
Rey dan Siti sudah siap-siap mengantar Cinta ke klinik dokter Layli. Cinta bahkan sudah menunggu di teras rumah.
"Ratna,kamu tidak mau ikut periksa juga?" Tanya Siti pada Ratna yang sedang menemani Putri nonton tv.
Ratna menggelengkan kepalanya. "Tidak usah,bu. Kan baru beberapa hari yang lalu." Tolak Ratna lembut.
"Hhmm,ya sudah. Saya titip Putra sama Putri ya. Di awasi saja."
"Bu,semoga saja pikiran Cinta salah." Ucap Ratna.
"In sya Allah,Rat. Karena tidak ada luka sedikitpun di tubuhnya dan juga dia tidak merasakan sakit apa-apa. Dia hanya ketakutan berlebihan saja." Terang Siti.
"Iya,bu. Karena Angga hmm maksud saya Romi waktu itu janji tidak akan menyakiti Cinta. Semoga ucapannya bisa di pegang."
"Iya,Ratna. Saya pergi dulu ya." Pamit Siti.
Oma menghampiri Siti. "Mama mau ikut juga,kan anak-anak ada Ratna yang jagain." Ucap oma.
"Iya,ma." Jawab Siti. Kenapa mama seperti penasaran gitu ya. Aku yakin Cinta tidak kenapa-kenapa. Batin Siti.
Dengan di antar papa,mama dan juga omanya,Cinta pergi ke klinik dokter Layli. Sampai di klinik suasana sepi karena memang bukan jam praktek. Karena Cinta sangat memaksa ingin di periksa,jadi oma yang meminta tolong langsung pada dokter Layli.
"Cucu oma sudah beranjak remaja ,ya. Makin cantik,pasti banyak teman laki-lakinya yang demen." Goda dokter Layli. Cinta hanya tersenyum malu.
"Bukan lagi demen,dok. Sering datang ke rumah." Sahut oma Asti.
"Iiiihh,oma." Wajah Cinta memerah.
"Oh ya. Rey,kamu harus ekstra hati-hati jagain anak gadis."
"Hehee,iya dok." Sahut Rey.
"Jadi apa yang mau di periksa,nih?" Tanya dokter Layli.
Cinta menoleh ke mama,papa dan omanya bergantian.
"Cinta. Hmm,Cinta tidak mau hamil,oma."
"Tidak mau hamil? Harus mau donk,kan perempuan memang di takdirkan untuk hamil."
"Tapi oma?"
"Belum mau hamil."
"Hhmm,iya oma. Cinta belum mau hamil,maksudnya."
Dokter Layli menggelengkan kepalanya. "Ayo berbaring di sini!" Titahnya seraya menunjuk tempat tidur yang di dekatnya ada layar monitor.
"Bagaimana,dok?" Tanya oma.
"Cinta lihat ke layar monitor. Itu rahim Cinta. Kosong tidak ada apa-apa!" Terang dokter Layli.
"Alhamdulillah." Ucap oma Asti.
"Oohh,seperti itu ya oma?" Cinta takjub melihat ke layar monitor.
"Iya. Cinta lihat kan tidak ada apa-apa di sana."
"Kalau hamil seperti apa ya,oma?" Tanya Cinta penasaran.
"Seperti mama Siti." Jawab dokter Layli.
"Mama di periksa juga ya?"
"Hmm,mama sudah dua minggu lalu nak. Apa tidak masalah USG lagi,dok?"Tanya Siti.
"Sebenarnya tidak masalah."
"Ayo ma,Cinta kan belum pernah lihat." Pinta Cinta dengan wajah memohon.
Siti menoleh ke arah suami dan mama mertuanya.
__ADS_1
"Kalau kata dokter tidak bahaya,ya silahkan yank." Ucap Rey.
Siti berdiri dari duduknya. "Sebentar saja ya." Ucap dokter Layli.
Siti lalu berbaring. Tampak janin yang sudah mulai terbentuk itu bergerak-gerak.
"Itu adek bayinya?" Tanya Cinta dengan takjub.
"Iya sayang. Cinta tadi tidak ada apa-apa kan di sana."
"Iya. Iiiihh,gemesin!" Ucap Cinta tanpa berkedip menatap ke layar monitor.
"Sudah ya. Cinta sudah mengerti kan."
"Iya oma. Terimakasih oma. Terimakasih mama." Ucap Cinta seraya memeluk Siti yang baru saja turun dari tempat tidur.
Siti kembali duduk.
"Cinta kapan terakhir dapet tamu bulanan?" Tanya dokter Layli.
"Hhmm,dua minggu lalu. Tapi biasanya Cinta hitung hanya enam hari tapi dua minggu lalu sampai delapan hari,oma." Keluh Cinta.
"Tidak apa-apa kok. Mungkin karena Cinta sedang banyak pikiran,atau karena hormon. Yang penting lancar,ya!"
"Iya oma,tiap bulan." Terang Cinta.
"Bagus."
"Hhmm,dok.Tidak sekalian di periksa apa Cinta belum pernah. ..?" Tanya oma Asti.
"Belum pernah apa,ma? Mama ada-ada saja. Protes Rey.
"Yah,apa salahnya kan."
Dokter Layli tersenyum mengerti. "Apa Cinta pernah merasakan sakit atau nyeri saat datang tamu bulanan?"
"Iya,oma. Tapi tidak sampai nangis seperti cerita teman-teman. Nyeri sedikit saja."
Cinta menggeleng cepat. "Tidak pernah,oma. Hanya saat datang tamu bulanan saja."
"Bagus!" Ucap dokter Layli dengan penekanan. "Ya sudah Cinta silahkan duduk ya."
"Jadi tidak perlu di periksa ya dok?" Tanya oma Asti lagi.
"Saya rasa tidak perlu. Kan sudah jelas dengan pertanyaan saya tadi. Kalau sampai di periksa takutnya Cinta trauma."
"Hhmm. . ." Gumam oma Asti.
"Iya,ma. Cinta pasti jujur." Tegas Rey.
"Jadi Cinta tidak hamil seperti kak Ratna,kan oma?" Tanya Cinta.
"Tentu saja tidak,sayang!"
"Alhamdulillah." Ucap Cinta dengan wajah berseri.
"Tapi oma pesan ya. Cinta jangan dekat-dekat sama teman laki-laki. Yang sebaya,sudah dewasa bahkan yang masih anak-anak sekalipun!"
"Iya oma. Papa sering bilang sama Cinta."
"Ya sudah kita pulang. Sudah hampir maghrib loh."Ajak oma.
"Ya sudah kita pulang dulu,dok." Pamit Rey.
Saat Siti hendak memberikan amplop sebagai biaya periksa,dokter Layli menolak.
"Simpan saja. Masa sama cucunya,bayar." Ucapnya seraya tersenyum.
"Tapi kita sudah merepotkan saja saat dokter sudah mau pulang."
"Tidak apa-apa. Kamu jaga kandungan kamu baik-baik ya kalau ingin lahiran normal." Pesan dokter Layli pada Siti."
__ADS_1
"In Sya Allah,dok. Saya akan bèrusaha menjaga kehamilan saya kali ini." Ucap Siti.
Mereka lalu segera pulang ke rumah.
Setengah jam kemudian mereka baru sampai. Di dekat pagar rumah ada sepeda motor yang terparkir.
"Itu sepeda motornya siapa?" Tanya oma heran.
Cinta yang sibuk dengan handphonenya langsung menoleh. Loh,itu kan sepeda motornya Aaron. Batin Cinta. Ngapain sih ke sini? Males ahh ketemu Aaron. Tukang bohong!
Ternyata benar,Aaron sedang duduk di kursi yang ada di depan teras.
"Sayang,itu ada Aaron. Nyariin kamu tuh!" Celetuk Rey.
"Iiihh,males!" Sahut Cinta ketus.
"Loh,tidak boleh begitu nak." Ucap Rey.
"Cinta tidak mau ketemu dia." Ketusnya lagi. Cinta segera turun dari mobil lalu hendak masuk ke dalam rumah melewati Aaron tanpa menoleh lagi.
"Cintaku dari mana?" Tanya Aaron.
"Jangan panggil Cinta seperti itu!" Ucap Cinta dengan penekanan kemudian segera berlalu dari hadapan Aaron tanpa menoleh lagi. Wajahnya terlihat masam.
"Cin. . .?" Aaron menatap Cinta heran.
"Aaron,masuk yuk." Ajak Siti. Aaron hanya tersenyum getir mengingat sikap Cinta barusan.
"Loh kok Cinta malah masuk?" Gumam Rey heran melihat sikap Cinta terhadap Aaron.
"Pak,Rey." Sapa Aaron.
"Ya. Kamu sudah lama? Masuk dulu yuk." Ajak Rey.
"Terimakasih pak. Saya pulang saja,ini sudah maghrib." Tolak Aaron halus. Hari sudah maghrib,Cinta juga seperti itu. Lebih baik pulang saja. Batin Aaron.
"Sholat di sini saja,yuk. Kita berjamaah." Tawar Rey.
Aaron berpikir. Papa Cinta masih ramah dan hangat. "Hmm,baiklah pak." Akhirnya Aaron mau.
.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. 😍😍
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
0606