Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 25 ( S2 )


__ADS_3

Semua mata menatap ke arah Seno. Seno melangkahkan kakinya dengan sangat pelan. Dia tidak berani menoleh ke kiri kanan. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ternyata begini pernikahan orang-orang kaya. Batin Seno.


Seno di arahkan duduk di depan penghulu. Setelah semua siap acara akad nikah pun di mulai.


Seno pun mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan papinya Dinda.


"Ananda Seno Wardoyo,saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Dinda Calisya dengan mas kawin seperangkat alat sholat,emas seberat dua puluh empat gram dan uang senilai dua puluh empat juta di bayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Dinda Calisya binti Dinata Ahmad dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." Dengan sekali tarikan nafas,Seno lancar mengucapkan ijab kabul.


"Bagaimana saksi? Sah?"


"Saahh!" Semua orang yang ada di ruangan itu kompak mengucapkan kata sah.


"Alhamdulillah. . ."


Dinda lalu keluar. Semua mata menatap ke arah gadis itu yang menunduk malu. Seno pun ikut menatap pengantinnya. Kenapa dia bisa berbeda banget? Batin Seno.


Dinda lalu di arahkan untuk duduk di samping Seno kemudian mencium punggung tangan Seno.


Pak penghulu lalu membacakan doa dan nasihat pernikahan. Kemudian mereka menanda tangani buku nikah.


Setelahnya Dinda dan Seno di arahkan untuk sungkeman ke orangtua Dinda dan juga Seno yang di wakilkan oleh Siti dan pamannya Supri. Kemudian menyalami semua tamu yang hadir untuk memberikan ucapan selamat.


Setelah itu tamu di persilahkan untuk menyantap hidangan yang telah di siapkan oleh tuan rumah. Sementara pengantin dan keluarga berfoto-foto.


Hari menjelang siang. Tamu mulai pulang satu persatu. Tinggal keluarga yang masih berkumpul dan bercengkerama.


"Siang ini kalian berdua istirahat dulu,karena acara resepsinya akan di gelar nanti sehabis maghrib di hotel Z." Terang dokter Layli.


"Iya mi." Ucap Dinda.


"Iya bu." Ucap Seno.


"Seno,mulai sekarang kamu panggil saya mami juga donk." Ucap dokter Layli.


"Hmm,i iya mi." Ucap Seno.


Dinda dan Seno masuk ke dalam kamar setelah keluarga mbaknya berpamitan pulang untuk istirahat.


"Silahkan masuk." Ajak Dinda saat sudah membuka pintu kamarnya.


"Terimakasih." Jawab Seno yang segera masuk ke dalam kamar Dinda. Kamar pengantin pun di hias tak kalah indah dari ruang tamu.


"Hmm,kamu. Kamu mau ke kamar mandi?" Tanya Dinda pada Seno. Dia tidak berani menatap ke arah suaminya itu. Dia begitu gugup berada dalam satu kamar dengan laki-laki yang belum terlalu di kenalnya itu.


"Oh iya,kamar mandinya sebelah mana?" Tanya Seno.


"Itu,di ujung." Tunjuk Dinda.


Seno lalu masuk ke dalam kamar mandi. Tak lupa membawa pakaian gantinya yang tadi dia bawa dari rumah.


Dinda duduk di meja rias. Memandang pantulan dirinya di cermin kaca. Dia tersenyum.


Tiba-tiba Seno keluar dari kamar mandi saat Dinda kesulitan melepas aksesories di kepalanya.


"Hmm,kenapa? Sini biar aku bantu." Tawar Seno.

__ADS_1


Dinda menoleh. "Ehmm. .?"


Tanpa menunggu jawaban Dinda,Seno langsung melepas apa yang menempel di kepala istrinya itu.


"Aaawwwss!" Teriak Dinda.


"Oohh maaf,sakit ya."


Dinda mengangguk.


"Nih,sudah semua." Terang Seno sambil meletakkan semua aksesoriesnya ke meja rias.


"Hmm,terimakasih." Ucap Dinda.


Dinda bangkit dari duduknya. Dia berjalan ke arah lemari pakaiannya,mengambil pakaian ganti lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Seno segera sholat zuhur,setelahnya dia duduk di sisi kasur. Dia bingung harus melakukan apa. Ingin tiduran tapi tidak enak sama Dinda. Jadi dia menunggu saja istrinya selesai mandi.


Setengah jam berlalu,Dinda baru saja keluar dari kamar mandi sudah mengenakan pakaian santai. Mandinya lama banget. Batin Seno. Hmm,harumnya.


Dinda melirik ke arah Seno yang tengah menatapnya,lalu dia buru-buru memalingkan wajahnya dan duduk di meja riasnya.


"Aku boleh tidur di sini?" Tanya Seno.


Dinda menoleh. "Ehm,iya boleh kok." Jawab Dinda.


Seno lalu berbaring menghadap langit kamar. Kamar feminim yang cukup luas,semua serba pink.


Tak lama kemudian Dinda pamit keluar dari kamar. "Hmm,aku mau keluar dulu."


Seno hanya mengangguk.


Menjelang sore,Dinda membangunkan Seno. Dia duduk di sisi tempat tidur di sebelah Seno.


"Hmm,Se. . . " Duh bingung manggilnya apa ya? Seno saja apa pake 'mas'? Hmm,malu aku. Batin Dinda.


Sebenarnya Seno sudah terbangun saat Dinda membuka pintu kamar tapi dia ingin tau apa yang akan di lakukan istrinya itu jadi dia masih pura-pura tertidur.


Karena bingung,Dinda akhirnya menggoyang-goyangkan bahu Seno.


Seno menggerakkan tubuhnya lalu mengerjap-ngerjapkan matanya di hadapan Dinda. Dinda jadi salah tingkah. Gadis itu langsung berdiri.


"Hmm,sudah sore. Waktunya siap-siap,kata mami." Ucap Dinda.


"Oohh,sudah jam berapa sekarang?" Seno lalu duduk di sisi tempat tidur.


"Sudah jam empat."


"Duuuhh,aku belum sholat." Seno lalu buru-buru ke kamar mandi sambil membawa lagi pakaian ganti.


Lima belas menit Seno keluar dari kamar mandi. Dinda sedang menyiapkan pakaian untuk mereka pakai nanti saat resepsi.


"Kata mami,kamu pakai ini untuk acara resepsinya." Terang Dinda.


"Hmm,kok dua?"


"Iya karena nanti banyak tamu,jadi pakai dua."

__ADS_1


Dahi Seno berkerut. Banyak tamu? "Hmm,iya. Aku mau sholat dulu." Ucap Seno.


Setelah Seno selesai sholat,dia duduk-duduk sambil menunggu maghrib.


Setelah maghrib tiba,Seno segera sholat kembali lalu memakai pakaian yang tadi Dinda kasih.


Ada seorang MUA yang masuk ke dalam kamar. "Permisi,saya mau merias pengantinnya."


"Iya mbak,silahkan masuk." Jawab Dinda.


"Kalau begitu saya keluar dulu." Ucap Seno.


"Nanti masnya saya rias juga." Terang MUA.


"Saya? Saya di rias juga?" Tanya Seno kaget.


"Iya mas. Di rias dikit saja kok,biar sedikit beda." Terang MUA lagi.


Apa? Masa laki-laki di rias juga? Batin Seno. Tapi dia hanya diam saja.


"Mbak Dinda saya rias dulu ya kan lama." Ucap MUA yang mulai merias Dinda. Seno duduk di pojok kamar sambil memperhatikan Dinda yang sedang di rias. Selama hampir setengah jam,Dinda selesai di rias.


"Nah,sekarang mbak Dinda ganti pakaian yang warna putih ya?" Ucap MUA.


"Hmm,iya mbak. Saya ganti di kamar mandi dulu ya."


"Loh di sini saja,mbak."


"Hmm,tapi?" Dinda melirik ke arah Seno yang masih menatapnya.


"Saya,saya keluar dulu." Pamit Seno. Dia tidak ingin Dinda merasa malu.


"Looh,sudah sah mah tidak apa-apa lihat juga." Ucap MUA sambil tersenyum.


Seno ikut tersenyum tapi tetap keluar dari kamar. Lima menit,Seno di panggil masuk ke dalam kamar.


"Masnya saya rias sedikit ya,biar tidak kalah cakep dari mbaknya." Ucap MUA. Seno hanya menurut saja. Huuhh,begini repotnya hari pernikahan,kamu malah pake nikah dua kali segala,Seno. Cukup kali ini. Gerutu Seno dalam hati.


Tidak sampai lima menit Seno di rias. MUAnya segera keluar dari kamar. Kini mereka sudah siap menuju hotel.


.


.


.


.


.


Next


.


.


.

__ADS_1


.


3107/1050


__ADS_2