
"Iya mas,nama putri kita siapa?" Tanya Siti lagi.
"Mas sampai lupa cari yank!" Jawab Rey sambil menggaruk kepalanya.
"Hmm,kita panggil Putri saja gimana mas? Nanti panjangnya kita cari lagi saat akekah." Usul Siti.
"Hmm,iya yank mas setuju!"
Siti kembali berbicara dengan mamanya via telepon.
"Ma,kita panggil Putri saja!" Siti.
"Putri?" Mama.
"Iya ma. Nanti panjangnya kita cari saat mau akekah." Siti.
"Hmm,ya sudah kita panggil Putri saja." Ucap mama. "Kamu kapan pulang?" Mama.
"Dokter bilang dua hari lagi ma." Siti.
"Ya sudah,kamu baik-baik ya. Makan yang banyak!" Mama.
"Iya ma." Siti.
"Raysha putri wibowo." Gumam Rey.
"Apa mas?"
"Bagaimana kalau Raysha Putri Wibowo? Wibowo itu nama belakang mas. Sama seperti nama belakang papa." Terang Rey. "Kita bisa panggil dia 'Putri'."
"Hmm,iya mas. Itu juga bagus kok!" Jawab Siti.
"Kamu suka sayang?" Tanya Rey sambil memeluk istrinya.
"Suka mas! Apa yang mas suka,saya pasti suka!" Jawab Siti.
"Hmm,Mas sayang kamu,yank! Sangat menyayangi kamu!"
"Saya juga sayang mas! Cinta mas!" Siti membalas pelukan suaminya.
Cup. Rey lalu mengecup dahi istrinya penuh kasih sayang. "Kamu lapar kan yank?"
Siti mengangguk.
"Kamu mau makan apa,hmm? Nanti mas belikan!"
"Makan apa saja asal di suapi mas!"
"Hmm,kamu masih manja juga ya!" Ucap Rey sambil mencubit hidung istrinya yang terlihat malu-malu.
"Mas tinggal sebentar ya,mas cari makan di luar?"
"Hmm,tapi jangan lama-lama ya mas!"
"Iya sayang."
Tok tok tok. . .
"Mas,ada yang ketuk pintu."
"Biar mas buka!"
"Seno?" Tanya Rey kaget yang melihat adik istrinya itu berdiri di depan pintu.
"Mas,mbak Siti mana?"
"Ayo masuk!" Ajak Rey.
Seno lalu masuk. Dia langsung memeluk mbaknya penuh haru.
__ADS_1
"Mbak Siti!" Serunya. "Alhamdulillah mbak sudah sadar!" Ucap Seno.
"Iya Seno. Kamu sehat kan dek?"
"Seno sehat mbak! Seno takut sekali mbak tidak sadar-sadar!" Ucap Seno lalu melepaskan pelukannya.
"Yang penting mbak sekarang sudah sehat,dek!" Ucap Siti.
Seno mengangguk. "Oh iya,Seno bawakan makanan untuk mas Rey!" Ucap Seno.
"Loh kok hanya mas Rey? Untuk mbak mana?" Protes Siti.
"Maaf mbak,Seno pikir mbak belum sadar. Seno belikan makanan untuk mbak ya? Atau mbak dapat makan dari Rumah Sakit?"
"Tidak usah,Seno. Mas sama mbak bisa makan berdua!" Ucap Rey. "Terimakasih ya!"
"Oh iya mas! Moga mas sama mbak suka makanannya. Saya hanya bawa ayam bakar yang pernah mas pesan saat di kantor." Ucap Seno.
"Tidak apa-apa kok,mas suka ayam bakarnya! Kamu sudah makan?"
"Saya sudah makan di sana mas."
"Oh ya sudah,mas sama mbak kamu makan dulu ya."
Rey segera membuka bungkusan yang di bawa Seno lalu mulai menyuapi istrinya.
"Enak yank?" Tanya Rey saat Siti mulai makan.
"Hmm,enak mas! Mas juga makan!"
"Iya sayang,mas juga makan."
***
Tok Tok.
"Biar Seno yang buka mas!" Ucap Seno lalu berjalan ke arah pintu.
Ceklek.
"Apa ini ruangan bu Siti?" Tanya seorang pria.
"I iya. Anda siapa?" Tanya Seno.
"Suaminya ada? Kita dari kepolisian!" Ucap polisi yang pernah mendatangi Rey saat Siti masih di ruang ICU.
"Oh suaminya ada pak. Silahkan masuk!" Ajak Seno.
"Pak Reynand,kita polisi yang menangani kasus tabrak lari ibu Siti. Kita sudah dapat bukti-bukti lewat CCTV." Terang polisi.
"Bagaimana pak?" Tanya Rey.
Polisi lalu memperlihatkan rekaman CCTV di dekat TKP.
"Hmm,pak bisa kita bicara di luar saja?" Pinta Rey. Rey dan kedua orang polisi itu kemudian keluar dari ruang rawat inap Siti.
"Ada apa dek? Tanya Siti yang sudah terbangun saat mendengar obrolan suaminya dan polisi.
"Itu mbak,polisi sudah tau siapa yang melakukan tabrak lari ke mbak!" Jawab Seno.
"Siapa?"
"Seno tidak kenal mbak,tapi dia masih anak di bawah umur."
"Anak di bawah umur? Mungkin dia tidak sengaja,dek!"
"Sengaja kok mbak,Seno lihat rekaman CCTVnya!"
"Hmm,sengaja? Kok bisa?"
__ADS_1
"Seno tidak tau mbak. Mas Rey sedang bicara dengan polisi di luar."
"Kalau masih di bawah umur,bebaskan saja. Kasihan!" Ucap Siti.
"Di bebaskan mbak?" Tanya Seno kaget. "Dia hampir membunuh mbak dan bayi mbak!"
"Seno? Jangan mendendam!"
"Mbak,kita denger dulu deh dari mas Rey,apa kata polisi."
Rey masuk kembali ke kamar rawat inap Siti. Siti dan Seno langsung menoleh.
"Bagaimana mas?" Tanya Seno penasaran.
"Mas belum tau. Masalahnya dia masih di bawah umur dan dengan alasan tidak di sengaja!" Terang Rey.
"Tapi dari CCTV terlihat kalau dia sengaja belok ke arah mbak Siti lalu langsung ngebut dan menabrak mbak, mas!" Ucap Seno sambil menahan amarah.
"Seno,mbak mohon mengertilah!"
"Tapi mbak? Anak seperti itu tidak bisa di biarkan begitu saja!"
"Lalu sampai kapan? Suatu saat nanti ada kejadian lain lagi,mbak tidak mau! Mbak ingin hidup tenang tanpa rasa khawatir,Seno!" Terang Siti. Lalu dia menoleh ke arah suaminya. "Mas,tolong maafkan anak itu!" Siti memohon.
"Tapi sayang? Karena anak itu mas hampir kehilangan kamu dan anak kita? Mas tidak mungkin semudah itu memaafkannya!"
"Mas,andai pun mas kehilangan saya,itu sudah takdir!"
"Hhhh,itu sama saja pembunuhan mbak! Mbak bisa jadi suatu saat nanti dia akan mengulanginya!" Ucap Seno.
"Seno,kamu kok malah bikin mas Rey makin panas!" Ucap Siti dengan nada tinggi.
"Yang di katakan Seno itu benar yank! Belum tentu dia tidak mengulangi lagi perbuatannya. Masih kecil sudah jadi preman gimana besar nanti?"
"Memenjarakannya juga tidak jadi jaminan dia tidak akan mengulanginya lagi mas! Yang penting kan sekarang saya dan putri kita baik-baik saja!"
Rey dan Seno diam dan hanya saling pandang. Siti yang kesal jadi tidak mau melihat ke arah suami dan adiknya.
Rey lalu mendekati istrinya. "Makan dulu yuk,mas suapin ya!" Ucap Rey yang langsung mengambil piring makan Siti yang tadi di bawakan oleh suster. Saat Rey ingin menyuapinya,Siti membuang muka.
"Yank!" Rey masih menyodorkan sendok ke mulut istrinya itu. Tapi Siti tetap menutup mulutnya rapat-rapat.
"Siti!" Suara Rey mulai meninggi. "Kalau kamu tidak mau makan,mas akan tetap menuntut anak itu!" Ancam Rey.
Siti langsung menoleh. "Mas mau maafkan anak itu kan?"
Hhh. Rey menghela nafas berat. "Hanya jika anak itu mengaku dan mau meminta maaf sama kamu! Kalau dia tidak punya itikad baik,mas tidak bisa membantunya. Itu jadi urusan polisi!" Tegas Rey.
"Tapi mas?"
"Yank? Kalau dia tidak mau minta maaf itu tidak bisa meringankannya! Kamu mengertilah!"
"Hmm,baiklah! Jika dia mau minta maaf,dia bisa bebas kan mas?"
"Yank,itu bukan hanya jadi urusan kita tapi sudah jadi urusan polisi juga. Kita lihat saja nanti! Ayo makan dulu. Kamu mau cepat pulang kan?"
"Hmm,tapi saya belum lapar mas!" Siti masoh enggan makan.
"Yank?"
"Hmm,mas ini sukanya maksa. iya iya saya mau makan!" Siti akhirnya menyerah.
Rey pun dengan sabar dan penuh kasih sayang menyuapi istrinya makan."
NEXT
Dukung cerita ini dengan like,komen dan juga vote donk! Biar othornya makin semangat dan rajin up. Terimakasih yaa π
250521/23.50
__ADS_1