
"Di rumah sakit, Pah. Ai bersalin, anaknya meninggal." Givan menurunkan ponselnya sejenak.
"Innalilahi...." Adi terkejut dengan matanya yang melebar.
"Kapan? Kok tak ada yang ngasih tau Papah?" Adi merangkul anaknya dan duduk di lantai teras rumah.
"Siang, Pah. Aku baru tau tadi, tapi ngaldenin Canda dulu karena langsung ingat Daengnya, ingat bahwa dirinya lagi hamil juga. Cepat negatif thinking Canda ini." Givan malah lebih tertarik untuk menceritakan tentang drama istrinya.
Adi menoleh pada anak tirinya. "Ke mana istri kau sekarang? Temani lah." Ia menepuk pundak anak tirinya.
Seolah tidak ada yang peduli dengan Ai, meski berita duka menyertainya. Kini Adi malah memilih untuk membersihkan diri, kemudian mengisi perutnya. Tahu akan istrinya yang tidak sendirian di rumah sakit, Adi yakin putranya pasti mengurus ibunya dengan kepatuhan. Namun, ia kini teringat akan kabar seorang bayi yang telah tiada. Bagaimana istrinya kerepotan mengurus jenazah yang belum memiliki nama tersebut?
Ia mencari anak tirinya, yang tadi ia perintahkan untuk pulang pada menantunya. Ia tidak akan menarik anaknya yang lain, karena mereka tidak ada sangkut-pautnya dengan Ai dan bayinya. Belum lagi, Adi memahami kerepotan masing-masing dari anak-anaknya.
"Van...." Adi masuk dan menyerukan nama anak tirinya sampai ke dalam rumah Givan, karena sejak tadi tak kunjung mendapat jawaban.
Kelalaian yang hakiki, Givan selalu melupakan untuk mengunci pintu depan lantaran ia berpikir waktu masih begitu sore dan ia ingin keluar setelah menuntaskan tugasnya memenuhi batin istrinya. Givan bergerak cepat menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, meski ia tahu bahwa pintu kamarnya terkunci rapat.
"Kau udah tidur, Van?" Pertanyaan itu seiring ketukan pintu.
"Eummm...." Givan memperhatikan punggung Canda yang berada di depannya.
Givan masih memeluk istrinya dari belakang, dengan keris pusaka keramatnya yang menyatu dengan Canda.
"Van???" Adi mendengar dengungan anak tirinya samar.
"Ya, Pah. Bentar, nanti aku ke rumah Papah." Givan menggerakkan perlahan, ia tidak ingin kehilangan fokusnya.
__ADS_1
"Ohh, oke." Adi paham apa yang tengah anaknya lakukan. Karena anak-anaknya tidak pernah menghiraukan orang tuanya, kecuali dalam keadaan tengah bersama istri-istri mereka di dalam kamar.
Givan membutuhkan waktu, bukan ditunggu. Maka dari itu, ia lebih memilih untuk berkunjung ke ayah sambungnya setelah ia selesai beribadah dengan Canda. Karena ibadah tersebut, sudah sangat jarang dilakukan setelah hantaman yang Ai berikan. Canda mulai perlahan berubah dan patuh kembali, sejak keadaan suaminya yang diberi hukuman dari desa. Perasaannya campur aduk, ia makin merasa bersalah setiap kali suaminya membujuk dengan sepenuh hati karena penolakannya.
"Mas, aku tak sebentar. Aku masih lama." Canda protes dengan suara pelan, dengan pernyataan suaminya yang mengatakan akan menemui ayah mertuanya itu sebentar lagi.
"Cuma kalimat penenang, Canda." Givan mulai bergerak dengan menancapkan giginya pelan di punggung istrinya.
Entah karena apa istrinya selalu meminta stimulasi dengan giginya, sejak ia merujuk Canda kembali beberapa tahun silam. Ia tidak keberatan, ia pun tidak memikirkan hal yang terlampau membuatnya sakit hati. Ia mengerti, bahwa Canda memiliki pengalaman lain dengan mantan suaminya selain dirinya yang berhasil memiliki Canda kembali.
"Leher aku, Mas." Canda menyukai area itu diberi stimulasi yang membuatnya meremang.
"Boleh, Canda. Asal kau bilang, misal kau kurang suka." Givan menyadari bahwa terkadang dirinya kurang peka.
Givan mencoba memenuhi kebutuhan istrinya, meski sejujurnya posisi itu tidaklah nyaman untuknya. Ia tidak leluasa bergerak dalam posisi menyamping, itu mengurangi kelincahannya. Sayangnya, Canda malah suka dengan posisi yang tidak menguntungkan Givan. Selain sulit bergerak, Givan pun tidak leluasa memandang wajah Canda yang payah karenanya. Ia suka ekspresi wajah istrinya yang tanpa dibuat-buat tersebut.
Ingin Canda pun, ia sekeras itu untuk menolak suaminya. Namun, di samping karena ia butuh. Ia pun tahu akan dosanya, karena selalu membuat suaminya harus membujuknya sedemikian rupa. Rasa kasihan Canda kembali berpusat pada tanda putih yang menghiasi punggung cerah suaminya. Sampai rela seperti itu suaminya untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Ia sadar, bahwa tindakan yang suaminya ambil semata-mata untuk mempertahankan rumah tangga mereka. Tetapi, ia tetap meyakini bahwa anak-anak lah yang membuat suaminya bertahan dan mempertahankannya. Ia tahu, bahwa suaminya belum memiliki lagi perempuan yang baik dalam bidang agamanya untuk bisa mengajari anak-anaknya.
Pikirannya terlalu dangkal, padahal Givan mampu saja memanggilkan seorang ahli agama, untuk mendidik anak-anaknya. Ia tetap mempertahankan Canda, karena Canda adalah kehidupannya.
"Sendirian, Pah?" Adik kandung Canda menghampiri Adi yang berdiri di depan pagar rumah megah tersebut.
Adi menyadari kehadiran perempuan muda tersebut. "Ya, Dek. Mau ke mana malam-malam?" Adi sudah menganggap Ria bagaikan cucunya sendiri.
"Ke Bunga, Pah. Aku di WA bang Ken, suruh bantu buatkan jadwal kegiatan dan pelajarannya Bunga." Ria menunjuk pondok biyung yang menjadi tempat tinggal banyak cucunya.
__ADS_1
"Eh, di mana Bunga tinggal?" Adi tahu bahwa rumah-rumah tersebut sudah terisi penuh dengan anak-anak Givan.
"Di lantai duanya Ceysa itu, Pah." Dua bangunan yang masih berada di kawasan pondok biyung, tapi berbeda halaman tersebut menjadi tujuan Ria untuk datang meski tubuhnya sudah lelah.
"Ohh...." Adi manggut-manggut. Ia tahu tentang dia anak asuh Givan yang rumahnya sudah dibuatkan lantai dua, karena mereka yang sudah meminta untuk tidur terpisah dengan para pengasuhnya.
Sedangkan, banyak anaknya memilih untuk tidur bersama mainan kesayangannya. Lalu, membiarkan pengasuhnya tetap hangat di kamar mereka. Seperti contohnya Chandra, ia lebih suka tidur di ruang tamu rumah minimalis bagaikan tipe 36 itu. Ia membawa salah satu kasur untuk ditaruh di ruang tamu, lalu dijadikan tempat tidurnya di malam hari. Ia lebih suka tidur di ruangan yang cukup terbuka, karena kesederhanaan sudah membiasakan mereka sejak kecil.
"Aku ke sana dulu, Pah." Ria pamit untuk menemui Bunga segera.
"Eh, Dek." Adi mencandak punggung Ria.
Ria menoleh, menghadapkan badannya pada ayah mertua dari kakaknya tersebut. "Kenapa, Pah?" tanyanya kemudian.
"Kau sama ibu tau belum, kalau Ai bersalin dan anaknya meninggal?"
Ekspresi kaget dari Ria, cukup menjadi jawaban untuk Adi bahwa kabar tersebut tidak banyak yang tahu.
"Kapan, Pah? Tadi ketemu bang Givan, dia tak cerita dan tak bilang apapun." Ria sampai bertutur dengan terburu-buru.
Sampai putra tirinya tidak memberitahukan berita duka itu pada adik iparnya, Adi semakin berpikir bahwa Givan benar-benar tidak ingin untuk direpotkan dengan Ai. Jika rasa kepedulian Givan sudah mati, Adi langsung paham bahwa perbuatan orang tersebut sudah amat merusak rasa peri kemanusiaan putranya. Givan si keras kepala dan si tajam mulut seperti istri Adi, ia masih memiliki hati meski masa lalu kelamnya begitu menyelimuti sejarah hidupnya.
Adi semakin bingung untuk meminta anaknya menemaninya datang ke rumah sakit, untuk menggantikan Adinda menjaga Ai di sana. Sedangkan Adinda, Adi pikir akan ia minta untuk pulang ke rumah Canda dan menemani Canda sementara Givan bersamanya di rumah sakit malam ini.
"Siang katanya. Udah begini, abang ipar kau mau temani Papah gantikan jaga Ai tak ya?" Adi menggaruk kepalanya.
...****************...
__ADS_1