
Hari yang di nantikan sudah tiba. Siti bangun pagi-pagi sekali. Sekarang dia sudah memakai gaun pilihannya. Duduk di depan meja rias,dia memandang bayangannya di depan cermin. Apakah ini mimpi? Hari ini saya akan menikah. Tidak pernah membayangkan hal ini sebelumnya jika beberapa bulan pindah ke kota,dia akan menikah. Menikah dengan pria tampan seperti Reynan.
Walau pernikahannya dadakan dan belum terlalu mengenal calon suaminya,tapi dalam lubuk hatinya yang terdalam,dia merasa bahagia. Menikah dengan pria seperti papanya Cinta,tentu menjadi kebanggaan untuknya terlepas apakah pria itu juga bahagia apa tidak. Yang dia tahu,pria itu tidak mencintainya. Sakit dan sedih,tentu saja Siti rasakan. Dia ingin menikah dengan pria yang mencintainya dan juga dia cintai. Tentang perasaannya sendiri,Siti masih belum tahu.
Walau usia nya sudah lebih seperempat abad,tapi dia belum pernah merasakan jatuh cinta seperti apa. Karena kehidupannya yang berat membuatnya tidak ada waktu memikirkan lawan jenis. Yang dia tahu hanya setiap kali bertemu dengan papanya Cinta,jantungnya mendadak seperti sedang olahraga maraton.
Tok tok. . . Suara kamar Siti ada yang mengetuk dari luar. Siti pun berjalan untuk membukakan pintu. Bu Ranti.
"Ya bu. . ." Sahut Siti.
"Siti,ada mbak-mbak yang akan membantu kamu berias."Terang bu Ranti.
"Iya bu,masuk saja!" Ucap Siti.
Ada dua orang wanita yang membantu Siti berias. Yang satu penata make up dan yang satu lagi penata busana.
Selama lebih satu jam,akhirnya Siti sudah siap.
"Waahh,mbaknya ternyata sangat cantik ya!" Puji penata make up.
"Iya,kamu benar! Dia sangat cantik. Pantas saja akhirnya tuan muda Rey memilihnya ya." Penata busana ikut menimpali. Siti hanya tersenyum. Dia juga kaget melihat penampilannya di cermin.
Tak lama,bu Ranti kembali memanggilnya agar keluar kamar karena Rey dan keluarganya sudah datang.
Siti keluar kamar dengan jantung yang berdebar. Sudah banyak orang yang hadir. Saat manik matanya bertabrakan dengan manik mata milik Rey,Siti merasakan debarannya semakin menyesakkan dada. Pria itu makin terlihat tampan di mata Siti. Tak cukup sampai di situ saja,jantung Siti pun di buat hampir copot dari tempatnya demi melihat dua sosok yang sangat familiar. Paman Supri dan bibi Rena. Mereka sedang menatapnya lekat.
Siti terdiam. Dia tiba-tiba menghentikan langkah kaki nya. Bagaimana paman dan bibi bisa tahu jika hari ini dia akan menikah? Mungkinkah paman dan bibi akan memarahinya bahkan membencinya karena dia tidak memberitahukan perihal pernikahannya hari ini? Siti mendadak jadi lemas.
__ADS_1
"Ayo Siti!" Ajak bu Ranti yang membuyarkan lamunannya. Siti lalu duduk di kumpulan ibu-ibu sementara Rey sudah di depan penghulu. Siti menikah dengan wali yang di sediakan dari kantor KUA.
Kenapa bukan paman saja yang menjadi wali jika paman bisa hadir? Apa paman tidak sudi menjadi wali saya? Pikir Siti.
Rey pun dengan sangat lancar mengucapkan ijab kabulnya.
"Sah?
"Saahhh!"
Pagi ini,resmilah sudah Siti dan Rey menjadi pasangan suami istri. Setelah menyalami para tamu,mereka lalu duduk. Tidak ada pelaminan,hanya akad nikah yang di hadiri keluarga dan tetangga dekat rumah bu Ranti.
Yang paling berbahagia di sini tentu saja Cinta. Gadis kecil itu tidak mau jauh-jauh dari papa dan mama sambungnya.
"Jadi sekarang tante Siti sudah jadi mamanya Cinta ya!" Serunya. Rey hanya tersenyum,begitu pun Siti.
"Jadi manggilnya jangan tante lagi tapi mama!" Titah bu Ranti.
Cyndia dan Fadil ikut hadir di acara sakral itu tak lupa membawa bayi mungil mereka. Akhirnya mereka sudah mempunyai pasangan sah masing-masing. Cyndia dan Fadil pun ikut berbahagia. Akhirnya kamu menikah juga,Rey. Semoga kamu berbahagia dengan pernikahanmu. Biar tentang kita hanya jadi masalalu. Ucap Cyndia dalam hati.
"Selamat ya mbak Siti. . ." Ucap Cyndia dengan tulus. Di peluknya gadis itu dengan hangat. Dia pun memberikan ucapan selamat juga pada Rey. Dia harus bisa bersikap sewajar mungkin pada mantan kekasihnya itu.
"Terimakasih mbak. . ." Siti membalasnya.
***
Malam mulai merambat,para tamu sudah pulang dari siang karena mereka hanya menggelar akad nikah saja pagi itu. Rey masih di rumah bu Ranti. Siti sudah di kamarnya. Dia pun telah mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa. Dia keluar dari kamar mandi. Di lihatnya suaminya Rey,tidak ada di kamar. Memang sedari para tamu pulang,Rey belum mau masuk kamar Siti.
__ADS_1
Cinta pun di bawa oleh bu Ranti ke kamarnya. Karena kelelahan,gadis kecil itu menurut saja.
Siti lalu keluar kamar karena merasakan rumah begitu sepi seperti hanya dia yang ada di rumah.
"Kamu belum tidur?" Sapa Rey yang sedang duduk di sofa yang ada di ruang keluarga. Tanpa menoleh apalagi menatap Siti.
"Saya,belum mengantuk." Jawab Siti gugup. Kembali dia merasakan jantungnya berdebar.
"Istirahatlah! Besok pagi akan ada resepsi di hotel." Titah Rey.
Siti langsung kaget. Resepsi? Kenapa baru mengatakan sekarang kalau akan ada resepsi.
"Hmm,saya pikir hanya akad nikah saja." Ucap Siti bingung.
"Orangtua saya yang menginginkan resepsi. Jadi tidurlah! Pagi-pagi akan ada orang yang akan membantumu bersiap seperti tadi pagi." Terang Rey datar.
"Baiklah. . ." Siti segera meninggalkan Rey sendirian.
Kenapa dia masih saja dingin? Tidak bisakah dia berubah sedikit saja? Apa dia tidak menyukai saya sedikit pun? Keluh Siti yang tentu hanya berucap di dalam hati saja. Siti pun segera merebahkan tubuhnya di atas kasur. Karena merasa kelelahan,tanpa menunggu suaminya dengan cepat Siti tertidur.
Kenapa dia jadi begitu cantik hari ini? Tidak! Saya tidak akan tergoda! Dia hanya akan jadi mamanya Cinta. Dia tidak akan bisa mengambil hati saya! Reynan.
Dia pun mencoba memejamkan matanya tapi sungguh sulit. Bayangan wajah Siti menari-nari di pelupuk matanya. Dia memang sangat cantik saat mengenakan pakaian pengantin tadi pagi. Malam ini pun sisa-sisa kecantikannya belumlah pudar. Tiba-tiba sekelebat bayangan Cyndia hadir. Cinta pertamanya,ibu dari putri semata wayangnya yang kini telah bahagia dengan pria lain. Itu bukanlah kesalahannya. Andaikan dulu dia lebih percaya dengannya mungkinkah mereka kini akan bahagia? Aahh,kenapa masih memikirkan dia! Reynan menjadi gusar.
Dia lalu ke dapur mengambil minuman. Di lihatnya jam di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Harusnya sekarang dia tidur agar besok saat resepsi tubuhnya segar. Tapi sulit sekali rasanya memejamkan mata. Apalagi membayangkan Siti yang saat ini sedang di kamar sendirian,apakah gadis itu menunggunya. Rey merasa belum siap untuk itu. Toh dia menikah hanya demi memenuhi keinginan putrinya bukan karena dia mencintai wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.
Rey lalu kembali ke ruang tengah. Tiduran di sofa sungguh tidaklah nyaman. Tapi daripada dia harus tidur sekamar dengan istrinya itu. Dia pun tetap berusaha memejamkan matanya.
__ADS_1
NEXT
300321/20.10