Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 45


__ADS_3

Siti masuk ke dalam kamar saat suaminya sudah bangun. "Mas,nyaman tidurnya?"


Rey menoleh lalu menepuk-nepuk sisi kasur di sebelahnya agar Siti duduk. "Kurang nyaman tanpa kamu!" Jawabnya.


Wajah Siti langsung memerah. "Iihh,gombal!" Ucapnya lalu duduk di sebelah suaminya.


"Mas,kita ke pak Erte yuk. Kata Seno,kita di suruh serahin KTP sama buku nikah karena akan lama di sini! Sekalian mau kasih oleh-oleh." Terang Siti.


"Kapan? Sekarang?" Tanya Rey.


Siti mengangguk. "Lebih cepat lebih baik kan? Habis itu kita jalan-jalan,mau?"


"Ok sayang! Mau donk jalan-jalan sama istri tercinta!"


"Iihh makin pinter gombal!"


"Gombal itu bukannya buat lap ya?"


"Iihh,tahu ah!" Siti pura-pura cemberut.


"Hehee,ayo katanya mau ke pak Erte kok malah cemberut? Nanti cantiknya hilang,mas cari istri lagi deh!" Goda Rey.


"Iiihh mas ini! Kata-kata itu doa loh!" Siti memukul-mukul dada suaminya dengan wajah kesal.


"Astagfirullah! Mas becanda,sayang!" Rey meraih pundak Siti lalu memeluknya. "Maaf ya sayang."


"Nyebelin!" Wajah Siti memerah hingga matanya terasa panas.


"Mas tidak mungkin seperti itu sayang! Satu kamu saja tidak bakalan habis kok,masa mau yang lain!" Rey masih saja menggoda.


"Tahu ah! Kalau berani,tak tinggal pergi!" Ancam Siti.


"Ampun,ampun sayang! Kapok deh! Jangan di tinggal pergi mas ya!" Rey melepas pelukannya lalu menatap istrinya lekat-lekat. " Kamu di culik sehari saja mas sudah stres! Maafin mas ya!"


Siti memalingkan wajahnya. Dia takut kalau ucapan suaminya jadi kenyataan.


"Sudah donk,jangan sedih! Nanti bayi kita ikut sedih!"


"Biarin!" Siti masih memasang wajah sedih dan kesal.


"Loh jangan! Kalau dia sedih,mas tengokin tiap hari kalau perlu tiap jam!" Rey mengedipkan sebelah matanya.


"Iihh apaan! Males!"


"Hahaha. Makanya jangan sedih! Sini mas peluk lagi!" Rey lalu memeluk lagi istrinya dengan erat. " Mas sudah terlanjur cinta sama kamu,Siti!"


"Hmm,masa?"


Rey mengangguk.


"Sejak kapan?"


"Hmm,kapan ya?"


"Pikun!"


"Loh,suaminya di bilang pikun! Masih muda dan gagah begini!"


"Terus sejak kapan?" Siti masih penasaran. "Sejak tahu saya hamil? Sejak saya di culik? Kalau sejak menikah tidak mungkin!"


"Sayang,mas nikahi kamu itu tentu saja karena mas suka sama kamu! Kamu beda dari wanita lain! Ya karena Cinta juga suka sama kamu dan mau kamu jadi mamanya ya sudah kebetulan yang sangat di harapkan kan?"

__ADS_1


"Tapi mas dingin waktu itu! Tidur saja tidak mau satu ranjang!" Ucap Siti dengan nada sedih.


"Hehee,waktu itu apa yang kamu rasain,hmm?"


"Tahu ah!"


"Awalnya mas memang hanya suka sama kamu! Mas dingin itu karena mas bingung mau mulai dari mana. Mas juga mau meyakinkan perasaan mas dulu!"


Siti hanya diam mendengarkan sambil memainkan kerah baju Rey.


"Tapi ternyata keadaan membuat kita makin dekat. Kamu makin menggemaskan tiap harinya."


"Memangnya bayi menggemaskan!"


"Kamu memang menggemaskan! Kalau bukan karena gengsi,bisa-bisa tiap hari kamu mas ajak hmm," Rey menggantung ucapannya.


"Tiap hari apa?"


"Tiap hari mas ajak ehem ehem!"


"Iiihhh,dasar Rey!" Siti memukul-mukul dada suaminya.


"Hahaha!" Rey tergelak." Yuk jadi ke pak Erte kan?" Rey menatap istrinya.


"Hmm,iya jadi. Sekarang kita asar dulu mas. Habis itu makan. Baru ke pak Erte lalu jalan-jalan."


***


Siti dan Rey sudah tiba di depan rumah pak Erte dengan berjalan kaki.


"Assalammualaikum." Siti mengucapkan salam saat mereka sudah di depan pintu rumah pak Erte.


"Wa alaikumsalam." Seseorang membalas salam Siti dari dalam. Lalu tak lama kemudian keluar wanita paruh baya. "Kamu Siti?" Tanyanya yang ternyata istri pak Erte.


"Saya Rey,suami Siti!" Rey pun mengulurkan tangannya.


"Wah Siti kamu pinter cari suami,ya!" Seloroh bu Erte. Siti hanya senyum-senyum. "Ayo,ayo masuk!" Ajaknya.


Siti dan Rey lalu masuk ke rumah bu Erte yang lebih luas daripada rumah Siti. Keluarga pak Erte merupakan keluarga terpandang di desa Siti.


"Ayo duduk! Sebentar saya panggilkan suami saya dulu ya!" Pamit bu Erte. Siti dan Rey pun duduk di kursi yang ada di ruang tamu.


Setelah beberapa menit,muncul pak Erte dari dalam. Dia tersenyum melihat Siti. Siti dan Rey berdiri lalu mengulurkan tangannya.


"Siti? Ini suami kamu?" Tanya pak Erte.


"Iya pak. Ini suami saya,Rey."


"Saya Rey pak." Ucap Rey.


"Wah benar kata istri saya kalau Siti pinter cari suami!" Seloroh pak Erte sambil tersenyum. Siti dan Rey pun ikut tersenyum.


Mereka pun ngobrol kesana kesini. Siti lalu mengutarakan maksud kedatangannya. Dengan menyerahkan fotokopi KTP dan buku nikah serta oleh-oleh.


"Wah ada oleh-oleh juga. Merepotkan Siti saja!"" Ucap bu Erte.


"Tidak merepotkan kok bu! Terimakasih selama ini sudah membantu adik saya,Seno." Ucap Siti.


***


Siti dan Rey baru saja keluar dari rumah pak Erte. Di jalan dia banyak bertemu dengan ibu-ibu tetangganya juga teman sebayanya. Mereka banyak menghabiskan waktu di jalan karena banyak yang mengajak mereka ngobrol. Apalagi melihat suami Siti,mereka sampai terkagum-kagum bahkan ada yang iri.

__ADS_1


"Hebat kamu Siti,beberapa bulan ke kota eh pulang bawa suami ganteng!" Ucap salah satu ibu-ibu.


"Iya,sudah ganteng,kaya lagi. Rahasianya apa? Siapa tahu si Dini bisa mencontoh kamu" Ucap ibu-ibu dengan sinis.


"Mungkin Siti hamil duluan!" Bisik seseorang.


"Mungkin pakai ilmu?"


"Mungkin,mungkin. . ." Suara-suara orang yang iri terhadap Siti.


"Huuss jangan fitnah! Lihat,perut Siti masih rata begitu!" Ucap salah satu ibu yang terlihat baik dan mendukung Siti. "Sudah jodohnya Siti!"


"Kita pamit dulu ya ibu-ibu!" Pamit Siti. Daripada terus mendengarkan omongan orang yang tidak penting,Siti memilih mengajak suaminya berlalu dari sana.


"Jangan di ambil hati omongan mereka ya mas!" Siti menatap suaminya lekat-lekat.


"Mas ambil hati kamu saja! Buat mas seorang!" Goda Rey.


Siti mencubit perut suaminya. "Hati saya memang sudah jadi milik mas!"


Rey tersenyum lalu makin erat menggandeng istrinya. Mereka jalan-jalan keliling desa. Sampai tiba di pinggiran sungai yang airnya jernih. Karena hari menjelang sore,banyak yang sedang mandi dari anak kecil sampai orang dewasa.


"Air sungainya kelihatan sangat jernih ya!" Ucap Rey takjub.


"Iya mas. Adem,seger! Mas mau mandi di sungai?" Tanya Siti.


"Hmm,malu ah. Lagipula kan tidak bawa ganti. Kamu juga tidak boleh mandi di sungai!" Ucap Rey.


"Mas saja yang mandi! Nanti saya videoin."


"Waahh jangan deh! Lagipula nanti di kira orang-orang artis darimana itu mandi di sungai? Terus pada minta tanda tangan. Kan mas repot!" Candanya.


"Iihh mas ini!" Siti mencubit perut suaminya.


Rey tersenyum sambil masih melihat ke arah sungai. "Kamu pernah mandi di sungai?"


"Pernah!" Jawab Siti cepat.


"Apa? Pakai kain seperti itu?" Mata Rey membulat sambil menunjuk ke arah sungai.


Siti hanya tersenyum.


"Kamu itu. Masa tidak malu?" Rey terlihat kesal.


Siti makin mengembangkan senyumnya. "Kenapa malu? Kan banyak yang mandi!"


"Huuhh!" Rey makin kesal. "Enak ya yang bisa lihat kamu dengan kondisi seperti itu!"


"Seperti apa? Seperti ibu-ibu itu apa para gadis itu? Mas juga dari tadi lihatin terus tuh!" Siti juga ikut kesal.


Rey menghela nafas. "Mas tidak fokus ke mereka sayang,lagipula dari jauh ini kan tidak jelas! Lah kamu mandi ramai-ramai di sana! Ada laki-laki juga!" Suara Rey meninggi.


"Hmm,mas-mas. Saya terakhir mandi di sungai itu sebelum pakai hijab. Mas tahu kapan saya pertama kali pakai hijab?"


"Hmm,jadi sejak pakai hijab kamu tidak pernah lagi mandi di sungai?" Rey menatap manik mata istrinya. Mencari kejujuran di sana.


"Saya pakai hijab karena merasa malu jika aurat saya di lihat! Dan itu saya rasakan sejak usia tiga belas tahun. Sejak SMP kelas dua!" Terang Siti.


Ada rasa lega di hati Rey. Entah dia merasa tidak rela jika ada yang melihat istrinya dalam keadaan minim pakaian sekalipun sebelum mereka saling mengenal. Rey lalu memeluk Siti dengan sangat erat. "Kamu memang hadiah terindah dari Allah untuk mas!"


NEXT

__ADS_1


010521/10.55


__ADS_2