
"Mommy.... Bayi aku lagi pose lagi loh." Canda menunjukkan hasil USG janinnya siang hari ini.
"Mommy! Mommy! Jijik betul Mamah dengar panggilan itu!" Adinda langsung memberi suar tingginya.
"Mommy itu ibunya Icut, Canda," terang Givan kemudian.
Canda menoleh ke arah suaminya, lalu terkekeh geli. Ia tidak tahu, jika panggilan mommy adalah untuk mantan istri ayah mertuanya.
"Coba Mamah lihat." Adinda mengambil alih sebuah foto yang berada di tangan Canda.
Hasil USG 4D itu, menampilkan dua janin benih dari anak sulungnya. Wujud yang belum sempurna, menunjukkan jika bayi itu masih berusia muda.
"Nanti pasti aku repot, Mah. Mamah harus ikut urus anak aku." Canda menerawang jauh.
"Aku yang repot, Canda. Kau yang nangis mas sakit," timpal Givan membuat Canda ditertawakan.
"Mas tak merasakan sih." Canda melirik sinis ke suaminya.
"Tak memang, aku yang urus kau dan anak-anak aja. Tak perlu aku merasakan juga, aku udah cukup berbakti ke istri." Givan memajang gigi rapinya.
"Udah jadi BPJS Ai, Van?" Pertanyaan Adi, membuat Canda teringat akan suaminya yang mengatakan bahwa ia akan mengurus asuransi untuk Ai.
"Udah, Pah. Masih di bang Ken, Pah. Katanya lagi didaftarkan biar otomatis ke rumah sakitnya, biar tak minta rujukan lagi. Kan pakainya alamat Ai yang di kampung."
Canda bertambah manyun saja. Mood hamilnya, membuatnya mudah cemburu pada suaminya.
"Mas cinta tak sih sama aku?" Canda langsung merengkuh lengan suaminya.
Ayah dan ibu mertuanya hanya bisa menghela napas dan geleng-geleng kepala. Mereka sudah paham akan menantunya yang suka dengan drama seperti itu.
__ADS_1
"Sering betul nanya itu." Givan memencet hidung istrinya. "Tak cinta, kubiarkan kau di ruangan operasi sendirian." Seperti biasa, Givan tidak mengatakan yang sejelas-jelasnya. Namun, menurut beberapa orang sikap Givan terlihat jelas bahwa ia amat mencintai istrinya.
"Masa?" Canda pun kembali dihadiahkan dengan ketidakpuasan jawaban dari suaminya.
"Masa! Masa! Kau pikir bagaimana?!" Givan meraup istrinya, membuat mereka tertawa bersama.
Canda kembali lupa dengan jawaban ketidakpuasannya tersebut. Suatu hari, Canda pasti akan mengulangi pertanyaan tersebut.
"Kau mau makan apa, Canda? Papah gratiskan, suami kau yang belikan." Adi mengeluarkan uang dari sakunya.
"Itu Papah ngumpulin dulu loh, Dek. Uang bensin dari mamah, dua puluh sehari. Makan minum tetap bawa dari rumah," ucap Adinda membuat Adi tersenyum malu.
"Buat cucu." Adi sering seperti itu. Meski serba kecukupan, ia jarang sekali meminta uang pada istrinya untuk hal yang tidak berguna. Jika ia memiliki uang tersisa, ia akan mengumpulkannya lalu membuang uang tersebut untuk anak dan cucunya.
"Ayam sambal matah, Pah." Mata Canda langsung berbinar-binar.
Ia mengecup pipi istrinya, agar istrinya tidak bisa membantah peringatan darinya. Meski terlihat selalu patuh, Givan selalu senantiasa bisa membujuk Canda agar selalu patuh.
"Eummm.... Ya udah minta mie ayam bakso ceker, baksonya yang jumbo, dua pah."
Givan sudah membayangkan porsi raksasa tersebut.
"Nanti barengan ya, Mas?"
Givan segera menoleh ke arah istrinya. "Hmm?" Ia memastikan keinginan istrinya tersebut. Pasalnya, Canda selalu bisa menghabiskan mie ayamnya sendiri, tanpa bantuan darinya. Ia khawatir jika istrinya tidak kenyang, jika berbagi porsi dengannya.
"Dua porsi aja jadikan satu," usul Givan yang langsung disetujui Canda.
"Ya udah." Givan bangkit dari duduknya. "Mana, Pah? Katanya mau jajanin cucunya?" Ia melirik ayah sambungnya.
__ADS_1
Tanpa malu, ia meminta uang tersebut. Ia mampu, tanpa harus meminta juga. Tapi, ia ingat jika ayahnya menjanjikan hal itu pada istrinya.
"Nih, belikan untuk Mamah kau juga. Papah tak usah beli, Papah pengen es kelapa muda aja. Papah ke ladang ya? Anterin ke jamboe Papah nanti." Adi memberikan uang berwarna merah tersebut.
Ia pulang untuk beristirahat makan siang. Sebenarnya, ia tidak benar-benar bekerja di ladang. Ia hanya mengobrol, mendengar cerita tentang ladang bagian dalamnya. Sesekali, ia langsung mengecek langsung ladang yang jarang terjangkau oleh para buruh petik. Karena biasanya di sanalah, pohon-pohon yang bagus tumbuh, atau pohon-pohon yang tidak terawat tidak terjangkau oleh para pekerja.
"Dua puluh empat ribu loh, Pah. Untuk menu yang Canda minta itu, bakso jumbo dua dengan mie ayam dan ceker juga." Givan tengah menghitung jumlahnya.
"Lah, kan pas. Kau, istri kau, mamah, tujuh puluh lima ribu. Es punya Papah, paling lima belas ribu. Sepuluh ribu, buat bensin kau."
"Udah dihitung, Van. Teungku Haji tak bakal melebihkan terlalu lebih juga," celetuk Adinda, yang paham akan suaminya yang terkenal perhitungan.
"Huuuu!" Adi menyoraki istrinya. Sebenarnya, ia tidak pernah ingin disebut dengan teungku haji. Tapi, masyarakat memberikan sematan tersebut tanpa izin darinya.
Hari ini, Canda bersuka cita. Sampai beberapa hari sebelum eksekusi hukum suaminya berlangsung, Givan tengah membahagiakan Canda semaksimal mungkin. Ia tidak ingin, Canda teringat akan hari eksekusi dirinya. Ia berpesan pada ibunya juga, agar jangan sampai Canda melihat dirinya diberi hukuman.
Jika anak-anak, jelas mereka tidak akan diizinkan untuk melihat ke area masjid. Givan pun berharap, tidak ada warga yang menanyakan tentang hukuman ayahnya pada anak-anaknya. Ia tetap ingin terlihat baik sebagai panutan, tanpa dosa dan kemaksiatan yang diketahui anak-anaknya.
Kadang, ia memikirkan bagaimana jika anak-anaknya dewasa nanti? Apa ia masih hidup, untuk menemani anak-anaknya menginjak masa dewasanya? Di usianya sekarang saja, anak-anaknya masih baru akan menginjak masa remaja. Terkadang, ia sering menghitung berapa lama lagi jatah usianya.
Ia khawatir, anak-anaknya besar tanpa dampingan darinya. Karena jika besar, Givan yakin anak-anaknya sudah mulai mengerti siapa orang tua kandung dari mereka. Ditambah lagi ketakutannya, ia khawatir anak-anaknya tidak menganggap istrinya sebagai ibu terbaik untuk mereka. Karena mereka besar nanti akan jelas lebih memahami, siapa mereka dan bagaimana dirinya hadir dengan ulah maksiat ayahnya.
Ia takut dibenci oleh anak-anaknya, terutama oleh Key anak perempuan yang ia beratkan dulu. Tanpa test DNA dan tuntutan lainnya, Givan sampai mengambil alih Key, karena anak itu begitu mirip ibunya. Ia yakin, itu adalah benihnya yang tidak sengaja tumbuh tanpa tali pernikahan. Ia pun khawatir Zio marah besar padanya, saat tau bahwa ayahnya tidak bersikap sebaik pada ibu sambungnya. Ia pun takut Zio salah mengerti, kenapa sampai ibunya dipenjara oleh keluarga ayahnya.
Belum lagi dengan tanggungan anak dari Nalendra, ia begitu memikirkan bagaimana Jasmine besar nanti dan memahami bahwa ibu kandungnya dipenjara oleh ayah angkatnya. Tubuh Ceysa yang terlihat kurus pun, ia takut Ceysa berpikir bahwa ia kurang diberi asupan gizi oleh ayah sambungnya. Ia khawatir jika Ceysa berpikir mentah, dengan keadaan tubuhnya yang tidak berisi seperti saudara-saudaranya. Padahal, jelas Givan memaksimalkan asupan gizi untuk Ceysa, ia pun sampai rutin membawa anak itu ke ahli gizi.
Karena banyak sifat minusnya, ia sadar bahwa anak-anaknya besar begitu membutuhkan figur dirinya dan Canda. Ia selalu berdoa agar dipanjangkan umurnya, supaya bisa mendampingi anak-anak mereka dewasa tanpa perang saudara.
...****************...
__ADS_1