Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 103 ( S2 )


__ADS_3

Aaron masuk ke ruangan ICU. Romi baru saja selesai di periksa dokter.


"Bagaimana abang saya dok?" Tanya Aaron.


"Alhamdulillah semua organ tubuhnya normal." Jawab dokter.


"Tapi kaki saya tidak bisa di gerakkan dok. Apa itu bisa di sebut normal?" Protes Romi dengan wajah kesal.


"Maksud saya organ tubuh bagian dalam,pak. Kalau masalah kakinya nanti saya akan rekomendasikan dokter syaraf dan dokter rehab medik terbaik." Terang dokter.


"Hmm,iya terimakasih dok." Sahut Aaron.


"Kapan saya boleh pulang?" Tanya Romi lagi.


"Oh iya. Hari ini pak Romi sudah bisa pindah ke rawat inap biasa. Nanti akan ada suster yang akan melepas semua alat bantu. Setelah alat bantu di lepas,pak Romi sudah bisa pindah."


"Iya dokter." Sahut Aaron.


"Masalah kamar bisa di tanyakan sama suster. Kalau tidak ada lagi yang mau di tanyakan sama saya,saya permisi dulu." Pamit dokter.


"Iya dok. Terimakasih." Ucap Aaron.


Aaron lalu menemui suster bagian kamar untuk memesan kamar ranap yang VVIP untuk Romi. Setelah dapat,Aaron kembali menemui abangnya di kamar.


Aaron melihat abangnya yang masih terlihat sedih dan kesal.


"Bang,aku sudah pesan kamar ranap yang VVIP buat abang." Terang Aaron.


Romi diam tanpa mau menoleh.


"Hmm,aku suapin makan ya bang?"


"Abang tidak lapar." Jawab Romi malas.


Hhh,Aaron menarik nafasnya berat. "Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke luar? Di rumah sakit ini ada taman,kita bisa duduk-duduk di sana."


"Kamu ngejek abang ya? Sudah tau kaki abang tidak bisa di gerakkan malah ngajak jalan-jalan." Jawab Romi dengan emosi.


"Bang,kan ada kursi roda. Nanti aku dorong."


"Iya. Biar orang yang melihat abang jadi merasa kasihan? Atau malah menghina abang. Kamu seneng ya abang di perlakukan seperti itu?" Romi makin emosi.


"Hmm,bang. Tidak akan ada yang berpikir seperti itu. Itu hanya perasaan abang saja."


"Kamu jalan saja sana sendiri."


"Hmm,ya sudah kalau abang tidak mau. Aku suapin makan saja ya?"


"Bisa tidak abang minta tolong?"


"Bisa bang. Abang mau minta tolong apa?"


"Bisa tinggalkan abang sendirian?"


"Hmm,bang. Kirain mau minta tolong apa. Maaf kalau aku bikin abang kesal. Aku diam saja deh."


Tiba-tiba handphone Aaron berdering. Papa Cinta.


"Bang,aku keluar dulu ya,ada yang telpon."


Romi diam saja tanpa mau menjawab. Dia masih belum bisa menerima keadaan.


Aaron lalu keluar dari ruang ICU. "Ada apa ya papa Cinta telpon." Gumamnya.


"Haloo. . ."

__ADS_1


"Saya ada di Rumah Sakit,pak."


"Abang?" Duuhh,kasih tau tidak ya kalau abang Romi sudah sadar. Batin Aaron bimbang.


"I-iya pak. Hmm,abang Romi sudah sadar."


"I-ya pak. Kemarin."


"Pak Rey mau ke Rumah Sakit?"


"Hmm,i-iya pak."


Aaron mematikan telponnya. "Gawat,bagaimana ini? Bagaimana kalau abang di bawa ke kantor polisi? Mengetahui kakinya lumpuh saja,abang marah-marah terus apalagi kalau di bawa ke kantor polisii?" Gumam Aaron. Aaron mondar mandir di depan pintu ruang ICU.


Aaron lalu duduk dengan gelisah di ruang tunggu.


"Aaron?" Panggil pakde.


Aaron mendongakkan kepalanya. "Iya,pakde. Ada apa?"


"Pakde pulang ke rumah kamu dulu ya. Mau ambil pakaian ganti."


"Iya pakde. Pakaian kotor pakde kasih ke bibi saja." Aaron mengambil dompetnya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang. "Ini buat ongkos,pakde." Ucap Aaron seraya menyerahkan uangnya pada pakde.


"Loohh,kebanyakan ini." Tolak pakde seraya mengembalikan setengahnya pada Aaron.


"Tidak apa-apa,naik taxi saja,pakde. Jangan naik gojek lagi ya. Hati-hati di jalan. Kalau mau makan sekalian di rumah tidak apa-apa."


"Nanti kelamaan,kamu kan mau kuliah nanti siang."


"Aku libur hari ini,pakde."


"Oohh,kamu sedang libur hari ini?"


"Oohh,iya-iya. Pakde jalan dulu ya. Terimakasih uangnya."


"Iya pakde. Hati-hati di jalan."


Aaron bangkit dari duduknya lalu kembali masuk ke ruang ICU. Ternyata ada suster yang sedang melepas semua alat bantu Romi. Romi siap untuk di pindahkan ke ruang ranap biasa.


Aaron di bantu suster memindahkan Romi dari tempat tidur ke kursi roda.


"Ayo,mas. Mas bawa barang-barang sodaranya biar saya yang dorong kursi rodanya." Ucap suster.


Aaron lalu membawa semua barang-barang Romi lalu mengikuti suster yang mendorong kursi roda Romi.


Mereka lalu naik lift.


Ting. . . Pintu lift terbuka. Mereka masuk ke dalam lift. Ting. . . mereka naik ke lantai empat. Beberapa saat kemudian. Ting. . . Pintu lift terbuka. Mereka lalu keluar dari lift. Lantai empat lebih sepi. Hanya terlihat satu dua orang yang sedang duduk-duduk di kursi yang ada di depan kamar ranap.


Suster lalu membuka pintu kamar ranap. Bersama Aaron,suster memindahkan Romi ke atas tempat tidur.


"Saya tinggal dulu ya mas. Kalau ada perlu apa-apa,tekan saja tombol yang itu." Tunjuknya ke arah tombol yang ada di atas tempat tidur. "Suster jaga ada di pojokan tidak jauh dari lift." Ucapnya lagi lalu keluar dari ruangan Romi.


Aaron langsung menyimpan semua barang-barang Romi ke dalam laci lalu memeriksa isi kamar lalu ke kamar mandi.


"Abang mau ke kamar mandi? Aku anter." Tawar Aaron. Romi hanya diam seperti sibuk dengan pikirannya sendiri.


Tiba-tiba handphone Aaron berdering. Papa Cinta. Duuuhh,jangan-jangan papa Cinta sudah ada di Rumah Sakit. Batin Aaron. Aaron lalu keluar dari kamar.


"Haloo."


"Iya,pak."


"Pak Rey sudah sampai di Rumah Sakit?"

__ADS_1


"Bang Romi sudah pindah ke kamar ranap biasa."


"Hmm,ada di lantai empat,pak."


"Kamar VVIP mawar dua."


"I-iya pak."


Aaron mematikan handphonenya lalu duduk di kursi yang ada di depan kamar. "Bagaimana ini?" Gumamnya. Aaron terlihat gelisah. Bolak balik melihat ke arah pintu lift.


Beberapa menit kemudian,saat pintu lift terbuka,keluarlah seseorang yang sedang ada dalam pikirannya. Pak Rey. Batin Aaron.


Aaron bangkit dari duduknya sambil malihat ke arah Rey yang sedang berjalan ke arahnya.


"Hmm,pak Rey."


"Aaron? Jadi di pindah ke sini ya."


Aaron menganggukkan kepalanya. "Iya pak. Pak Rey mau masuk sekarang?" Tawarnya.


Rey menganggukkan kepala. "Bisa saya bertemu abang kamu?"


"Hmm,bi-bisa pak." Jawab Aaron gugup.


Aaron lalu membuka pintu kamar. Terlihat abangnya sedang tertidur. Mereka lalu mendekati tempat tidur Romi.


"Bang. . .?" Panggil Aaron.


Romi menoleh dan langsung kaget saat melihat Rey. "Siapa?" Tanyanya heran.


"Saya Rey. Orang tua dari Cinta. Gadis yang kamu bawa ke paviliun di belakang rumahmu." Terang Rey.


Seketika Romi membulatkan matanya. Wajahnya memerah. Dia sampai tidak bรฌsa berkata apa-apa.


.


.


.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


.


.


.


.


.


.


1441

__ADS_1


__ADS_2