
Setelah mengantar Cinta ke sekolahnya,Rey dan Seno langsung menuju perusahaannya. Sesuai janji,Rey akan menemui seseorang di restoran di depan gedung.
"Seno,kenapa tidak kamu minta dia datang saja ke perusahaan kita? Mas sebenarnya males kalau harus ketemu di restoran." Ucap Rey.
"Seno sudah menawarinya mas,tapi beliau tetap mau ketemu di restoran di depan gedung kita." Terang Seno.
"Hmm,bagaimana kalau kamu ikut juga?" Tawar Rey.
"Tapi Seno masih harus mengurus pekerjaan yang sama pak Budi,mas." Tolak Seno halus.
"Hhhh,! Ya sudah!"
Mobil Rey berhenti di depan gedung perusahaannya mengantarkan Seno. Setelah Seno turun,Rey kembali melajukan mobilnya ke restoran yang ada di depan gedung perusahaannya.
Rey mamarkirkan mobilnya di depan restoran. Lalu dia masuk dan memilih meja di tengah-tengah. Tapi baru saja dia menarik kursi,seseorang memanggilnya.
"Mas Rey!" Panggil orang itu. Rey langsung menoleh,dia merasa asing dengan suara orang yang memanggilnya. Di pojok ruangan,seorang wanita melambaikan tangannya ke arah Rey. Rey mengernyitkan dahinya lalu perlahan berjalan ke arah wanita itu duduk.
"Hmm,anda?"
"Iya saya Irene,mas. Sudah lupa ya?" Ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Reynand!" Ucap Rey lalu membalas uluran tangan wanita itu.
"Silahkan duduk mas." Tawar Irene.
Rey pun duduk di depan wanita itu. "Maaf,sudah membuat anda menunggu,bu Irene!" Ucap Rey dengan penekanan.
"Tidak usah formal begitu mas. Panggil aku Irene,toh aku belum menikah masa di panggil 'ibu'?" Ucapnya.
Rey memaksa untuk tersenyum. "Hmm,Maaf maksud saya. . ."
"Mas Rey mau pesan apa? Kita sarapan bersama ya!" Potong Irene.
"Terimakasih tapi saya sudah sarapan di rumah bersama anak dan istri saya!" Tegas Rey.
"Hmm,jadi mas benar-benar sudah punya anak ya? Kok cepat,apa hmm. . ." Irene menggantungkan ucapannya.
"Maaf,apa bisa kita bicara bisnis kita sekarang? Soalnya saya harus ke kantor polisi. Ada janji sama petugas kepolisian di sana." Terang Rey. Dia sengaja agar pertemuan mereka bisa di persingkat.
"Loh,ada urusan apa mas ke kantor polisi?"
"Ada sesuatu hal. Bagaimana,apa anda sudah membaca proposal yang di kirim oleh Seno?" Tanya Rey langsung. Dia malas membuang-buang waktu hanya untuk berbasa-basi dengan orang yang belum lama dia kenal.
"Mas kok buru-buru sekali sih? Saya laper ini."Ucap Irene dengan nada di bikin manja.
"Hmm,silahkan sarapan. Saya pesan minuman saja!" Ucap Rey akhirnya mengalah demi menghormati pak Alif,bosnya Irene.
"Ok deh,mas cukup temani saja aku sarapan." Irene pun sengaja makan dengan pelan.
Setelah Irene selesai dengan sarapannya,mereka langsung membahas isi proposal yang di ajukan oleh Seno. Rey pun tidak mau membuang-buang waktu saat Irene mencoba membelokkan pembicaraan mereka.
Setelah lebih satu jam,barulah mereka selesai dengan urusannya. Rey segera pamit meninggalkan Irene sendirian di sana.
__ADS_1
***
Rey yang sudah berjanji dengan paman Supri untuk datang ke kantor polisi usai pekerjaannya beres segera melajukan mobilnya ke kantor polisi.
Menempuh jarak hampir satu jam dari perusahaannya,akhirnya dia sampai juga di kantor polisi. Paman Supri dan Radit sudah menunggu di halaman kantor polisi.
"Rey,akhirnya kamu datang juga!" Seru paman setelah melihat kedatangan Rey. "Terimakasih,Rey." Ucapnya lagi.
"Iya paman. Kita langsung saja ke sana!" Ajak Rey.
Ternyata di dalam ruang tunggu sudah ada bi Rena. Bi Rena diam saja saat bertemu Rey,Rey pun sama diamnya.
Mereka lalu menemui petugas polisi yang menangani kasus Siti. Setelah rundingan,Rania bisa di bebaskan sore nanti karena masih harus mengurus beberapa berkas. Sebenarnya bisa saja Rania bebas siang itu tapi karena temannya juga ikut di bebaskan jadi masih harus menunggu.
Mereka di perbolehkan menemui Rania hanya lima menit saja. Rey hanya menunggu di ruang tunggu,dia masih malas untuk bertemu dengan adik sepupu istrinya itu.
"Rey." Sapa paman setelah keluar dari ruangan Rania.
"Ya paman. Bagaimana?"
"Rania. Rania hamil!" Ucap paman lirih.
"Apa? Hamil?" Tanya Rey kaget.
"Iya Rey. Terimakasih Rey. Kamu dan Siti sudah berbesar hati memaafkan dan membatalkan kasus ini. Paman akan bawa Rania pergi!" Ucap paman dengan wajah sedih.
"Hmm,iya paman. Semoga semua akan baik-baik saja!" Ucap Rey. "Rey permisi dulu paman." Pamit Rey kemudian yang di beri anggukan oleh paman.
"Ma,Siti mana?" Tanya Rey saat baru saja sampai rumah.
"Baru saja naik,nak. Bagaimana urusan kamu sudah selesai?"
"Hmm,sudah ma. Rey ke atas dulu ma!" Pamitnya kemudian segera naik ke atas menuju kamarnya.
Rey membuka pintu kamarnya perlahan takut bayinya sedang tidur. Benar saja,istrinya sedang menggendong bayinya yang sedang tertidur.
"Yank?"
"Mas,kirain pulang sore."
"Pekerjaan mas sudah selesai yank. Mas mandi dulu ya!" Pamit Rey yang segera masuk ke dalam kamar mandi.
Tidak sampai setengah jam,Rey sudah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang segar. Dia langsung menuju ruang ganti. Setelahnya dia kembali ke kamar.
"Yank,apa Putri rewel hari ini?" Tanya Rey yang duduk di sisi kasur di samping istrinya.
"Rewelnya sudah berkurang sejak ASIku lancar mas!" Terang Siti.
"Alhamdulillah yank,mas seneng dengernya."
"Mas sudah tidak ke kantor lagi?"
"Iya yank kan pekerjaan mas sudah beres."
__ADS_1
"Seno juga pulang mas?"
"Seno? Dia sampai jam tiga yank,terus langsung kuliah kan." Terang Rey. "Sebenarnya mas mau belikan dia mobil,tapi adikmu itu menolak terus.
"Iya mas,biarkan saja. Toh Seno sudah dapat bayaran dari mas tiap bulan,jadi biar dia pakai uangnya sendiri saja." Terang Siti.
"Tapi yank,bayaran kuliah pun dia tidak mau terima dari mas."
"Mas,biarkan dia mandiri. Lagian,mas kasih bayaran sama dia sudah lebih dari cukup bahkan lebih banyak dari dua temannya yang juga kerja sama mas."
"Iya kan pekerjaan mereka beda yank! Seno sudah bisa menggantikan sedikit pekerjaan mas,jadi mas bisa lebih santai dan bisa sering pulang cepat membantu kamu jagain Putri."
"Iya mas. Tapi biar saja. Seno memang dari dulu kalau punya uang sendiri tidak mau di kasih sama orang." Terang Siti. "Oh iya mas,mas sudah ke kantor polisi belum?"
"Hhhh,sudah yank. Yank,kamu jangan kaget ya!"
"Kaget kenapa mas? Ada masalah apa?" Wajah Siti terlihat khawatir.
"Hmm,Rania. Rania hamil!"
Siti kaget langsung menutup mulutnya beberapa saat. "Ha,hamil mas? Hamil sama siapa?"
"Mas tidak bertanya yank! Mereka sudah bisa bebas nanti sore jadi ya sudah mas langsung pulang."
"Ya Allah,kasihan Rania!" Ucap Siti lirih lalu dia mengusap wajahnya.
"Yank,tidak perlu kamu pikirkan. Dia masih punya orang tua yang lengkap yang akan mengurusnya jadi kamu tidak perlu memikirkannya!"
"Hmm,iya mas. Aku hanya kasihan saja."
"Semua sudah terjadi yank. Tinggal bagaimana mereka menyelesaikan masalah yang mereka ciptakan sendiri."
"Iya mas. Hmm,Cinta hari ini jadi di jemput ayahnya mas?"
"Iya yank. Cinta sudah lama di sini sejak Putri di bawa pulang." Jawab Rey.
"Oh iya mas."
"Sudah siang ini,makan siang yuk! Mas sudah lapar yank!" Ajak Rey.
"Iya mas. Putri kita taruh di ruang keluarga saja ya?"
"Jangan yank,habis makan mas mau langsung istirahat jadi biar suruh bibi yang jagain di kamar. Kasihan kalau di pindah-pindah nanti dia bangun."
"Hmm,iya mas."
Mereka lalu turun untuk makan siang bersama.
Terimakasih sudah membaca ππ
NEXT
310521/14.20
__ADS_1