Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 149 ( S2 )


__ADS_3

Aaron masih menimang kata-kata apa yang tepat di ucapkannya supaya papanya Cinta tidak sampai marah walaupun akhirnya penolakan yang akan di dapatkannya.


Hhh,Aaron menarik nafas panjang, "Hhmm,begini pak Rey. Bapak tau,kalau saya benar-benar ingin serius menjalin hubungan dengan putri bapak,walau saya tau dia masih sekolah," ucap Aaron pelan.


"Apa kamu yakin mau serius? Sedangkan putri saya sekolahnya masih dua tahun lagi. Belum kuliahnya,"


Waduh,masa mau nunggu sampai kuliah juga. Bagaimana kalau aku ajak nikah dalam waktu dekat? Bisa di tolak mentah-mentah aku. batin Aaron.


Akhirnya Aaron memberanikan diri menceritakan tentang perusahaan keluarganya dan ada rahasia apa di sana. Bagaimana papi dan adiknya yang bernama Adit bersekongkol atas harta warisan dari mendiang maminya. Dan apa yang menjadi syarat untuknya dan juga abangnya Romi agar bisa mendapatkan harta warisan mendiang maminya itu.


Rey diam seraya berpikir tentang masalah yang di hadapi oleh anak muda yang ada di hadapannya.


"Hhmm,jadi maksud kamu kalau ingin mendapatkan warisan mami kamu,kamu harus segera menikah. Begitu?"


"I-iya,pak Rey," jawab Aaron semangat.


"Ya sudah kalau kamu mau menikah silahkan saja. Saya tidak akan menghalangi," terang Rey.


"Ja-jadi bapak setuju?" tanya Aaron dengan senyum semringah.


"Yah,masa saya harus menghalangi niat baik kamu? Jodoh,maut dan rezeki itu sudah ada yang atur. Mungkin kamu dan putri saya tidak berjodoh,"


"Ta-tapi,pak? Bukan seperti itu maksud saya," terang Aaron dengan wajah frustasi.


Rey mengernyitkan dahinya," Jadi maksud kamu bagaimana?"


"Sa-saya maunya menikah sama putri bapak,Cinta," ucap Aaron lirih dengan kepala menunduk.


Rey berdiri dari duduknya, "Apa?" tanyanya dengan suara tinggi.


Aaron ikut berdiri dengan kepala masih menunduk, "Ma-maafkan saya,pak," pintanya dengan kedua tangan di tangkupkan di depan dada.


Hhh,Rey menarik nafas panjang, " Kamu kalau bicara di pikir dulu baik-baik. Jangan membuat saya jadi darah tinggi!"


"Maafkan saya,pak. Saya,saya hanya ingin menikah dengan putri bapak. Tapi kalau bapak tidak mengijinkan secepatnya,saya mau kok di suruh menunggu," pinta Aaron dengan wajah memohon.


Sepertinya anak ini sungguh-sungguh. Tapi tetap saja,itu tidak benar. Masa putriku menikah di saat masih mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Batin Rey.


"Saya mengerti masalah kamu. Tapi kamu juga harus mengerti posisi Cinta. Dia tidak mungkin menikah sebelum lulus sekolah. Kalau kamu benar-benar serius sama putri saya,saya hanya ijinkan kalian menikah saat Cinta sudah lulus sekolah," ucap Rey berusaha tenang.


"Terimakasih,pak Rey. Saya akan menunggu. Sekali lagi maafkan saya," ucap Aaron dengan hati lega. Setidaknya papanya Cinta tidak sampai marah berkepanjangan.


"Ya sudah,saya ada meeting sekarang," ucap Rey.


"Iya,pak. Terimakasih atas waktunya," sahut Aaron.

__ADS_1


"Ingat,jangan sering-sering bertemu Cinta!" tegas Rey.


"I-iya,pak. Saya permisi dulu," pamit Aaron lantas segera meninggalkan ruagan Rey.


"Huuhh,ada-ada saja. Apa kata dunia kalau aku sampai menikahkan putriku yang masih bersekolah," gumam Rey seraya menggelengkan kepalanya.


***


Selepas sholat maghrib,Aaron membuka lemari pakaiannya. Pakai yang mana ya,biar aku kelihatan lebih tampan dan keren dari biasanya. Biar Cinta suka dan tergila-gila denganku. Batin Aaron dengan senyum di wajahnya.


"Aahh,sebenernya bagaimana sih perasaan Cinta sama aku? Kadang sikapnya hangat kadang dingin. Kalau perasaan kita sama,masa tidak ada kangen-kangennya dikit pun,sih. Kan sudah lebih satu bulan tidak ketemu. Hhh,entahlah. Aku tidak boleh membuat dia menjauhiku!" gumamnya.


Setelah merasa yakin dengan penampilannya,Aaron segera turun dari kamarnya.


Di lantai bawah ada om Adit beserta istrinya, "Aaron,kamu mau kemana?" tanya om Adit penuh selidik.


"Mau keluar sama teman,om," jawab Aaron.


"Coba sesekali kamu ajak Mia," pintanya. Mia,putrinya yang juga tinggal di rumah Aaron.


"Aku mau jalan sama teman laki-laki,om. Rame-rame,"


"Tidak masalah,ajak saja. Dia pasti mau berteman dengan teman-teman kamu," ucap istrinya om Adit.


Aaron membulatkan matanya, "Teman saya laki-laki semua,tan. Saya tidak mau nanti ada apa-apa," tolak Aaron lagi.


"Saya mau senang-senang bukan mau jadi bodyguard!" tegas Aaron, "Saya jalan dulu," pamit Aaron buru-buru keluar dari rumahnya. Ada-ada saja,batinnya.


"Keponakan kamu tuh,mas. Tidak bisa di andalkan!" gerutu istrinya om Adit yang masih bisa di dengar oleh Aaron sambil lalu.


Aaron naik ke mobilnya lalu segera menyalakan mesin mobil. Mobilpun melaju dengan kecepatan sedang.


Tidak sampai satu jam,mobil Aaron tiba di sebuah rumah mewah. Aaron turun dari mobil lalu meminta ijin untuk masuk pada satpam yang berjaga di dekat pagar. Pintu pagar pun di buka.


Setelah mendapatkan ijin,Aaron kembali naik ke mobilnya lalu masuk ke pekarangan rumah mewah itu. Aaron menatap dirinya sebentar di kaca spion yang ada di dalam mobil. Setelah yakin dengan penampilannya,Aaron lalu turun dari mobil.


Aaron melangkah dengan percaya diri. Walau tidak mendapat ijin untuk cepat menikah,setidaknya ayah gadis yang dia cinta tidak menolak. Hanya dia harus sedikit bersabar.


Aaron lalu mengetuk pintu. Ternyata bundanya Cinta yang membukakan pintu.


"Assalammu'alaikum,bu," ucap Aaron sopan seraya mencium punggung tangan bundanya Cinta dengan takjim.


"Wa'alaikumsalan," sahut bundanya Cinta ramah.


"Hhmm,saya boleh ketemu sama Cinta,bu?"

__ADS_1


"Cinta? Sebentar ya saya panggilkan. Silahkan masuk dulu,"


"Terimakasih,bu," sahut Aaron dengan senyum semringah.


Sementara bundanya Cinta masuk,Aaron duduk di ruang tamu. Semoga Cinta tidak sedingin seperti tadi pagi. Batin Aaron. Dia terlihat gelisah.


Lima menit,Cinta muncul dari dalam.


Aaron menatap Cinta lekat-lekat membuat Cinta menoleh ke arah lain lalu duduk agak jauh dari Aaron.


"Cin. . .?" sapa Aaron ramah.


"Hhmm,"


"Kamu sedang apa tadi?"


"Aku sedang belajar,banyak tugas sekolah," jawab Cinta datar.


"Aku bantuin,ya? Siapa tau bisa cepat selesai tugas sekolahnya," tawar Aaron bersemangat.


Cinta lalu berpikir seraya melirik ke arah Aaron sekilas. Hhh,bagaimana ya. Apa aku terima saja bantuannya. Kepalaku juga sudah pusing banyak banget tugas yang belum selesai.


"Cin,aku bantu ya?" tanya Aaron lagi. Mungkin saja Cinta masih merasa malu menerima bantuanku. Batin Aaron.


Hhh,Cinta menarik nafasnya berat. Huhh,terpaksa. Batinnya. "Hhmm,iya deh,"


Aaron langsung tersenyum semringah. Wajahnya tidak bisa menutup kebahagiaannya. Cinta lalu ijin masuk untuk mengambil buku pelajarannya. Lima menit Cinta kembali dengan membawa tumpukan buku dan juga tas sekolahnya.


"Kamu kerjain yang ini,ini,ini!" ucap Cinta seraya menaruh beberapa buku ke atas meja yang ada di depan Aaron. Aaron tersenyum lalu memeriksa tugas sekolah Cinta.


Mereka lalu sibuk dengan buku di tangan masing-masing. Sesekali Aaron pura-pura bertanya agar suasana tidak terlalu kaku. Seiring waktu,Cinta mulai mau ngobrol walau hanya sebatas obrolan tentang tugas sekolahnya. Itu sudah membuat hati Aaron bahagia.


"Jadi,jawabannya ini?"


"Iya,ini. Aku kan masih sedikit ingat pelajaran sekolah," ucap Aaron.


"Hhhmm. . . baiklah."


Menjelang pukul sembilan malam,Aaron pun pulang dari rumah Cinta dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.


.


.


.

__ADS_1


.


16


__ADS_2