
"Canda yang sakit." Adinda terlanjur membuka keberadaan anak dan menantunya.
"Ya Allah, sakit apa?" Ekspresi terkejut terlihat dari reaksi Nadya.
"Lagi hamil, biasa ibu hamil."
Putri menoleh ke arah Adinda, ia bertanya-tanya kenapa Adinda tidak mengatakan kabar sebenarnya? Siapa perempuan yang Adinda ajak bicara itu? Apa ia tak berhak tahu kabar Givan dan Canda?
"Dia siapa, Mah?" Putri bertanya karena saking penasarannya.
Nadya tersenyum pada Putri, ia mengulurkan tangannya untuk berkenalan. "Aku ibunya Zio," akunya membuat mata Putri melebar.
Karena tidak menyebutkan namanya, Putri pun mengenalkan dirinya seperti cara Nadya. "Aku ibunya Jasmine." Putri tahu siapa Zio. Bahkan, ia tahu rupa Zio kecil karena ayahnya Zio sudah berpacaran dengannya.
"Siapa itu Jasmine?" Nadya yakin, semua orang di lingkungan ini mengenal Zio. Tapi, ia yang baru datang lagi setelah sekian lama jelas tidak mengenal siapa Jasmine.
"Anaknya Givan," jawab Adinda membuat Nadya semakin terkejut.
Apa saja yang sudah terjadi, selain rujuknya Givan dan Canda? Nadya mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, tentang semua yang terjadi semenjak kepergiannya.
"Givan bukannya punya anak sama Fira dan Canda aja, Mah?" Nadya tahu tentang asal-usul anak sulung Givan.
"Nah, urutan usia anak aku setelah anaknya Fira tuh." Putri tahu jika perbedaan usia antara Jasmine dan Key berjarak satu tahun.
"Serius? Ya ampun." Nadya geleng-geleng tak percaya.
Adinda dan Putri tertawa kecil, mereka merasa geli tengah menyembunyikan kebenaran yang sebenarnya. Menurut Adinda, itu tidaklah penting. Apalagi, tujuan Nadya ke sini hanya untuk menengok anaknya.
"Assalamualaikum, Nek...."
Adinda ingin menyalahkan waktu. Kenapa tepat sekali Zio berkunjung di waktu yang tidak tepat. Padahal, biasanya anak itu berkunjung hanya di waktu pagi sebelum berangkat sekolah, atau pulang dari sekolah untuk meminta uang jajan darinya.
Nadya memerhatikan anak laki-laki yang tinggi dan bersih tersebut. Ia mengenali wajah yang lama tak pernah ia pandang tersebut, kemiripan wajahnya turun pada Zio.
__ADS_1
"Ya, kenapa?" Adinda memandang anak laki-laki yang sudah berada di hadapannya.
"Adek nangis terus, abis jatuh. Tak mau sama pengasuhnya, maunya sama Nenek." Zio menunjuk arah rumahnya.
"Adek siapa?" Adinda seringkali bingung, ketika penyebutan adek untuk mereka yang berusia lebih muda tapi tidak diperjelas identitas namanya.
"Adek Cani. Adek Ra jatuh, ya nyalahin kerikil yang buat dia jatuh, tak bakal nangis." Zio melirik sekilas pada tamu yang ada.
"Eh, Ammak." Zio langsung melipir dan mencium tangan Putri.
Lirikan matanya mengenali Putri, ibunda dari kakaknya. Sopan santunnya langsung diterapkan.
"Datang kapan, Ammak?" tanyanya kemudian.
"Kemarin malam. Ammak semalam tidur di penginapan, tapi dari siang di sini soalnya sepi di sana. Mau ke rumah ayah, gerbangnya rapat aja." Putri pun sebenarnya tidak berani bertamu di rumah Givan tanpa janji lebih dulu.
Ia pun tidak berniat berkunjung ke sini. Ia berkunjung, karena Kenandra membawanya pulang ke sini. Beberapa bulan ia sudah menjalin hubungan dengan Kenandra, cerita ini ada dalam novel Mabuk Duda.
"He'em, bang Chandra bilang adik-adik suruh anteng di rumah. Nanti aku bilang ke bang Chandra, kalau Ammak ada di sini." Zio kembali mendekati neneknya.
"Yakin Nenek yang dicari?" Adinda tahu akan salah satu cucunya itu yang cenderung lebih dekat pada suaminya.
"Kakek tak ada kan? Aku tengok sendalnya tak ada. Ya udah sih Nenek aja, kasian dia nangis dari tadi. Nenek tinggal bilang, kakeknya belum datang gitu. Sambil digendong ke sini tuh, Nek. Kasian soalnya, nangisnya tak udah-udah, padahal lecet sedikit aja lututnya." Zio tidak memahami karakter Cani yang cengeng, ia hanya paham bahwa adiknya masih kecil dan cenderung suka menangis.
"Yuk, yuk. Tinggal dulu, Put, Nad." Adinda keluar dari rumah menggandeng Zio.
Nadya tersinggung. Ia tidak dikenalkan pada anaknya sendiri, bahkan anaknya tidak mengenalinya sama sekali. Ditambah lagi, Adinda malah membawa Zio pergi lagi, seolah melarang Zio untuk bertemu dengannya.
Tak lama, datang Adinda yang menggendong anak berusia tiga tahun kurang tersebut. Tidak disangka oleh Nadya, Zio mengikuti langkah Adinda yang sudah jauh di belakangnya. Dot susu yang terisi penuh, menjadi barang bawaan Zio.
"Mana yang sakit, Dek?" tanya Putri, kala Adinda membawa Cani duduk di sampingnya.
Ia menyentuh lututnya yang tertutup dress panjangnya. "Ini, sakit." Cani sudah tidak menangis lagi, tapi napasnya tersengal-sengal karena tangisnya yang sempat sesenggukan.
__ADS_1
"Lari-lari ya?" Cani langsung menganggukkan pertanyaan lanjutan dari Putri.
"Nih, Dek. Diminum dulu susunya, Adek mau es krim rasa apa?" Zio menyanggupi permintaan Cani yang menyuruhnya membeli es krim ketika masih berada di rumah.
"Coklat," jawabnya kemudian.
"Abang beli es krim di ibu dulu ya? Sendal Adek ada di depan, udah Abang bawa tadi." Zio bergerak pergi.
"Ya, Abang." Cani menikmati dot susunya.
"Mah, kenapa Zio begitu?" Nadya langsung mengatakan ketidaksukaannya dengan sikap Zio.
"Dia tak kenal. Kalau tak ada perlunya tuh, dia tak bakal ngomong. Nyapa juga cuma basa-basi di awal, karena sifatnya memang tak mau tau apapun," jawab Adinda dengan rasa tidak enaknya.
Ingin mengenalkan pada Zio, bahwa Nadya adalah ibu kandungnya. Tapi, Adinda khawatir itu membuat rumit masalah anak-anak Givan nantinya. Adinda takut Givan belum menjelaskan bahwa Zio bukanlah anak Canda.
"Oh iya, Put. Kata Chandra nanti mau minta izin ayah dulu, nanti Jasmine suruh ke sini kalau diizinkan katanya." Adinda mengamanatkan pesan yang disampaikan dari cucu mahalnya.
"Iya, Mah. Santai aja, aku lama di sini. Aku dibawa Ken soalnya, Mah," terang Putri kemudian.
Adinda mengetahui tentang hubungan yang terjalin antara Putri dan Kenandra, anak angkatnya. Namun, ia tidak menanggapi hal itu dengan serius. Ia tahu, jika anak angkatnya tahu sepak terjang Putri.
"Kau tak ngabarin Givan?" Adinda memperhatikan cucunya yang bersandar dengan menikmati susu botolnya.
"Tak, memang sebelumnya tak ada niat untuk ketemu Jasmine. Aku tak bawa barang apapun, jadi ya agak tak siap juga. Ken janjikan ajak aku keluar, untuk beli barang buat Jasmine. Tapi dia sibuk keknya, ditelpon tak diangkat." Itulah sebabnya Putri tidak begitu menggebu-gebu untuk bertemu dengan Jasmine. Ia tidak mau menemui anaknya, jika tidak membawa barang bawaan.
"Apa aku harus nunggu izin dari Givan juga, Mah? Aku jauh-jauh dari Medan." Nadya memahami setelah mendengar beberapa percakapan mereka.
"Ya gimana ya? Mamah tuh bingungnya, takut Zio belum dikasih tau kalau dia bukan anak Canda. Yang dia tau kan, dalam akta kelahirannya itu dia anak Canda. Takut buat rumit, takut buat masalah. Jadi gimana kalau barangnya dititipkan dikasihkan tanpa identitas kau dulu? Nanti Givan pulang, Mamah cerita kalau kau main dan pengen ketemu Zio." Adinda memeriksakan saran penengah.
"Gimana ya, Mah? Kan ada HP, bisa telpon gitu, Mah." Nadya tidak mengerti Adinda yang memikirkan keadaan menantunya di sana.
Bagaimana Canda, jika ia tahu bahwa mantan istri suaminya ada di rumah?
__ADS_1
...****************...