
"Kau kek anak aku tau tak?" Givan terkekeh, dengan mengempit leher istrinya.
Kedua tangan Canda melingkar di perut suaminya di dalam lift hotel tersebut. Mereka hendak check out, dari hotel tersebut. Sebidang tanah dan rumah yang dibeli dari teman Givan, akan menjadi awal mula cerita perjuangan mereka membuka usaha mebel di kota ini.
"Mas kek bapak aku," balas Canda dengan menggosokkan wajahnya ke area bawah ketiak suaminya.
Givan tertawa lepas, kemudian ia mencium kepala istrinya. "Sekian lama aku terCendol-Cendol sama kau. Pengen kutabokin, cubitin, tapi takut nangis. Gemes betul." Givan mencubit pelan pipi istrinya.
Canda hanya menginap selama satu hari dua malam, di rumah sakit setempat. Kemudian, mereka pergi untuk mengecek lokasi usaha dan membeli rumah. Sebelum akhirnya kembali ke hotel, lalu membenahi barang-barang mereka dari kamar hotel.
Bisa dibayangkan biaya yang dikeluarkan oleh Givan, hanya untuk biaya tinggal di kamar terbaik di hotel tersebut. Tapi itu tidak seberapa, demi kenyamanan istrinya. Jika hanya untuk ia sendiri, Givan akan memilih kamar single dengan fasilitas apa adanya saja.
Ting.... Pintu lift terbuka, karena mereka sudah sampai di lantai tujuan.
Kemesraan tersebut, tertangkap mata sang mantan yang tengah bersedih hati. Givan enggan melepaskan rengkuhannya pada istrinya, dengan Canda yang tetap mempertahankan posisi tangannya di pinggang suaminya.
"Aa...," sapa Ai.
Sayangnya, Givan malah melengos dengan melangkah keluar dari dalam lift tersebut. Ai melongo saja melihat respon Givan, yang begitu sombong dengan membawa pergi istrinya tersebut.
Ai tidak menyangka, Givan seolah melupakan hal yang membuat Ai lecet parah itu. Ai paham fantasi dan kesenangan Givan, ia memaklumi ulah Givan tersebut.
"Aa! Aa! Tak nampak apa, kalau suami aku sukanya diabang-abang!" gerutu Canda, di sela langkahnya mengikuti suaminya ke meja resepsionis.
Givan tertawa geli. "Kau tau, tapi malah manggil aku mas. Mas! Mas! Dikira aku barang kuning yang berharga kali," timpal Givan kemudian.
"Iya memang barang kuning yang mulus." Canda mengusap rahang suaminya.
Namun, ingatan di malam itu membuat moodnya langsung berubah.
Ia masih mengingat, bagaimana mengkilat dan licinnya kepala pusakanya yang sempat ia basahi dengan ludahnya sendiri.
__ADS_1
"Maaf, Canda. Maaf, Canda," ucapnya dalam hati, dengan memperhatikan wajah istrinya dari sisi kanan seperti ini.
"Bentar ya, Cendol?" Givan maju satu langkah, ketika ia sudah disambut ramah di depan meja resepsionis tersebut.
Canda mengangguk, dengan memperhatikan tubuh suaminya dari belakang. Selebar itu punggung laki-laki, yang memperkosanya empat belas tahun silam. Laki-laki galak, yang memenuhi kebutuhan hidup dan batinnya setiap saat.
Ai yang mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam lift yang Givan gunakan tadi, malah kini berdiri di sudut ruangan dengan memperhatikan sepasang suami-istri tersebut. Koper berukuran sedang yang berada di sisi kiri Givan, cukup menjelaskan bahwa mereka berdua hendak pergi dari hotel ini.
Jadi, hanya sebatas penjual dan pembeli saja hubungannya dengan Givan? Renung Ai berkaca-kaca.
Sebelumnya, ia tidak pernah memberi harga untuk dirinya sendiri. Tapi dengan mantan kekasihnya itu, ia sampai menurunkan harga dirinya dan mematok harga untuk waktu rahasia mereka. Semata-mata, Ai ingin hubungan mereka berlanjut dalam hal komunikasi atau frekuensi pertemuan mereka yang semakin sering.
Sayangnya, harapannya meleset jauh. Givan pergi, setelah membeli waktu untuk mereka. Givan tetap kembali pada istrinya, Givan tetap melanjutkan kehidupannya dengan istrinya.
Ai sadar kali ini, setelah ini ia akan lebih menjaga dirinya lagi. Sekalipun, dengan label mantan atau orang masa lalu yang pernah mewarnai hidupnya.
Ai menguap air matanya, kemudian ia beranjak pergi untuk kembali ke tempatnya bekerja.
Givan hanya mengangguk, karena fokusnya masih mengurus pembayaran kamar mereka. Kadang ia kesal pada istrinya, Canda seperti anak kecil yang menarik-narik ujung baju orang tuanya. Padahal jelas di depan matanya, bahwa suaminya tengah berdialog. Tapi, dengan santainya Canda tetap mengeluarkan suaranya.
"Terima kasih, Kak." Givan tersenyum ramah, dengan menarik lagi kopernya dan menggandeng tangan istrinya.
"Ke Karimun Jawa ya, Mas?" Canda tersenyum lebar penuh harap.
Givan menyatukan alisnya, kemudian ia menunduk melirik istrinya. Ia akan selalu menunduk, karena tinggi istrinya yang hanya seratus lima puluh lima sentimeter.
"Aku kapok bawa kau ke wisata air. Kau lebih suka ngamer di vila, daripada aku ajak main air." Givan memutar bola matanya malas.
Canda terkekeh malu. Obrolan mereka terjeda beberapa saat, karena Givan sudah membukakan pintu taksi online untuk Canda. Dengan dirinya yang langsung berjalan memutar untuk masuk ke sisi lainnya.
"Mas kan tau, kalau aku tak bisa berenang." Canda pernah mengatakan hal ini, kala mereka berlibur ke Sabang.
__ADS_1
"Ya iya, makanya jangan ngajak wisata air. Udah kita di kamar aja, main s*o*ni*g, M*T, d****, W*T, standing, apalagi yang variasi sofa perosotan." Givan menarik turunkan alisnya genit.
Supir taksi online menahan tawa, dengan Canda yang menepuk paha suaminya karena malu.
"Jangan dibahas di sini coba!" kelak Canda manja.
"Iya, liburan di darat aja. Kebun binatang, atau ke taman," usul Givan dengan mengulurkan tangannya melewati tengkuk istrinya.
Membuat Canda kini bersandar nyaman pada suaminya. "Ya udah, ke car free day aja. Atau ke pasar malam."
Gelak tawa Givan begitu puas terdengar. Ia tidak habis pikir, dengan pilihan tempat liburan yang istrinya pilih tersebut.
Kesan sederhana, merakyat, apa adanya, tetap menjadi daya tarik Canda di hati Givan. Satu-satunya wanita yang ia kenal, yang tidak pernah menjaga imagenya di depannya. Tanpa ada yang ditutupi, patuh dan selalu ada untuknya, itulah yang menjadi Givan rela berkorban kesabaran untuk Canda.
Aktivitas segel tanah dan pembuatan akte tanah, membuat Givan cukup repot dengan membawa istrinya itu. Mau tidak mau, Canda selalu ikut serta. Karena tanah dan bangunan tersebut, tertulis dengan nama jelasnya yang unik tersebut.
Rumah minimalis modern tersebut, cukup nyaman menjadi tempat istirahat mereka. Sembari menunggu bangunan untuk tempat usaha mereka siap digunakan, mereka menghabiskan waktu dengan berwisata ke tempat terdekat dan berbelanja barang-barang untuk dibawa pulang ke Aceh.
Ya, Givan memperkirakan waktu untuk usaha mereka bisa stabil. Agar mereka lekas bisa berkumpul kembali Aceh, untuk mendidik anak-anak mereka bersama.
"Mas, tak terasa ya? Kita udah tiga bulan di Jepara. Tuh liat, pengingat suntik KB aku udah muncul." Canda menunjukkan layar ponselnya, yang terdapat bunyi notifikasi dalam kalender.
Givan melirik ponsel istrinya. Senyumnya seketika mengembang sempurna, ia akan siap menggempur istrinya untuk membuat buah cinta mereka.
"Bismillahi al ala’liyil al adzim, allohumma aijalhu dzuriyatan thayyibatan in qaddarta min shulbi." Givan mengusap perut rata istrinya, yang memiliki sayatan bekas operasi caesar tersebut.
Canda tergelak. "Aku tau ini doa apa." Ia menyekat posisi mereka dengan sebuah bantal.
Givan tersenyum penuh minat. "Ayolah, Canda. Nanti sekarang aku yang bekerja keras, kau rebahan aja. Biar anaknya kali ini mirip aku. Ya, Canda?" Givan membuang sekat itu, kemudian dirinya mendekati istrinya dengan lapar.
Givan berhasil mengungkung tubuh mungil istrinya. "Bismillah, Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa." Dahi mereka bersatu dengan aktivitas keromantisan yang berlangsung.
__ADS_1
...****************...