Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 101


__ADS_3

Menjelang malam Siti terbangun. Dia merasakan perutnya sakit dan kram. Dia coba melemaskan badannya tapi makin terasa sakit,ngilu seperti teriris.


Karena menahan rasa sakit jadi badannya bergerak terus hingga membangunkan suaminya yang sedang terlelap.


"Yank,kamu kenapa gerak-gerak terus?" Tanya suaminya masih dengan memejamkan mata.


"Mas. . ." Panggil Siti lirih.


"Tidurlah yank,besok lagi. Kamu apa tidak capek,ngantuk?"


"Paan sih mas ini." Siti menggerutu sambil menahan sakit.


Dia coba diam dan menarik nafas dalam-dalam. Rasa ngilunya sedikit berkurang dan makin lama-makin hilang. Dia lalu mencoba untuk kembali tidur.


Siti baru merasakan enak tidur tiba-tiba Putri menangis. Dia bangun perlahan memakai lagi kimononya lalu mendekati box bayi Putri. Setelah dia periksa ternyata bayinya itu buang air. Setelah di ganti popoknya,Siti lalu memangku Putri untuk memberikannya ASI.


Karena perutnya yang sudah buncit membuat dia tidak nyaman saat memberikan ASI untuk Putri. Dia mulai merasakan ngilu lagi yang makin lama makin terasa karena janinnya yang juga mulai sering menendang.


"Hhhh,huuhh." Siti mencoba menarik nafas lalu menghembusnya perlahan.


"Ya Allah. . ." Gumamnya. Saat Putri sudah melepaskan diri,Siti langsung membaringkan Putri di sebelah papanya.


"Mas." Siti mengguncang bahu suaminya. "Mas!" Lebih keras lagi.


"Hmm,apa yank? Tidurlah." Ucap Rey lirih dengan mata yang tetap terpejam.


"Sakit." Keluh Siti sambil terus mengguncang bahu suaminya.


Putri tiba-tiba menangis hingga Rey terbangun karena kaget. "Ada apa yank?" Tanya Rey,lalu memakai lagi kimononya dan segera menggendong Putri.


"Cup cup. . ." Rey menimang-nimang Putri. "Kamu kenapa,yank?" Rey makin kaget melihat istrinya yang sedang menahan sakit sambil memegang perutnya.


"Sakit banget,mas!" Lirihnya dengan wajah pucat.


Setelah Putri tidak menangis lagi,Rey baringkan kembali Putri di kasur lalu menghampiri istrinya yang masih kesakitan.


"Mas pijat punggungnya ya?"


"Perutku ngilu,mas! Seperti teriris."


"Duuhh,jadi gimana yank? Mas panggil mama ya?"


Siti menggeleng. "Jangan mas. Tidak enak mengganggu mama malam-malam begini." Tolak Siti.


"Tapi yank,wajah kamu pucat begini mas takut ada apa-apa. Kamu tunggu sebentar ya!" Rey langsung keluar dari kamarnya menuju kamar orang tuanya.


Setelah Rey pergi,Siti mencoba berbaring. Tapi sakitnya tidak kunjung reda di tambah janinnya yang terus bergerak dengan menendang kesana kemari.


Ceklek. Pintu terbuka. Rey datang bersama mama dengan terburu-buru.


"Kamu kenapa,Siti?" Tanya mama yang juga terlihat khawatir melihat wajah pucat Siti.


"Perutku sakit,ma. Ngilu!" Jawab Siti lirih.


"Hmm,mama telpon dokter Layli dulu ya. Rey,mana handphone kamu?" Tanya mama.


Rey segera mengambil handphonenya lalu memberikan pada mamanya. Mama segera menekan tombol panggilan ke nomor kontak dokter Layli.


"Hallo dokter,maaf ganggu malam-malam begini."


"Begini dokter. Siti tiba-tiba merasakan ngilu di perutnya."


"Apa?"

__ADS_1


"Oh iya dokter."


"Baik,nanti aku telpon lagi. Terimakasih."


Mama memutuskan panggilan telponnya.


"Coba mama lihat perut kamu!" Ucap mama.


Siti lalu menatap suaminya yang langsung mengangguk. Siti lalu menyingkap kimononya lalu memperlihatkan perutnya.


"Kok merah-merah gini?" Tanya mama heran. "Kalian habis hmm?" Mama menatap Siti dan Rey bergantian.


Rey langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudah dari tadi kok,ma."Jawab Rey malu.


"Hmm,kamu itu. Apa terlalu sering sampai jadi merah begini?"


"Tidak kok ma!"


"Bekas jahitannya yang merah ini." Ucap mama lagi.


"Apa ma?"


"Kita ke klinik sekarang,Rey! Siapkan mobil!" Titah mama.


"Putri bagaimana,ma?" Tanya Siti masih menahan sakit.


"Putri sudah di kasih ASI belum?"


"Sudah baru saja ma."


"Ya sudah mama panggil bibi dulu biar jagain Putri di sini ya. Kamu siap-siap,Siti." Ucap mama yang langsung berlalu keluar dari kamar.


Pintu kamar terbuka. "Yank,kamu sudah ganti baju?"


"Iya sudah mas. Mas pake kaos ini saja ya?"


"Hmm,iya sayang. Masih sakit banget ya?"


"Iya mas." Jawab Siti sambil mendesis menahan sakit.


Tak lama,mama datang bersama bibi. "Kalian sudah siap,ayo kita berangkat sekarang. Bi,tolong jagain Putri ya!" Titah mama dengan wajah khawatir.


Bibi tinggal sendirian di kamar Rey menjaga Putri yang tengah tertidur. Sementara Rey segera melajukan mobilnya ke jalanan.


"Masih sakit perutnya?" Tanya mama.


"Masih,ma." Jawab Siti lirih.


Rey mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Rey,jangan ngebut nak! Kamu sedang panik gitu!" Teriak mama dari kursi belakang.


Rey mengurangi kecepatannya. Untung jalanan sepi karena sudah lewat tengah malam. Tidak sampai setengah jam,mobil sudah memasuki area parkir di klinik.


Setelah memarkirkan mobilnya,Rey segera membukakan pintu mobil untuk istri dan mamanya. Rey langsung menggendong Siti masuk ke dalam klinik. Sudah ada suster yang menunggu di depan.


"Dokter Layli mana?" Tanya mama.


"Dokter sebentar lagi tiba,bu." Jawab suster. "Bu Siti silahkan masuk ke ruang tindakan." Titahnya.


"Loh kenapa ruang tindakan?" Tanya Rey heran.

__ADS_1


"Di suruh dokter Laylinya begitu,pak." Jawab suster.


Rey menurut saja. Siti lalu di bawa ke ruang tindakan sambil menunggu dokter Layli datang.


Lima menit kemudian dokter Layli datang. Tempat tinggalnya ada di belakang klinik jadi tidak butuh waktu lama untuk menunggu beliau.


"Saya ke ruang tindakan dulu!" Ucap dokter Layli.


"Saya boleh ikut,dok?" Tanya Rey.


"Nanti kalau di butuhkan saya panggil ya!" Tolak dokter. Rey hanya bisa mengangguk. Mama pun pasrah saja menunggu di ruang tunggu.


Setelah lima menit ada yang membuka pintu. "Suami pasien Siti silahkan masuk!" Titah suster.


"Iya,saya." Jawab Rey yang segera masuk ke ruangan di mana Siti sedang di tangani dokter.


Di dalam,Rey melihat istrinya sedang tertidur.


"Istri saya kenapa dokter?" Tanya Rey.


"Begini. Janin dalam kandungan mbak Siti tumbuh lebih besar dari usianya. Dan rahimnya yang baru beberapa bulan di operasi tertekan dan itu sangat bahaya. Jadi mbak Siti harus segera melahirkan bayinya!" Terang dokter.


"Apa dok? Tapi kandungannya belum sembilan bulan." Jawab Rey frustasi.


"Iya saya tau. Tapi kita tidak bisa menunggu sampai kandungannya sembilan bulan!"


Hhh. Rey menghembuskan nafasnya dengan berat. "Jadi kapan harus di operasi,dok?"


"Lebih cepat lebih baik!" Ucap dokter Layli.


"Hmm,apa tidak bahaya untuk bayi kami dok,mengingat usianya kandungannya masih sangat muda?" Tanya Rey bingung.


"Sekarang usianya baru dua puluh delapan minggu,itu artinya baru tujuh bulan. Tapi kita memang tidak bisa menunggu sampai sembilan bulan. Itu sangat berbahaya."


"Apa harus sekarang dok? Atau bisa menunggu satu atau dua minggu lagi?"


"Saya tidak bisa jamin kalau masih harus menunggu."


"Hhhm,baiklah dokter. Lakukan saja yang terbaik." Ucap Rey akhirnya dengan tubuh mendadak lemas.


"Baiklah,kita temui mbak Siti dulu. Tadi dia tertidur." Ucap dokter. Mereka lalu menemui Siti di ruang tindakan.


"Dok,pasien Siti sudah bangun." Ucap suster.


"Mas?" Panggil Siti saat melihat suaminya ada di samping dokter.


Rey mendekati istrinya lalu berdiri di sampingnya. "Yank,kamu harus melahirkan sekarang!" Ucap Rey.


Mata Siti membulat. "Apa mas?" Dia lalu menggelengkan kepalanya.


"Iya mbak Siti. Bayinya harus segera di lahirkan karena menyangkut keselamatan mbak." Terang dokter.


"Tidak mungkin. Kandunganku baru saja menginjak tujuh bulan,dok. Masih dua bulan lagi." Tolak Siti.


"Tapi kita tidak bisa menunggu sampai sembilan bulan,yank!" Terang Rey.


"Tidak. Aku mau melahirkan pas sembilan bulan."


"Tapi mbak?"


"Sekarang barulah tujuh bulan. Prematur. Aku tidak mau!" Ucap Siti masih berkeras.


NEXT

__ADS_1


2206/2255


__ADS_2