Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
104


__ADS_3

Dokter mulai menjelaskan tentang keadaan Siti dan juga bayinya. "Begini. Tentang kondisi ibu Siti,sekarang hanya tinggal menunggu kesadaran saja dan juga donor darah tambahan satu kantong lagi. Organ vitalnya stabil. Semoga bisa segera sadar agar bisa memberikan ASI untuk bayinya. Dan mengenai bayinya yang terlahir prematur,jantungnya masih lemah,paru-parunya juga belum sempurna. Kemungkinan akan tetap di rawat selama satu bulan,bisa lebih bisa juga kurang." Terang dokter panjang lebar. Rey langsung lemas demi mendengar penjelasan dokter tentang istri dan bayinya. Terutama bayinya yang terlihat sangat lemah.


"Oh iya satu lagi,BB lahirnya mencapai 2,2 kilogram. Biasanya bayi prematur tujuh bulan beratnya hanya berkisar 1,5 kilogram. LKnya juga hanya tiga puluh senti. Semoga setelah di rawat intensif,BB dan LKnya bisa normal." Terang dokter lagi.


Hhh. Rey menarik nafas berat. Entah semua terasa seperti mimpi baginya. "Saya serahkan semua perawatan istri dan bayi saya sama dokter. Lakukan apapun yang terbaik dok." Ucap Rey dengan nada memohon.


"Saya pasti akan mengusahakan yang terbaik,Rey. Kamu jangan lupa berdoa,ya." Ucap dokter berusaha menenangkan Rey.


"Iya dok. Terimakasih. Apa ada lagi,dok?" Tanya Rey.


"Untuk sekarang,hanya itu dulu yang bisa saya sampaikan."


"Baiklah kalau begitu,saya permisi dulu dok." Pamit Rey. Dokter Layli mengangguk lalu Rey segera keluar dari ruangan dokter dan kembali ke ruang ICU.


Dari jauh terlihat paman sedang ngobrol bersama Seno dan juga Radit.


"Terimakasih paman sudah mau datang." Ucap Rey saat sudah sampai di depan ruang ICU.


"Iya Rey,tidak masalah. Paman memang pasti datang kalau kondisi Siti seperti ini. Semoga paman bisa bantu Siti." Ucap paman dengan tulus.


"Iya paman. Paman sedang sibuk apa sekarang?"


"Kebetulan di desa sedang tidak ada pekerjaan,Rey. Rania juga baru melahirkan bulan lalu." Terang paman.


"Oh iya kok paman tidak kasih kabar kalau Rania melahirkan?"


"Tidak apa-apa,Rey. Paman juga tau kondisi Siti." Ucap paman. " Oh iya tadi paman sudah di ambil darah,semoga Siti bisa segera sadar."


"Aamiin. Terimakasih paman." Ucap Rey.


"Oh iya paman sama Radit sudah makan belum? Saya antar cari makan." Tanya Rey.


"Sudah kok Rey." Jawab paman.


"Oh iya,saya mau ke kantor sebentar,mas." Pamit Seno.


Rey mengangguk.


"Hmm,mas Rey. Aku,aku boleh ikut Seno tidak?" Tanya Radit ragu. Dia menundukkan kepalanya.


Rey dan Seno saling pandang. "Hmm,kalau Seno tidak keberatan ya boleh saja." Jawab Rey.


"Hmm,ya sudah ayo kalau mau ikut." Ucap Seno.

__ADS_1


"Radit,tidak usah ikut Seno,dia kan mau kerja nanti kamu ganggu saja." Paman mencoba melarang Radit.


"Tidak kok paman,hari ini pekerjaanku hanya sedikit. Mungkin nanti mau ke sini lagi." Terang Seno.


"Hmm,Radit. Kamu jangan menyusahkan Seno ya!" Pesan paman sambil menatap lekat-lekat putranya itu.


"Iya pa,aku hanya melihat-lihat saja." Ucap Radit.


"Baiklah,kita jalan sekarang saja mumpung belum siang. Mari paman,mas Rey." Pamit Seno.


Seno lalu meninggalkan ruang tunggu ICU di ikuti oleh Radit.


"Maaf ya nak Rey,Radit ada-ada saja pake ikut Seno kerja segala." Ucap paman tidak enak hati.


"Tidak apa-apa paman. Maaf selama ini kita jarang berkomunikasi."


"Iya Rey sama-sama,paman juga mengerti kesibukan kamu." Ucap paman.


"Maaf ya paman jangan tersinggung. Aku akan segera kasih uang yang aku janjikan." Ucap Rey.


"Tidak nak Rey! Jangan seperti itu,paman ikhlas kok. Benar-benar ikhlas menolong Siti,bukan karena janji yang di berikan oleh Seno." Ucap paman dengan tulus.


"Tidak masalah paman,aku sudah janji dan harus di tepati!" Ucap Rey.


"Hmm,paman. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya menepati janji saja."


"Tapi . . ?"


"Begini paman,aku di ajarkan untuk menepati janji. Dan itu sudah aku tanamkan sejak kecil." Terang Rey. "Hmm,paman bilang di desa sedang tidak ada pekerjaan kan? Bagaimana kalau uang dari ku,untuk paman membeli kebun atau paman mau usaha apa."


Paman Supri terlihat sedang berpikir. Saat ini hidupnya memang sedang susah.


"Mau ya paman? Atau paman mau kembali lagi ke kota,paman bisa usaha apa nanti aku akan modali."


Paman Supri menatap Rey dengan penuh kekaguman. Beruntung Siti mendapatkan suami seperti Rey. Batin paman.


"Bagaimana paman? Oh ya,rumah paman di kota masih ada kan?"


"Hmm,rumah sudah paman kontrakkan Rey. Baru jalan sepuluh bulan." Terang paman.


"Di kontrakkan berapa lama?"


"Satu tahun dulu karena yang ngontrak juga hanya mampu bayar satu tahun dulu." Terang paman.

__ADS_1


"Nah,cukup satu tahun saja paman. Paman bisa usaha di bekas warung nasi kan. Buka warung sembako saja,paman. Jadi kan tidak capek masak." Usul Rey.


"Hmm,?" Paman memikirkan usul dari Rey.


"Aku ada kenalan yang bisa bantu paman untuk dapat bahan sembako yang murah. Dia juga punya usaha sembako. Dia biasa ambil dari distributornya langsung."


"Rey,kamu terlalu baik. Itu pasti butuh modal banyak."


"Hmm,paman bisa saja. Masalah modal ya tergantung seberapa besar tokonya."


"Paman akan pikir-pikir dulu. Terimakasih,nak Rey." Ucap paman terharu.


"Iya paman sama-sama. Oh iya,aku mau lihat Siti dulu paman,nanti ke sini lagi." Pamit Rey.


"Iya nak Rey,silahkan." Jawab paman.


Rey lalu minta ijin suster untuk melihat istrinya. Ternyata istrinya itu sedang di transfusi darah lagi,donor darah dari paman Supri.


Rey lalu duduk di samping istrinya. Selang masih ada beberapa yang menempel di tubuhnya. "Yank,bangunlah ada paman Supri. Kamu tidak ingin ketemu paman,hmm?"


Rey mengajak istrinya berbicara dan juga membisikkan doa-doa dan beberapa surah pendek. Dia lalu mencium tangan dan juga pucuk kepala istrinya itu.


"Yank,mas kangen manjanya kamu! Sadarlah yank!" Ucap Rey lirih. Dia terus menggenggam tangan istrinya.


Setelah hampir setengah jam,Rey keluar dari ruang ICU. Di ruang tunggu tampak paman sedang tertidur di kursi panjang. Raut wajahnya tampak lelah,seperti menyimpan beban berat.


"Kasihan paman,entah apa yang sedang di pikirkannya." Gumam Rey. Rey pun ikut duduk di sebelah paman. Tidak sampai setengah jam,paman terbangun karena suara brangkar yang di dorong suster.


"Rey?" Paman menoleh ke arah Rey.


"Paman sudah bangun? Kita cari makan siang dulu,paman." Ajak Rey.


"Tapi Siti,Rey?"


"Siti ada suster yang jaga,paman. Lagipula nomor kontakku ada di data pasien. Jadi bisa kapanpun menghubungi aku. "Terang Rey.


"Hmm,baiklah Rey." Paman akhirnya mau karena memang dia juga sudah lapar dan lemas habis di ambil darahnya.


Mereka lalu meninggalkan ruang tunggu ICU. Rey mengajak paman makan di restoran yang ada di depan klinik. Setelah memesan makanan,mereka kembali ngobrol tentang rencana Rey yang akan memberikan modal usaha untuk paman Supri.


NEXT


2406/1414

__ADS_1


__ADS_2