
Kemarin Rey bilang kan lusa baru bisa ke desa,berarti besok kan ya. Kalau begitu,sekarang deh masukin semua pakaian dan barang yang mau di bawa ke koper. Batin Siti riang. Aahh tidak sabar ingin ketemu Seno. Apa kabar ya dia sekarang? Pikiran Siti menerawang. "Kasihan Seno." Gumamnya dengan wajah sedih. Tunggu mbak ya dek,kita sebentar lagi ketemu.
Tiba-tiba handphone Siti berdering. Siti mengambil handphonenya. Di layar terlihat nama 'suamiku' memanggil.
"Hallo Rey. . ." Siti.
"Mas! Rey,Rey! Kamu sedang apa?" Rey.
"Hehee,sedang santai nih di kamar!" Siti.
"Sudah makan?" Rey.
"Kan sudah tadi sarapan."Siti.
"Jadi baru sarapan,belum makan lagi,hmm?" Rey.
"Belum lapar!" Siti.
"Tadi kan sudah di bilang sebelum makan siang kamu sudah harus makan lagi. Sekarang sudah jam sepuluh lebih." Rey.
"Hmm,tapi belum lapar!" Siti.
"Bagaimana anak saya bisa sehat kalau kamu makannya dikit?" Rey.
"Anak saya ini!" Siti.
"Mas kan papanya! Ayo kamu makan sana!" Rey.
"Hmm,iya iya nanti." Siti.
"Sekarang!" Rey.
"Rey?" Siti.
"Kamu itu tidak mau menurut sama suami,hmm?"
"Hmm,iya iya mas! Tapi belum lapar." Siti.
"Jangan di ganti panggilannya!" Rey.
"Yah tergantung." Siti.
"Tergantung apa?" Rey.
"Kalau lagi kesal,marah,males lah panggil 'mas'." Siti.
"Hmm,begitu ya Siti!" Rey.
"Kamu juga kalau sedang baik panggil 'sayang'. Kalau sedang kesal,marah,panggil 'Siti' kan!" Siti.
"Hehhee,makanya jangan bikin suami marah!" Rey.
"Hmm,mau menang sendiri!" Siti.
"Ya sudah sana turun,minta masakin apa sama bibi!" Rey.
"Di bilang belum lapar! Nanti saja pas makan siang bareng kamu!" Siti.
"Makan siang masih lama,ini baru jam sepuluh,Siti!" Rey.
"Tuh kan." Siti.
"Kamu mau makan apa,hmm? Sayang." Rey.
__ADS_1
Siti bersemu merah. "Hmm,mau makan sama mas. Terserah mau makan apa!" Siti.
"Hmm,kangen ya sama mas? Baru semalam tidurnya pisah sudah kangen!" Rey.
"Iihh kepedean sih! Ini,yang di dalem sini yang mau!" Siti.
"Yang di dalem apa mamanya,hmm?" Rey.
"Ya sudah tidak jadi!" Siti.
"Hehhee,mamanya ngambekan sekarang ya!" Rey.
"Sudah dulu ya." Siti.
"Eehh,belum selesai ngomong,Siti! Tidak sopan sama suami!" Rey.
"Mau ngomong apa lagi?" Siti.
"Kamu turun sana makan! Nanti siang mas pulang makan sama kamu!" Rey.
"Iya iya! Maksa terus!" Siti.
"Harus menurut apa kata suami!" Rey.
"Iyaa! Sudah dulu ya?" Siti.
"Hmm,nanti mas telepon lagi!" Rey.
Telepon terputus. Siti menghela nafas. "Orang belum lapar di paksa makan! Dasar Rey!" Gumamnya.
Siti pun terpaksa turun untuk makan. Di dapur ada bibi sedang masak untuk makan siang.
"Non? Mau makan sekarang?" Tanya bibi.
"Iya bi,sudah ada apa? Cuma makan dikit kok." Jawab Siti.
"Hmm,jangan ayam bi. Pecel ada bi? pengen yang pedess!" Pinta Siti.
"Wah kalau pecel tidak ada non! Bumbu pecel yang sudah jadi sih ada,sayurnya belum di masak."
"Sayurnya bayam saja tidak apa-apa,bi. Tinggal tambahin bumbunya. Saya masak sendiri deh bi."
"Loh jangan non! Nanti den Rey marah kalau non di suruh masak." Tolak bibi lembut.
"Kan tidak ada yang suruh bi,maunya saya sendiri kok. Sudah ah sini bayamnya saya masak sendiri bi,tinggal rebus ini." Siti langsung mengambil sayur bayam dari tangan bibi dan mulai mengolahnya sendiri.
"Bibi belum tahu ya kalau saya sebelum nikah sama Rey itu jualan sayur masak di warung. Eh maksudnya bantu bibi saya buka warung nasi begitu bi. Saya yang bertugas masak. Dari subuh sampai malam. Saya sudah terbiasa masak dan sudah lama kangen pengen masak!" Curhat Siti.
"Oh ya? Bibi baru tahu non! Jadi non pinter masak ya?"
"Pinter sih tidak bi,tapi bisa lah. Kalau pinter,saya bisa jadi koki atau chef. Hahaa!" Mereka pun tertawa bersama.
Setelah makan sedikit dengan sayur pecel,Siti kembali ke kamar.
***
Pukul sebelas siang,terdengar sayup-sayup suara mobil masuk halaman rumah. Siti langsung mengintip dari jendela. "Rey. ." Gumamnya sambil tersenyum. Siti segera turun.
Saat Siti membuka pintu rumah,Cinta sudah ada di teras dengan membawa tas sekolahnya.
"Mama. . . kok tidak ikut jemput Cinta?" Cinta memasang wajah cemberutnya.
"Hmm,kan papa jemput Cinta langsung dari kantor,sayang. Jadi mama tidak bisa ikut." Siti memberikan alasan. Cinta mengangguk-anggukan kepalanya.
__ADS_1
"Yuk masuk! Cinta pasti sudah lapar ya kan?"
"Iya ma laper banget nih!" Sambil memegangi perutnya.
"Yuk kita cuci tangan dan kaki Cinta dulu terus kita langsung ke meja makan. Sebentar lagi waktunya makan siang." Ajak Siti sambil menggandeng Cinta masuk ke rumah dan membawakan tas sekolahnya.
Kini mereka sudah duduk di meja makan,menunggu opa yang masih di kamar.
"Opa kok lama ya?" Cinta menoleh terus ke arah kamar opanya.
Rey mengusap kepala putrinya. "Opa kan baru sampai sayang. Sebentar lagi ya. Cinta sudah kelaparan ya?"
Cinta menganggukkan kepalanya.
"Kamu tadi sudah makan kan?" Tanya Rey sambil melirik ke arah Siti.
"Iya sudah! Jadi sekarang tidak apa-apa makan dikit saja ya?" Siti memasang wajah memohon.
"Hmm,makan sampai kamu kenyang!" Jawab Rey.
Tak lama opa dan omanya muncul di ruang makan.
"Opa,ayo kita makan!" Ajak Cinta yang sudah tidak sabar.
"Iya sayang. Cinta yang pimpin doa makannya ya!" Titah opa.
"Hmm,papa saja deh. Cinta belum pinter." Tolaknya sambil menunduk malu.
"Kan Cinta sudah di ajarin di sekolah. Doa seperti itu saja!" Saran papanya,Rey.
"Ooh ,iya deh!" Cinta pun mulai membaca doa makan seperti yang di ajarkan di sekolahnya.
***
Setelah makan siang bersama. Mereka naik ke atas. Sudah waktunya sholat zhuhur,mereka berjamaah bertiga. Lalu Cinta menyalakan tv. Siti ikut menemani. Ketika Rey tiduran di kasur,Siti langsung mendekatinya.
"Besok jadi kan mas? Pakaian dan keperluan lainnya sudah siap di koper tinggal pakaian mas saja yang belum. Bingung mau bawa yang mana." Tanya Siti dengan wajah berbinar.
"Hmm,senin mas ada rapat penting!" Jawab Rey sambil mengusap lembut wajah istrinya.
Wajah Siti langsung berubah. "Aku wes ngiro". Gumamnya yang hanya dia sendiri yang mendengar.
"Hmm,ngomong apa?" Rey mengernyitkan dahinya.
"Tidak apa-apa kok!" Dengan memasang wajah kecewanya,Siti berlalu meninggalkan Rey yang masih menatapnya. Tapi dengan cepat Rey menarik tangan Siti dan mendudukkannya lagi di pinggir kasur.
"Perusahaan papa sedang ada masalah,mas tidak mungkin tinggal diam! Kamu mau kan ngertiin mas?"
Siti menghela nafas. "Hmm,iya mengerti kok." Tapi tetap dengan wajah kecewanya. Secepatnya berlalu dan masuk ke kamar mandi. Rey yang sudah mulai mengerti sifat istrinya langsung menyusul ke kamar mandi.
"Mau ngapain?" Tanya Rey penuh selidik.
"Mau ambil wudhu!"
"Loh kan tadi sudah sholatnya!"
"Biar hari adem!" Jawab Siti.
Rey memeluk istrinya itu. "Maafin mas ya sayang! Mas tidak ada maksud ingkar janji!"
Siti langsung mendorong suaminya. "Sana,mau ambil wudhu ini!" Siti tetap memasang wajah kecewa.
Rey menghela nafas berat. Maafin saya. Batinnya. Lalu dia keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
NEXT
260421/11.25