Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 52


__ADS_3

"Kenapa Rat?" Siti kembali bertanya saat Ratna tetap diam membisu tapi menatap Siti dengan pandangan yang sulit Siti pahami.


"Hmm. . ." Ucapan Ratna menggantung saat seseorang memanggil namanya.


"Ratna!" Bu Titin muncul di balik pintu. " Ayo keluar,acara mau di mulai. Calon kamu sudah datang."


"I Iya ma!"Jawab Ratna. Gadis itu segera berdiri. "Yuk Siti kita keluar!" Ajak Ratna. Siti hanya menurut saja walau dalam hatinya masih penasaran.


Acara lamaran Ratna pun di mulai. Acara sederhana yang hanya mengundang keluarga dan tetangga dekat saja. Sebelum maghrib acara selesai dengan keputusan dua bulan lagi Ratna dan calonnya akan melangsungkan pernikahan.


Semua tamu sedang menyantap hidangan yang tersedia termasuk Siti. Tapi Siti hanya makan sedikit karena dia masih penasaran dengan Ratna yang seperti mengenal suaminya. Dari tempat dia duduk,Siti bisa melihat adiknya Seno sedang menatapnya dari kejauhan di bawah sebuah pohon. Adiknya itu terlalu over protek jika menyangkut dirinya.


Para tamu satu persatu mulai meninggalkan rumah pak Erte. Siti sebenarnya ingin mendekati Ratna untuk mengajaknya berbicara berdua tapi kondisi tidak memungkinkan karena calon suaminya selalu berada di sisi gadis itu.


Akhirnya mau tak mau Siti ikut pulang bersama tamu yang lain karena waktu maghrib tinggal sepuluh menit lagi. Siti lalu menemui Ratna untuk berpamitan.


"Ratna,selamat ya!" Ucap Siti.


"Eehh iya Siti,terima kasih ya sudah mau datang!"


"Iya Rat. Saya pulang dulu. Oh iya kapan kamu kembali ke kota?" Tanya Siti berharap mereka bisa bertemu lagi sebelum Ratna balik ke kota.


"Mungkin besok sore,Siti. Kenapa?"


"Oh besok sore ya? Boleh saya datang ke sini besok?"


"Oh tentu saja boleh! Saya tunggu ya!" Jawab Ratna dengan senyum semringah.


***


Sekembali dari rumah Ratna,Siti terus terngiang ucapan Ratna tentang Rey,suaminya. Sepertinya Ratna mengenal suaminya. Apa tanya langsung saja sama mas tentang Ratna ya? Pikir Siti dalam hati. Ahh iya daripada penasaran dan jadi salah paham.


Tuuuutt. Handphone Siti berdering. Panggilan video dari suaminya.


"Mas." Siti.


"Hai sayang,kamu sudah makan belum?" Rey.


"Masih kenyang mas. Mas sudah makan?" Siti.


"Kenyang makan apa? Mas bentar lagi makan."


"Tadi makan di rumah pak Erte."


"Oohh pas acara lamaran anaknya?"


"Iya mas!"


"Makannya banyak kan?"


"Hmm,lumayan kok mas!"


"Nanti makan lagi ya!"


"Iya mas. Hmm,mas saya mau tanya."


"Mau tanya apa sayang?"


"Apa mas pernah kenal gadis yang tinggal di desa sini?"


"Gadis? Hmm,pernah sih. Kenapa memang?"


"Jadi mas pernah punya kenalan gadis yang tinggal di desa saya?"


"Hmm,dulu iya!"

__ADS_1


"Kok mas tidak pernah cerita? Pacar mas ya?"


"Bukan pacar tapi istri!"


"Apa istri? Mas punya istri dari desa saya?"


"Iya!"


Hhh. . . " Siapa"


"Masa tidak tahu?"


"Mas punya istri selain saya?"


"Hmm,ngomong apa sih?"


"Siapa mas?"


"Siti?"


"Mas! Di tanyain bener-bener kok!"


"Kamu itu ngomong apa sih dari tadi tidak jelas? Memangnya kamu pikir istri mas banyak ya?"


"Hmm,ada orang sini yang kaget tahu mas suami saya."


"Lalu?"


"Ya mungkin siapanya mas!"


Rey menghembuskan nafas dengan kasar. "Makan dulu sana terus sholat biar pikiran kamu bersih! Nanti mas telpon lagi!"


Tuuuuuttt. Telpon terputus.


"Iiihh!" Siti melempar handphonenya ke kasur. "Saya harus bertanya langsung sama Ratna." Gumamnya.


***


"Assalammualaikum." Siti mengucapkan salam di depan pintu rumah Ratna.


"Wa alaikumsalam." Jawab seseorang yang ternyata pak Erte,ayahnya Ratna. "Siti?" Pak Erte kaget demi melihat Siti yang sepagi ini sudah bertamu di rumahnya.


"Pak Erte. Maaf ganggu. Ratnanya ada?"


"Ratna? Ada,ada ayo silahkan masuk!" Pak Erte mempersilahkan Siti untuk masuk dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


"Terimakasih pak!"


Tak berapa lama Ratna muncul dengan membawa nampan berisi minuman. "Siti?"


Siti tersenyum. "Kamu kapan balik lagi ke kota,Rat?"


"Mungkin nanti sore karena besok pagi sudah harus kembali kerja. Ambil ijinnya hanya dua hari saja." Jawab Ratna.


"Oh begitu. Jadi calon kamu sudah pulang semalam ya?"


"Iya Siti,kan ke sini sama keluarganya jadi langsung pulang semalam dan hari ini dia kerja. Kalau saya masih kangen desa jadi baru besok kerja lagi." Terang Ratna.


"Oh iya semalam kamu sepertinya mengenal suami saya. Dimana Rat?" Tanya Siti yang sudah tidak tahan untuk segera bertanya.


"Nama suami kamu siapa? Mungkin hanya mirip saja!"


"Suami saya namanya Rey. Reynan Wibowo!"


Mata Ratna membulat demi mendengar nama lengkap suami Siti. "Dia kerja di mana?"

__ADS_1


"Setahu saya sih di kantor tapi kantornya sendiri. Saya kurang paham!"


"Hmm,dia punya anak perempuan masih kecil? Maaf kalau salah ya Siti!"


"Anak perempuan kecil? Iya punya!"


"Namanya?"


"Cinta. Nama putrinya,Cinta!"


Ratna makin kaget. "Kamu yakin?"


"Yakin sekali! Karena putrinya itu saya bisa menikah dengan Rey!" Siti mulai berpikir yang tidak-tidak.


"Orang yang saya kenal itu namanya pak Reynan Wibowo. Setahu saya dia itu punya seorang putri tapi tanpa menikah..Tapi mungkin salah orang,Siti."


"Pak? Kenapa kamu panggil dia pak?"


"Karena dia itu bos saya!"


"Bos? Jadi dia bos kamu? Hmm bukan. . " Siti tidak meneruskan ucapannya.


"Bukan apa?"


"Hmm,bukan apa-apa kok."


"Mana handphone kamu mungkin kemarin saya salah lihat?"


Siti lalu mengeluarkan handphone dari dalam kantong bajunya. Lalu memperlihatkan galeri,semua foto-foto suaminya termasuk foto putrinya Cinta.


"Siti,ini benar bos saya!" Ucap Ratna.


"Jadi suami saya itu bos kamu? Kamu sudah lama kerja sama suami saya?"


"Iya sejak lulus kuliah. Siti,kamu sangat beruntung punya suami seperti pak Reynan!" Ucap Ratna sambil menyentuh lengan Siti.


"Hmm,kenapa?"


"Saya sering sih lihat pak Reynan berjalan sama wanita di kantor tapi tidak satu pun dari wanita itu yang bisa menjadikannya pacar."


"Maksud kamu,suami saya sering gonta ganti wanita tanpa pacaran,begitu?"


"Eehh bukan begitu Siti! Maksud saya,para wanita itu yang mengejar-ngejar pak Reynan tapi tak satu pun yang berhasil!"


"Hmm,kamu tidak tahu siapa pacarnya dulu?"


"Hmm,tidak tahu! Eeh tiba-tiba dengar kabar kalau beliau mau nikah. Dan hanya orang penting di perusahaan yang di undang. Denger- denger istrinya sangat cantik tapi saya tidak tahu kalau kamu yang jadi istrinya."


"Hmm begitu ya!"


"Kamu hebat Siti,bisa memenangkan hati pak Reynan!" Ratna mengacungkan keempat jempolnya.


Siti tersenyum tipis. Kamu tidak tahu saja Ratna bagaimana dinginnya awal-awal pernikahan kami. Batin Siti.


"Eh iya Siti,kamu kan istrinya pak Reynan,kamu bisa donk bantu saya?"


"Hmm,bantu apa Rat?"


"Hmm,perusahaan pak Rey tidak mengijinkan karyawannya menikah dengan sesama karyawan. Salah satu harus keluar! Saya dan calon saya kerja di sana jadi salah satu dari kami harus resign! Saya dan calon saya sudah betah kerja di sana! Bayarannya lumayan!" Terang Ratna. "Kamu bisa tidak bicara sama suami kamu supaya saya dan calon saya bisa tetap bekerja di sana setelah menikah nanti?" Pinta Ratna.


"Hmm,kalau masalah itu saya tidak janji Rat! Tapi saya akan coba bicara sama mas Rey!"


"Terimakasih ya Siti!" Ratna lalu memeluk Siti dengan senyum mengembang di wajahnya.


Saya salah sangka sama mas Rey. Mas kok kamu dari semalam tidak telpon lagi sih? Batin Siti gelisah.

__ADS_1


NEXT


070521/21.15


__ADS_2