Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 44 ( S2 )


__ADS_3

Sarapan sudah di antarkan ke kamar Dinda. Seno mengambil piring Dinda berniat menyuapi istrinya itu.


"Mas yang suapin ya?" Ucap Seno sambil menyendokkan makanan ke mulut Dinda tapi Dinda menutup mulutnya rapat-rapat.


"Din,biar cepat sembuh kamu harus makan."


Makan tapi tidak perlu di suapin sama kamu. Batin Dinda. Eehh,kok bau lauknya bikin mual sih. Dinda menutup juga hidungnya.


"Kamu tidak suka lauk yang ini,ya? Mas ambilin yang lain?" Tanya Seno.


Tiba-tiba Dinda berdiri lalu setengah berlari masuk ke dalam kamar mandi.


"Hoek,hoek hoek!" Dinda terus-terusan muntah


Seno berlari menyusulnya.


"Kamu kenapa?" Tanya Seno khawatir sambil memijat leher belakang Dinda.


Dinda kembali muntah-muntah. Setelah puas dan sedikit lega,Dinda membasuh mulutnya lalu kembali ke kamar,berbaring di tempat tidur.


"Perutnya tidak enak ya? Mas ambilin lauk yang lain,hmm?"


Dinda diam saja. Seno lalu mengusap dahi Dinda yang berkeringat tapi badannya masih panas.


"Kamu kepanasan ya? Mas nyalakan AC,hmm?"


Dinda lalu tidur miring sambil memeluk guling. Kenapa dia tidak berangkat kerja sih. Gumam Dinda.


Tok tok. Ceklek. Mami Dinda masuk.


"Sayang,gimana kamu masih demam? Makannya sudah belum?"


"Tadi Seno mau suapin,mi. Tapi Dinda langsung muntah-muntah." Terang Seno.


"Apa? Dinda muntah-muntah?" Tanya mami Dinda.


"Iya,mi."


"Sayang,kamu terakhir datang bulan kapan nak?" Tanya mami antusias.


Dinda diam seperti sedang berpikir. "Hmm,terakhir tiga hari sebelum Dinda nikah,mi." Jawab Dinda lirih.


"Apa? Jadi sejak nikah,kamu belum datang bulan lagi?" Tanya mami Dinda bersemangat.


Dinda diam. Tiba-tiba maminya memeluk Dinda dengan erat. "Sayang,kamu hamil! Hmm,terimakasih ya mami seneng banget!" Sambil menciumi seluruh wajah putrinya.


"Mami iiihh,Dinda pusing." Tolak Dinda.


"Dinda,Dinda hamil mi?" Tanya Seno tak percaya.


Mami menoleh. "Iya Seno,istri kamu hamil. Selamat ya buat kalian berdua."


Aku hamil? Tidak mungkin! Ini tidak mungkin. Aku tidak mau hamil. Batin Dinda.


"Sayang,kok kamu malah diam? Kamu siap-siap ya. Kita USG buat lihat calon cucu mami." Mami Dinda berdiri lalu mencium pucuk kepala Dinda. "Seno,kamu tolong bantu Dinda siap-siap ya. Kita ke klinik." Titah mami Dinda dengan senyum semringah. "Oh iya kalian habiskan dulu sarapannya!" Mami segera keluar dari kamar Dinda.


Seno duduk di sebelah Dinda lalu memeluknya. "Terimakasih ya,kamu mau jadi ibu untuk anak-anak mas. Mas sangat bahagia! Mas akan turuti apapun yang kamu mau!" Ucap Seno dengan rasa bahagia.


Seno melepaskan pelukannya lalu menatap Dinda. Ternyata istrinya itu sedang menangis. Airmata lolos begitu saja di sudut matanya.


"Sayang,jangan nangis terus mas mohon." Pinta Seno dengan wajah memohon lalu mengusap airmata Dinda.

__ADS_1


Sayang? Kamu benar-benar pandai bersandiwara,mas. Batin Dinda.


"Oh iya,kamu mau sarapan apa kalau tidak mau yang ini,hmm?"


"Hhh,mas ambilkan roti bakar saja ya." Ucap Seno lalu segera keluar dari kamar menuju dapur. Lima menit dia kembali dengan membawa tiga potong roti bakar.


"Kamu makan roti saja ya." Ucap Seno seraya memberikan piring berisi roti pada Dinda. Dia tau Dinda tidak akan mau dia suapi.


Sena lalu segera menelpon Rey untuk memberitahukan kalau hari ini dia tidak bisa kerja karena Dinda sedang sakit. Setelah itu Seno segera memakan sarapannya. Setelah selesai dia kembali duduk di samping Dinda. Istrinya itu baru makan satu potong roti saja.


"Din,di habiskan ya. Kan calon bayi kita juga butuh makan." Ucap Seno lembut.


Dinda lalu memakan lagi satu potong roti lalu minum.


Seno berjalan ke lemari pakaian, memilihkan pakaian ganti untuk Dinda.


"Kamu pakai ini ya." Titah Seno. "Apa mau mas bantu,hmm?"


Dinda diam saja lalu mengambil pakaian dari tangan Seno. Dia ingin turun dari tempat tidur tapi Seno buru-buru mencegahnya.


"Kamu ganti di sini saja. Mas tidak akan lihat kok kalau kamu keberatan." Ucap Seno lalu duduk membelakangi Dinda.


Beberapa menit Seno kembali menghadap ke arah Dinda. Dinda sudah berganti pakaian.


"Mau bawa apa saja ke klinik mami,hmm?"


Dinda lalu mengambil tas kecilnya dan juga handphonenya yang terletak di atas nakas kemudian memasukkan handphonenya ke dalam tas. Dia lalu berdiri.


"Mas gendong ya!" Ucap Seno yang langsung menggendong Dinda tanpa menunggu lagi jawaban dari istrinya itu.


"Turunin!" Pinta Dinda tegas.


"Mas mohon,nanti saja kalau mau marah. Mami sudah nungguin kita." Pinta Seno dengan wajah memohon.


Di bawah sudah menunggu papi dan maminya dengan senyum bahagia.


"Putri kecil papi sudah mau jadi seorang ibu. Selamat ya nak." Ucap papi Dinda sambil mengusap lembut rambut putrinya.


"Terimakasih,pi." Jawab Dinda pelan.


Mereka lalu naik mobil bersama. Dinda dan Seno duduk di kursi belakang. Seno menggenggam erat tangan Dinda dan di biarkan saja oleh Dinda. Dia tidak ingin orangtuanya curiga.


Sampai di klinik masih sepi. Hanya ada beberapa pasien yang sedang mengantri. Mereka langsung masuk ke ruang kerja dokter Layli.


"Ayo sayang,kamu berbaring ya. Kita lihat calon cucu mami." Titah mami Dinda bersemangat.


Dinda lalu berbaring. Dia buka sedikit pakaiannya untuk di USG. Seno berdiri di sampingnya. Untung saja mami yang periksa,bukan dokter laki. Batin Seno.


"Alhamdulillah,tuh kalian lihat calon cucu mami. Gemes banget!" Ucap mami dengan senyum semringah. Dia terlihat sangat bahagia.


Itu bayiku. Batin Dinda.


"Itu calon bayi saya,mi?" Tanya Seno seakan tidak percaya dengan penglihatannya. Juga karena ini yang pertama kali melihat ibu hamil di USG.


"Calon cucu papi." Ucap papi tak kalah bahagia.


"Dia sehat,kondisinya sangat baik. Kamu harus banyak makan yang bergizi ya nak!"


"Iya mi."


"Mami bawakan vitamin buat kamu ya." Dokter Layli lalu menelpon seseorang.

__ADS_1


"Bagaimana,kamu masih merasa ingin muntah?"


"Hmm,sedikit mual sama pusing,mi." Jawab Dinda.


"Kamu tetap harus makan yang banyak ya. Minta sama suami kamu,kalau ada yang ingin kamu makan." Titah mami kemudian menoleh ke arah Seno. "Seno,kalau Dinda ingin makan sesuatu,tolong kamu penuhi ya. Biasa ibu hamil makannya rewel."


"Bukan hanya makannya yang rewel,mereka biasanya juga makin rewel dan suka berubah-ubah suasana hatinya. Kamu harus bisa memaklumi ya!" Ucap papi Dinda.


"Hmm,iya pi." Jawab Seno.


Baguslah,tunggu saja rewelnya aku. Batin Dinda.


Tok tok. Ada yang mengetuk pintu.


"Masuk!" Titah dokter Layli.


Ceklek. Seorang suster masuk sambil membawa sesuatu di tangannya.


"Dokter,ini pesanan dokter tadi." Ucap susternya sambil memberikan bungkusan ke dokter Layli.


"Terimakasih." Ucap dokter Layli.


"Din,ini obat dan vitamin buat kamu. Jangan tidak kamu minum loh,paksain walaupun mual."


"Hmm,iya mi. Sudah belum,mi? Dinda mau pulang."


"Iya sudah. Kamu pulang sama papi dan suami kamu ya. Mami langsung kerja ini. Satu jam lagi akan ada yang melahirkan caecar." Terang mami Dinda.


"Iya mi."


Mereka lalu keluar dari ruang dokter Layli.


"Mas gendong lagi ya." Ucap Seno yang langsung menggendong Dinda tanpa menunggu jawaban dari Dinda. Dinda menutupi wajahnya dengan tas kecilnya. Seno hanya tersenyum tipis melihat tingkah istrinya. Semoga dengan kehamilan Dinda,rumah tanggaku akan makin kuat. Doa Seno dalam hati.


.


.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca,moga suka. Maaf kalau masih ada typo. Terimakasih. 😍😍


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


1008/1945


__ADS_2