Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM189. Kurang ramah


__ADS_3

"Abang yang kemarin datang sama Tante itu kan"? Zio sudah berada di hadapan mereka semua.


"Iya, aku abang kau," sahut Ziyan dengan senyum lebar.


"Kenapa? Ada apa?" Zio bahkan tidak mencium tangan kakaknya.


"Kok begitu, Yo?" Canda merasa kaget mendengar ucapan Zio. Zio tidak seperti yang Canda kenal, Zio selalu ramah atau diam dengan senyuman ketika tidak ingin menimpali pertanyaan apapun.


"Ya tak, bukannya begitu. Kalau memang kenal aku, kenapa kemarin diam aja? Terang aja, ada keperluan apa? Harusnya dari kemarin tuh tegur sapa, manggil-manggil aku kek yang iya kangen. Kek udah disetting lebih dulu, kek udah dibilangin lebih dulu harus begini-begitu, biar aku terbawa suasana kerinduan keluarga." Zio menoleh ibu sambungnya sekilas, kemudian ia memperhatikan tamunya lagi.


Givan melongo saja, melihat anaknya malah membuka keributan yang kurang ramah. Ia menggeleng, ketika Nadya menoleh ke arahnya dan seolah menuntut penjelasan.


"Iyo, sini sama Biyung." Canda menepuk lantai di sebelahnya.


Ia tetap duduk bersantai, karena rasa tidak nyaman itu muncul kembali. Ia pun membiarkan Nadya yang menghampirinya untuk berjabat tangan, karena rasa sakitnya akan bertambah jika ia bergerak.


Dengan gerakan langsung, Zio langsung duduk di samping ibunya. Urat tidak nyamannya terlihat, Zio bukanlah anak yang pandai menyembunyikan ekspresi tidak sukanya.


"Sini duduk, Nad." Givan memilih teras rumah Zio untuk menjadi tempat mereka mengobrol.


"Lia, tolong minta bu Muna buatkan minuman. Sama ambilkan obat Kak Canda di meja ruang tamu tuh." Givan menyadari jika istrinya mulai tersiksa dengan rasa sakit itu kembali.


"Ya, Bang." Pengasuh Zio langsung bergerak memenuhi perintah dari Givan.


"Zio, itu Bunda." Givan memperkenalkan Nadya pada anaknya.


Zio mengangguk, kemudian ia mengulurkan tangan kanannya. Tidak ada senyum, tidak ada pertanyaan. Zio hanya mencium tangan ibu kandungnya sekilas, kemudian ia duduk di samping ibu sambungnya lagi.


"Zio tak kangen Bunda, Nak?" tanya Nadya kemudian.


Zio menggeleng. Ia terlihat begitu muak dengan keadaan ini. Dirinya yang begitu perasa, merasa ada kejanggalan dari pertemuan pertama mereka. Terlebih lagi, dengan kakaknya yang berlaku berbeda di dua pertemuan mereka. Hal itu cukup mencurigakan untuk Zio, sayang ia pun tidak mampu untuk menguraikan kecurigaannya.


"Loh gitu, Nak?" Raut sedih Nadya pancarkan.

__ADS_1


Anak itu hanya diam. Ia tidak mengatakan apa yang menjadi ganjalan di hatinya, karena keberanian anak itu kalah dengan kekesalannya. Ia adalah tipe manusia yang hanya diam ketika marah.


"Ada apa?" tanya Canda lirih, dengan menepuk paha anaknya.


Zio menggeleng, kemudian ia bersandar pada bahu ibu sambungnya. Jika tidak ada orang, ia akan menumpahkan rasa lemahnya untuk menangis seperti kebiasaan kecilnya dulu.


"Suruh pulang aja, Biyung," bisik Zio lirih.


"Ya tak boleh, Yo. Tak sopan," terang Canda amat pelan dengan mengusap kepala anaknya.


"Kenapa?" Givan bertanya dengan isyarat mulutnya saja tanpa suara.


Canda menggeleng. Ia paham, keinginan Zio baiknya tidak disampaikan. Ia khawatir Nadya tersinggung, lalu berpikir macam-macam tentang anak kandungnya yang tumbuh dalam asuhan mereka.


"Bunda bawa perlengkapan sekolah untuk Zio, kemarin Bunda titipkan ke nenek Dinda." Nadya berusaha mendekati anaknya.


"Tak perlu, tante aku udah belikan."


"Zio kenapa? Semalaman udah ngobrol sama Ayah kan? Kok Zio gini?" Givan ingin anaknya buka suara.


Zio tetap menggeleng, ia masih bersandar manja pada ibu sambungnya. Mereka teralihkan sejenak dengan teh manis yang disuguhkan oleh bu Muna, Canda pun bergegas meminum sebuah kapsul yang disarankan untuk segera meminumnya begitu rasa sakitnya menyerang.


Nadya memperhatikan Canda yang tengah minum obat, ia ingin bertanya tapi ia merasa itu bukanlah urusannya. Urusannya sekarang adalah mendapat tempat yang cukup baik di sisi Zio.


"Sini Zio sama Ayah." Givan menepuk tempat di sebelahnya, agar Zio bersandar padanya saja. "Biyung lagi tak enak perutnya itu," lanjut Givan kemudian.


Zio mau melepaskan ibu sambungnya, ia bergerak untuk lebih dekat ke ayahnya.


"Ada apa?" Givan bertanya lirih. Ia paham bagaimana sifat anaknya, ia tahu tentang amarah Zio yang diekspresikan dengan diamnya dirinya.


"Zio...." Givan memberi sedikit penekanan pada suaranya, dengan mengusap tangan anak itu.


Zio mengerti, ia dituntut jawaban oleh ayahnya. Ia mencoba menyusun kalimat yang ia bisa utarakan, karena ia pun merasa emosinya sulit untuk diluapkan.

__ADS_1


"Mereka pura-pura, Ayah," lirih Zio hampir tidak terdengar oleh Givan.


Givan mengerutkan keningnya. Ia mencoba memahami sudut pandang anaknya yang tidak dimengerti di kepalanya. "Terlepas dari itu semua. Bersikaplah baik, karena Ayah dan Biyung yang dikira tak baik didik Zio. Lepas mereka pergi, biar Ayah terangkan apa yang Zio tanyakan nantinya. Jangan kek gini, Nak. Ayah jadi tak enak hati, mereka berpikir Ayah buat Zio jadi kurang sopan ke mereka." Givan menasehati anak itu tepat di telinganya.


Pemikiran Zio berjalan lagi. Benar kata orang tuanya, ia yang bersikap jelek dan orang tuanya yang akan mendapatkan imbasnya.


"Makasih untuk perlengkapan sekolahnya." Zio memberi senyum palsu mengarah ke Nadya.


Nadya membalas senyum itu. Ia sedikit bingung dengan keadaan yang terjadi, ditambah lagi Zio banyak berbisik-bisik dengan Givan dan Canda.


"Sama-sama, Nak. Gimana kabarnya? Sekolahnya di mana? Sekolahnya pintar tak?" Nadya mencoba membangun komunikasi yang nyaman dengan anaknya.


Sayangnya, anak-anak Givan tidak dididik untuk banyak memberikan informasi tentang diri mereka sendiri, karena mengingat anak-anak itu lepas tanpa pengawasan jika bersekolah. Membuat kewaspadaan mereka meningkat, ketika ditanya oleh orang asing.


"Baik." Zio hanya memberikan satu jawaban saja.


Hanya diam kembali, Givan pun bingung ingin mencairkan suasana yang bagaimana. Ia merasa serba salah di sini. Ia berinisiatif untuk bertanya tentang kabar mereka saja, karena suasana begitu canggung dan tidak ramah.


"Kelas berapa sekarang, Ziyan?" tanya Givan dengan mengusap punggung Ziyan.


"Baru masuk SMA, Yah. Zio mau tak ya pindah sekolah di sana? Soalnya SMP SMA bangunannya satu pagar di sana, jadi bisa pulang pergi bareng." Ziyan memperhatikan adiknya sekilas dan menoleh lagi ke arah Givan.


"SMA nanti aku masuk pesantren," jawab Zio lebih cepat.


"Pesantren? Anak aku mau dipesantrenkan, Van?" Pandangan Nadya tertuju ke arah Givan. "Kau kan tau gimana gambaran hidup di pesantren, kasian Zio tak bebas hidup di sana. Kok kau tega sama anak aku? Anak kau pun pasti tak ada yang dipesantrenkan kan?" Nadya berbicara cepat seperti kebiasaannya.


Zio memperhatikan dengan seksama. Ia berpikir, apa karena sifat ibunya yang terlihat seperti banyak bicara membuat ayahnya menceraikan ibunya. Otak kecilnya penuh pertanyaan.


"Key tahun ini masuk pesantren, dia di urus kakeknya untuk pendaftaran pagi tadi. Bukan cuma Zio nanti, aku berencana masukan semua anak-anak aku ke pesantren. Bukan untuk membatasi hidup mereka, tapi aku ingin agama mereka kuat. Bukan cuma dasar-dasarnya aja kek yang aku ajari begini. Kau tenang aja, aku mau yang terbaik untuk anak-anak aku. Termasuk, anak kau juga."


Zio kembali hilang fokus. Di akhir kalimatnya, Givan menyebutkan bahwa dirinya adalah anak Nadya, bukan anak kita. Membuatnya berpikir, apakah dirinya benar-benar anak pungut? Bukan seperti apa yang Givan katakan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2