Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 117


__ADS_3

Seno dan Dinda kompak menoleh ke arah orang yang memanggilnya. Dinda segera melepaskan pegangan tangannya pada Seno. Orang itu lalu berjalan mendekatinya.


"Seno,Dinda,kalian ngapain di sini?" Tanya Rey dengan tatapan menyelidik.


Seno jadi salah tingkah begitupun dengan Dinda. Mereka diam,bingung harus menjawab apa.


"Hmm,ya sudah mas tinggal. Jangan lama-lama." Pesan Rey lalu berbalik hendak meninggalkan mereka berdua yang masih diam.


Rey menoleh lagi. "Oh iya,Dinda. Kamu di cari mama kamu." Kemudian dia segera berlalu dari hadapan Seno dan Dinda. "Dasar anak-anak." Gumamnya.


Setelah Rey tidak terlihat lagi,Seno pun berniat pergi dari sana.


"Hmm,tunggu dulu." Panggil Dinda.


"Ada apa lagi? Apa harus pakai bunga?"


"Hmm,bunga?" Dinda menoleh ke kira dan kanan. Siapa juga yang minta bunga. Batinnya.


"Kamu minta bunganya berapa?"


"Siapa juga yang minta bunga? Bunga di rumahku juga cantik-cantik daripada bunga di sini." Ucap gadis itu polos.


Seno menoleh lalu menatap gadis itu dengan senyum tipis. "Dasar bocah!" Gumamnya.


"Ngomong apa barusan?"


"Ngomong sama bunga." Ucap Seno lalu segera melangkahkan kakinya lebar-lebar. Dia tidak ingin berlama-lama bersama gadis itu. Dia tidak ingin kakak iparnya berpikir macam-macam karena sudah melihat mereka sedang berduaan di taman belakang dengan Dinda yang tadi sempat memegang tangannya.


"Eehh tunggu!" Setengah berlari,Dinda menyusul Seno lalu meraih tangan laki-laki itu dan segera menyelipkan amplop coklat ke tangannya. Setelah itu dia berniat lari tapi Seno dengan cepat menarik tangannya. Seno kembali memberikan amplop itu pada Dinda.


"Ambil ini!" Ucapnya dengan penekanan.


"Saya tidak mau!" Tolak Dinda cepat. Dia berusaha menepiskan tangannya yang di tarik oleh Seno.


"Ambil,saya bilang!"


"Iihh kok maksa sih!"


"Dengar,ini terakhir saya berurusan sama kamu!" Seno menyimpan amplop itu ke tangan Dinda lalu pergi.


"Mm ma-maaf." Ucap Dinda lirih yang masih tertangkap oleh pendengaran Seno.


Seno menghentikan langkahnya sejenak. "Lupakan saja." Ucap Seno kemudian dia melangkahkan kaki lebar-lebar pergi dari sana sebelum ada yang melihat perdebatan mereka.


Dinda hanya menatapnya nanar. Kemudian dia pun segera kembali ke dalam rumah dengan amplop di tangannya.


Sampai di dalam rumah,maminya sudah menenteng bingkisan dan bersiap pulang. Dinda lalu mendekatinya. "Sayang,sudah ngobrolnya?"


"Hmm,pulang yuk mi." Ajaknya tapi matanya menjelajah kemana-mana.


"Ayo." Sahut maminya. "As,kita pulang dulu ya. Semoga menantu dan cucumu sehat-sehat selalu." Ucap dokter Layli.


"Iya,terimakasih ya kamu mau sempat-sempatin datang." Ucap mama yang mengantar dokter Layli sampai depan pintu.


"Sama-sama,As. Oh iya jangan lupa satu bulan sekali Putra di ajak kontrol ya!" Pesan dokter Layli.


"Iya dok."


Dokter Layli dan putrinya lalu pulang. Gadis itu sempat menoleh ke belakang sebelum mobil mereka keluar dari pintu pagar rumah orangtua Rey.


Mama lalu kembali masuk ke dalam rumah. Siti masih asik ngobrol dengan Cyndia dan anak-anak mereka sementara Rey terlibat obrolan seru dengan Fadil sambil sesekali terdengar tawa mereka.


"Kita pulang dulu,mbak." Pamit Cyndia.


"Loh kok buru-buru mbak? Lihat suami kita masih asik ngobrol tuh!" Tunjuk Siti.


"Suami saya kalau sudah asik ngobrol seperti lupa waktu,mbak." Ucap Cyndia.


"Hehee,entah apa yang mereka bicarakan ya. Ternyata bapak-bapak juga sama seperti kita kalau sudah ketemu teman yang cocok bisa lupa waktu."


Tak berapa lama Rey dan Fadil mendekati mereka.

__ADS_1


"Pulang yuk!" Ajak Fadil pada istrinya.


"Iya mas,aku juga sudah pamitan sama mbak Siti. Kirain mas masih lama ngobrolnya." Jawab Cyndia.


"Hehee,kita sedang bicarakan tentang rencana kita liburan." Terang Fadil.


"Liburan? Mbak Siti dan bayinya baru saja keluar dari Rumah sakit kok mas."


"Yah tidak dalam waktu dekat ini kok."


"Ooh begitu."


"Ya sudah yuk kita pulang." Ajak Fadil.


Siti dan Rey lalu mengantar ayah dan bunda Cinta sampai ke depan rumah. Setelah mobil mereka sudah keluar dari pagar,Siti dan Rey kembali masuk ke dalam rumah.


"Mas." Panggil Siti.


"Hmm,kenapa yank?" Sahut Rey.


"Memangnya mas sama pak Fadil rencana mau liburan kemana?"


"Pak Fadil mengajak liburan ke villanya,yank." Jawab Rey.


"Hmm,ke villa?"


"Iya,kenapa?"


"Hmm,tidak apa-apa mas. Villa itu sepi,aku kurang suka." Terang Siti.


"Memangnya kamu mau liburan kemana,hmm?"


"Aku sedang tidak ingin kemana-mana,mas."


"Iya yank,kan tidak sekarang." Jawab Rey.


***


Sudah satu bulan Putra pulang ke rumah. Hari ini waktunya bayi mungil itu kontrol ke dokter Layli sekalian imunisasi. Pagi-pagi setelah berjemur,mereka lalu sarapan. Putri juga mulai bisa makan nasi lembut. Mereka kini sedang bercengkrama di ruang keluarga.


"Jam delapan saja,Rey.Kamu ada meeting jam berapa?"


"Meetingnya jam sebelas ma. Semoga sempat ya."


"In sya Allah sempat,nak. Kita nanti tidak mengantri lagi kok." Terang mama.


Setelah jam delapan,mereka berangkat ke klinik dokter Layli yang tidak terlalu dari rumah.


Sampai di klinik,nama Putra dan Siti di panggil.


Mereka ikut masuk semua. Siti lalu menimbang berat badan Putra dan juga Putri.


"Hallo Putra,bagaimana kabar kamu?" Sapa dokter Layli ramah.


"Alhamdulillah makin baik dan makin sehat dokter." Siti yang menjawab.


"Alhamdulillah ya. Yuk dokter periksa dulu."


Siti lalu membaringkan Putra di ranjang yang ada di ruangan dokter Layli.


"Hmm,detak jantungnya normal ya. Pernafasannya juga baik." Terang dokter.


"Alhamdulilalah."Semua mengucapkan syukur.


"Tadi timbangannya naik berapa?"


"Tadi Putra sudah naik jadi empat koma delapan kilo,dokter." Jawab Siti


"Naik dua kilo ya sebulan."


"Iya dok."

__ADS_1


"Terus kasih ASI yang banyak ya mbak Siti. Pertumbuhannya sudah cukup baik ini."


"Iya dok,Putra minum ASInya kuat kok." Jawab Siti.


"Nah,kabar kak Putri bagaimana? Timbangannya naik berapa kilo?"


"Berat Putri naik satu kilo dok,jadinya sebelas kilo." Jawab Siti.


"Putri belum satu tahun,ya?"


"Satu tahunnya minggu depan,dok." Jawab mama.


"Waahh sudah besar ya kakak."


"Iya dok,makin pintar."


"Syukurlah."


"Hmm,dokter saya mau KB." Pinta Siti.


"Oh iya mau nya KB apa?"


"Baiknya KB apa ya dok?"


"Untuk ibu menyusui kalau KB suntik yang tiga bulan."Terang dokter.


"Iya dok,saya nurut saja." Jawab Siti.


"Ayo berbaring dulu." Titah dokter Layli.


Siti akhirnya memilih KB suntik yang tiga bulan. Dia ingin membesarkan kedua buah hatinya dengan kasih sayang penuh.


Setelah selesai semua,mereka langsung pulang karena Rey buru-buru mau ke kantor.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


TAMAT


Hay reader sayang,kisah cinta Siti dan Rey sampai di sini dulu ya. . .


Author akan lanjutkan untuk season keduanya yang tidak hanya menceritakan tentang mereka berdua. Tapi juga kisah cinta orang-orang terdekat mereka.


Terimakasih untuk yang masih mau menantikan kelanjutannya. Dukung terus author ya,tanpa dukungan kalian,apalah author ini.


Terimakasih. Lop yu ol !! 😍😍😍


.


.

__ADS_1


.


0207/2345


__ADS_2