
"Din,sudah subuh nih." Panggil Seno sambil menggoyang-goyangkan bahu Dinda.
Dinda meregangkan otot-ototnya. Hoooaaammm.
"Dindaaa,lebar banget mulutnya."
"Hmm,masih ngantuk." Jawabnya lirih masih dengan mata terpejam.
"Masa suaminya sudah bangun,istrinya masih enak tidur?"
"Semalem baru tidur jam dua. Masih ngantuk."
"Siapa juga yang suruh kamu tidur jam dua?"
Mata Dinda terbuka lebar. "Siapa yang suruh?"
"Ayo bangun,mandi. Bentar lagi subuh habis."
"Memangnya mas sudah mandi?"
"Kenapa nanya,mau ngajak mandi?"
"Iihh paan orang nanya. Kalau mas belum mandi,mas mandi duluan deh."
"Nungguin kamu."
Dinda duduk. "Astaga. . . semalam sudah berapa kali?"
Seno tersenyum. "Lihat dulu mas sudah mandi belum. Mikirnya malah ke sana. Mau lagi ya?"
Wajah Dinda memerah. "Diih,males."
"Hahaa,males apa males? Sana mandi!" Titah Seno lalu berjalan ke sofa,duduk di sana sambil menyalakan tv.
"Hmm,jadi dia sudah mandi. Baguslah." Gumam Dinda. Dinda bangun dan langsung berlarian ke dalam kamar mandi. "Moga saja dia tidak lihat."
Seno menoleh sekilas sambil tersenyum. Dasar anak mami.
Hampir setengah jam Dinda baru keluar dari dalam kamar mandi.
"Sudah mandinya,kok lama?"
Dinda menoleh. "Hmm,aku berendam dulu tadi."
"Hmm. . ."
Dinda lalu sholat subuh.
Lima menit. "Aku laper." Ucap Dinda.
"Mau pesan sekarang?"
"Aku mau jalan-jalan pagi,sepertinya segar." Ucap Dinda.
"Hmm,jadi?"
"Cari sarapan di luar yuk?"
"Ya ayo. Jangan lupa pake jaket kamu!"
"Pake pakaian ini tidak boleh keluar?" Tanya Dinda sambil memperhatikan pakaiannya yang menurutnya sopan. Baju lengan pendek dan celana panjang.
"Masih pagi,di luar dingin!" Jawab Seno.
"Hmm,iya." Dinda lalu memakai jaketnya.
Mereka keluar dari kamar hotel. Koridor hotel masih sepi mungkin tamunya masih tidur.
Dinda menggandeng lengan Seno dengan manja,sesekali bersandar di bahu suaminya.
Setelah turun di lantai dasar. "Kita kemana nih,mas tidak tau jalan?" Tanya Seno.
"Aku sama mami kalau ke Singapura pasti menginap di hotel ini jadi sedikit tau sih. Hmm,kita ke sana saja. Ada kafe yang sudah buka pagi-pagi." Ajak Dinda.
"Ya sudah ayo."
Mereka lalu berjalan ke sana,kira-kira tiga ratus meter dari hotel.
"Kamu sudah tidak capek dan lemes lagi?" Tanya Seno.
Dinda menggelengkan kepalanya.
Beberapa menit. "Itu kafenya." Tunjuk Dinda.
Tidak sampai lima menit mereka sudah sampai di kafe.
"Mas pesan apa?"
"Samain saja sama kamu."
"Hmm,ok."
Dinda lalu memesan makanan dan minuman dua porsi. Lima belas menit,pesanan mereka datang.
"Enak ya mas." Ucap Dinda.
"Iya,lumayan."
Setelah selesai makan,mereka keluar dari kafe.
"Mau kemana lagi? Mumpung belum panas enak jalan kaki."
"Ada taman di sini mas. Tempat orang-orang biasa joging. Ke sana yuk!" Ajak Dinda.
"Hmm,ayo."
Sampai di taman,sudah banyak orang yang sedang joging atau hanya duduk-duduk saja di bangku yang ada di taman. Mereka pun duduk di bangku yang dekat sisi jalan.
"Mas tidak mau joging?"
"Kan sudah jalan-jalan,lumayan ganti joging."
__ADS_1
"Iiihh,bilang saja tidak mau."
"Kamu mau joging?"
Dinda menggeleng lalu menyandarkan kepalanya di bahu Seno.
"Nanti siang kita kemana?"
"Mas terserah kamu saja. Mas kan tidak pernah ke Singapura. Tidak tau apa-apa."
"Hmm,ke mal ya mas. Sesekali,yah." Bujuk Dinda dengan wajah memohon.
Hhhh,Seno menghela nafas berat. Memangnya semua perempuan senengnya ke mal ya? Batinnya.
"Mas?"
"Mau cari apa di mal?"
"Mau lihat-lihat saja sambil cari makan siang."
"Hmm,lama donk kalau mau lihat-lihat?"
"Yah tergantung."
"Kok tergantung?"
"Kalau ada yang suka aku mau beli,mas."
"Hhhh,jadi belum tau mau cari apa?"
Dinda menggeleng.
"Bisa sampai malam kalau gitu. Nanti kamu mengeluh capek."
"Aku janji deh tidak akan mengeluh capek."
"Hmm,dari kemarin-kemarin sering mengeluh capek kok!"
"Hmm,janji deh."
"Huuhhh. Ok,tapi ada syaratnya!"
"Apa syaratnya,mas?"Tanya Dinda antusias.
"Nanti malam kamu yang mulai ya!" Jawab Seno sambil mengerlingkan wajahnya.
Wajah Dinda langsung memerah. "Aku? Aku tidak mengerti caranya."
"Yah sama saja seperti mas. Masa belum mengerti sudah di ajarin berapa kali,hmm?"
"Iiihh,mas ini." Dinda menundukkan wajahnya,di beri tatapan terus oleh Seno.
"Deal?" Tanya Seno.
Setelah beberapa detik,Dinda menganggukkan kepalanya tanpa mau menoleh ke arah Seno. Seno langsung tersenyum. Hhh,demi ke mal. Dasar mal. Batin Seno.
Dinda berdiri dari duduknya. "Pulang yuk mas,sudah mulai panas ini."
"Mau buru-buru ke mal,hmm?"
Mereka kembali ke hotel dengan berjalan kaki.
Sepuluh menit,mereka sudah tiba kembali di kamar.
"Tidak capek?" Tanya Seno.
Dinda menggeleng. Dia lalu keluar balkon dan berdiri di sana sambil melihat ke bawah. Kamar hotelnya berada di lantai lima. Dari balkon terlihat di bawah ada kolam renang yang sudah ada beberapa orang yang sedang berenang bersama pasangannya,ada juga yang bersama keluarganya. Hmm,mas Seno mana mau di ajak berenang. Batin Dinda.
"Lihat apa sih sampe nunduk-nunduk gitu? Nanti jatuh." Tanya Seno yang mengagetkan Dinda.
"Iiihh,mas bikin kaget deh."
"Iya lihat apa?"
"Tuh orang sedang renang."
"Hmm. . ."
"Mas tidak mau lihat?"
Seno menggelengkan kepalanya lalu duduk di kursi yang ada di balkon. "Mau ke mal jam berapa?"
"Hmm,jam sebelas ya,sampai sana langsung cari makan." Jawab Dinda.
***
Dinda dan Seno baru saja sampai di mal. Mal untuk kalangan menengah ke atas. Dinda menggandeng mesra lengan suaminya. Dia terlihat sangat bahagia.
"Cari makan di mana? Jangan sembarangan cari makan di sini."
"Hmm,aku tau tempatnya mas. Restoran yang menyediakan makanan khusus dari ikan. Mas mau kan makan ikan? Semacam steak."
"Di bilang tidak ikannya ikan apa?"
"Banyak macamnya,tapi aku sama mami biasanya pesan yang bahannya dari ikan salmon sama tuna,mas." Terang Dinda.
"Ya sudah itu saja tidak apa-apa." Ucap Seno.
Mereka lalu masuk ke restoran yang di maksud oleh Dinda. Mereka memilih tempat di pojok.
"Enak duduk di sini mas,nyaman." Ucap Dinda.
Saat waiter datang,Dinda memesan makanan yang biasa dia pesan jika datang ke restoran itu.
Lima belas menit pesanan mereka datang.
"Enak kan mas?" Tanya Dinda sambil mengunyah makanannya.
Tiba-tiba Seno menyuapi Dinda. Dengan senang hati Dinda di suapi oleh Seno. Makin terpancar kebahagiaan di wajah Dinda. Suamiku romantis juga. Batin Dinda.
Mereka makan pelan-pelan sambil saling bertatapan.
__ADS_1
Setengah jam kemudian mereka sudah keluar dari restoran.
"Kamu mau cari apa? Masa semua toko di mal mau di datangi,hmm?"
"Hehee,tapi mas jangan masuk tokonya ya tunggu di luar." Ucap Dinda.
"Loh,kenapa?"
"Hmm,rahasia."
"Hhhh,sama suami sendiri main rahasia."
"Kejutan juga buat mas." Ucap Dinda.
"Hmm,mau kasih mas kejutan?"
Dinda mengangguk.
"Ok lah." Jawab Seno.
Tiba-tiba. "Mas tunggu di sini ya apa mau sambil beli minuman. Aku mau kesana."
"Toko yang mana?"
"Hmm,rahasia."
"Loh?"
"Sebentar kok. Yah?"
Seno menggeleng.
"Sebentar kok mas."
"Nanti kamu kesasar!"
"Iiihh mana mungkin kesasar. Aku sudah sering ke sini."
"Kalau gitu,mas yang kesasar."
"Iihh,masa bisa sih."
"Ya bisa. Mas kan belum pernah ke Singapura. Belum pernah ke mal ini."
"Seperti anak kecil saja deh bisa kesasar."
"Kamu masuk ke tokonya,mas tunggu di luar!" Titah Seno tegas.
"Hmm,iya deh." Dinda terpaksa menurut.
Mereka lalu menuju toko yang di maksud oleh Dinda. Toko pakaian wanita. Seno menunggu di luar,berdiri di pagar pembatas sambil melihat-lihat ke lantai bawah.
Sepuluh menit,Dinda keluar dengan membawa dua paper bag.
"Mas." panggil Dinda.
Seno menoleh. "Dapet barangnya?"
"Heheee,dapet."
"Ya sudah kita pulang sekarang ya."
"Iya iya kita pulang!"
"Jangan lupa janjinya tadi!"
"Janji apa?"
"Hmm,lupa."
"Iya mas,maaf."
"Hmm,waktu di taman. Kalau mas mau temani kamu ke mal,janjinya tadi apa?"
Seketika Dinda menghentikan langkahnya.
"Loh kok malah berhenti?"
"Hmm iya." Dinda kembali berjalan bersama Seno.
"Sudah ingat janjinya?"
Wajah Dinda memerah. Dia mengangguk pelan.
Seno pun tersenyum.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca. Semoga suka. Yang suka kasih like atau komen ya. Gift juga boleh π. Apalagi vote π
Terimakasih. . . ππ
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
0308/1900