo sana."


"Iihh,kenapa tidak pulang saja sih." Gumamnya. Cinta bangkit dari duduknya,lalu berjalan keluar dengan kesal.


"Aaron,sana ngobrol sama Cinta." Titah Rey pada Aaron yang dari tadi hanya memperhatikan saja Cinta dan papanya.


"Hhmm,iya pak. Saya permisi dulu." Pamit Aaron lalu pergi menyusul Cinta.


Cinta berdiri di sebelah kanan teras,bersandar di sisi dinding rumah dengan kedua tangan di lipat di dada.


Aaron lalu berdiri di sebelahnya. "Ehhmm,Cin." Sapa Aaron pelan.


Cinta membuang muka tanpa mau menyahut.


"Aku minta maaf ya kalau ada salah." Ucap Aaron lagi.


"Kalau? Tidak sadar ya sudah buat salah." Gumam Cinta yang hanya terdengar olehnya sendiri.


"Cin,jangan diam saja. Aku bingung. Kalau Cinta marah atau kesal,bilang saja. Aku. . .hmm,aku minta maaf Cin."


Mereka lalu diam beberapa menit. Tiba-tiba Aaron meraih tangan Cinta. Cinta yang kaget langsung menepiskan tangan Aaron. "Lepasin!"


"Cinta marah karena apa? Bilang sama aku." Pinta Aaron dengan wajah memohon. "Aku datang karena kangen kamu. Kangen banget!" Ucap Aaron dengan penekanan.


Hhhh,iya dulu Cinta seneng banget tiap denger kamu bilang kangen. Tapi sekarang,terdengar biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Karena Cinta tau kalau yang kamu bilang itu pasti bohong. Kamu kan sudah biasa bohong. Batin Cinta.


"Cin,jangan diam saja donk. . ."


Kamu tuh jahat sama seperti kakak kamu yang sudah jahatin kak Ratna. Kalian deketin kita karena ada maunya.


"Cin? Kalau kamu tetap tidak mau bicara juga,aku tidak akan pulang. Biar saja di sini sampai besok." Ancam Aaron.


"Iiihhh. Cinta tidak ingin bicara apa-apa sama kamu! Lebih baik pulang deh!" Usir Cinta.


"Kenapa? Kamu pasti sedang marah kan sama aku?"


"Sudah tau masih tanya lagi."


"Hhhh,tapi kamu belum bilang marahnya karena apa?"


"Masih belum ngerti juga??" Cinta menatap Aaron dengan wajah sedih.


"Aku kan salahnya banyak. Yang bikin Cinta sangat marah tu yang mana?"


Cinta kembali memalingkan wajahnya. "Cinta males ngomong sama tukang bohong!" Cinta mulai tidak bisa menahan emosinya.


"Hhhmm,aku juga banyak bohongnya ya."


"Cinta tidak punya salah apa-apa. Aku yang salah. Maafin aku ya." Aaron lalu menghadap ke arah Cinta. Ternyata mata Cinta sudah berkaca-kaca.


"Kamu nangis?"


"Siapa juga yang nangis!" Cinta berusaha menahan agar matanya tidak berkedip karena sekali kedipan saja,akan ada air yang mengalir ke pipinya.


"Aku sayang Cinta. Sayang banget!" Ucap Aaron dengan penekanan.


Cinta berjalan menjauh. Air matanya akhirnya lolos tanpa bisa di cegah.


"Cin?"


"Cinta sedang tidak ingin bicara. Tolong pulanglah!" Usir Cinta. Dari suaranya terdengar seperti sedang menahan tangis.


"Aku tidak akan pulang sebelum Cinta mau maafin aku. . "


"Kenapa kamu jahat sama Cinta? Kenapa kakak kamu jahat sama kak Ratna?"


"Aku awalnya juga tidak tau apa-apa soal kak Ratna. Aku baru tau,Cin."


Cinta menatap ke arah Aaron. "Kamu pasti janjian juga kan sama kakak kamu buat culik Cinta?" Tuduhnya.


Aaron kaget. "Apa? Demi Allah,aku tidak tau Cin!"


"Tidak tau kamu bilang? Kenapa kamu bisa ada di sana? Kenapa kamu tidak bilang sama Cinta waktu itu kalau kakak kamu yang culik Cinta!"


"Hhhmm,aku kebetulan melihat kamu di paviliun itu. Tapi aku tidak pernah berpikir untuk menculik kamu!" Tegas Aaron. "Hhmm,aku tidak bilang karena takut kamu marah."


"Kamu memang selalu bohong sama Cinta. Waktu pertama kita kenal,kamu juga bohong. Semua yang kamu bilang pasti bohong. Kamu cuma mau mainin Cinta kan,sama seperti kakak kamu yang mainin kak Ratna."


Hhhh,Aaron menarik nafasnya berat. "Aku bukan bang Romi. Aku dan dia berbeda. Aku benar-benar sayang sama kamu,Cin."


"Bohong! Kalau kamu sayang sama Cinta,kamu tidak akan bohongi Cinta!" Ucap Cinta dengan suara bergetar.


"Hhh,baiklah. Aku memang salah sudah bohong. Tapi kalau soal hati aku tidak bohong! Aku benar-benar sayang sama kamu!"


"Huuhh,masih tidak mau ngaku!"


"Kasih aku kesempatan ya. Mulai sekarang aku akan cerita semua sama kamu. Apa saja aku akan kasih tau kamu. Tidak akan bohong lagi!"


"Terus kalau ternyata kamu ketauan bohong lagi?"


"Kamu boleh pukul aku."

__ADS_1


"Iihh,memangnya Cinta tukang pukul?"


"Maafin ya?" Aaron berlutut di depan Cinta.


"Iihh apaan sih!"


"Maafin dulu!"


"Huuhh,iya-iya! Maksa banget."


Aaron lalu berdiri. "Terimakasih ya Cintaku." Ucap Aaron dengan senyum semringah.


"Iihh,jangan panggil seperti itu!"


"Lalu panggilnya seperti apa? Panggil 'yank' ya?Seperti papa kamu panggil mama kamu,hmm?" Goda Aaron.


Wajah Cinta langsung memerah. "Paan sih,memangnya kita sudah nikah."


"Iya,nanti kan kita mau nikah. Setelah kamu lulus sekolah."


"Hiiihh. Cinta tidak mau!"


"Tidak mau nolak kan?"


"Tau ah!"


Wajah Aaron mulai berseri. "Hhmm,jadi aku sudah di maafin kan? Jangan marah lagi ya? Aku sedih banget!"


"Salahnya suka bohong!"


"Hhhmm. Jadi sekarang kita sudah baikan kan?"


"Belum!"


"Loh kok belum??"


"Belum donk. Enak banget langsung baikan."


"Hhh,lalu baikannya kapan?"


"Satu bulan lagi!"


"Satu bulan lagi? Lama banget,yank!"


"Iihh kok panggil 'yank' lagi sih?"


"Panggil apa donk? Panggil 'Cintaku' tidak boleh,panggil 'yank' juga tidak boleh?"


"Terserah deh. Nyebelin!"


"Terimakasih ya 'Cintaku'. . .Aku sayang banget sama kamu. Cinta banget!" Ucap Aaron seraya mengusap pipi Cinta yang sedikit basah.


Cinta hanya menunduk dengan wajah memerah.


.


.


.


.


.


.


.


.NEXT


Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. 😍😍


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


1212


__ADS_2