Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 15 ( S2 )


__ADS_3

Seno mulai mendekat ke arah Dinda. Dinda jadi menggeser duduknya sampai menempel ke pintu mobil.


"Seno,jangan begini!" Tolak Dinda.


"Kamu kok malah menjauh? Tidak baik menolak suami." Seno makin meracau. Dia berhasil mencium wajah Dinda.


Suami? Jadi dia pikir aku ini istrinya. Batin Dinda kecewa. Hmm,ternyata dia masih mabuk.


"Seno,stop! Jangan begini!" Dinda terus berusaha menepiskan tangan dan wajah Seno yang mulai bertindak di luar batas.


"Ayo sayang!"


"Plaakk!" Dinda akhirnya menampar pipi Seno hingga Seno sedikit tersadar.


"Ka-kamu?" Seno memegangi pipinya yang terasa panas. Lalu mata Seno menatap tajam ke arah Dinda. Masih dengan mata merahnya karena minuman keras. Dia kembali duduk menjauhi Dinda.


"Ke-kenapa aku bisa semobil sama kamu? Uuhh kepalaku." Seno memegangi kepalanya yang terasa pusing berputar-putar.


Mata Dinda terasa panas dengan wajah menahan marah. Dia sadar jika pria di hadapannya sedang mabuk dan tidak benar-benar ingin bersikap tidak sopan padanya. Tapi tetap saja itu membuatnya merasa sakit hati dan terhina.


Dinda lalu menyalakan lagi mesin mobilnya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di rumah keluarga Rey.


Setelah sampai,dia langsung turun dan memanggil satpam rumah yang sedang berjaga.


"Pak,tolong bantu saya!" Pinta Dinda.


Pak satpam langsung keluar. "Siapa non?"


"Itu ada mas Seno di mobil saya. Tolong bawa masuk,pak!" Titah Dinda.


"Oohh mas Seno?" Pak satpam segera membuka pintu mobil lalu memapah Seno masuk ke dalam rumah. Dinda pun kembali masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya dengan kencang pergi dari rumah keluarga Rey.


"Kenapa aku sial banget malam?" Dinda memukul-mukul stir mobilnya. Dia kembali teringat dengan apa yang telah di lakukan Seno padanya. Walau Seno tidak sampai melakukan hal yang sangat jauh,tapi tetap saja Dinda merasa sedih. Dia belum pernah di perlakukan seperti itu oleh seorang laki-laki bahkan oleh pacarnya sekalipun.


Sementara Seno di bawa masuk oleh satpam ke dalam kamarnya. Dengan setengah sadar,dia masuk ke dalam kamar mandi,menyalakan air hangat lalu berendam di bathup.


"Huuhh,apa yang sudah aku lakukan tadi?" Seno mengusap kasar wajahnya. "Huuhh,kenapa juga aku bisa di antarkan oleh si Dinda. Untung saja dia bisa menyadarkanku,kalau tidak. Uuhhh!"


Seno kembali mencoba mengingat apa yang telah dia lakukan terhadap Dinda di mobil gadis itu.


"Astagfirullah. . . Dia pasti marah banget. Seno,kamu bener-bener keterlaluan!"


Setelah berendam selama hampir setengah jam,Seno mengambil wudhu.


Setelah selesai sholat,dia mulai mengaji beberapa ayat." Hhh,aku harus minta maaf sama Dinda. Gumamnya. Dia lalu membereskan alat sholatnya kemudian pergi tidur. Karena masih sedikit pusing,dia dengan cepat tertidur.


***


Setelah lebih dua bulan jarang ke kantor,hari ini Seno mencoba kembali beraktifitas seperti biasa. Setelah terlebih dahulu mengambil mobilnya yang masih terparkir di dekat tempat hiburan malam yang dia datangi semalam. Semua karyawan menatapnya dengan tatapan iba,tapi dia sedikitpun tidak mau menoleh ke arah mereka.


Dia melangkahkan kakinya dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celananya. Pandangannya sengaja lurus ke depan agar tidak melihat tatapan-tatapan dari orang-orang yang di laluinya.


Sampai di dalam ruangannya,dia buka jas hitamnya. Dia hanya mengenakan kaos biasa,duduk sambil memutar-mutar kursinya.


"Apa yang harus aku kerjakan? Huuhhh,rasanya semua kembali seperti awal saja." Gumamnya.


Tiba-tiba ada yang melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Seno.


"Kamu sudah mulai kerja?" Tanya Rey.


Seno menoleh. "Hmm,mas. Iya,aku akan coba kembali kerja. Maaf,aku kelamaan liburnya." Ucap Seno.


"Hmm,mas mengerti. Kalau kamu masih belum bisa kerja tidak apa-apa kok. Siapkan dulu mental kamu! Kamu boleh mulai kerja kapanpun kamu benar-benar sudah siap!"


"Iya mas. In sya Allah hari ini aku siap kerja." Ucap Seno berusaha meyakinkan kakak iparnya.


"Baiklah,mas tinggal dulu ya." Ucap Rey sambil menepuk bahu Seno lalu segera meninggalkan ruangan Seno dan kembali ke ruangannya.


Setelah Rey pergi,Seno membuka-buka handphonenya. Melihat foto pernikahan mereka. "Fia,kapan kamu sadar? Mas merindukanmu!" Gumamnya. Dia lalu menyimpan lagi handphonenya di atas meja.

__ADS_1


Meja kerja nya masih kosong,tidak ada satu berkas pun yang tergeletak di sana. Dia tidak tau harus melakukan apa.


Tiba-tiba dia teringat kejadian tadi malam. "Hmm,Dinda.Aku harus segera minta maaf agar tidak terjadi salah paham. Mungkinkah dia ada di Rumah Sakit tempat Fia di rawat? Bukankah dia sedang magang di sana?"


Setelah berpikir,akhirnya Seno memutuskan untuk pergi ke Rumah Sakit. Dia mengetuk pintu ruangan Rey. Tok tok. . .


"Ya masuk." Jawab Rey dari dalam.


"Assalammualaikum. Mas?"


"Wa alaikumsalam. Seno? Ada apa?"


"Hmm,mas apa tidak ada pekerjaan untuk aku hari ini?"


"Oohh,itu nanti kamu tanyakan sama Toni. Mas sedang periksa berkas yang satu ini. Nanti siang akan ada rapat." Terang Rey.


"Nanti siang ada rapat? Apa aku,ikut mas?"


"Kamu tidak perlu ikut. Rapatnya hanya bertiga saja kok."


"Oh begitu. Hmm,aku mau ke Rumah Sakit dulu ya mas." Pamit Seno.


"Oh iya silahkan. Titip salam untuk orang tua Fia,ya!"


"Hmm,iya mas. Aku pergi dulu!"


"Hati-hati bawa mobilnya,Seno!" Pesan Rey.


"Iya mas." Seno pun segera meninggalkan ruangan Rey.


Dia lalu mengendarai mobilnya ke arah Rumah Sakit.


Dia bergegas ke ruang ICU untuk melihat istrinya terlebih dahulu. Di sana banyak keluarga Fia yang baru datang dari desa sedang menunggu di depan ruang tunggu.


"Seno?" Sapa ayahnya Fia.


"Nanti ya,di dalam ada nenek serta tantenya Fia." Terang ayahnya Fia.


Tak berapa lama,nenek dan tantenya Fia keluar dari ruang ICU.


"Seno?" Nenek Fia menatap Seno dengan wajah tidak suka.


"Hmm,nek." Seno ingin menyalami nenek dan tantenya Fia tapi tangannya di tepiskan begitu saja oleh mereka.


"Saya rasa lebih baik,kamu ceraikan cucu saya. Mungkin dia bisa segera sadar. Saya lihat kalian itu sebenarnya tidak berjodoh!" Ucap nenek Fia ketus.


"Apa,nek? Kita berdua tentu saja berjodoh makanya kita bisa sampai menikah." Jawab Seno.


"Kamu!" Nenek Fia menatap tajam ke arah Seno.


"Maaf nek,saya tidak akan menceraikan Fia,kecuali. . ."


"Kecuali apa?"


"Kecuali Fia yang meminta sendiri. Dan saya tau kalau Fia tidak akan mau bercerai dari saya." Tegas Seno.


"Kamu! Nanti kalau cucu saya sadar,saya akan suruh dia minta cerai dari kamu! Banyak laki-laki di desa yang mau sama cucu saya,dan dia tidak akan bernasib seperti saat bersama kamu!" Terang nenek Fia panjang lebar.


"Hmm,terserah nenek saja. Permisi,saya mau lihat istri saya!" Pamit Seno yang segera masuk ke dalam ruang ICU.


"Sombong sekali anak itu,mentang-mentang sudah berduit." Kesal nenek Fia.


Di dalam ruangan ICU,istrinya masih sama seperti saat pertama di rawat. Masih seperti orang yang sedang tertidur tapi dengan wajah yang teramat pucat. Belum ada satu pun alat bantu yang bisa di lepas karena kondisi pasien yang memang belum stabil.


Selama hampir setengah jam ,Seno di dalam..Dia terpaksa keluar saat ibunya Fia memaksa masuk hingga mau tidak mau Seno mengalah.


"Seno titip Fia,pak. Seno pergi dulu." Pamit Seno pada ayahnya Fia.


"Huuhh,menjenguk istri yang sakit seperti menjenguk teman saja,buru-buru pulang." Ucap nenek Fia sinis.

__ADS_1


"Bu,sudah." Ucap ayahnya Fia.


Seno hanya bisa tersenyum getir. Dia pun langsung meninggalkan keluarga Fia di sana.


Seno melangkahkan kakinya di koridor Rumah Sakit. "Oh iya hampir lupa. Aku kan mau menemui Dinda. Di mana ruangannya ya" Batin Seno.


Akhirnya Seno memutuskan untuk bertanya pasa suster di sana. Ternyata Dinda sedang libur jadi dia tidak ada di Rumah Sakit.


Mungkin di klinik dokter Layli. Batin Seno. Seno lalu melangkahkan kakinya ke parkiran. Dia mulai menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya ke klinik dokter Layli.


Sampai di sana,tanpa sengaja Seno melihat Dinda baru saja masuk ke dalam ruangan pribadi dokter Layli.


Tok tok tok


Ceklek. Pintu terbuka dan muncullah Dinda di depan pintu.


"Kamu?" Tanya Dinda kaget tau Seno yang sudah mengetuk pintu.


"Apa,hmm,apa ada waktu? Saya ingin bicara." Ucap Seno ragu.


"Hmm,bicara apa? Tidak ada yang perlu di bicarakan." Ucap Dinda ketus.


"Ijinkan saya masuk sebentar!" Seno sedikit memaksa hingga dia berhasil masuk ke ruangan pribadi dokter Layli.


"Mau apa kamu?" Tanya Dinda dengan suara tinggi.


"Aku-aku minta maaf. Aku,hmm. Kamu mengerti kan maksudku? Aku benar-benar tidak bermaksud tidak sopan sama kamu! Aku. . .


"Sudah,kamu pulang saja!"


"Dinda,aku mohon! Kamu tau kan aku sedang mabuk semalam,aku tidak benar-benar sadar dengan apa yang aku lakukan sama kamu!"


"Sudah,lupakan saja!"


"Hmm,aku ingin mendapatkan maaf dari kamu agar aku tidak kepikiran dan merasa bersalah terus."


Dinda hanya diam. Wajahnya mulai memerah.


"Dinda,kamu tau aku tidak mungkin melakukan hal itu jika dalam keadaan sadar. Aku tidak mungkin melakukan hal itu sama kamu . . "


"Melakukan apa,Seno?" Tiba-tiba dokter Layli sudah ada di antara mereka. Maminya Dinda itu sudah berdiri di depan pintu yang memang tidak tertutup rapat.


"Hmm,ma-mami?" Dinda kaget.


Begitupun Seno. Dia hanya bisa menatap dokter Layli dengan tatapan malu dan bingung.


"Ayo jawab? Apa maksud kata-kata kamu tadi,Seno?"


.


.


.


.


NEXT yaaa. . .


.


.


.


.


.


2407/1515

__ADS_1


__ADS_2