
"Mana Ria, Bang?" Canda memperhatikan wajah tegas Kenandra. Dokter spesialis bedah tersebut sedang dalam keadaan bad mood.
"Ada, di ranjang." Kenandra mengarahkan kamera belakangnya. Terlihat jelas ranjang twin bed tersebut, dengan Ria yang tengah berbaring dengan selimut dan sedang memainkan ponselnya.
Harusnya, Kenandra tidak menunjukkan hal itu. Karena, Givan malah panik melihat adik iparnya yang satu kamar dengan duda panas. Mereka semua secara tidak sengaja diberitahu tentang kebenarannya.
"Waduh, Brodie. Harusnya kalian tak ambil satu kamar. Aku transfer uang ya, buat keperluan kalian." Givan langsung mengambil alih ponsel ibunya yang dipegang oleh istrinya.
"Tak usah, Van. Aku ada uang, kau tenang aja. Lagi pun, aku sama Ria beda ranjang." Setenang itu Kenandra menjelaskan.
Lagi pun, ia tidak merasa melebihi batasannya pada Ria. Ia tidak melakukan hal-hal yang bersifat negatif juga pada Ria.
"Ya tetap aja, Bang. Masalahnya dia virgin, ada khawatirnya aku. Gadis rasa janda sih, udah aja sana."
Canda sampai menjejali mulut suaminya dengan kue putri salju. Ia tidak suka, jika suaminya selalu berucap perkataan jelek.
"Kalau virgin, dikiranya aku bakal kabur kah?" Kenandra malah mengisengi Givan.
"Udah, tuh! Malah jadi bahas virgin tak virgin sih! Mamah mau nanya ini, Ken." Adinda mengambil alih ponselnya.
"Ya, Mah. Apa?" Kenandra menyesap rokoknya, kemudian menghembuskannya secara perlahan.
"Kalau kita ambil jalur hukum aja gimana? Kalau akhirnya Givan dipolisikan aja gimana?"
Kenandra langsung berpikir ke berbagai arah. Canda, yang menjadi patokannya kini.
"Canda gimana nanti, Mah? Aku pulang pun rencananya mau bawa Bunga."
"Yang dipenjara itu Givan, Ken," terang Adi, mana tahu Kenandra tengah kebingungan di sana.
"Iya, Pah. Tapi kan yang gila bisa Canda, Pah. Ditambah lagi, aku bebankan Bunga untuk Canda didik. Memang nanti pun aku urus sendiri, atau nanti pakai pengasuh. Tapi kan tetap aja, yang didik nanti ya Canda. Givan dipenjara, memang Canda bisa baik-baik aja?"
Yang memiliki badan malah diam saja. Canda hanya berkedip beberapa kali, dengan melirik suaminya. Semua orang memikirkannya dan mengkhawatirkannya, tapi ia seolah sok kuat di sini.
__ADS_1
"Kalau proses hukum, bisa jadi tuh Givan tak perlu jamin anak Ai," celetuk Adi, sesaat setelah diam dalam ketegangan.
"Tapi biaya bisa tambah besar, Pah. Orang seresik Givan, dia tak bakal mau hidup di sel umum. Bisa-bisa dia wafat, kalau ikut proses kepolisian terus sampai habis masa hukumannya."
Canda melongo saja, ketika Kenandra berkata seperti itu. Ia tidak mau suaminya kenapa-napa, meski pada dasarnya ia terkadang begitu murka pada suaminya.
"Betul juga. Cuma kek kamar kost aja dulu, Papah keluar ratusan juta untuk tinggal nyaman di dalam sana." Tidak dipungkiri lagi, bahwa keluarga Adi's Bird pernah merasakan dinginnya jeruji besi.
"Kalau iya aku harus lewat proses hukum. Apa bukti dan saksi dari lima orang laki-laki itu, bisa meringankan beban hukuman aku?" Givan memperhatikan layar ponsel ibunya yang berada di tengah-tengah meja.
"Ehh, Mas." Tiba-tiba Canda teringat akan saudara sedarah dari suaminya.
"Apa?" Givan menoleh dan memperhatikan wajah istrinya.
"Vendra, Mevendra itu. Kan dia intel, Mas. Dia kan kepolisian juga tuh. Kenapa Mas tak telpon dan minta bantuan dia juga?"
Baru terpikir olehnya, adik kandungnya yang selalu mampu dan bersedia membantunya tersebut.
"Aku telpon Vendra dulu, Bang." Givan undur diri, ia beralih ke ruang keluarga rumah ibunya tersebut.
Givan sudah bagaikan kepala untuk Canda, langkah kakinya langsung mengikuti suaminya yang berpindah tempat tersebut. Sambungan telepon sudah tersambung, tinggal menunggu jawaban dari Mevendra di seberang telepon.
Penantian yang cukup lama, karena sampai lima panggilan telepon itu, Mevendra tidak kunjung menerima panggilan telepon dari kakaknya tersebut. Namun, nyatanya tak sia-sia menghubungi Mahendra.
Laki-laki yang memiliki perbedaan usia lima tahun di bawah Givan tersebut, langsung bersedia untuk membantu, ketika kakaknya bercerita akan kesulitannya.
Bagaikan rencana yang begitu matang. Antara Mahendra, Kenandra dan Givan kini saling terhubung dalam sebuah rencana besar. Givan bersedia menerima hukuman, asalkan keadilan berpihak padanya.
Dalam artian, kelak nanti Ai melahirkan. Givan tidak harus membesarkan anak itu dengan istrinya.
Rencana test DNA, juga beberapa bukti dan keterangan akan dikumpulkan. Guna untuk memperkuat posisi Givan untuk menguak ayah dari anak itu dan juga kejadian sebenarnya.
Mungkin akan menjadi sebuah pembelajaran dan keadilan untuknya. Ditambah lagi, mau tidak mau ia harus terpisah dengan istrinya dengan waktu yang belum diketahui. Pikiran buruknya akan Canda, membuatnya setengah hati untuk mengambil keputusan ini.
__ADS_1
Namun, apakah itu setimpal dengan penderitaan Ai? Atau, kebahagiaan Ai yang malah akan rusak karena rencana itu?
Adinda, Givan dan juga Canda, kini ini tengah melangkah menuju ke penginapan yang Ai tempati. Mereka ingin meluruskan sedikit kekeliruan, juga ingin menanyakan langsung akan gosip yang bermunculan di kampung ini.
Rekaman suara sudah diaktifkan, ketika mereka mulai mengetuk pintu kamar Ai. Reaksi terkejut dalam hatinya, membuatnya merasa gentar menghadapi tiga orang tersebut.
"Ada apa ya?" Ai masih enggan mempersilahkan pemilik penginapan itu untuk masuk ke kamar yang ia tempati.
Tidak seperti saat Givan datang sendiri untuk melabraknya, Ai begitu terang-terangan meminta tamunya untuk masuk.
"Boleh kami ngobrol di dalam?" Adinda tersenyum ramah.
Ia tidak ingin terpancing emosi sekarang, karena rekaman suara sudah diputar. Ia tidak mau pihak yang mendengarkan bukti ini, akan berpikiran bahwa ia mengancam atau menekan Ai.
Ai menoleh ke arah belakang. Bekas makanan ringan belum ia bereskan, kesan berantakan begitu kotor di dalam sini.
"Eummm, kalau di teras aja gimana?" Bahkan ia sedikit menutup pintu tersebut.
Adinda dan Canda saling memandang, Adinda berpikir jika di teras penginapan tersebut, pasti akan mengundang kecurigaan warga.
"Di dalam aja, Ai."
Dengan sangat terpaksa, Ai mempersilahkan tamunya untuk masuk. Kesan tidak nyaman, begitu kentara untuk seorang Givan penyuka kebersihan. Tetapi, di antara mereka tidak ada yang berani menegur.
"Ai, kau bilang ke warga kalau aku tak jamin kau? Kau jelek-jelekan orang tuaku kah?" Givan langsung meluncurkan pertanyaan yang sejak tadi tertahan di kerongkongannya.
Ia difitnah tentang ini. Bahkan ia bersama Canda, ketika ingin memberi Ai jatah sembako. Meski Givan paham itu menyakiti Canda, tapi ia tidak berani bermain secara sembunyi-sembunyi lagi.
"Eummm.... Warga yang mana ya? Aku tak pernah ngobrol sama warga tuh." Begitu sombongnya Ai mengelak.
Bahkan yang mengadu akan Givan dan Adinda yang menghiraukan Ai begitu saja, disampaikan secara langsung oleh ketua RT setempat. Rasanya tidak mungkin, jika ketua RT yang berdusta dan Ai yang jujur di sini.
...****************...
__ADS_1
Maaf ye 😅 authornya mbelenger ðŸ˜ðŸ¤