
Kandungan Dinda sudah memasuki bulan ke tujuh,banyak perubahan yang terjadi pada bumil yang satu ini. Makannya makin banyak dan perutnya pun sudah makin besar. Dinda dan Seno sedang nonton tv di kamar setelah makan malam.
Dinda duduk sambil bersandar di bahu kokoh suaminya. "Sayang,kamu tidak ingin cari tempat untuk senam hamil,agar persalinan kamu lancar?"
"Hmm,aku sepertinya mau caecar saja,mas." Jawab Dinda.
"Caecar? Kamu tidak ingin merasakan bagaimana melahirkan normal,hmm? Mbak Siti saja ingin lahiran normal walaupun akhirnya caecar karena ada sesuatu hal."
"Hmm,mas. Aku tuh sudah sering lihat ibu-ibu melahirkan normal. Kontraksinya itu, membanyangkannya saja aku takut,apalagi jalaninya. Aku caecar saja ya mas?" Pintanya dengan wajah memohon.
"Hmm,"
"Mas,aku takut sakit." Ucapnya manja.
"Hhh,ya sudah terserah kamu saja." Sahut Seno.
"Hmm,mas. Mas tidak suka ya aku melahirkan caecar?"
"Mas terserah kamu saja,sayang. Mas tidak mau memaksa."
"Jadi mas sebenarnya ingin aku lahiran normal?"
"Iya sih. Kata orang sembuhnya cepat yank. Luka caecar kan sembuhnya justru lebih lama."
"Hmm,iya mas aku tau. Tapi kalau bayangin kontraksinya itu rasanya,hhh. . ."
"Iya tidak apa-apa yank. Mas dukung apapun keputusan kamu!"
"Terimakasih ya mas. Hmm,mas. Besok kita jadi menginap di rumah mbak Siti?"
"Iya yank,kamu mau kan? Sudah lama kita tidak menginap di sana kan?"
Dinda mengangguk. "Iya mas,aku mau kok."
"Oh iya mas lupa terus mau bilang sama kamu,kalau apartemen kita mau mas sewakan saja sama teman daripada kosong. Kamu setuju kan?"
"Hmm,iya mas. Kosong lama juga tidak bagus."
"Iya sayang. Uang sewanya bisa buat tabungan si kecil."
Dinda mengangguk sambil membetulkan letak duduknya.
"Kenapa,hmm?"
"Pinggangku pegal,mas."Keluhnya.
"Hmm,mas pijat ya?"
Dinda mengangguk.
Seno mengambil remot tv lalu menekan tombol off.
"Kok di matikan tv nya,mas?" Protes Dinda.
"Katanya mau di pijat,hmm?"
"Hmm,masih mau nonton sinetronnya." Dinda cemberut.
"Hmm,ya sudah nyalakan saja lagi tv nya." Seno hendak meraih remot tv tapi tangannya di tahan oleh Dinda. "Kenapa,yank?"
"Sudah tidak usah mas,sepuluh menit lagi habis kok sinetronnya." Terang Dinda.
"Hmm,mas pijat sekarang ya?"
Dinda mengangguk. Seno lalu menggendong Dinda ke tempat tidur.
"Sambil duduk apa tiduran,nih?"
"Duduk saja,mas. Perutku sudah besar tidak bisa sambil tengkurap."
Seno mulai memijat lembut pinggang Dinda.
"Hmm,mas. Tidak terasa pijatannya." Keluh Dinda.
"Mas takut nyakitin baby kita,yank."
"Agak kuat dikit,mas. Kalau gitu bukan di pijat tapi di usap."
"Hmm."
Setengah jam. "Sudah,mas. Sudah berkurang pegalnya. Terimakasih ya." Ucap Dinda.
"Alhamdulillah. Kamu sudah ngantuk,hmm?"
"Sedikit." Dinda lalu membetulkan letak bantalnya agar bisa tidur dengan nyaman.
"Mas kangen nih."
"Hmm. . ."
"Yuk?"
__ADS_1
"Hoaammm. . !"
"Sayang?"
"Hehee. . ."
"Hmm,kamu yaa.! Seno mulai menjahili istrinya.
"Mas. . ."
Setengah jam. "Terimakasih ya sayang." Bisik Seno mesra di telinga Dinda.
Dinda mengangguk seraya membetulkan posisi kepalanya yang berbantalkan lengan suaminya.
"Mas?"
"Hmm?"
"Besok aku tidak udah ikut mas ke kantor,ya?"
"Kenapa tidak ikut? Kan sudah tiga hari kamu tidak ikut mas ke kantor? Dari kantor langsung ke rumah mas Rey."
"Hmm,iya deh."
"Kamu tidak betah di kantor mas,hmm?"
"Bukan tidak betah,tapi setiap aku ikut pasti pekerjaan mas lama selesainya."
"Yah,di gangguin terus sama istri mas sih." Gurau Seno.
"Iiihh,mas yang mulai godain aku!" Protes Dinda.
"Salah kamu kenapa selalu membuat mas tergoda."
"Iiisshh! Lagipula biarin saja daripada mas tergoda sama perempuan lain,lebih baik aku yang membuat mas tergoda.
"Mas memang selalu tergoda sama kamu,yank!" Ucap Seno seraya mengeratkan pelukannya. Membawa Dinda makin masuk ke dadanya.
"Hooaaam.!"
"Tidur yuk!"
"Hmm."
***
Dinda yang sudah membawa pakaian ganti untuk menginap di rumah Rey juga membawa satu ke ruangan suaminya. Dia tidak ingin lagi mendapatkan tatapan aneh dari orang kantor setiap pulang selalu memakai jas suaminya.
"Pakaian kamu ganti,yank?" Tanya Seno heran melihat istrinya memakai pakaian yang berbeda.
"Iya mas,pakaian aku yang tadi sudah berantakan."
"Hmm,sudah siap pakaian ganti ya. Istri cerdas." Puji Seno seraya merengkuh istrinya. "Hmm,harum." Seno menciumi tengkuk istrinya.
"Hmm,mas. Sudah ah." Protes Dinda.
Hhh. Seno menarik nafasnya berat. " Nanti lagi di rumah mas Rey,ya." Bisiknya membuat Dinda merinding.
"Hmm,mas. In sya Allah kalau aku tidak capek."
"Kalau kamu capek,biar mas saja. Kamu cukup diam dan menerima." Ucap Seno sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Iiihh." Wajah Dinda memerah. "Sana selesaikan dulu pekerjaan mas,biar cepat pulang."
"Iya,bidadariku! Cup." Seno mencium pucuk kepala Dinda mesra.
Dinda lalu duduk di sofa sementara Seno kembali dengan pekerjaannya.
Tidak terasa jam sudah menunjuklan pukul empat sore. Seno terlihat sedang membereskan berkas-berkasnya.
"Yuk,yank." Seno memakai lagi jas hitamnya.
Dinda bangkit dari duduknya,mendekati suaminya yang sudah bersiap pulang.
Mereka keluar dari ruangan Seno sambil bergandengan tangan.
"Mas Rey sudah pulang ya mas?"
"Iya tadi siang. Mbak Siti sedang tidak enak badan,si adek rewel terus jadi sering berantem sama kakaknya.
"Hmm."
Mereka sampai di parkiran. Seno membukakan pintu mobil untuk Dinda. Mobil pun melaju meninggalkan kantor Rey dengan kecepatan sedang.
Tidak sampai satu jam,mereka sampai di rumah keluarga Rey.
"Assalammualaikum." Sapa Seno dan Dinda.
"Wa alaikumsalam." Sahut Cinta dan Putri yang kebetulan ada di ruang tamu sedang memperhatikan ikan baru milik Putri.
"Paman Seno,tante Dinda!" Seru Putri. " Menginap di sini kan?"
__ADS_1
"Iya cantik. Paman sama tante menginap di sini."
"Horeee,rumah kakak rame." Soraknya sambil bertepuk tangan. Cinta hanya memperhatikan saja.
"Kita ke kamar dulu ya sayang. Mau mandi,bau kecut nih!" Seloroh Seno.
"Iiihh,iya iya paman bau kecut." Putri memencet hidungnya seraya mengerucutkan bibirnya.
***
Semua keluarga sudah berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama.
"Papa sama mama mana ya kok lama? Adek sudah laper ini,oma!" Keluh Putra yang selalu merasa lapar bahkan berat badannya hampir dua kali lipat dari kakaknya,Putri.
"Ya sudah kita makan duluan saja,kasihan adek sudah kelaparan." Titah oma.
Tiba-tiba Rey terlihat sedang menuruni tangga.
"Papa,mama mana?" Tanya Putri.
"Mama sedang tidak enak badan,kak. Nanti makan di kamar saja."Jawab papanya.
"Hmm,adek sudah laper pa." Celetuk Putra dengan mulut penuh nasi.
"Iya sayang. Makan yang banyak ya!"
"Mbak Siti sakit apa,mas?" Tanya Seno.
"Belum tau. Nanti mau ke dokter dulu." Jawab Rey.
Mereka kemudian melanjutkan makan malamnya.
Selesai makan malam,mereka berkumpul di ruang keluarga. Rey kembali ke kamarnya sambil membawakan makan malam untuk Siti. Cinta bermain bersama adeknya,Putri. Sementara Putra sedang di tenangkan oleh pamannya karena terus merengek minta main sama mamanya yang sedang tidak enak badan.
Tak berapa lama,Rey turun sambil membawa piring kotor bekas makan istrinya.
"Papa,adek mau main sama mama!" Seru Putra yang berlarian mendekati papanya.
"Sayang,main sama papa dulu ya? Mama sedang tidak enak badan." Bujuk Rey.
"Rey,tadi kamu bilang mau bawa mamanya ke dokter?" Tanya oma.
"Hmm,tidak perlu ma. Besok pagi saja ke klinik maminya Dinda." Jawab Rey.
Semua yang mendengar langsung membulatkan matanya.
"Ke klinik maminya Dinda? Maksud kamu Siti hamil?" Tanya oma yang mulai menebak-nebak.
"Iya ma. Tadi sudah coba pakai TP dan hasilnya dua garis." Terang Rey dengan senyum bahagia.
"Alhamdulillah. . .akhirnya dapet cucu lagi." Ucap syukur oma dan opa.
"Alhamdulillah." Ucap Seno dan Dinda.
"Cinta mau punya adek bayi lagi,pa?" Tanya Cinta.
"Iya sayang."
"Hmm,bunda sedang hamil. Mama juga sekarang hamil. Cinta mau punya dua adek bayi."
"Satu lagi donk,adek bayi dari om Seno sama tante Dinda kan tidak lama lagi." Celetuk Seno. Cinta menoleh lalu tersenyum.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca semoga suka. Jangan lupa dukungannya. Maaf kalau ada typo. Terimakasih ππ
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
1818