Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM232. Meloloskan penjelasan


__ADS_3

Benarkah suaminya seperti itu ketika berada di depan teman-temannya?


Canda termakan ucapan Ai, karena ia pun merasa suaminya memang terlihat ketus ketika berpapasan dengan Ai. Tepat, seperti apa yang Ai katakan. Jadi, kemungkinan Givan terlihat manis pada Ai saat bersama teman-temannya, itu mungkin saja terjadi.


Canda melirik suaminya. Tapi ia paham di sini, Ai akan merasa puas jika ia terpancing dengan ucapan Ai. Canda berpikir, biar kejelasan dari suaminya akan dijelaskan di belakang Ai saja.


"Kau kau minta maaf kah nambah hukuman cambuknya?" Canda mendelik sinis ke arah Ai.


"Aku cuma lagi cerita aja, Canda. Ya maksudnya tuh, yang buat aku percaya kekeh bahwa aku ngandung anak A Givan, ya karena A Givan beda masanya di depan umum, sama di ruang tertutup bareng teman-temannya." Ai tidak mengerti, itu adalah tipu daya Givan untuk menjebaknya dan membuat hidupnya semakin nelangsa.


Padahal, sebelumnya Givan sudah pernah mengatakan bahwa ia pernah ingin membuat Ai untuk dilahap teman-temannya, meski Givan tidak merealisasikannya dalam ucapannya.


"Iya, udah. Mau minta maaf kah? Atau, mau nambahin jumlah cambukan?" Suaranya terdengar kejam, tapi sebenarnya ia ingin menangis menuntut keterangan dari suaminya.


"Iya, aku mau minta maaf. Maafin aku, aku pikir semuanya sesuai dugaan aku. Aku benar-benar gak tau, kalau bayi aku itu bukan anak A Givan. Kalau aku tau, mungkin aku tak mungkin sampai sini, Canda. Aku minta maaf untuk semua kesalahanku, kekesalan aku, hujatan aku ke kamu. Aku berharap, kamu mau maafin aku," ungkap Ai penuh harap.


"Iya aku maafin, asal kau cepat pergi dari lingkungan keluarga besar aku dan kau jangan pernah usik rumah tangga aku lagi." Canda memberikan syarat dalam maafnya.


Ai mengangguk. "Aku pasti usahakan itu, Canda. Aku pun gak mau datang ke kampung ini lagi." Ai mendapatkan pengalaman terburuknya nanti dari hukum cambuk yang menantinya.


"A Givan." Ai meluruskan pandangannya pada Givan yang tengah memperhatikan mereka dengan bersedekap tangan.


"Duduk sebelah Canda ini, Van." Adinda bangkit, ia memberi tempat untuk anaknya.


"Iya, Mah." Givan menuruti perintah ibunya.


Tangan Ai terulur. "A Givan, aku minta maaf."


Namun, Givan malah memajang telapak tangannya di depan tubuhnya. "Aku maafin, kalau Canda maafin. Aku pun minta maaf ya, Ai?" Givan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan tubuhnya. Ia tidak mau mengundang amarah istrinya, dengan berjabat tangan dengan Ai. Meski itu sepele, tapi Givan yakin itu berefek besar untuk istrinya yang tengah memasang wajah masamnya.

__ADS_1


Hanya satu yang Givan khawatirkan, yaitu istrinya sakit karena memikirkan kebenaran hal itu, ditambah keadaannya yang harus terus memproduksi ASI untuk dua anak bayinya.


"Iya, A. Kita sama-sama maafin aja." Ai tersenyum manis pada Givan.


Givan hanya mengangguk, ia memutuskan pandangannya dengan Ai. Ia tahu, istrinya diam-diam memperhatikannya. Ia tidak mau menambah kekacauan dalam hati istrinya, ia mencoba menjaga perasaan istrinya.


"Aku pulang duluan ya, Mas? Mana tau Cali ngamuk." Canda bangkit dari posisinya.


"Kan ada ASIP, Canda." Givan pun ikut bangun dari duduknya.


Ia tahu, istrinya di rumah akan menumpahkan air matanya. Cali hanya dijadikan alasan Canda saja.


"Sini, Mah. Takut nangis, ASI-nya jauh." Givan lebih dulu mengambil alih anaknya, karena istrinya sudah pergi keluar rumah mendahuluinya.


"Oke, oke." Adinda yakin, Givan dan Canda tidak akan keteteran karena di sana ada dua pengasuh yang siap membantu mereka mengurus bayi-bayi tersebut.


"Eh maaf, Sayang." Givan menyadari rengekan pelan anaknya.


Ia menyudahi gerakan cepatnya. Namun, ia tetap tidak sabaran untuk lekas segera sampai di rumah.


Tebakannya sedikit meleset, karena istrinya tidaklah menangis di rumah. Tetapi, Canda memanyunkan bibirnya setinggi lima senti. Ia melirik sinis ke arah suaminya, kemudian membuang pandangannya ke arah lain.


"Adek sama Cali dulu ya?" Givan berbicara pada anak yang berada di dekapannya.


Givan memindahkan anaknya bersama para pengasuhnya di kamar tamu yang disulap menjadi kamar bayi tersebut. Kemudian, ia menarik tangannya untuk membawa istrinya ke kamar mereka.


Ia tidak mau kesalahpahamannya dengan istrinya berbuntut panjang. Ia tidak mau istrinya marah padanya dalam waktu yang lama.


"Aduh, istriku merajuk." Givan mengurung istrinya di kamar mereka.

__ADS_1


"Tau ah!" Canda menghentak-hentakkan kakinya dan naik ke ranjang mereka.


"Gemesnya." Givan mencoba memuaskan sabarnya dengan rasa cintanya.


Ia menghampiri istrinya yang berada di ranjang mereka, ia langsung berbaring menghadap istrinya yang sudah memeluk bantal tersebut.


"Kan kita udah baik-baik aja, Canda. Mau kuhamili lagi aja kah? Biar aku tak bisa pergi-pergi dari kau lagi?" Givan hanya membujuk, ia tidak benar-benar ingin membuat hamil istrinya kembali.


"Mas tuh suka bohong!" Canda mulai terisak, kala ia bersuara.


"Tak, Canda." Givan langsung sigap memeluk istrinya.


"Aku tak pernah mau bohongi kau, karena aku tak mau anak-anak aku pun pandai bohong ke ibunya atau ke istrinya kelak. Kebiasaan cara berbicara ayahnya aja, kan selalu ditiru anak-anak. Apalagi, kalau ayahnya suka bohong? Ya nanti mereka bisa lebih handal dong?" Givan menempatkan satu tangannya di pelipis istrinya.


"Kenapa Mas kek gitu tuh?" Suaranya menurun menyedihkan.


"Kek gitu gimana, Canda?" Givan ingin mendengar jelas kekeliruan yang tidak dimengerti istrinya.


"Kenapa Mas beda kalau lagi di tempat tertutup sama Ai?" Suaranya bergetar, mengikuti aliran tangisnya.


"Kan masa itu, aku mau jebak dia. Aku sengaja kasih dia pelajaran, dengan cara booking dia nyanyi selama delapan jam. Kau bayangkan aja, capeknya nyanyi selama itu, Canda. Terus, aku pun yang sodorin dia minuman keras itu. Ya masa aku sodorin dengan wajah kecut? Ya tak bakal mau dia nanti, Canda. Apa ya namanya? Cuma kamuflase aja gitu tuh. Kau tuh selalu termakan omongan orang terus. Segitu aku buktikan dan ucapkan gimana aku ke kau, gimana pengorbanan aku dan gimana usaha aku selama ini untuk kita. Plus, plus, plus, tak mudah Canda untuk sabarin kau ini. Benar-benar tukak lambung aku dibuat kau, padahal kau cuma tak sadar, tapi aku sampai kek gitu. Jadi, tak mungkin aku mengambil keputusan secara sadar untuk benar-benar dustakan kau. Aku begitu ke Ai kan, semata-mata hanya untuk buat Ai percaya." Givan meloloskan apa yang ingin ia jelaskan. Ia hanya berharap Canda mau mengerti akan dirinya.


"Tapi Mas jangan gitu-gitu lagi, aku tuh cinta betul sama Mas. Aku tak mau Mas tak sama ke aku kek aku ke Mas. Aku tak mau cinta aku bertepuk sebelah tangan." Tangisnya lepas, ia selalu amat takut kehilangan suaminya. Ia khawatir suaminya berpaling, ia khawatir suaminya benar-benar membodohinya.


"Tak, perasaan kita bertepuk tangan kok. Jangan suka negatif thinking lagi ya? Aku tak mau kau banyak pikiran terus sakit, aku tak mau kau kenapa-kenapa. Kau harus sehat terus, Canda. Kalau kau sehat, aku pasti sehat, Canda." Givan membingkai wajah istrinya, ibu jarinya menghapus air mata istrinya.


"I love you, Canda. I love you, Biyungnya anak-anak." Givan menyatukan dahinya, kemudian ia mencium bibir istrinya tanpa kecupan berlebihan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2