Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 99 ( S2 )


__ADS_3

Setelah dari pemakaman omanya Aaron,Rey pergike kantornya dan langsung menemui Seno di ruangannya.


Tok tok


Ceklek. Rey langsung masuk. "Assalammualaikum."


"Wa alaikumsalam. Sudah selesai pemakamannya,mas?"


"Alhamdulillah,sudah. Keluarga besarnya sudah datang."


"Hmm,syukurlah."


"Oh iya,siang nanti mas ada janji makan siang sama pak Willy,kamu mau ikut?"


Seno menggelengkan kepalanya. "Terimakasih mas. Tapi Seno harus ke klinik,Dinda maunya makan siang bareng. Tidak apa kan mas,aku telat balik lagi ke kantor?"


"Hmm,iya tidak apa-apa tapi siapkan dulu proposal yang mas minta ya!"


"Iya mas."


"Mas tinggal dulu." Pamit Rey.


Rey membuka pintu ruangannya,lalu meletakkan jas hitamnya di sandaran kursi. Mulai lagi dengan aktivitasnya seperti biasa.


Menjelang siang,Seno menemui Rey ke ruangannya dengan membawa berkas yang Rey minta.


"Mas,ini berkasnya." Ucap Seno seraya meletakkan berkasnya di atas meja.


"Iya terimakasih. Kamu sudah mau ke klinik?"


"Iya,mas. Aku jalan sekarang,ya?"


"Hmm,hati-hati di jalan."


Setelah dari ruangan Rey,Seno langsung turun. Sampai di parkiran,dia langsung naik ke mobil dan segera melajukan mobilnya ke klinik.


Satu jam kemudian,Seno sudah sampai di klinik.


Tok tok.


Seno coba membuka pintu kamar ranap istrinya tapi terkunci. Dinda kemana ya. Batin Seno.


Seno coba menghubungi handphone Dinda tapi tidak di jawab. Apa dia sedang di NICU ya? Ah coba kesana saja.


Seno lalu pergi ke ruang NICU,ternyata benar,istrinya itu sedang memberikan ASI untuk putri mereka.


"Tadi mas ke kamar,pintu terkunci,jadi mas langsung kesini." Terang Seno.


"Aku dari mas pergi kerja sudah ke sini. Rasanya kangen terus sama Syafira,mas."


"Hmm,iya yank. Kamu mau makan apa,biar mas belikan saja."


"Aku ingin ikan asam manis di warung P, mas. Yang di bawakan oleh mami beberapa hari yang lalu."


"Ooh,ya sudah mas belikan sekarang ya."


"Iya,mas."


Seno lalu keluar dari ruang NICU lalu pergi ke warung P ,seperti permintaan istrinya.


***


Dua minggu berlalu sejak meninggalnya oma,Aaron sudah mulai kembali kuliah. Menjelang siang Aaron yang baru saja pulang dari kuliah segera melajukan motornya ke arah Rumah Sakit medika untuk menjenguk abangnya.

__ADS_1


Aaron masuk ke ruang ICU. Ada pakdenya yang sedang menjaga Romi.


"Assalammualaikum." Sapa Aaron setengah berbisik.


"Wa alaikumsalam." Sahut pakdenya.


"Pakde kalau mau istirahat silahkan,biar Aaron yang jagain abang!"


"Baiklah,pakde keluar dulu ya mau sholat. Nanti pakde menunggu di depan." Pamitnya.


Aaron lalu duduk di kursi yang tadi di pakai oleh pakdenya. "Bang,bangun donk. Lama banget tidurnya? Oma sudah pergi,bang. Aku di rumah sama keluarga om Adit,sekarang. Rame di rumah tapi tetap terasa sepi."


Aaron memegang tangan abangnya yang dingin dan pucat. "Bang,bangun donk! Abang itu sudah tua,abang kapan nikahnya? Nanti aku duluin loh! Aku sudah ada calonnya." Aaron tersenyum-senyum sendiri membayangkan Cinta. "Abang pasti tau calonku siapa. Jangan abang rebut dia,ya bang! Awas saja kalau abang berani."


"Abang jelek sekarang,kurus lagi. Memangnya ada yang mau sama abang ya? Pacar abang saja tidak tau di mana sekarang,kan? Abang sih tidak mau cepat-cepat ikat dia,jadinya dia kabur kan? Makanya aku tidak mau jadi seperti abang!"


Tiba-tiba ada gerakan kecil yang Aaron rasakan di genggaman tangannya,membuat dia kaget lalu melepaskan pegangannya. Dan benar saja,jari jemari abangnya mulai ada gerakan kecil. Aaron pun memandang ke wajah abangnya. Kedua mata itu juga mulai bergerak-gerak,pun bibirnya seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Bang? A-abang sudah sadar?" Antara kaget dan senang membuat Aaron gugup.


Aaron buru-buru menemui suster jaga. "Suster,coba lihat abang saya. Sepertinya dia mulai sadar! Ayo sus! Cepet!" Pinta Aaron yang sudah tidak sabar.


"Sabar ya mas,saya periksa dulu. Silahkan tunggu di luar!"


Suster lalu memeriksa kondisi Romi,kemudian memanggil suster lain dan juga dokter.


Setengah jam kemudian. "Mas,saudaranya sudah sadar. Mas sudah bisa menemuinya tapi jangan terlalu banyak di ajak bicara,ya!" Titah suster pada Aaron.


"Alhamdulillah. Terimakasih,sus." Sahut Aaron lalu buru-buru ke ruangan abangnya.


Aaron duduk di samping kiri Romi. "Bang?"


"A-aaron?" Sahut Romi terbata-bata. Lidahnya masih terasa kaku.


"A-abang kenapa?" Tanyanya lirih.


"Abang koma lebih dua minggu,bang."


"A-apa?"


"Abang lupa kejadiannya? Abang kan kecelakaan saat di kejar polisi." Jawab Aaron seperti berbisik.


Romi diam beberapa saat seperti sedang berpikir. "Hmm,terimakasih." Ucap Romi kemudian.


"Terimakasih? Maksud abang?"


"Setelah inรฌ abang akan di penjara."


Hhhh,Aaron menghela nafasnya berat. "Bang,nanti Aaron minta keringanan sama polisi."


Romi menggelengkan kepalanya. "Biar saja abang membusuk di penjara." Ucap Romi seraya memegangi kepalanya. Dia terlihat seperti menahan sakit.


"Bang? Abang kenapa?" Tanya Aaron panik.


Romi hanya diam saja. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Bang? Kepalanya sakit ya? Aku panggil suster,ya?"


Romi menggelengkan kepalanya yang makin terasa sakit.


Aaron yang mulai panik buru-buru memanggil suster.


"Suster! Suster! Tolong abang saya,sus! Abang saya,sus! Teriak Aaron.

__ADS_1


"Sabar,mas. Jangan teriak-teriak ya. Kasihan pasien." Ucap suster yang segera menangani Romi.


Lima menit kemudian. "Pasien sudah saya kasih obat,biarkan istirahat dulu. Ingat,jangan di ajak bicara yang berat-berat ya mas!"


Aaron mengangguk lalu kembali duduk di samping Romi yang tengah tertidur.


"Maafin aku,bang. Semua kesalahanku. Meninggalnya oma,kecelakaan abang,memang salah aku. Aku yang tidak bisa menjaga rahasia abang." Gumam Aaron.


"Kamu bicara apa tadi,Aaron? Apa maksudnya?" Tiba-tiba om Adit sudah berdiri di dekat Aaron.


Aaron yang kaget langsung berdiri. "Hmm,om? Sejak kapan datang?" Tanya Aaron gugup.


"Sejak 'kamu yang tidak bisa menjaga rahasia Romi' . Apa maksudnya?"


"Hmm,om salah dengar!" Elak Aaron lalu kembali duduk.


"Hmm,ada rahasia apa antara kamu dan Romi?"


"Tidak ada apa-apa,om?"


"Aaron?"


"Om. Andaipun ada,itu hanya lah rahasia antara adik dan abangnya,om."


"Hhmm,kamu sudah pandai ya berkata-kata."


"Om. Setiap orang pasti mempunyai rahasia dalam hidupnya. Om juga pasti punya,kan? Papi,istri barunya. Bahkan istri om juga pasti punya rahasia. Kita tidak berhak ikut campur."


Aaron memang makin pintar sekarang. Dia tidak bisa lagi di anggap anak kecil. Untung sekarang Romi sedang koma. Batin Adit.


"Om bawakan makan siang untuk kamu dan juga pakde Arman. Kalau kamu mau makan,biar om yang jaga.


"Aku sudah makan di kampus,om. " Jawab Aaron berbohong. Dia tetap duduk di samping abangnya. Dia tidak ingin orang lain yang lebih dulu tau saat abangnya bangun.


"Hmm. . ."


.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


.


.


.


.


.


.


1212

__ADS_1


__ADS_2