
Setelah keluarga Seno pulang. Dinda masuk ke dalam rumahnya.
"Jadi calon kamu itu seorang duda?" Tanya kakak laki-lakinya Dinda yang sudah berkeluarga.
"Hmm,i iya mas." Jawab Dinda.
"Memangnya kenapa? Seno orangnya baik." Terang maminya Dinda.
"Memang mami kenal banget sama dia? Dia juga kan hanya ipar di keluarga tante Asti." Gerutu Danis.
"Danis,dia baik. Mami sudah kenal lama. Dia juga baru beberapa hari menikah lalu cerai."
"Hmm,mami ini. Baik darimana coba,baru nikah sudah cerai? Nanti Dinda di kira pelakornya lagi."
"Danis,kamu itu kalau ngomong mikir dulu!"
"Yah,mana tau di pikir orang kalau mereka cerai karena Dinda kan."
"Keluarga mertuanya yang maksa mereka bercerai?"
"Loh kenapa begitu? Si Seno itu bukan laki-laki baik donk makanya keluarga istrinya maksa mereka bercerai." Ucap Danis.
"Danis,mami lebih kenal dia daripada kamu. Sudah jangan mikir macam-macam. Mau buat adik kamu sedih?"
"Huuhh,lihat saja kalau si Seno itu sampe bikin Dinda nangis!" Ucap Danis kemudian segera meninggalkan mami dan adiknya.
"Mi,nanti semua orang berpikir seperti mas Danis gimana?" Tanya Dinda sedih.
"Jangan kamu dengar omongan mas mu itu. Sudah sana kamu istirahat saja di kamarmu!" Titah Dokter Layli.
Dinda lalu masuk ke dalam kamar. Dia langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur kemudian berbaring di kasur. Dia menatap cincin pemberian dari Seno tadi sambil tersenyum. "Aku berjodoh dengan Seno? Hmm,dia tampan sih tapi dia tidak mencintaiku. Eh tapi,sikapnya tadi manis banget,bikin aku deg-degan. Batin Dinda sambil tersenyum. Kalau sama si Romi,deg-deganku karena takut,ngomong salah dikit mau mukul aj. Huuhh,moga Romi tidak menghubungi aku lagi. Lebih baik aku nurut sama mami.
***
Seminggu sudah berlalu sejak Seno melamar Dinda. Rencananya mereka akan menikah satu bulan dari lamaran,jadi tinggal tiga minggu lagi
Semua persiapan acara,di ambil alih oleh dokter Layli langsung,oma Asti hanya di minta bantu sedikit.
Dinda sedang di temani mamanya fitting pakaian pengantin. Rencananya dia akan memakai tiga macam pakaian.
"Mi,bukannya dua saja ya,buat akad nikah sama resepsi?"
"Iya sayang,yang satunya buat ganti lagi saat resepsi. Jadi resepsi nanti kamu ganti dua kali."
"Kenapa dua kali mi? Setau Dinda hanya satu kali?"
"Acara kamu nanti agak lama dek. Kenalan mami dari orang-orang Rumah Sakit kan banyak."
"Jadi kenalan mami di Rumah Sakit di undang semua?" Tanya Dinda kaget.
"Iya donk sayang,kalau ada yang tidak di undang nanti mami di omelin sama mereka."
"Hmm,mami. Dinda malu mi."
"Malu kenapa?"
"Hmm,nanti semua teman mami bergosip tentang Seno."
"Tidak akan. Mereka juga tidak kenal sama Seno kok."
"Hmm,terserah mami deh."
"Bagaimana bagus kan kebaya buat akadnya?"
"Dinda nurut saja sama mami."
"Hmm,itu baru anak mami." Ucap maminya senang. "Ya sudah yuk kita pulang,dek. Dua minggu lagi kita ambil pakaianmu sama semua pakaian seragam keluarga kita." Ajak maminya.
__ADS_1
"Hmm,iya mi. Mi kita makan siang di kafe depan perusahaannya mas Rey,yuk. Di sana ada menu yang enak loh."
"Sejak kapan kamu suka makan di sana?"
"Sejak. Hmm,sejak di ajak Seno mi." Jawab Dinda malu-malu.
"Hmm,jadi kamu sering makan di sana sama Seno?"
"Baru satu kali mi. Eh,dua kali. Sekalinya Dinda pergi sendiri tapi pas sampe sana Seno juga baru datang ke sana jadi kita makan berdua lagi."
"Waahh,kebetulan sekali ya, yang kedua sehati donk mau makan di sana." Ucap dokter Layli sambil menggoda putrinya.
"Iihh,mami ini. Jadi makan di sana kan?"
"Iya sayang kita makan di sana. Siapa tau nanti kamu ketemu lagi sama Seno kan."
"Hmm,mami." Dinda langsung keluar menuju parkiran.
Di dalam mobil. "Bagaimana,kamu suka kan sama Seno,dek?"
"Belum tau mi. . ."
"Masa belum tau? Kamu masih suka sama si Romi itu ya? Mau masmu berantem lagi sama dia?"
"Iihh mami apaan sih? Dinda sudah lama tidak berhubungan sama dia lagi."
"Jadi beneran sudah putus?"
"Hmm,belum sih."
"Loh kok belum?"
"Dia pergi keluar negeri mi,tidak kasih kabar lagi sama Dinda."
"Nanti kalau dia balik lagi nyariin kamu gimana?"
"Sayang?" Dokter Layli menatap tidak suka pada putrinya.
"Becanda,mi. Hehee."
"Kamu itu. Cari suami itu yang ngerti agama. Jadi walau dia marah sama kita,dia tidak akan nyakitin kita. Dia akan nasehatin dan sabar sama kita. Kecuali. . ." Terang dokter Layli.
"Kecuali apa,mi?"
"Kecuali kesalahan kita fatal dan sudah tidak bisa lagi di nasehatin."
"Hmm,iya mi."
***
Hari yang di nantikan pun tiba. Pagi-pagi semua keluarga sibuk bersiap-siap untuk pergi ke rumah dokter Layli karena tepat pukul delapan,acara akad nikah Dinda dan Seno akan di langsungkan.
"Mbak,menurut mbak ini bagus tidak buat mas kawin Dinda? Secara Dinda anak orang berada,Seno takut terlihat biasa saja?" Tanya Seno,memperlihatkan satu set perhiasan pada Siti.
"Bagus kok dek? Kamu masih punya uang?"
"Hmm,ada dikit mbak. Buat acara juga Seno cuma kasih sedikit,pasti nanti pestanya mewah dan uang dari Seno terlalu kecil." Terang Seno dengan wajah khawatir.
"Kamu sudah bilang sama mertua kamu kalau kamu hanya mampu segitu?"
"Iya mbak. Seno juga baru nyicil apartemen untuk kita nanti. Hmm,Seno khawatir keluarga Dinda tidak suka."
"Kamu mau tinggal di apartemen setelah menikah?"
"Iya mbak,Seno tidak bisa tinggal terus di sini."
"Kalau dokter mau kamu tinggal di rumahnya bagaimana?"
__ADS_1
"Hmm,Seno tidak enak mbak. Entahlah Seno bingung."
"Tapi dokter dan Dinda mengerti kan dek?"
"Mereka mengerti sih mbak."
"Ya sudah kalau begitu tidak usah khawatir kalau mereka mengerti. Sudah tidak usah di pikirkan. Ayo kita berangkat sekarang saja biar yang di sana tidak nungguin." Ajak Siti.
Mereka semua bersiap. Siti juga mengundang ayah dan bundanya Cinta. Mereka baru saja tiba.
"Kita telat ya?" Tanya Cyndia.
"Ooh tidak kok mbak. Kita juga baru mau berangkat." Jawab Siti.
"Oh syukurlah. Cinta tidak mau ikut. Tadi sudah di paksa malah ngambek itu anak." Terang Cyndia.
"Oh ya? Mungkin dia sibuk,mbak."
"Hari minggu kan daripada di rumah sendirian."
"Ada oma dan opanya kan?"
"Mereka sedang keluar kota. Makanya di paksa ikut tapi tetap tidak mau ya sudah."
"Jadi beneran sendirian di rumah?"
"Ada bibi sama satpam rumah mbak."
"Hmm,kenapa ya anak itu tidak mau ikut?"
"Entahlah mbak."
"Ya sudah siap semua kan?" Tanya oma. "Ayo kita berangkat!"
Tepat jam tujuh mereka berangkat ke rumah Dinda beriringan.
Satu jam mereka baru tiba. Semua orang sudah menunggu. Mereka di sambut hangat oleh keluarga pengantin wanita.
Seno terlihat gugup,sepertinya banyak tamu orang penting yang datang. Keluarga calon istrinya benar-benar bukan orang sembarangan.
"Ayo dek,kok bengong." Tegur Siti saat Seno tiba-tiba berhenti di depan pintu.
"Ehm,i iya mbak." Jawab Seno dengan suara gugup.
Di dalam rumah,tamu undangan lebih banyak lagi. Rumah di sulap jadi begitu indah dengan bunga mawar hidup di mana-mana. Sudah ada pak penghulu dan papinya Dinda. Seno makin deg-degan.
.
.
.
.
NEXT
.
.
.
.
.
3007/1313
__ADS_1