Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 43 ( S2 )


__ADS_3

Dinda tidak merespon apapun yang Seno lakukan padanya. Hmm,dia begitu marah. Ya sudah,tidur saja. Batin Seno. "Kita langsung tidur ya?"


Dinda tetap diam saja. Seno lalu tidur sambil memeluk Dinda dari belakang.


Hembusan nafas Seno mulai teratur,sepertinya dia sudah mulai nyenyak. Dinda perlahan menyingkirkan tangan Seno dari pinggangnya,lalu dia turun dari tempat tidur.


Dia berjalan ke arah sofa,lalu tidur di sana. "Duuuhh,kepalaku kok sakit banget ya. Ini ACnya juga dingin banget. Gumamnya lalu berdiri mencari remote AC. "Kecilin saja deh." Dengan berbalut selimut tebal,Dinda kembali tidur. Setelah setengah jam,Dinda baru tertidur lelap.


Lewat tengah malam,Seno terbangun. Tangannya mencari-cari sosok di sebelahnya. Seno membuka matanya. Dia kaget di sampingnya tidak ada siapa-siapa. "Dinda?" Gumamnya. Seno lalu duduk,matanya mencari keberadaan Dinda. Saat melihat ke arah Sofa,Dia melihat seperti ada seseorang yang sedang tertidur di sana.


"Dinda?"


Seno turun dari tempat tidur lalu berjalan ke arah sofa. Begitu marahnya dia sama aku sampai tidak mau tidur denganku malah memilih tidur di sofa. Gumam Seno. Maafin mas,Din.


Seno menggendong Dinda lalu membaringkannya ke tempat tidur. Dia mengusap wajah istrinya yang terlihat sedikit pucat dengan mata yang masih bengkak. "Loh,kok panas?" Ucapnya panik.


Seno lalu menyentuh dahi,leher dan tangan Dinda. Panas. Dia sakit. Bagaimana ini? Apa di kamar ini ada obat. Batin Seno.


"Mas. . ." Tiba-tiba Dinda mengigau. Wajahnya terlihat sedih.


Seno mencari obat di meja rias,tapi tidak ada. Lalu membuka semua laci dan juga lemari,tidak ada juga obat.


Hhh,cari kemana lagi ya. Gumamnya.


"Apa aku banguni mami ya? Sudah jam satu lebih,tidak enak. Tapi Dinda panas banget."


Akhirnya Seno ke kamar mertuanya. Tok tok.


Beberapa detik kemudian.


"Siapa?" Sahutan dari dalam kamar.


"Seno,mi."


Ceklek.


"Seno? Ada apa?" Tanya mami heran.


"Hmm,Dinda. Dinda badannya panas banget." Jawab Seno.


"Apa? Ayo mami lihat!" Mami buru-buru ke kamar Dinda di ikuti Seno dari belakang.


Maminya Dinda lalu menyentuh dahi dan leher Dinda. "Hmm,panas banget. Sejak kapan?"


"Seno baru saja tau,mi. Tadi sebelum tidur belum panas." Jawab Seno.


"Hhmm,mami ambilkan obat dulu." Mami keluar dari kamar.


Lima menit,mami datang lagi dengan membawa obat dan roti dan juga termomerer. Mami segera mengecek suhu tubuh Dinda. 39Β°C. "Tinggi." Gumamnya.


"Sayang?" Dia coba membangunkan Dinda.


Setelah beberapa kali,Dinda terbangun. Dia kaget melihat maminya ada di dalam kamarnya. "Mi? Kok disini?" Tanyanya. Dan lebih kaget ternyata dia sudah berada di tempat tidur. Tadi kan aku tidur di sofa. Batinnya. Dia lalu melihat ke arah Seno yang sedang menatap lekat-lekat ke arahnya.


"Badan kamu panas,kamu demam,Din. Ayo kamu makan dikit rotinya lalu minum obat." Titah mami.

__ADS_1


"Tapi,mi?"


"Sayang?"


"Hmm,iya mi." Dinda menurut semua perintah maminya. Setelah makan sedikit roti,Dinda lalu minum obat.


"Ya sudah mami tinggal dulu ya! Besok kamu tidak usah kerja." Pamit mami lalu keluar dari kamar Dinda.


Setelah maminya keluar dari kamar,Dinda bangun hendak turun dari tempat tidur.


"Kamu mau kemana? Kamar mandi? Mas anter ya."


Dinda diam saja. Dia tetap berjalan menuju sofa sambil memegang kepalanya yang terasa sakit tapi dengan cepat di gendong oleh Seno lalu di baringkan lagi di tempat tidur.


"Kalau kamu tidak mau tidur dekat mas,biar mas yang tidur di sofa." Ucap Seno sambil menatap lekat-lekat istrinya itu.


Dinda tidak mau membalas tatapan Seno,dia malah tidur menyamping.


Hhh,Seno mengusap kasar wajahnya. Bagaimana caranya agar Dinda tidak sedih terus. Gumamnya lalu berjalan ke arah sofa,tidur di sana.


***


Seno sudah selesai sholat subuh,Dinda masih tidur dengan pulas. Seno mendekati Dinda lalu mengusap dahinya. Masih panas. Batinnya.


Mami sudah bangun belum ya. "Ah lihat dulu di bawah mungkin sudah bangun." Gumam Seno.


Seno lalu turun ke bawah,terdengar suara dokter Layli di dapur.


"Mi. . ." Panggil Seno.


"Dinda masih panas,mi." Jawab Seno.


"Apa dia sudah bangun?"


"Belum,mi."


"Hmm,bangunkan saja. Belum sholat subuh kan dia?"


Mereka segera menuju kamar Dinda. Benar saja,Dinda masih tertidur pulas. Maminya Dinda mengusap dahi putrinya. "Hmm,masih panas."


Tiba-tiba Dinda terbangun. Dia memegang mulutnya seperti menahan sesuatu.


"Sayang,kamu sholat dulu ya. Nanti mami bawakan sarapan biar kamu bisa minum obat!" Titah maminya Dinda.


"Hhm,iya mi." Dinda bangun dan berjalan ke kamar mandi di bantu oleh Seno. Dia tidak bisa menolak karena ada maminya. Mami jangan sampai tau masalahku. Biar aku simpan sendiri. Batin Dinda.


Dia sama sekali tidak cerita apa-apa sama mami. Dia tidak semanja yang aku pikir. Batin Seno sambil menatap Dinda dengan penuh penyesalan.


Dengan menahan pusing di kepalanya,Dinda pun sholat. Setelahnya kembali berbaring di tempat tidur lalu membungkus tubuhnya dengan selimut tebal.


Sepertinya dia kedinginan. "ACnya mas matiin,ya?" Tanya Seno. Dinda hanya diam saja. Melihat Dinda yang terlihat menggigil kedinginan,Seno akhirnya mematikan AC.


Dokter Layli datang membawakan dua potong roti bakar,air dan obat untuk Dinda. "Kamu sarapan roti dulu ya,habis itu minum obat!"


Dinda mengangguk lalu mengambil roti di piring dan memakannya. Setelah habis satu potong roti,dia lalu minum obat.

__ADS_1


"Hmm,ya sudah. Mami tinggal dulu ya. Seno nanti jam tujuh mami bawakan sarapan kalian ke kamar ya. Kamu makan di kamar saja,temani Dinda."


"Hmm,iya mi."Jawab Seno.


Seno lalu duduk di sisi tempat tidur di samping Dinda. Dia sampai sakit begini karena ulahku. Batin Seno.


"Din,tolong maafin mas." Ucap Seno sambil mengusap wajah pucat Dinda. Tapi Dinda masih bersikap sama. Diam dan dingin.


"Mas tau,kamu sangat terluka. Tapi tolong kasih mas kesempatan. Kamu tau,hubungan mas sama,hmm sama dia. Itu tidak sebentar,Din. Tujuh tahun. Mas tidak mungkin secepat itu melupakan semuanya. Tapi kamu harus tau,mas bahagia sama kamu. Mas sayang kamu,Din!"


Huuhh,dasar pembohong. Batin Dinda.


Seno lalu memeluk Dinda. Dinda tidak menolak dan juga tidak membalas pelukannya. "Walau kamu bukan yang pertama di hati mas,tapi mas ingin kamu jadi yang terakhir! Mas ingin kamu yang akan menjadi ibu untuk anak-anak mas. Yang akan menemani mas sampai tua nanti! Kamu mau kan?"


Huuhh,dasar tukang merayu. Sudah tidak bisa lagi. Batin Dinda.


"Oh iya di sini sudah tumbuh Seno junior belum ya?" Seno mengusap perut rata Dinda.


Aku tidak mau hamil sebelum kamu mencintaiku,mas. Batin Dinda.


"Kalau kamu nanti hamil,mas ingin punya anak perempuan yang cantiknya seperti kamu!"


Aku ingin anak laki-laki,biar bisa belain aku kalau kamu sakiti. Aku akan suruh dia pukulin kamu. Batin Dinda kesal.


.


.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca bagi yang masih penasaran. maaf jika ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk othor. Terimakasih. 😘😘


.


.


.


.


.


.


.


1008/1221

__ADS_1


__ADS_2