
"Biar kertasnya dibawa ke Givan aja tuh, tak usah gantikan biayanya." Adinda geleng-geleng kepala, setelah mengetahui bahwa Ghifar membayar biaya administrasi untuk cucu barunya.
"Tak apa, kasian bang Givan. Aku tau, dia ngeluarin biaya udah nyentuh angka M di sini. Itung-itung, bentuk hadiah dari aku atas kelahiran putri bungsunya." Ghifar duduk di hadapan ibunya di sebuah resto terbuka, di bagian halaman samping rumah sakit tersebut.
"Ya udah, terserah kau. Niat kau udah begitu, ya terserah aja." Adinda mengedikan bahunya ringan.
"Keadaan biyung gimana, Nek?" Chandra sedari tadi diminta untuk mengekori Ghifar.
"Stabil, udah dipindahkan ke ruangan lain. Keluarga belum boleh nengok, cuma ayah kau aja yang boleh. Udah sadar biyung kau." Adinda tahu dari mulut anaknya sendiri.
"Far, kau balik lebih dulu aja. Kubur kistanya Canda di halaman belakang rumah Mamah tuh, minta bantu papah untuk galinya." Adinda menyuruh Ghifar, semata-mata karena khawatir dengan menantunya dan cucunya dari Ghifar.
Aca hanya memiliki seorang asisten rumah tangga dan pengasuh. Sedangkan, di rumah Ghifar terdapat lima orang anak.
"Tak tega aku, Mah. Takut aku." Ghifar langsung menolak perintah tersebut.
"Kok begitu? Ya kau harus pulang, Far. Mamah biar pulang sama Canda sama Givan." Adinda menoleh ke arah cucunya. "Abang pun pulang sama Papa," lanjutnya kemudian.
"Aku mau mastiin biyung dulu, Mah. Aku tak mau kalau nanti ayah pulangnya sama adek bayi aja." Chandra ketakutan dengan mimpinya sendiri.
"Tentang mimpi itu lagi?" Adinda langsung menebak.
Chandra mengangguk samar. Ia melirik ke arah pamannya yang tengah menikmati kopi hangat di siang hari ini.
"Nenek kan udah bilang, itu bunga tidur aja. Mengenai satu bayi, kan memang bayinya satu. Ayah gendong bayi, karena biyung kan tak boleh gendong dulu. Ayah kau kan protektif, tak mau biyung dapat resiko. Lagi pun, mungkin di mimpi itu biyung masih di dalam mobil. Jadi, biyung tak jalan beriringan sama ayah." Adinda coba mengecoh logika anak tersebut.
"Nah, betul." Ghifar menjentikkan jarinya mendukung asumsi ibunya, agar Chandra percaya.
"Tapi aku mau pulang sama ayah dan biyung, Nek." Chandra memiliki sifat keras kepalanya dari ayahnya.
"Ya udah, kalau Izza main nanti suruh mampir ke rumah Papa. Terus Papa tunjukan foto-foto Abang waktu kecil, kalau habis cuci rambut itu. Hmmm, udah kek gadis imut." Ghifar menempatkan tangannya di bawah dagunya dengan tersenyum manis dan pandangan mata terarah ke atas.
"Sampai sekarang pun kalau habis cuci rambut ya kek gadis." Adinda melirik ke arah kuncung anaknya yang digulung rapi.
__ADS_1
"Tapi kok boleh sama gurunya ya, Mah?" Ghifar memelankan suaranya seperti tengah berghibah.
"Iya lah, kan ayah punya hibah bangunan di sekolahannya. Mau dikuncung atau digerai, yang penting anaknya betah di sekolah." Adinda menyindir Chandra dengan kuncung kecilnya.
"Aku tak mau dipangkas semua." Chandra bersedekap tangan dengan memanyunkan bibirnya.
"Terserah, Chandra. Nenek sih tak nyuruh Chandra cukur juga." Adinda pura-pura tidak memperdulikan cucunya itu.
"Tapi Kaf ganteng betul cukur under cut itu ya, Nek?" Ghifar memainkan matanya dengan ibunya, sengaja memojokkan Chandra dengan cara halus.
"He'em, cucu Nenek yang paling ganteng." Adinda mengikuti permainan Ghifar.
"Mana ada ganteng-gantengnya Kaf sih."
Ghifar melebarkan matanya, mendengar anak laki-lakinya diledek oleh Chandra. Adinda terkekeh, melihat reaksi Ghifar yang seperti itu.
"Ganteng lah, anak Papa mirip Papa. Mentang-mentang biyung kau cantik cerah, ayah kau tampan cerah, nampak yang hitam kek Papa dan Kaf dibilang tak ada ganteng-gantengnya. Kau tau manis? Nah, biyung kau yang puji Papa manis." Ghifar mencolek lengan anak laki-laki tersebut.
"Ini anak Givan, Far. Kau lebih baik debat sama anak Ghavi aja. Nanti dia pasti bilang, iya pa aku tau itu. Udah selesai, tak berbuntut panjang," timpal Adinda kemudian.
Ghifar manggut-manggut beberapa kali. "Iya sih, keturunan Givan dilawan. Kalah pun tak mau ngaku kalah, apalagi kalau menangnya." Ghifar menyindir ayah dari anak laki-laki yang mendengarkan ucapannya.
"Yang jelek-jelek aja, anak ayah. Yang bagus-bagus aja, anak Papa. Giliran ketemu sama titik cengeng aku, pasti dibilang dasar anak Canda."
Adinda dan Ghifar tertawa lepas, ia tidak menyangka Chandra bisa berbicara seperti itu.
"Hai, enak makan bersama aja."
Mereka semua menoleh dengan tawa yang tiba-tiba berhenti. Senyum Adi hilang seketika, ketika melihat wajah mereka yang nampak heran melihat kehadirannya.
"Ada apa?" Adi celingukan menoleh ke arah belakang.
"Abang ke sini? Katanya tak sanggup naik pesawat. Sama siapa datang?" Adinda menarik suaminya untuk duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Abang tak tenang, ingat Canda terus. Sama Novi ke sini, dia di kamar inap Canda. Kata Givan, Canda belum boleh dipindahkan." Adi meringis menahan linu di lututnya.
"Ya memang. Novi ngapain di sana sendirian? Benernya suruh ikut ke sini aja, kita makan bersama."
Ghifar mendadak kaku, mendengar ucapan ibunya. Ia memang sudah biasa saja pada Novi, sayangnya ia seringkali canggung jika dihadapkan langsung dengan mantan istrinya itu.
"Tak tau, katanya mau ke kamar mandi bentar. Abang ke sini pun kata Givan, katanya kalian lagi pada makan." Adi merangkul istrinya di depan umum dan di depan anak dan cucunya.
Ghifar memikirkan tentang tingkat kecemburuan istrinya, jika melihat Novi berada di sini bersamanya. Meski ia izin pada Aca untuk menemani ibunya, tapi kehadiran Novi di luar kehendaknya.
"Paling bentar lagi juga ke sini." Adi membuka mulutnya, setelah sesuap makanan hinggap di depan mulutnya.
Terlihat bahwa Adi adalah pak tua dari kalangan berada. Celana jeans dan kemeja tersebut, nampak memperlihatkan bagaimana ekonominya saat ini.
"Eh, itu makanan yang udah dibungkus datang. Aku antar ke bang Givan dulu ya, Mah?" Ghifar memiliki alasan untuk menjauh, ia pun sudah merasa bahwa perutnya terisi penuh.
"Ikut, Pa." Chandra merasa tidak enak, melihat nenek dan kakeknya yang terlihat cukup romantis itu.
Ingin mengingatkan pun, ia tidak memiliki keberanian untuk itu.
"Ayo." Ghifar mengizinkan Chandra untuk ikut.
"Ke bang Givan dulu, Mah." Pamit Ghifar, setelah membaca paper bag berisi dua porsi makanan tersebut.
Mereka berpikir, barangkali nanti Canda ingin makan juga setelah benar-benar pulih. Lagi pun, nasi kepal dan fried chicken itu bisa dimakan meski sudah beberapa jam berada di suhu ruangan.
"Loh, kok ada di luar, Bang?" Ghifar langsung menyapa kakaknya yang duduk term di depan ruangan khusus observasi setelah operasi dilakukan.
Givan mengusap wajah frustasinya. Ia murung, melihat mata Canda yang tiba-tiba tertutup dan berkata bahwa dirinya mengantuk. Baru beberapa menit dokter masuk ke dalam ruangan tersebut, Givan masih menunggu hasil pemeriksaan dokter tentang kondisi istrinya sekarang.
"Biyung kenapa, Yah?" Chandra mulai ketakutan, dengan mimpi buruknya yang terus terbayang di pikirannya.
...****************...
__ADS_1