Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 41


__ADS_3

Siti sedang memasangkan dasi untuk suaminya. Setelah beberapa kali belajar akhirnya dia bisa memasang dasi dengan benar. "Mas hari ini mau ketemu orang penting. Doakan ya semoga mas bisa meyakinkan orang itu agar memilih perusahaan kita." Ucap Rey sambil memegang pundak Siti.


"Iya mas! Saya selalu doakan yang terbaik untuk mas!" Jawab Siti sambil memandang wajah suaminya.


"Untuk kamu juga sayang! Untuk calon anak kita. Untuk keluarga besar kita!"


Siti tersenyum. "Pasti mas!"


Cup. Rey mengecup dahi istrinya dengan mesra. "Terimakasih sayang! Mas menyayangi kalian berdua." Ucap Rey sambil mengusap perut Siti. "Tolong jaga dia buat mas ya!"


"Insya Allah! Saya,saya juga sayang mas!" Ucap Siti masih malu-malu.


"Kamu kok masih malu-malu sih sama mas,hmm?"


Siti langsung memeluk suaminya. " Saya,saya sangat mencintai mas!"


Rey membalas pelukan istrinya. "Oh ya? Sejak kapan,hmm?"


"Sejak. Hmm,lupa sejak kapan."


Sedang asiknya berpelukan,Cinta datang menghancurkan momen romantis mereka.


"Papa! Ayo sarapan,sudah siang nanti Cinta terlambat sekolah!" Seru Cinta dari balik pintu. Siti langsung melepaskan pelukan mereka.


"Seperti ayah saja,suka peluk-peluk bunda!" Gerutunya lagi dengan wajah cemberut. Rey dan Siti hanya senyum-senyum melihat tingkahnya.


"Yuk kita turun!" Rey menggandeng putrinya,Siti mengikuti dari belakang.


***


Rey sudah tiba di kantor lebih awal. Rencananya dia akan meeting dengan dua orang penting yang berasal dari luar negeri. Berharap mereka mau bekerja sama dengan perusahaan milik keluarganya agar dapat membantu perusahaan yang sedang ada masalah.


Baru kali ini Rey merasa gugup,karena menyangkut masa depan perusahaan. Sebenarnya dia telah mendapatkan tawaran bantuan dari perusahaan milik Fadil,ayah sambungnya Cinta,suami dari mantan kekasihnya tapi dia sungkan.


Perusahaan keluarganya memang tidak sebesar perusahaan milik Fadil,mungkin tidak sampai setengahnya tapi Rey memilih untuk berusaha sendiri.


Waktu yang di janjikan untuk meeting hanya lima menit lagi. Rey sudah duduk di ruang meeting yang telah di tata lebih rapi.


Tok tok. . Ceklek.


Toni,asistennya datang bersama dua orang yang telah membuat janji dengannya.


"Silahkan masuk tuan Daniel dan tuan Erick" Ucap Toni dengan ramah.


Rey berdiri lalu menyambut mereka,mempersilahkan mereka untuk duduk. Selanjutnya,dengan membaca doa terlebih dahulu,Rey pun memulai meeting mereka dengan membuka laptopnya untuk melakukan presentasi.


Setelah hampir satu jam,rapat mereka pun selesai dengan perjanjian bisnis yang menguntungkan untuk kedua belah pihak.


"Terima kasih tuan Daniel,tuan Erick atas kepercayaan yang di berikan pada perusahaan saya." Ucap Rey dengan hati yang lega.


"Sama-sama tuan Reynan. Senang bekerja sama dengan anda!" Jawab tuan Erick.


"Oh iya saya dengar tuan Reynan telah menikah. Setelah kerja sama kita bertahun lalu,saya sudah jarang sekali datang ke Indonesia." Ucap tuan Daniel.


"Oh iya tuan Daniel,saya baru saja menikah beberapa bulan yang lalu." Jawab Rey.


"Beruntung sekali wanita yang bisa menakhlukkan hati tuan Rey ini." Ucap tuan Daniel.


Rey tersenyum.


"Bagaimana kabar istrinya tuan Reynan?"

__ADS_1


"Alhamdulillah sehat,hanya saja sekarang sedang hamil muda jadi sedikit rewel." Jawab Rey sambil tersenyum.


"Wah,selamat tuan Reynan. Semoga kehamilannya lancar." Ucap tuan Daniel.


"Biasa tuan Rey jika wanita hamil terkadang suka memusingkan para suami." Tuan Erick tergelak.


Mereka bertiga pun tertawa. Akhirnya obrolan mereka sudah tidak kaku lagi setelah tidak lagi membahas masalah bisnis.


***


Rey tiba di rumah saat makan siang setelah terlebih dahulu menjemput putrinya di sekolah.


"Ayo Cinta,makan yang banyak biar cepat besar!" Titah opa. Opa terlihat bahagia dan bersemangat.


"Iya opa!" Jawab Cinta.


Rey sesekali menyuapi istrinya makan. Mereka makin romantis. Apalagi Siti sama sekali tidak merasa mual-mual lagi. Dia makan dengan lahap justru saat makanannya Rey yang menyuapi. Mama dan papa mertuanya hanya saling lirik melihat anak dan mantunya.


Setelah makan,mama dan papa menuju ruang keluarga. Mereka biasa menghabiskan waktu dengan menonton tv di ruang tengah walaupun di kamar mereka sudah ada tv sendiri.


"Nanti susul oma sama opa ke ruang tengah ya Cinta!" Titah opa.


"Hmm,iya opa."


"Bagaimana sekolah Cinta hari ini?" Tanya opa saat anak,cucu dan mantunya sudah duduk bersama di ruang keluarga.


"Sekolah Cinta lancar,opa. Tadi Cinta belajar melukis." Jawab Cinta.


"Oh ya,Cinta bisa melukis?" Tanya opa takjub.


"Bisa dikit-dikit opa. Cinta juga baru belajar."


"Memangnya Cinta melukis apa?" Tanya oma.


"Wah pinter ya anak papa!" Rey ikut menimpali.


***


Siti dan Rey baru saja selesai menunaikan sholat malam. Seperti biasa,Siti akan mencium punggung tangan Rey dan Rey akan mencium dahi Siti.


"Mas ada kabar untuk kamu." Ucap Rey saat mereka masih di atas sajadah sambil menatap lekat-lekat istrinya.


Siti pun balas menatapnya. "Kabar apa mas?"


"Kamu jangan sedih ya!" Ucap Rey lagi.


Dahi Siti berkerut. "Hmm,memangnya kabar apa mas? Tidak jadi pulang ke desa kan?" Siti menebak-nebak.


Rey menggeleng lemah. Wajahnya terlihat sedih. "Mas pernah cerita kan tentang perusahaan kita yang sedang dalam masalah?"


"Iya. Tadi pagi mas cerita kalau mau ketemu orang penting kan?" Jawab Siti.


Rey menghela nafasnya dalam-dalam. " Iya." Rey diam sesaat lalu memegang pundak Siti. "Tapi mas tidak berhasil."


Wajah Siti berubah. "Lalu?"


"Sekali lagi kamu jangan sedih ya!"


"Ihh mas ini! Ngomong sepotong-sepotong bikin penasaran deh!" Siti cemberut.


"Ada orang lain yang mau membantu tapi. . ." Rey menggantung ucapannya lalu menunduk.

__ADS_1


"Tapi apa mas?"


"Mas. Mas harus mau menikahi putri orang itu." Ucap Rey lirih.


Mata Siti membulat. Jantungnya langsung berdetak berkali-kali lipas demi mendengar apa yang baru suaminya katakan. "Me,menikah?" Mata Siti pun mulai terasa panas. Tubuhnya seketika menjadi lemas.


Rey mengangguk lemah. Siti lalu memalingkan wajahnya. "Hmm,terserah mas!" Ucapnya kemudian. Dia lalu berdiri membereskan alat sholatnya dan berlalu ke ruang ganti. Rey mengerti. Dia mengikuti istrinya dari belakang. Dari belakang dapat jelas dia lihat pundak istrinya mulai berguncang. Sepertinya istrinya itu sedang menahan tangisnya.


Rey membalik tubuh istrinya agar berhadapan dengannya tapi Siti menahan tubuhnya. Dia tidak mau memperlihatkan wajahnya. "Siti?" Panggil Rey. Tapi Siti tetap tidak mau menoleh.


Rey lalu memeluk Siti dari belakang. Pundak Siti makin berguncang. "Kamu ihklas mas menikah lagi,hmm?"


Siti diam beberapa saat lalu menganggukkan kepalanya.


"Jadi kamu tidak masalah di madu?"


Siti mengangguk lagi.


"Hmm,berarti kamu tidak mencintai mas ya! Mas pikir kamu sangat mencintai mas,ternyata mas salah besar! Kamu tidak pernah mencintai mas sedikit pun!" Ucap Rey dengan nada sedih.


"Saya,saya mencintai mas! Sangat mencintai!" Ucap Siti terbata-bata dan sambil terisak.


Rey membalik tubuh Siti. Ternyata wajah istrinya itu telah banjir air mata. Rey langsung memeluknya erat-erat. Siti sesenggukan dalam pelukan suaminya.


"Besok kita pulang ke desa kamu!" Bisik Rey.


Siti langsung mendongak. "Pulang ke desa?"


"Kita bulan madu kedua di desa!"


"Ka,kapan mas mau menikah?"


"Hahaa!" Rey tergelak." Kamu yakin ikhlas mas madu,hmm?"


Dahi Siti berkerut.


Rey memegang pundak istrinya lalu menatapnya lekat-lekat. "Mas tidak akan pernah menduakan kamu! Kamu itu hadiah terindah yang Allah kirimkan untuk mas! Di saat hati mas terasa sunyi,gelap,kamu hadir membawa cahaya!" Rey mencium dahi istrinya. "Terimakasih atas kesabaran kamu!"


"Iiihh mas ini!" Siti langsung memukul-mukul dada suaminya sambil terisak. "Menyebalkan!"


"Kamu tahu,berkat doa kamu. Mas berhasil. Perusahaan kita sudah tertolong."


"Dasar,dasar Reeyy!" Teriak Siti masih sambil memukul dada suaminya.


Rey mengusap sisa airmata di wajah istrinya. "Mas kan sudah mengabulkan keinginan kamu. Lalu kamu mau kasih apa untuk mas,hmm?"


"Hmm,mas mau apa? Saya kan tidak punya uang."


"Mas tidak butuh uang kamu!"


"Lalu?"


Rey lalu menunjuk ke dada,wajah dan semua milik Siti. "Mas mau hati ini,wajah ini,yang ini,ini,semua milik mas!"


Siti tersipu malu. "Kan memang semua sudah jadi milik mas!"


"Kalau malam ini? Hmm?" Rey mengedipkan sebelah matanya.


Siti langsung memeluk suaminya dan menganggukkan kepala.


NEXT

__ADS_1


290421/06.36


__ADS_2