Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 104 ( S2 )


__ADS_3

Beberapa saat,mereka sama-sama diam. Rey menatap Romi lekat-lekat.


"Hhmm,saya hanya ingin tau apa alasan dan tujuan kamu?"


"Kalau bapak mau memenjarakan saya silahkan. . ." Jawab Romi lirih tanpa mau membalas tatapan mata Rey.


"Bang?" Aaron terlihat khawatir.


"Jadi kamu mau di penjara?" Tanya Rey.


"Saya memang salah jadi saya memang harus di hukum."


"Kalau kamu merasa bersalah kenapa saat itu kamu melarikan diri?"


"Sekarang dan saat itu adalah waktu yang berbeda."


"Jadi alasan kamu apa?"


"Bang jujur saja,mungkin bisa meringankan hukuman abang nanti." Pinta Aaron dengan wajah memohon.


"Salah putri saya apa? Hhmm,kamu mantannya Dinda kan? Dinda istri dari adik ipar saya?"


Aaron kaget langsung menoleh. "Apa? Jadi mbak Dinda sudah menikah? Siapa adik ipar pak Rey?"


"Seno. Dinda menikah dengan adik ipar saya yang bernama Seno." Jawab Rey dengan penekanan.


"Apa,pak? Mbak Dinda menikah dengan pak Seno?" Aaron makin kaget. Kok aku tidak tau ya. Batinnya.


"Iya. Dan beberapa waktu lalu ada seseorang yang dengan sengaja menabrak mobil Seno dari belakang hingga mobilnya menabrak pohon. Hingga membuat Dinda harus melahirkan bayinya lebih awal. Yang menabrak sekarang sudah tertangkap. Tapi polisi tau kalau ada orang lain yang menjadi dalang semua itu." Terang Rey.


"Jadi tabrakan yang abang bicarakan sama si Budi malam itu tabrakan mobil mbak Dinda dan suaminya,bang?" Aaron lagi-lagi di buat kaget.


Romi langsung menoleh ke arah Aaron begitupun Rey. "Budi siapa?" Tanya Rey.


Aaron menutupi mulutnya dengan tangan. Apa yang sebenarnya bang Romi rencanakan? Kenapa sampai melakukan semua itu? Batin Aaron.


"Aaron? Apa maksud perkataan kamu tadi?" Desak Rey.


Bagus Aaron. Katakan semua. Agar abangmu ini membusuk di penjara. Batin Romi.


"Hmm. . ." Aaron terlihat bingung.


"Sebaiknya kalian jujur,mungkin saya akan pertimbangkan semuanya. Saya bukanlah orang yang jahat dan pendendam. Tapi jika di persulit,saya akan mengambil tindakan tegas!" Terang Rey dengan penekanan.


Aaron melangkah mendekati abangnya. "Bang,aku mohon abang bicaralah."


"Iya! Saya yang suruh orang tabrak mobil Dinda! Saya juga yang suruh orang menyembunyikan gadis itu!" Ucap Romi tanpa mau melihat ke arah Aaron mau pun Rey.


"Bang,kenapa bang?" Aaron seperti ingin menangis. Membayangkan hukuman apa yang akan di terima abangnya dengan dua kejahatan sekaligus.


"Kamu dendam sama Dinda dan suaminya?" Tanya Rey.


Romi diam saja.


"Bang Romi sangat mencintai mbak Dinda setauku." Terang Aaron.


Dahi Rey berkerut. "Kalau mencintai Dinda,kenapa menyakitinya?"


"Tadi saya sudah mengatakan semuanya. Bawa saja saya ke kantor polisi." Ucap Romi lirih seperti sedang berputus asa.


"Jadi kamu benar-benar mau di penjara?"


"Tidak pak Rey. Tolong jangan penjarakan abang saya!" Pinta Aaron dengan wajah memohon.


"Jangan pernah mengemis untukku,Aaron!" Ucap Romi dengan penekanan.


"Tidak! Pak Rey,bang Romi sudah tidak bisa berjalan. Itu sudah lebih dari cukup untuk jadi hukuman bang Romi. . ."

__ADS_1


"Aaron!" Teriak Romi.


"Di mana Ratna? Apa dia juga bersekongkol dengan kamu? Atau kamu sembunyikan dia juga?" Tanya Rey.


"Bang? Apa lagi ini?" Tanya Aaron dengan wajah sedih.


"Saya tidak tau!"


"Sejak putri saya menghilang,Ratna juga menghilang. Pasti dia ada hubungannya dengan semua ini."


"Sudah saya katakan kalau saya tidak tau di mana dia!" Tegas Romi.


"Tapi dia juga terlibat kan?" Tanya Rey dengan nada tinggi.


"Jangan pernah mempercayakan orang lain untuk menjaga keluarga anda,pak!" Ucap Romi.


"Jadi maksud kamu,Ratna juga terlibat?" Rey terlihat emosi. Rahangnya mengeras. Dia tidak menyangka Ratna bisa melakukan itu padahal Rey sudah menuruti berapa pun bayaran yang Ratna minta untuk menjaga putrinya.


Rey menatap ke arah Aaron. "Aaron,jaga abangmu! Jangan sampai di buru polisi lagi!"


Rey segera berlalu,keluar dari kamar ranap Romi. Dia pergi ke parkiran,lalu segera melajukan mobilnya ke kantor kenalannya yang sudah merekomendasikan Ratna untuk mengawal putrinya.


"Benar-benar brengsek di Ratna. Tidak bisa di percaya." Ucap Rey dengan gusar. Aku akan cari kamu,Ratna. Sampai di manapun.


Satu jam kemudian Rey sudah sampai di kantor kenalannya.


"Rey?"


"Hhhh,Di. Saya kesini mau tanya di mana rumah si Ratna?"


"Kan waktu itu sudah saya kasih tau kontrakannya,Rey?"


"Kosong. Rumah orang tuanya?"


"Hhh,saya ada simpan kartu pengenalnya. Mungkin di situ alamat rumah orang tuanya yang di desa." Ucap Didi seraya menyerahkan foto kopi kartu tanda pengenal Ratna.


Rey langsung menerima lalu membacanya. "Ratna Sari,desa X ." Gumam Rey. "Terimakasih!"


Rey mengambil handphonenya hendak menghubungi Seno.


"Hallo,Seno."


"Mas nanti tidak kembali lagi ke kantor,mas ada urusan. Kalau ada yang penting besok pagi saja."


"Iya."


Rey memutuskan panggilan telponnya.


Karena jalanan yang cukup lengang,Rey sampai di desa orang tua Ratna tidak sampai dua jam. Setelah bertanya pada beberapa warga,Rey akhirnya bisa menemukan di mana rumah orang tua Ratna.


Rey memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari rumah orang tuanya Ratna karena rumahnya yang terletak sedikit masuk gang yang hanya cukup di lalui kendaraan roda dua. Rey berjalan melewati beberapa rumah. Rumah orang tua Ratna terlihat sepi.


Tok tok tok. Rey mengetuk pintu. Setelah beberapa menit,ada yang membuka pintu dari dalam.


Ceklek. Pintu terbuka. Seorang bapak-bapak yang berusia kurang lebih tujuh puluh tahun berdiri di depan pintu. Dia menatap Rey dengan heran.


"Cari siapa,nak?" Tanyanya sambil memperhatikan Rey dari atas ke bawah.


"Hmm,maaf saya mau tanya pak. Apa ini bener rumahnya Ratna?"


"Ratna?"


"Iya. Ratna Sari."


"Ohh,Sari? Sari cucu saya?"


"I-iya pak." Ucap Rey sambil senyum-senyum.

__ADS_1


"Ada perlu apa nyari Sari?"


"Ada yang mau saya tanyakan,pak."


"Ooohh,tapi anak ini siapanya Sari?"


"Sari dulu pernah kerja sama saya,pak."


Si bapak manggut-manggut. "Ayo masuk dulu. Rumah bapak jelek,maaf ya." Ucapnya merendah.


"Tidak apa-apa kok,pak." Sahut Rey.


"Ayo silahkan duduk. Nanti saya suruh cucu saya yang lain untuk manggil Sari."


"Memangnya Sari kemana,pak?"


"Sari ada di kebun tetangga. Bantu-bantu panen bawang. Sebentar ya saya panggil cucu saya dulu." Pamitnya.


Panen bawang? Kenapa Ratna lebih memilih kerja di kebun orang daripada kerja di kota. Batin Rey.


Tak lama kakeknya Ratna datang bersama cucu laki-lakinya yang berusia kurang lebih sepuluh tahun. "Nah,ini adiknya Sari yang paling kecil."


"Oh iya pak." Sahut Rey.


"Surya,kamu panggil mbak kamu Sari ya. Bilang ada orang dari kota yang nyariin."


"Hmm,pak. Boleh saya ikut nyari Sari sama cucu bapak?" Tanya Rey.


"Ooh jangan,kebunnya jauh."


"Hehee,tidak masalah pak. Saya bawa mobil." Ucap Rey.


"Ooh ya sudah kalau begitu. Ayo Surya,antar mas ini ke tempat mbak Sari kerja." Titah kakeknya Ratna.


"Iya,kek. Mari mas ikut saya." Ajaknya.


Rey bersama Surya pergi mencari Ratna yang sedang membantu panen bawang di kebun orang dengan mengendarai mobilnya.


Sepuluh menit kemudian mereka sampai. Rey dapat melihat Ratna yang sedang memasukkan bawang ke dalam karung.


Surya segera turun dari mobil.


"Mbak Sari?" Panggil Surya sambil berlarian.


Ratna menoleh ke arah Surya. Dia langsung kaget saat melihat ke arah Surya karena Rey sedang berjalan di belakang Surya. Bawang yang ada di tangannya sampai terjatuh.


.


.


.


.


.


.NEXT


Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. 😍😍


.


.


.


.

__ADS_1


.


2222


__ADS_2