
"Ai, kau yang nolak aku. Kau ingat kan? Kau tak linglung kan? Sekarang yang paham, Ai. Aku sama kau, udah selesai dan benar-benar rampung. Aku sama Canda itu udah nyatu lahir batin, udah satu gelas, udah satu bantal. Aku udah tak pernah mikirin tentang kau lagi, apalagi tentang kita. Kehidupan aku ini, ya sepenuhnya tentang Canda. Canda ya hidup aku, aku kerja keras pun ya untuk memenuhi kebutuhan dan egonya. Aku banting tulang, untuk kewajiban aku ke anak-anak Canda, anak-anak aku dan dia. Dari miskin, merintis lagi dan benar-benar aku punya segala-galanya lagi, ya cuma Canda yang nemani aku. Dia tak pernah ngerengek ingin ini dan itu di masa aku susah, dia tak pernah tambah beban aku dengan bilang habis ini dan itu. Uang seluruhnya ada sama dia, mau dia habiskan, dia atur untuk beli apapun, ya udah terserah dia. Sebegitu percayanya aku sama Canda, padahal aku pun butuh sendiri dengan uang yang tak seberapa itu. Aku pun paham, masa itu nafkah yang aku kasih kurang. Tapi dia tak ngeluh, dia atur-atur sendiri gimana baiknya untuk dibelikan apa. Terus, aku udah senang dan aku udah stabil begini. Kau datang, terus ungkit-ungkit yang udah-udah begitu? Aku tak bakal ingat tentang bagaimana kita, karena perjalanan aku dan Canda lebih banyak perjuangannya. Aku tak akan ganti dia, dengan perempuan yang hadir di masa aku senang. Selain rejeki tiap orang itu berbeda, Canda berhak dapat kemewahan dan keberhasilan aku, karena dia nemanin aku dari aku susah. Di lingkungan bisnis aku, yang lebih cantik dari Canda itu banyak. Yang lebih cerdas apalagi, beribu kali lipat banyaknya. Maaf-maaf, mereka pun tak buat aku tertarik, apalagi kau yang jelas orang di masa lalu aku yang udah aku rasakan gimana rasanya. Oke, paham tentang kau yang begitu patuh dulunya. Tapi itu dulu, di mana uang aku tak pernah habis untuk kau manfaatkan. Meski keadaan ekonomiku stabil sekarang, aku lebih milih untuk habiskan uang aku ke anak-anak aku, bukan untuk mainan perempuan lain. Aku paham, kelaknya aku akan dimanfaatkan oleh kau. Bukan kemungkinan lagi, tapi udah pasti kebangkrutan aku ada di tangan kau. Bukan masalah harta yang aku pikirkan, tapi anak aku banyak, kewajiban aku banyak. Memang anak-anak aku tak butuh harta orang tuanya, tapi dia butuh pendanaan yang kuat untuk pendidikannya. Bukan cuma satu anak, tapi tujuh anak, yang harus aku pikirkan biaya sekolahnya, belum biaya hidupnya. Nah, ada dua anak lagi yang akan lahir, jadi total sembilan anak yang harus aku pikirkan masa depannya. Bukan masaku lagi untuk mikirin perempuan lain, mantan, karena Canda udah lebih dari cukup untuk aku." Givan terpancing emosi dalam nada bicaranya. Ia selalu seperti ini, ketika menjelaskan sesuatu tapi orang tersebut tidak mau mengerti.
Ai memandang netra Givan. Air matanya bercucuran tanpa ia rasa, dengan kata demi kata yang Givan lontarkan. Begitu tidak berbekasnya tentang kisah mereka di hati Givan, karena sepanjang perjalanan cerita Givan, yang ia tarik namanya selalu Canda. Begitu tidak bermaknanya ia, karena yang Givan pikirkan tentang kehadirannya adalah kebangkrutan akan usahanya.
Kini ia berpikir, apakah ia pembawa sial?
"Mana?"
Givan dan Kenandra celingukan, mereka sudah membayangkan drama dari pemilik suara manja tersebut.
Brakkhhh.....
Pintu terbuka dengan kencangnya. Hanya perlu menarik gagang pintunya saja, pintu itu bisa terbuka tanpa harus mendorongnya seperti itu.
"Mas Givan!!!" pekik Canda.
Ia menghentak-hentakkan kakinya masuk ke kamar tamu tersebut, dengan wajah marahnya. Givan paham, ia akan mendapatkan amukan dari ratu dramanya.
"Bohong aja, katanya ngeteh di bawah pohon! Cuma ada papah sendirian di sana! Rupanya, Mas ngamer di sini." Canda langsung menarik kerah kaos suaminya. Kemudian, menyeretnya untuk keluar dari kamar itu.
Canda panas hati, rupanya suaminya diam-diam menjenguk Ai seperti ini. Bukankah siang tadi mereka sudah kenyang menjenguk Ai, bahkan Canda menyetujui untuk membeli obat luar negeri untuk penyembuhan luka operasi Ai. Tapi, suaminya malah merindik-rindik untuk melihat keadaan Ai.
Givan hanya bisa berjalan jongkok dengan cepat, mengikuti tarikan tangan istrinya pada kerah kaosnya. Givan memegangi tangan istrinya, untuk tidak lagi menarik kerah kaosnya. Tindakan Canda baru terlepas, saat mereka sudah berada di halaman rumah megah tersebut.
Adi terkekeh, melihat drama baru yang Canda ciptakan. Seumur hidupnya, ia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh istrinya yang tega itu. Jadi, ia hanya bisa tertawa melihat kepasrahan Givan melihat kemurkaan Canda.
"Ada bang Ken juga, Canda," jelas Givan lembut, saat ia sudah bisa berdiri tegak tanpa cekalan di kaosnya lagi.
__ADS_1
"Tapi Mas tak ada bilang ke aku!" Canda memukul mulut suaminya.
Adi tergelak renyah, meski langsung berhenti karena melihat delikan tajam Givan yang terarah pada ayah sambungnya itu.
"Iya, maaf. Awang tadi minta buat aku masuk." Givan menyeret nama kakak Ai yang tengah duduk di teras bersama istrinya.
Awang mengerutkan keningnya. Sedari tadi ia terbingung-bingung melihat suami istri tetangga. Canda sempat bertanya pada Awang ke mana suaminya pergi, Awang pun menjawab dengan benar di mana Givan berada. Namun, ketika Canda muncul kembali. Drama membingungkan Awang itu menjadi perhatian mereka semua yang berada di luar rumah.
Karena sorot mata Givan yang seperti menuntut penjelasan para Awang, dengan pandangan Canda yang terarah padanya. Membuat Awang paham, bahwa suami istri itu menginginkan penjelasan darinya untuk mengakhiri sesi drama tersebut.
"Iya, tadi Ai minta ngobrol sama Givan. Terus Givan nolak, tapi aku bujuk, terus aku bilang ditemani bang Ken aja," ungkap Awang menjelaskan.
Canda langsung memandang wajah suaminya kembali. Ia mencari kebenaran di wajah suaminya yang terlihat pasrah itu.
"Udah tua, masih aja sok ganteng!" Canda mencubit perut suaminya dengan kencang.
"Aku lima tahun lebih muda dari Mas, aku mampu cari yang lebih dari Mas." Canda menirukan kesombongannya dari suaminya.
"Iya, iya, iya. Tau, Canda. Tapi aku yakin, tak bakal kuat itu laki-laki lain. Ghifar aja setelah tau gimana kau, istighfar terus dia. Melengkung sekali loh kau ini, udah bukan kek tulang rusuk. Udah menyerupai tulang kepala sifat kau ini."
Pluk.....
Pukulan kecil, Canda daratkan ke bibir suaminya lagi. Givan langsung tertunduk, dengan menyentuh bibirnya.
"Iya! Tulang kepalanya Mas!" Canda mengembalikan ucapan suaminya.
"Ya udah yuk pulang?" Givan mencoba merangkul pundak istrinya.
__ADS_1
Canda langsung menepis tangan suaminya tersebut. "Aku bisa pulang sendiri!" ketus Canda dengan melangkah lebih dulu.
Givan hanya mampu menghela napasnya, mencoba melebarkan kesabarannya lagi. Adi terkekeh geli, saat Givan melirik ke arahnya.
Canda yang berada sepuluh langkah di depan Givan, berhenti dan berbalik badan. Ia menyadari, jika suaminya tidak mengikuti langkah kakinya.
"MAS GIVAN!!!" teriak Canda dengan memelototi suaminya.
Adi tertawa lebih keras, ia merasa geli sendiri melihat anak dan menantunya berdebat seperti anak-anak.
"Iya, Canda," sahut Givan sabar. Ia melangkah menghampiri istrinya, kemudian merangkul istrinya kembali.
Adi semakin terhibur, kala Canda tidak menepis rangkulan suaminya itu. Rupanya, menantunya tidak bisa terlalu lama mencoba menjadi munafik.
"Canda orang mana, Pah? Kok manggilnya mas gitu?" tanya Awang, setelah Canda dan Givan tidak terlihat lagi di matanya.
Adi menoleh ke teras rumahnya, kala merasa diajak berbicara.
"Orang Solo, asli Solo dia," jawab Adi kemudian.
"Kok logatnya udah nyatu ya sama daerah sini?" Nafisah mengajukan pertanyaan.
"Udah lama sih di sini, dari sembilan belas tahun. Dari nikah sama Givan, dia udah Saya boyong ke sini. Karena pemikiran Saya, istri harus ikut suaminya. Karena pas awal Givan direhabilitasi, jadi Saya yang bertanggung jawab atas kebutuhan Canda. Dia ikut di sini setelah dua hari akad nikah di Solo," terang Adi menceritakan tentang menantu perempuan yang sudah seperti anak kandungnya itu.
Nafisah dan Awang manggut-manggut. Mereka lanjut membahas tentang Canda, yang menarik perhatian mereka setiap kali Canda hadir di hadapan mereka.
...****************...
__ADS_1