Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 142 ( S2 )


__ADS_3

Ratna baru saja selesai mandi. Ratna lalu memeriksa handphonenya,berharap ada nama Romi di sana. Tapi ternyata harapan hanya tinggal harapan.


Sudah satu minggu Ratna di rumah orang tuanya tapi sekalipun Romi tidak pernah menghubunginya. Hanya Aaron yang sesekali menanyakan kabar.


Ratna menyimpan lagi handphonenya dengan lesu. Rasanya Ratna tidak bersemangat melakukan apapun sekarang. Ratna juga tidak pernah sekali pun membantu orang tuanya di kebun. Selain karena dia merasa malas,orang tuanya juga melarang dengan alasan Ratna masih dalam masa pemulihan.


Ratna keluar dari kamarnya lalu duduk-duduk di teras rumah. Dia menatap kejalan tapi pandangannya kosong. Tiba-tiba ada yang menyapanya.


"Ratna?"


Ratna yang kaget langsung menoleh. "Ibu?"


Ibunya lalu duduk di sebelah putrinya itu. "Kamu melamun lagi? Kamu kangen sama suami kamu,ya?"


Ratna menggelengkan kepalanya. "Aku tidak melamun kok,bu. Aku lihatin anak-anak yang main itu." Tunjuknya ke arah anak-anak kecil yang sedang bermain bola di seberang rumahnya.


"Hhmm,Ratna. Kamu masih lama di sini? Tidak baik loh berlama-lama jauh dari suami. Lagian suami kamu pasti membutuhkan kamu,nak."


"Hhmm,iya bu. Aku-aku akan kembali besok atau lusa." Ucap Ratna ragu-ragu. Aku harus kemana nanti? Kalau pulang ke rumah bang Romi rasanya tidak enak. Toh dia tidak peduli ada atau tidak adanya aku. Batin Ratna.


***


Sementara Romi baru saja pulang dari kantornya. Pakde Arman yang setia mendampinginya,membantunya beraktifitas di saat Aaron tidak ada.


Pakde mengantarkan Romi sampai di kamarnya. "Apa kamu mau pakde antar ke kamar mandi?"


Romi menggeleng lemah. Matanya menyapu seisi kamar. "Pakde boleh keluar."


"Hhmm,baiklah. Kalau butuh pakde,telpon saja. Pakde ke kamar dulu ya." Pamitnya lalu keluar dari kamar Romi.


Romi masih terpaku di tempatnya. Dia belum juga kembali. Atau mungkin sudah tidak mau lagi kembali ke sini. Batinnya. Hhhh,Romi menarik nafasnya berat lalu mengarahkan kursi rodanya ke kamar mandi.


"Aku harus bisa. Aku pasti akan terbiasa melakukan semua sendiri." Gumamnya. Dia lalu menghidupkan kran shower. Tiba-tiba bayangan Ratna saat sedang membantunya mandi menari-nari di pelupuk matanya.


"Ahhh,sial! Kenapa aku jadi sering terbayang wajahnya." Kesalnya.


Sepuluh menit Romi baru selesai mandi. Dia selalu kerepotan. "Huhh,hanya mandi saja rasanya capek banget." Keluhnya. Pantas dia sampai keguguran. "Aaaaakkhhh!" Romi menarik rambutnya kasar.


Brraakk!" Pintu kamarnya terbuka lebar.


"Bang?" Aaron muncul di depan pintu. Lalu buru-buru mendekati Romi. "Ada apa,bang?" Tanyanya khawatir.


Romi menggeleng cepat. "Tidak apa-apa."


"Hhmm,bang? Pakaian abang kebalik ini. Masa yang di depan jadi di belakang,sih."


Romi lalu menunduk memperhatikan pakaiannya. Benar saja,dia memakai pakaiannya terbalik.


"Sini,aku bantu." Tawar Aaron. Romi diam,membiarkan saja apa yang di lakukan adiknya itu. Karena dia sudah kelelahan.

__ADS_1


"Kamu dari mana?"


"Aku baru saja pulang kuliah,eh dengar suara àbang berteriak."


"Hhmm,setiap hari kuliah sekarang? Atau pacaran dulu?"


Aaron menggelengkan kepalanya. "Aaron tidak pacaran,bang. Gadis yang Aaron cinta tidak mau pacaran!" Tegasnya.


"Hhmm,baguslah. Kuliah saja yang bener biar cepat selesai dan gantiin abang!"


"Abang ngomong apa,sih?"


"Abang mau di rumah saja. Walau pun abang tidak dapat apa-apa tidak masalah asalkan kamu yang mengurus perusahaan mami!" Terang Romi seperti berputus asa.


"Abang kangen kak Ratna,ya? Kita jemput ke desanya,yuk?" Ajak Aaron.


"Tidak perlu! Kalau memang dia masih mau jadi istri abang,dia pasti kembali ke rumah ini. Tanpa harus kita jemput." Tolak Romi.


"Bang,bagaimana kalau kak Ratna nunggu abang?"


Romi tersenyum sinis. "Nunggu abang jemput dia? Apa dia lupa bagaimana kondisi abang,heh?"


"Bang,mungkin saja kak Ratna nungguin abang! Abang pernah hubungi dia? Abang pernah menanyakan kabarnya? Pasti tidak pernah,kan?"


"Dia saja tidak pernah menghubungi abang! Tidak pernah menanyakan kabar abang!"


"Abang salah! Setiap kali aku hubungi kak Ratba,dia selalu menanyakan kabar abang!"


Hhh,Aaron menarik nafasnya dalam-dalam. "Ya ampun,bang. Sampai kapan mau seperti ini? Kak Ratna nungguin abang yang menghubunginya lebih dulu sementara abang juga nungguin kak Ratna yang lebih dulu menghubungi abang."


"Abang tidak nungguin dia!" Kilah Romi.


"Hhmm,jadi abang tidak mengharapkan kak Ratna menghubungi abang,iya?"


Romi diam lalu memalingkan wajahnya.


"Ya sudah,lebih baik abang lepaskan saja dia daripada tidak ada kejelasan. Kasihan kak Ratna kalau terus mengharapkan abang yang tidak pernah peduli padanya."


Deg. Jantung Romi langsung berdegup kencang. Wajahnya memerah. Melepaskan Ratna.


Aaron memperhatikan perubahan wajah abangnya. Bang Romi gengsinya tinggi banget lagi. Huuhh. "Lusa aku akan menjemput kak Ratna. Abang mau ikut?"


Romi langsung menoleh ke arah Aaron. "A-apa? Menjemputnya?"


Aaron menganggukkan kepalanya. "Abang ikut,ya? Kak Ratna pasti seneng banget."


"A-apa iya dia pasti seneng banget abang jemput?"


"Tentu saja,bang! Hhh,abang tidak tau ya. Setiap aku datang ke rumah sakit,kak Ratna langsung tersenyum tapi pas tau aku datang tanpa abang,wajahnya langsung berubah sedih. Dia sangat mengharapkan kedatangan abang! Tapi dia tidak berani bilang sama aku."

__ADS_1


"Hhh,itu hanya pikiran kamu saja!"


"Hhh,abang ini. Setiap wanita pasti seneng di dampingi suaminya di saat-saat penting dalam hidupnya,bang. Kak Ratna juga pasti sangat membutuhkan abang saat dia keguguran waktu itu!"


"Hhhh,iya kalau suaminya bukan pria cacat seperti abang. Dia kan terpaksa menikah dengan abang karena sedang hamil. Sekarang mungkin dia sudah tidak membutuhkan abang lagi!"


"Kak Ratna tidak seperti itu,bang. Aku yakin,kak Ratna sayang sama abang!"


"Hahh,itu hanya perasaan kamu saja!"


"Ya sudah kalau abang tidak percaya. Abang mau tidak ikut aku jemput kak Ratna?"


Romi diam. Kalau aku jemput tapi ternyata dia menolak bagaimana? Ahh,biar Aaron saja yang jemput.


"Bagaimana,bang?"


"Kamu saja yang jemput!"


Hhh,Aaron menarik nafasnya berat. "Abang sebenarnya masih ingin melanjutkan pernikahan abang apa tidak? Abang tidak boleh gengsi gitu,bang."


"Abang tidak tau. Mungkin malah dia yang sudah tidak mau melanjutkan pernikahan ini."


"Hhh,ya sudah. Aku jemput sendiri saja. Aku akan tanyakan langsung sama kak Ratna. Tapi kalau kak Ratna tanya,aku harus jawab apa? Abang masih mau kak Ratna kembali apa tidak?"


Romi diam. Aku masih mau tapi kalau dia tidak mau lagi bagaimana. "Kalau dia sudah tidak mau bagaimana?"


"Aku tanya sama abang. Abang masih mau apa tidak?" Tanya Aaron kesal.


"Hhmm,kalau dia masih mau abang juga mau." Jawab Romi lirih dengan wajah memerah.


Aaron tersenyum. Dasar,gengsinya tinggi banget kamu,bang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


21


__ADS_2