Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 53 ( S2 )


__ADS_3

Seno sedang membaca Alquran sambil telapak tangannya dia tempelkan di perut Dinda. Dia ingin membiasakan calon bayinya mendengar lantunan ayat suci Alquran sekaligus mengenal suara ayahnya dari dalam kandungan. Setelah selesai,Seno lalu mencium perut Dinda.


"Hmm,dia membalas cium mas juga." Ucap Seno sambil tersenyum.


"Masa mas?" Tanya Dinda penasaran.


"Saat mas cium,perut kamu gerak-gerak."


"Dia ingin bilang 'halo papa'." Ucap Dinda.


"Iya,hehee.."


"Hmm,mas. Terimakasih ya."


"Iya. Kamu belum ngantuk?"


"Kenapa,mas?"


"Mas ingin bicara penting!"


"Hmm,iya mas. Aku belum ngantuk."


"Mas inginnya kamu di rumah saja selama masa kehamilan kamu ini. Apalagi ada kejadian seperti kemarin,mas tidak akan tenang!" Terang Seno.


"Hmm,mas aku minta maaf. Dia,dia memang mantan aku. Setengah tahun yang lalu dia bilang mau keluar negeri di suruh orang tuanya. Dan sejak itu dia tanpa kabar. Aku pikir kita tidak ada hubungan lagi. Dan juga sebelum dia pergi,aku sudah berapa kali bilang kalau aku sudah tidak bisa lagi sama dia,selain mami sama papi juga tidak menyukainya."


"Dia bilang kamu adalah calon istrinya."


"Iya mas. Dia memang bilang mau nikahi aku tapi aku sudah bilang kalau aku tidak mau nikah sama dia. Dia tetap maksa."


"Kenapa kamu tidak mau di nikahi pacar kamu? Kenapa mami sama papi tidak setuju?"


"Dia suka maksa. Dia juga kasar,mas. Awalnya memang dia baik tapi makin lama sifat aslinya keluar."


"Hmm,tapi kamu cinta kan sama dia?"


"Dia itu teman sekolahku. Yah,aku dulu cinta sama dia. Tapi lama-lama aku merasa takut dan tidak nyaman."


"Hhh,sudah tau begitu kok pacarannya lama sampai sekarang? Jadi pertama kita kenal itu,kamu sudah pacaran sama dia?"


"Dulu dia baik. Entah sejak hampir dua tahun ini dia berubah. Hmm,,kalau tidak salah sejak maminya meninggal,mas."


"Hmm. . ."


"Setiap aku tanya kenapa dia berubah,dia marah dan selalu mengangkat tangannya mau mukul aku walau tidak jadi."


"Hmm,jadi bagaimana?"


"Bagaimana apa,mas?"


"Kemarin dia bilang mau kembali lagi kan?"


"Hmm,iya aku dengar. Dia memang marah banget sama mas yang dia anggap merebut aku dari mas."


"Masih mau kerja di Rumah Sakit itu?"


"Tapi aku tidak bisa berhenti begitu saja,mas!"


"Ya sudah kalau kamu masih mau kerja di Rumah Sakit itu,biar mas saja yang berhenti kerja agar bisa jagain kamu!"


"Hmm,mas. Aku minta waktu satu bulan ya."


"Jadi satu bulan ini mas tidak kerja."


"Oh iya,mas pernah bilang anaknya mas Rey yang namanya Cinta itu pakai bodyguard kan? Aku pake itu saja sebulan ini."


"Hmm,mas susah percaya sama orang. Apalagi pacar kamu itu punya bodyguard juga." Ucap Seno.


"Iiihh mas ini. Bukan pacarku lagi!" Dinda ngambek.


Seno tersenyum tipis. "Hhh,mas ngantuk." Seno mulai merapikan bantalnya bersiap tidur."


"Hmm,loh kok sudah mau tidur sih mas?"


"Kenapa? Mau?"


"Iihh,orang belum selesai bicaranya."

__ADS_1


"Mas sudah selesai kok. Mulai besok mas tidak kerja. Jadi kalau butuh apa-apa mas minta duit sama kamu saja." Gurau Seno.


"Hehehee. Mas kan masih sakit juga besok tidak usah kerja. Kita berobat ya!"


"Hmm,tidak mau berobat!"


"Kan badan mas sakit semua?"


"Biarin saja sakit."


"Hmm,mas ngambek ya?" Dinda mencoba merayu dengan memeluk Seno.


"Laki kok ngambek. Mas tidak suka sama Rumah Sakit."


"Kenapa mas? Aku kerja di Rumah Sakit."


"Ya karena tempat orang sakit. Jadi ingat sama orang yang pernah sakit."


"Oh begitu."


"Mas,aku minta waktu satu bulan. Beneran deh,aku janji akan istirahat sementara."


"Ya sudah,mas juga tidak kerja satu bulan kalau mas Rey tidak ijinkan satu bulan ya tidak usah kerja lagi. Mas minta duit sama kamu saja kalau butuh apa-apa."


"Heheee,cup!" Dinda mencium bibir Seno sekilas.


"Jangan mancing,badan mas sakit semua!"


"Hehee,besok kita bicarakan lagi ya. Besok mas ijin dulu sama mas Rey. Aku besok hanya ada satu operasi,kok."


"Hmm. Tidur yuk,mas ngantuk. Capek banget lagi."


"Iya mas."


***


Seno terbangun dengan masih merasakan sakit di badannya. Dinda sudah tidak ada di sampingnya. "Jam berapa sekarang kok Dinda sudah bangun?" Gumam Seno.


Seno meregangkan otot-ototnya. " Ya Allah,rasa sakitnya makin terasa."


"Mas,sudah bangun."


"Kamu dari mana? Jam berapa sekarang,hmm?"


"Sekarang sudah jam lima,mas. Mau sholat ya?"


"Hmm,iya. Mau mandi juga."


"Badannya gimana,sudah berkurang belum sakitnya?"


"Hmm,iya." Jawab Seno bohong,agar tidak di paksa istrinya ke Rumah Sakit.


"Aku siapin air hangat ya. Mandi di bathup saja ya mas?"


Seno mengangguk. " Kamu sudah mandi?"


"Aku tadi bangun jam empat,mas. Jadi sudah mandi n sholat juga."


Dinda lalu pergi ke kamar mandi. Setelah air mandi siap,Dinda lalu mengambil pakaian bersih suaminya di lemari.


Seno turun dari tempat tidur. Dinda hendak membantunya tapi dia tolak. "Mas bisa jalan sendiri,kamu jangan capek-capek."


"Iya mas."


Mereka lalu masuk ke dalam kamar mandi." Aku bantu,mas?"


Seno menggeleng. "Mas sendiri saja."


"Aku tinggal ya?"


Seno mengangguk.


Lima belas menit Seno keluar dari kamar mandi lalu sholat subuh.


Dinda tidak ada di kamar. Seno lalu duduk di sofa sambil menelpon.


"Mas."

__ADS_1


Seno menoleh. "Darimana?"


"Aku dari dapur. Aku masakin bubur buat mas."


"Hmm,memangnya mas sakit di kasih makan bubur?" Protes Seno.


"Hehee,kan badannya memang sedang sakit semua."


"Jadi masih mau kerja hari ini?"


"Sebentar saja ya mas."


"Hmm,ya sudah. Mas juga sudah nelpon mas Rey,bilang kalau mau cuti sebulan buat jagain istri hamil."


"Iihh,serius mas? Di kasih ijin sama mas Rey?"


"Hmm,tapi nanti kamu mau melahirkan mas tidak minta ijin lagi jadi tidak bisa nungguin kamu melahirkan!"


"Iihh,mas ini."


"Yah masa cuti terus. Ya tidak usah kerja saja sekalian mas."


"Hmm,satu bulan ini aku minta waktu. Tidak bisa langsung resign begitu saja,mas."


"Masa satu bulan?"


"Hmm,aku usahain lebih cepat ya." Sambil mencoba merayu dengan memeluk Seno.


"Hmm. Setelah itu kerja sama mami saja kan?"


"Iya,suamiku sayang! Cup." Memberikan ciuman mesra pada Seno.


"Hmm,sekarang makin pinter menggoda mas ya."


"Hehee,biarin. Sama suamiku sendiri kok!"Jawab Dinda manja.


"Mas laper."


"Makan di kamar apa di bawah?"


"Di bawah saja."


"Bubur buatan aku enak loh mas."


"Jadi beneran mas mau di kasih makan bubur?" Seno membulatkan matanya.


Dinda mengangguk sambil tersenyum.


Seno menggelengkan kepalanya.


.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca,moga suka. Maaf masih ada typo. Terimakasih 😍😍


.


.


.


.


.


.


1515

__ADS_1


__ADS_2