Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 90 ( S2 )


__ADS_3

Rey dan Fadil masih menunggu Aaron yang sedang di dalam ruang ICU.


"Aaron kok lama ya?" Tanya Rey penasaran.


"Iya,apa ada masalah di dalam ya." Sahut Fadil dengan wajah cemas.


"Biar saya masuk." Ucap Rey. Rey lalu mengenakan pakaian khusus kemudian masuk ke ruang ICU.


Ternyata Aaron tengah tertidur di sebelah abangnya. Rey mau membangunkannya tapi ragu-ragu.


Rey akhirnya keluar lagi dari ruang ICU.


"Bagaimana,pak?" Tanya Fadil saat Rey sudah di luar.


"Hmm,Aaron tertidur di sebelah abangnya. Mungkin dia kelelahan." Jawab Rey.


"Hhh,kasihan anak itu."


"Iya,pak. Sekarang kita pulang saja dulu. Nanti sore saya akan ke sini lagi." Ucap Rey.


"Oh,ya sudah kita pulang dulu sekarang."


Rey dan Fadil lalu pulang ke rumah. Satu jam lebih mereka sampai di rumah Fadil. Rey memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Di teras,Cinta sedang berdiri menatap ke arah mereka.


"Papa,ayah? Dari mana? Aaron mana? Apa kalian tidak bertemu Aaron?" Cinta langsung memberondong pertanyaan sambil matanya terus menatap ke arah mobil.


"Papa sama ayah capek,nak. Mau duduk dulu." Sahut Rey yang terus melangkah di belakang Fadil. Mereka lalu duduk di ruang keluarga dimana Siti,Cyndia dan anak-anak sedang berkumpul.


Rey duduk di sebelah Siti sementara Fadil duduk di sebelah istrinya."Aku buatkan minum dulu ya mas." Ucap Cyndia pada Fadil. Fadil mengangguk.


Cyndia segera berlalu dari sana.


"Mas dari mana saja,katanya hanya sebentar?" Tanya Siti pada suaminya.


"Mas ada urusan yang sangat penting,yank." Jawab Rey.


Cinta datang lalu duduk di sebelah papanya. "Pa,kenapa papa tadi minta nomor kontak Aaron? Ada apa dengan Aaron,pa?"


Hhh,Rey menarik nafasnya berat. "Hmm,omanya Aaron penyakit jantungnya kambuh,sekarang koma di Rumah Sakit."


"Omanya Aaron? Aaron punya oma yang sakit jantung? Kok papa bisa tau?"


"Jadi Cinta tidak tau kalau Aaron punya oma,hmm?"


Cinta menggelengkan kepalanya. "Aaron tidak pernah cerita,pa. Terus papa tau dari mana? Aaron sekarang di mana? Kenapa tadi dia pulang dari sini dengan wajah sedih,tidak mau bicara sama Cinta. Papa sama ayah marahin Aaron ya?"


Rey mengusap wajahnya. "Sayang,bisa kan nanyanya satu-satu?"


"Papa juga tidak mau cerita." Cinta cemberut.


"Papa capek nak. Sebentar ya?"


Cinta yang masih cemberut segera berlalu dari hadapan papanya. Aaron,kamu di mana? Tanyanya dalam hati.


"Mas,kenapa mas tidak cerita saja? Kasihan Cinta dari tadi gelisah bolak balik melihat handphonenya." Pinta Siti.


"Hhh,mas bingung mau mulai cerita dari mana?"


"Aku juga penasaran,mas. Apalagi Cinta."


"Hmm,Cinta masih terlalu kecil untuk tau masalah ini,yank."


"Tapi kalau menyangkut Aaron,dia berhak tau,mas. Sepertinya anak gadis mas itu sudah mulai jatuh cinta." Ucap Siti seraya tersenyum.


"Hmm,cinta monyet."


"Iihh,mas ini."


"Hhh,mas ngantuk nih."

__ADS_1


"Hhmm,pulang yuk mas! Dari pagi di sini tidak enak. Mungkin mbak Cyndia dan suaminya mau istirahat." Ajak Siti.


"Ya sudah ayo kita pulang. Maaf ya kamu kelamaan nunggu."


Siti mengangguk. Siti lalu menghampiri kedua anaknya yang sedang bermain bersama Faqih. "Kakak,adek,yuk kita pulang!"


Putra dan Putri menoleh. "Ayo ma,adek ngntuk." Putra langsung memeluk mamanya. "Gendong!" Pintanya dengan manja.


"Adek,sudah besar masih minta gendong mama. Sini papa saja yang gendong."


"Hmm,adek ngantuk pa!" Putra langsung bergelayut manja sama papanya.


"Ayo,ma kita pulang." Ucap Putri setelah membereskan mainan milik Faqih.


"Loh,mau kemana?" Tanya Cyndia yang baru saja dari ruang makan dengan membawa minuman.


"Kita pulang dulu,mbak. Maaf sudah merepotkan dari pagi." Jawab Siti.


"Tidak merepotkan kok,mbak. Ayo kita makan siang dulu." Ajak Cyndia.


"Kita makan di rumah saja,mbak. Nanti oma dan opanya nungguin. Biasa makan siang bersama." Tolak Siti halus.


"Kalau begitu di minum dulu,sayang kalau tidak di minum."


"Hmm,terimakasih ya mbak." Ucap Siti.


Siti,Rey dan anak-anak duduk sejenak untuk meminum minuman yang sudah di bawakan oleh Cyndia. Lima menit kemudian.


"Kita pulang sekarang ya mbak,putra sudah tertidur di gendongan papanya." Pamit Siti.


"Hmm,ya sudah kalau gitu." Ucap Cyndia.


"Loh,sudah mau pulang?" Tanya Fadil yang baru saja datang.


"Iya pak Fadil,kita pulang dulu. Nanti oma opanya nyariin." Jawab Rey.


"Hhmm,baiklah pak Rey."


"Hmm,saya juga ikut,pak Rey."


"Baiklah pak Fadil. Saya dan keluarga pulang dulu. Maaf sudah merepotkan."


"Tidak masalah pak. Kita sudah seperti saudara." Sahut Fadil.


Cyndia lalu mengantar Siti dan keluarga sampai di teras rumah. Di teras rumah ada Cinta yang terlihat bingung dan sedih.


"Papa sama mama sudah mau pulang?" Tanya Cinta kaget.


"Nanti sore papa ke sini lagi jemput kamu ya!" Sahut Rey seraya mengusap lembut pucuk kepala Cinta.


"Jemput? Mau kemana,pa?"


"Katanya kangen sama Aaron,dari tadi nanyain terus padahal tadi pagi baru saja ketemu." Goda Rey.


Wajah Cinta langsung bersemu merah. "Iihh papa,Cinta kan cuma tanya Aaron di mana."


"Papa pulang dulu. Nanti papa telpon kalau mau jemput kamu. Sekarang makan siang dulu lalu istirahat,tidur siang ya. Kalau tidak mau nurut,papa tidak jadi ajak kamu ketemu Aaron!"


"Hmm,iya iyaa." Sahut Cinta dengan menahan malu.


Rey dan keluarga segera meninggalkan kediaman keluarga Fadil.


Di dalam mobil. "Sebenarnya apa yang terjadi,mas?" Tanya Siti penasaran.


"Nanti saja mas cerita,ada anak-anak."


"Hmm. . .


***

__ADS_1


Sore hari,Rey sedang dalam perjalanan ke rumah Fadil untuk mengajak Fadil dan juga Cinta menemui Aaron. Setelah menghubungi Aaron,ternyata dia sedang di Rumah Sakit Medika dimana omanya sedang di rawat.


"Pa,kita mau ketemu Aaron di Rumah Sakit mana?" Tanya Cinta yang duduk di kursi belakang.


"Rumah Sakit Medika."


"Jadi Aaron sekarang sudah kembali ke Rumah Sakit Medika."


"Iya,pak Fadil. Bisa tidak ya oma dan abangnya di rawat di Rumah Sakit yang sama? Kasihan kalau dia harus bolak balik."


"Hmm,kita konsultasikan dulu dengan dokter yang menangani. Siapa yang harus di pindahkan."


"Iya."


"Abangnya Aaron juga sakit ya pa? Kok Aaron tidak cerita sama Cinta. Cinta telpon tidak pernah di jawab. Apa Aaron marah sama Cinta ya pa?"


Rey dan Fadil saling menatap. "Mungkin dia sedang sibuk,sayang!"


"Tapi kenapa papa yang telpon kok dia mau jawab?" Suara Cinta terdengar kesal.


"Hmm,masa sama papanya cemburu." Goda Rey.


"Iihh papa. Siapa juga yang cemburu. Cinta sama Aaron tidak pacaran mana mungkin cemburu."


"Hhh,tidak pacaran tapi kangen terus."


"Iihh,Cinta kan cuma tanya di mana Aaron bukannya kangen." Elak Cinta.


Fadil dan Rey hanya tersenyum mendengar jawaban Cinta.


"Lagian,memangnya cemburu harus pacaran dulu?"


"Iya donk! Kalau tidak pacaran tidak boleh cemburu!


"Hmm,begitu ya?"


"Iya kata si Vina."


"Vina siapa?"


"Vina itu teman sebangku Cinta di sekolah,pa. Dia sudah punya pacar,jadi dia boleh cemburu sama pacarnya." Tegas Cinta.


"Hmm,iya iya. . ." Sahut Rey seraya menggelengkan kepalanya.


.


.


.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. 😍😍


.


.


.


.

__ADS_1


1530


__ADS_2