
Ratna memeriksa isi tasnya. Ternyata akta kelahirannya tidak dia bawa.
"Saya besok pulang dulu ke desa,ambil akta sama memberitahukan tentang pernikahan saya." Ucap Ratna.
"Ya sudah,besok saya antar. Makin cepat makin baik." Ucap Rey.
"Saya sendirian saja,pak." Tolak Ratna.
"Loh,jangan! Nanti kalau ada apa-apa sama kamu di jalan bagaimana? Kamu kan masih suka pusing. Apalagi kalau naik kendaraan umum." Ucap Siti.
"Iya benar." Ucap Rey.
"Tapi. . .?"
"Tidak apa-apa Ratna. Kamu tidak perlu sungkan ya."
"Hhmm,baiklah. Tapi bagaimana saya mengatakan pada orang tua saya. Saya bingung." Ucap Ratna dengan wajah sedih.
"Hhmm,sebaiknya kamu jujur." Ucap Siti.
"Tapi kalau sampai ibu tau saya hamil sebelum nikah,ibu pasti syok banget. Ibu kan sakit-sakitan."
Siti menoleh ke arah Rey yang juga sedang menatapnya.
"Jadi maunya bagaimana?" Tanya Rey.
"Saya tidak tau." Ucap Ratna sambil menunduk.
"Hhmm,bilang saja kamu ingin menikah."
"Biasanya kalau di kampung,menikah di rumah keluarga pengantin wanita. Ibu pasti ingin aku menikah di rumah."
"Bagaimana,mas?" Tanya Siti yang juga bingung.
"Romi tidak mungkin mau ke desa. Karena kondisi dia juga yang memakai kursi roda." Terang Rey.
"Nah,itu bisa jadi alasan kamu Ratna. Menikah di kota saja karena calon kamu habis kecelakaan."
"Jadi dia benar-benar tidak bisa kembali berjalan?" Tanya Ratna.
"Kalau masalah itu,saya belum sempat menanyakan pada Aaron. Kamu tidak mau menikah dengannya karena dia memakai kursi roda sekarang?"
"Hhmm,bukan masalah itu. Tapi dia juga kan tidak punya perasaan apa-apa sama saya." Ucap Ratna dengan wajah sedih.
"Kalau masalah itu,dengan berjalannya waktu in sya Allah dia akan bisa mencintai kamu. Iya kan sayang!" Ucap Rey sambil melirik ke arah Siti.
Siti hanya membalas Rey dengan tersenyum.
"Jadi bagaimana? Besok kita berangkat ya?" Tanya Rey.
Ratna mengangguk ragu. "Hhmm,baiklah."
***
Semua keluarga baru saja selesai makan malam bersama. Ratna sudah tidak lagi malu untuk ikut berkumpul bersama di ruang keluarga.
"Rey bagaimana urusan pernikahannya Ratna? Apa sudah tau tanggalnya?" Tanya oma.
"Rey sudah punya surat-surat data diri Romi tinggal Ratna lagi yang belum ma." Jawab Rey.
"Alhamdulillah,lebih cepat lebih baik." Ucap opa.
"Iya,pa. Besok Rey mau antar Ratna ke desanya. Ambil surat-surat Ratna yang belum lengkap sekaligus mengabari orang tua Ratna."
__ADS_1
"Iya. Ratna maunya menikah di mana?" Tanya oma.
"Orangtua saya pasti ingin saya menikah di desa. Tapi itu kan tidak mungkin." Jawab Ratna.
"Hhmm,iya. Si Romi kan baru saja keluar dari Rumah Sakit dan juga kondisi dia yang memakai kursi roda." Ucap Rey.
"Ya tidak masalah kalau Rominya mau,kan?" Ucap oma.
"Hhmm,saya akan bujuk orang tua saya agar mau mengijinkan saya menikah di kota." Ucap Ratna.
"Iya Ratna. Kalau menikah di desa takutnya keluarga Romi tidak mau datang."
"Iya. . ."
***
Besok paginya,Rey sudah siap berangkat ke desa Ratna sekaligus mengantar anak-anaknya ke sekolah.
Tiga jam kemudian,Rey dan Ratna sampai di desa pukul sepuluh pagi. Rey memarkirkan mobilnya agak jauh dari rumah Ratna. Ratna melangkahkan kakinya dengan ragu-ragu.
"Ayo Ratna!" Ajak Rey yang tidak sabar melihat Ratna yang melangkah sangat pelan.
"Hhmm,saya-saya takut." Sahutnya pelan.
"Kamu harus berani. Kamu tidak bisa mengulur waktu. Perut kamu makin lama makin membesar. Cepat atau lambat orangtua kamu tetap harus tau,Ratna. Jadi lebih cepat lebih baik."
"Hhm,iya pak."
Mereka tiba di depan rumah orang tua Ratna. Ratna mengetuk pintunya. Tok tok. . .
Beberapa menit kemudian,pintu rumah Ratna terbuka.
"Ratna? Kamu pulang nak?" Seru ibunya Ratna. Mereka lalu berpelukan.
"Hhmm,bu. Kenalin ini pak Rey. Ratna kerja sama beliau." Ucap Ratna seraya menoleh ke arah Rey dan ibuanya.
"Saya bu Fatimah. Ibunya Ratna." Ucap ibunya Ratna seraya menyambut uluran tangan Rey. "Mari masuk nak Rey."
" Terimakasih,bu." Rey lalu masuk dan duduk di ruang tamu sementara Ratna masuk ke dalam.
Ayahnya Ratna baru saja datang lalu kembali berkenalan dengan Rey.
"Anda yang datang waktu itu kan?" Tanya ayahnya Ratna.
"Iya pak. Saya yang waktu itu datang mencari Ratna." Terang Rey.
"Bosnya Ratna ya."
Rey hanya tersenyum.
Ratna datang dengan membawa dua gelas teh hangat. "Nak Rey di minum dulu. Pasti haus kan perjalanan dari kota ke desa. Maaf hanya ada teh manis." Ucap ibunya Ratna.
"Iya,terimakasih." Sahut Rey lalu meminum tehnya seteguk.
"Oh iya,ada apa ya bosnya Ratna sampai repot-repot ke desa mengantar Ratna?" Tanya ayahnya Ratna penasaran.
Rey menatap Ratna sekilas. "Hmm,Ratna yang akan menjelasķannya." Terang Rey.
Ratna menunduk,wajahnya mendadak pucat.
"Ratna,ada apa?" Tanya ayahnya Ratna.
"Ratna,sebaiknya bicarakan di dalam kamar saja." Usul Rey.
__ADS_1
"Kenapa harus di dalam kamar? Kenapa tidak di sini saja? Ada apa?" Tanya ibunya Ratna dengan dahi berkerut.
"Hhmm,bu. Ratna mau bicara di dalam kamar sama ayah juga." Ajak Ratna yang langsung berdiri dan berlalu dari sana.
"Ratna,ada apa? Kenapa harus bicara di dalam kamar segala?" Gumam ibunya Ratna.
"Nak,Rey. Kita tinggal dulu ya. Entah apa yang mau di sampaikan oleh Ratna." Pamit ayahnya Ratna lalu mengikuti Ratna dan istrinya masuk.ke dalam kamar.
"Semoga orangtua Ratna mau menerima dan memaafkannya." Gumam Rey sambil menatap mereka.
Tak lama kemudian terdengar isak tangis dari dalam kamar. Rey ikut merasa sedih.
Sepuluh menit berlalu,ayahnya Ratna keluar menemui Rey. Dia duduk tidak jauh dari Rey. Wajahnya terlihat sedih seperti menyimpan luka.
"Hhmm,pak?" Sapa Rey.
Ayahnya Ratna menoleh. "Jadi rencananya Ratna menikah kapan dan dimana?" Tanyanya lirih.
"Hhmm,saya terserah keluarga Ratna saja. Tapi memang calonnya Ratna saat ini baru saja keluar dari Rumah Sakit karena habis kecelakaan. Dan dokter bilang kalau dia memang mengalami kelumpuhan di kedua kakinya. Tapi saya belum tau itu permanen apa bisa di sembuhkan." Terang Rey.
Hhhh,ayahnya Ratna menarik nafas berat. "Saya menurut saja baiknya bagaimana. Yang penting ada yang bertanggung jawab atas kehamilannya." Ucap ayahnya Ratna pelan.
"Jika keluarga mengijinkan dan setuju,pernikahan akan di langsungkan di kota. Untuk mempermudah calon pengantin prianya." Terang Rey.
Ayahnya Ratna mengangguk setuju. "Terimakasih nak Rey mau membantu Ratna selama di kota dan sampai repot mengantarkan Ratna pulang."
"Tidak masalah pak. Karena Ratna di kota kerja sama saya jadi saya merasa ikut bertanggung jawab atas semua yang Ratna alami. Saya akan mengurus semua keperluan pernikahan Ratna di kota sampai selesai."
"Sekali lagi terimakasih."
"Nanti bapak sekeluarga bisa datang kapan saja. Dan untuk hari ini,kalau bisa Ratna kembali ikut saya ke kota untuk mengurus semua keperluan pernikahannya."
"Hmm,iya nak." Ucap ayah Ratna seperti pasrah saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. 😍😍
.
.
.
.
__ADS_1
.
1515